Aku menatap jengkel ponsel ditanganku sebelum melemparnya ke atas tempat tidur. Sejak tadi aku berusaha menghubungi Pak Abian untuk mengabarkan jika pesanan muffinnya sudah bisa diambil. Namun sudah seminggu ini panggilanku tidak juga digubris, selalu dialihkan ke pesan suara. Aku jadi curiga jika Pak Abi memblokir nomorku. Maksudnya apa, sih? Dia mau balas dendam padaku, begitu?
Aku mengempaskan tubuh ke atas tempat tidur seraya mengutuki Pak Abian di dalam hati. Kalau ternyata dia hanya main-main dengan meminta dibuatkan muffin sebanyak dua lusin sewaktu kami bertemu terakhir kali, aku benar-benar akan marah padanya. Selama seminggu ini aku selalu membuat 24 buah muffin cokelat ekstra di luar jatah yang biasa aku buat dalam sehari. Dan bila sampai sore hari Pak Abi tidak kunjung muncul, terpaksa muffin itu aku simpan kembali untuk dijual keesokan hari.
Harusnya begitu tahu Pak Abi tidak datang dan nomor ponselnya tidak bisa juga dihubungi, aku berhenti membuatkan muffin itu. Jika kemudian dia datang dan muffin pesanannya tidak ada, aku bisa beralasan kalau itu semua karena salahnya sendiri yang tidak bisa dihubungi.
Namun sayangnya aku tidak tega. Setiap hari aku terus membuatnya untuk berjaga-jaga kalau saja Pak Abi datang. Jika aku tidak cukup mengenal laki-laki pecinta muffin cokelat itu, mana sudi aku repot-repot membuatkannya setiap hari.
Dering ponsel yang tergeletak di samping kepala membuatku mengalihkan perhatian. Nama Ari yang ada di layar membuatku segera menjawab panggilan itu.
“Mbak, ini saya sama Dewi udah mau tutup toko.”
“Pak Abi nggak dateng lagi?”
“Nggak, Mbak,” jawab Ari. “Jadi muffin-nya di simpen lagi?”
Aku mengembuskan napas kasar. Berjanji di dalam hati jika ini adalah yang terakhir kali aku membuatkannya muffin. Terserah jika nanti dia datang dan muffin pesanannya tidak ada. Aku benar-benar kesal. “Ya udah di simpen lagi buat besok, ya, Ri. Kamu infoin yang masuk pagi buat display stok muffin yang ada dulu. Besok kayaknya saya dateng agak siang. Irma sama Yuli yang gantiin dateng pagi.”
Setelah mengiakan semua instruksi dariku, Ari kemudian berpamitan dan memutus sambungan. Besok aku berencana ke Eat Me setelah makan siang. Kepalaku agak pusing sejak sore tadi, makanya aku pamit pulang lebih dulu dari yang lain. Untungnya aku memiliki karyawan yang sangat cekatan dan cepat belajar. Jadi aku tidak perlu merasa was-was meninggalkan toko tanpa pengawasan langsung.
****
Aku keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil makan malam. Tadi aku memang melewatkan makan bersama yang lain karena memilih tidur lebih dulu. Sepiring nasi dengan lauk ayam goreng mentega menjadi menu makanku di pukul sembilan malam ini. Aku membawa piring berisi makan malamku dan segelas air ke ruang keluarga yang terdengar ramai sejak tadi.
“Baru mau makan?” tanya Mas Gio. Aku hanya mengangguk seraya mengambil tempat di sampingnya di lantai yang dilapisi karpet tebal. Mataku melirik pada Mbak Indi dan juga Bagas yang duduk berdampingan di sofa sebelah kanan. Sementara Mama dan Papa duduk di sofa yang aku dan Mas Gio sandari.
“Kamu sakit, Mika?” tanya Bagas. Aku yang baru menyuap makananku hanya tersenyum padanya sambil menggelengkan kepala pelan.
“Tumben kamu langsung tidur padahal belum makan, Dek?” Mbak Indi yang bersandar nyaman pada suaminya ikut bertanya.
“Cuma agak pusing aja tadi itu, Mbak. Makanya aku istirahatin dulu. Tapi nggak kenapa-kenapa kok. Ini juga udah mendingan.”
Mbak Indi hanya mengangguk menatapku sebelum mengalihkan perhatiannya pada layar TV yang memuat berita luar negeri.
“Mika itu pusingnya cuma karena dua hal, kecapekan atau kelaperan. Kalau udah dibawa tidur terus makan, udah langsung sehat lagi dia,” ledek Mas Gio yang disambut kekehan geli yang lain.
“Inget nggak dulu pas kita lagi sibuk-sibuknya magang di kantor Papa, terus Mika ngerengek pengin ikut dan hampir pingsan di lift? Kirain dia sakit apa gitu, tahunya laper.” Aku hanya berdecak sambil menatap Mas Gio sebal.
“Inget dong, yang lo malah ngetawain Mika kan bukannya beliin makan? Dasar,” sambar Bagas kemudian ikut tertawa.
Mas Gio kembali terkekeh, “Iya, terus akhirnya dia ngadunya sama lo, minta ditemenin makan dulu. Nggak mau bilang sama gue. Lo-nya iya-iya aja lagi.”
Aku hanya mendengkus pelan seraya terus menyuap makan malamku. Sementara Mama dan Papa hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak sulung mereka yang senang sekali menggodaku.
Memang dari dulu Mas Gio adalah orang yang paling senang menjailiku. Dia mengungkapkan rasa sayangnya dengan terus menggodaku bahkan kadang sampai aku menangis. Dan semenjak ada Bagas, aku selalu mencari perlindungan darinya.
Berbeda dengan Mas Gio yang lebih senang melihat wajahku cemberut dan kesal, Bagas selalu menjadi orang pertama yang menghiburku dan membuatku kembali tersenyum saat aku merasa kesal atau sedih. Dia menuruti semua permintaanku lebih dari Mas Gio. Memperhatikanku, menjagaku, juga menjadi yang terdepan membela saat dulu teman-teman SMA menggangguku.
Dia adalah pahlawan bagiku.
****
Aku mengenal Bagas pertama kali sepuluh tahun yang lalu saat dia dan keluarganya baru saja pindah ke rumah yang berada persis di seberang rumah kami. Masih jelas diingatanku bagaimana kami pertama bertemu. Saat itu aku berusia 16 tahun dan baru enam bulan merasakan menjadi murid SMA.
Sudah dua hari aku tidak pergi sekolah dan harus beristirahat di rumah karena sedang tidak enak badan. Dari balkon kamarku yang menghadap halaman depan, aku melihat kesibukkan di halaman rumah di seberang rumah kami yang sudah kosong setahun terakhir. Ada sebuah truk pengangkut barang dengan logo jasa ekspedisi yang aku kenali di badan truknya juga sebuah mobil SUV berwarna hitam terparkir di sana.
Aku terus mengamati kesibukkan para kurir selama beberapa saat sampai akhirnya mataku mendapati sesosok laki-laki jangkung mengenakan kaus putih polos dengan celana pendek abu-abu ikut membantu menurunkan barang-barang yang ada di truk. Laki-laki itu tanpa canggung membantu menurunkan barang-barang dan membawanya masuk ke dalam rumah, padahal seharusnya dia bisa saja hanya menunggu hingga para kurir itu menyelesaikan pekerjaan mereka.
Saat itu tanpa sadar aku tidak bisa melepaskan tatapan pada si jangkung hingga mereka selesai mengangkut semua barang. Entah mengapa, tapi melihat laki-laki itu tanpa segan membantu bahkan terlihat akrab tertawa bersama tiga orang kurir ekspedisi membuatnya terlihat berbeda di mataku. Mas Gio saja belum tentu mau repot-repot ikut mengurusi barang-barang sebanyak itu. Paling kakakku itu akan memberikan tip yang besar kepada si kurir sebagai tanda terima kasih.
Setelah truk pengangkut barang pergi dan laki-laki jangkung itu tidak lagi terlihat, aku memilih turun untuk menonton TV sambil menunggu pedagang apa saja yang lewat. Biasanya sore-sore begini akan ada beberapa pedagang yang diperbolehkan pihak keamanan komplek untuk masuk dan berkeliling.
Aku baru akan menyalakan TV saat terdengar bunyi khas bakso malang langgananku dari pengeras suara yang dipasang si pedagang. Aku buru-buru melangkah ke luar untuk menyetop bakso malang itu. Saat sedang tidak enak badan seperti saat ini menikmati semangkuk bakso hangat pasti nikmat sekali.
Pedagang bakso yang sudah kupanggil sejak dari ruang tamu akhirnya berhenti persis di depan pagar setelah mendengar teriakanku. Setelah memintanya menunggu sebentar, Aku bergegas kembali ke rumah karena ingin mengambil mangkuk di dapur sekalian minta uang pada Mama.
Namun saat aku kembali ternyata si pedagang tidak sedang sendirian saja di depan pagar rumahku. Ia terlihat sibuk melayani si jangkung yang aku lihat di balkon tadi. Aku melangkah pelan menuju pedagang bakso langgananku sambil menggenggam erat mangkuk dan selembar uang lima puluh ribu di tangan. Entah kenapa aku jadi deg-degan saat langkahku semakin dekat.
“Mang, nih mangkuknya. Kayak biasa, ya,” ucapku sambil meletakkan mangkuk di tempat kosong yang ada di gerobaknya.
“Beres, Neng.” Mang Tatang segera mengisi mangkukku dengan potongan pangsit dan bakso goreng lalu menambahkan kuah pada mangkuk lain yang ada di sebelah punyaku. Milik si jangkung.
“Kamu yang tadi duduk di balkon, kan?”
Aku yang sedang memberikan instruksi pada Mang Tatang tentang apa yang aku mau dan tidak mau --padahal sebenarnya Mang Tatang sudah hapal kebiasaanku setiap membeli bakso-- menolehkan kepala dan mendapati si jangkung tengah menatapku dengan senyum lebar dan mata menyipit yang tampak sangat manis di wajahnya. Sesaat aku terpana. Terus memandangi wajahnya tanpa bisa berkata apa-apa.
“Eh, i-iya.” Aku akhirnya mengaku. Kalau dia bisa langsung mengenaliku saat ini, pasti sejak aku di balkon tadi pun dia sudah melihatku. Jadi percuma saja mengelak.
“Kenalin, aku Bagas. Baru pindah ke seberang rumah kamu. Tapi untuk sekarang aku sendirian dulu nempatin rumahnya, orang tuaku nyusul dua hari lagi dari Semarang.” Dia mengulurkan tangannya padaku mengajak berkenalan. Aku yang awalnya hanya terdiam seperti patung batu perlahan mengulurkan tangan dan membalas jabatannya sambil menyebutkan nama.
“Aku, Mika.”
Bagas lagi-lagi menyunggingkan senyum ramah yang menular, membuat jantungku lagi-lagi berulah. “Sebagai perkenalan baksonya aku yang traktir, ya,” sambungnya seraya mengulurkan selembar uang seratus ribu kepada Mang Tatang.
“Eh, nggak usah. Aku punya uangnya kok.” Aku menunjukkan pada selembar uang yang kugenggam sejak tadi.
“Nggak apa-apa.” Dia mengibaskan tangannya padaku dan memintaku untuk menyimpan saja uang pemberian Mama.
Setelah selesai membayar, Bagas kemudian mengajakku menikmati bakso bersama. Kami duduk di kursi batu sepanjang satu meter yang ada di depan pagar rumahku. Dia bercerita jika ayahnya dipindahtugaskan ke Jakarta setelah lima tahun bekerja di kantor cabang utama bank merdeka Semarang. Dan karena Bagas juga berencana untuk menempuh strata dua jurusan hukum sambil mengirim lamaran untuk magang di beberapa firma, dia akhirnya menyetujui untuk ikut pindah.
“Kedua kakakku juga kuliahnya jurusan hukum,” kataku lalu memasukkan sebuah bakso ke dalam mulut.
“Oh, ya? Wah kebetulan banget,” seru Bagas antusias.
Setelah itu dengan sok tahunya aku mengundang Bagas untuk main ke rumah jika ingin berkenalan dengan Papa dan kedua kakakku. Dia terlihat sangat senang saat aku mengusulkan ide itu dan tanpa banyak berpikir langsung mengiakan tawaranku.
Seperti yang sudah kuduga, Papa, Mas Gio dan Mbak Indi sama antusiasnya saat menyambut Bagas. Bertambah satu orang lagi yang bisa diajak berdiskusi mengenai kasus-kasus hukum yang sedang terjadi di firma milik Papa. Mas Gio bahkan langsung akrab dengan Bagas karena ternyata Bagas hanya lebih muda satu tahun darinya. Kakak pertamaku itu seolah mendapatkan sekutu baru setelah selama ini hanya sendirian menghadapi kedua adik perempuannya.
Setelah perkenalan singkat sambil menikmati bakso itu aku jadi semakin sering memperhatikan Bagas. Bagaimana dia bicara, tertawa bahkan saat dia makan pun aku tak pernah luput memperhatikannya. Bagas benar-benar terlihat memukau di mataku.
Hari-hari selanjutnya Bagas dan Mas Gio juga Mbak Indi semakin sering menghabiskan waktu bersama. Mas Gio yang sedang magang di firma hukum milik Papa, sering mengajak Bagas berdiskusi mengenai kasus yang sedang ditanganinya. Mbak Indi yang juga sedang kuliah di jurusan hukum tentu saja ikut meramaikan diskusi yang menyenangkan itu.
Aku yang baru merasakan menjadi siswa berseragam putih abu-abu sebenarnya sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi karena aku ingin dekat dengan Bagas, aku tetap memaksa ikut kemana pun mereka pergi walau sebenarnya apa yang mereka bicarakan terdengar sangat membosankan untukku.
Bagas benar-benar menjadi sosok pahlawanku melebihi Mas Gio saat aku mengalami kecelakaan motor kelas tiga SMA. Saat itu aku begitu ketakutan karena motor yang kupakai untuk belajar adalah milik temanku. Motor itu rusak cukup parah karena menabrak pagar pembatas rumah tetangga temanku. Aku juga mengalami beberapa luka dan lebam di kaki yang walaupun tidak terlalu parah, tapi tetap saja terasa sakit.
Saat itu aku tidak berani menelepon Mas Gio ataupun yang lain. Karena sejak awal Papa sudah melarangku untuk belajar motor karena keseimbanganku sangat buruk. Papa bilang baru akan mengizinkanku belajar mengendarai kendaraan sendiri di usia 20 tahun. Tapi aku yang saat itu nekat akhirnya menerima ganjarannya.
Aku ingat waktu itu Bagas datang menjemputku dengan raut cemas. Dia memelukku sesaat kemudian menanyakan keadaanku. Bagas menenangkanku dan berjanji tidak akan mengatakan apa-apa pada yang lain mengenai apa yang terjadi padaku hari itu. Bahkan Bagas juga yang membawa motor ringsek temanku itu ke bengkel dan membayar semua perbaikannya.
Ada satu hal lagi yang tidak bisa kulupakan mengenai Bagas. Hal yang jika kuingat lagi sekarang terasa sangat memalukan karena itu hanyalah angan semu masa remajaku.
Saat itu beberapa bulan sejak kecelakaan motor. Seorang siswa kelas sebelah yang aku tahu naksir padaku, menyatakan perasaannya setelah pulang sekolah di koridor dekat gerbang yang mulai sepi. Aku yang tidak punya perasaan lebih padanya dengan tegas menolak. Aris, nama siswa itu sepertinya tidak suka dengan penolakanku. Dia menarik tanganku, memaksaku untuk mengikutinya ke area belakang sekolah.
Aku sudah ketakutan setengah mati dan berharap Mas Gio yang berjanji menjemputku segera tiba. Namun yang datang saat itu bukan Mas Gio melainkan Bagas. Dan ketika Bagas melihatku ditarik paksa oleh Aris, dia benar-benar marah dan hampir saja menghajar Aris saat itu juga.
“Sekali lagi lo macem-macem sama pacar gue, abis lo!”
Saat mendengar ucapannya aku hanya bisa mematung. Apa Bagas baru saja bilang aku pacarnya?
Namun saat kami sudah berada di dalam mobil, Bagas menjelaskan apa yang dikatakannya pada Aris tadi. Dia bilang aku bisa memakai dirinya sebagai tameng agar tidak ada lagi murid laki-laki yang kurang ajar padaku. Katanya katakan saja kalau aku sudah memiliki pacar yang jauh lebih keren daripada seluruh murid laki-laki di sekolah ini.
Saat itu aku hanya mengangguk sambil menahan senyum bahagia. Merasa jika Bagas sebenarnya hanya cemburu melihatku didekati pria lain. Tapi sekarang aku tahu jika saat itu dia hanya sungguh-sungguh ingin menolongku dan tidak bermaksud lain. Karena aku baru saja mengetahui satu fakta baru jika Bagas sebenarnya sudah menaruh perasaan pada Mbak Indi sejak pertama kali mereka bertemu.