Tenggat waktu yang kuberikan untuk menyelesaikan renovasi cabang hotel di kuningan tinggal dua minggu lagi. Setelah disibukkan dengan persiapan dan kedatangan tim Inggris, kini aku kembali memiliki waktu untuk mengunjungi cabang hotelku itu. Aku ingin melihat sudah sejauh mana perkembangan renovasi hotel itu setelah hampir dua minggu aku hanya menerima laporan perkembangannya saja.
Setelah berkendara selama empat puluh lima menit, akhirnya aku sampai juga. Aku menyetir sendiri Lexus-ku sementara Raihan sudah lebih dulu tiba bersama tim lain yang bertanggung jawab atas perombakan hotel.
Aku keluar dari mobil dan memutuskan untuk berkeliling ke beberapa fasilitas hotel. Penanggung jawab renovasi menginformasikan jika semuanya akan selesai kurang dari satu minggu lagi. Aku hanya mengangguk puas mendengarnya. Itu artinya rencana peresmian kembali cabang ini sekaligus ulang tahun perusahaan bisa dilaksanakan bersamaan.
Acara peresmian itu bukan hanya sekadar acara seremonial biasa untukku. Di acara itu nanti aku akan dengan resmi mengumumkan kerja sama terbaru dengan Mr. Robert dan rencana ekspansi hotel The Crown ke Asia Timur yang akan dimulai akhir tahun ini. Aku sangat bersemangat menunggu saat-saat untuk mengumumkannya karena ini adalah proyek prestisius pertamaku setelah lima tahun menduduki jabatan CEO.
Sebelum ini banyak orang menganggap sepele kerja kerasku hanya karena nama belakang yang kusandang. Mereka berpendapat jika semua pencapaian dan apapun yang aku lakukan untuk The Crown sebagai hal yang biasa karena aku hanya sekadar meneruskan bisnis yang sudah dibangun dan dibesarkan oleh Kakek dan Papa. Padahal sejak memutuskan untuk serius menekuni bisnis ini dua belas tahun yang lalu, aku benar-benar memulai semuanya dari nol.
Aku masuk dan mengawali karier di The Crown sebagai staf biasa selama lima tahun pertama. Sebagai orang yang akan diserahi tanggung jawab besar atas nasib hotel ini ke depannya, aku berusaha dan bekerja dua kali lebih keras daripada staf-staf lain. Aku benar-benar mencurahkan semua perhatian, gairah dan hidupku untuk menjaga apa yang sudah Kakek dan Papa bangun selama ini. Sampai akhirnya di tahun ke enam, Papa mulai memercayaiku untuk memegang posisi yang lebih tinggi dan akhirnya menggantikan beliau lima tahun terakhir ini karena kesehatan Papa yang sempat memburuk.
Aku tahu ada banyak sekali orang yang meragukan kemampuanku saat akhirnya aku menduduki jabatan CEO. Tapi aku terus bertahan dan membuktikan pada semua yang meragukanku jika aku bisa mengemban tugas ini sama baiknya seperti Papa.
Dan kini begitu ada kesempatan untuk menunjukkan hasil usahaku memperluas nama The Crown ke pasar Asia Timur, tempat yang memang belum pernah kami jangkau, tentu aku tidak akan melewatkannya begitu saja.
“Besok kamu meeting sama semua tim yang bertanggung jawab untuk ulang tahun perusahaan,” perintahku pada Raihan yang baru saja selesai menerima laporan dari rekanan yang mengurusi renovasi hotel ini. “Dan sampaikan kalau saya ingin sesuatu yang beda untuk acara bulan depan.”
“Beda yang seperti apa, Pak?”
“Hmm, saya mau pesta yang unik dan berkelas yang akan terus diingat oleh setiap tamu. Suruh mereka survei atau cari apa yang sedang menjadi tren saat ini.”
“Baik, Pak. Saya akan sampaikan di meeting besok. Ada tambahan lain, Pak?” tanya Raihan.
“Nggak, itu aja. Besok saya ada keperluan, jadi kamu tolong handle dulu semua urusan kantor dan email ke saya laporannya.”
“Baik, Pak.”
Setelah Raihan berlalu dari hadapanku, aku kembali melangkah menelusuri lobi yang mengarah ke samping gedung. Aku terpaku sesaat menatap plang bertuliskan Eat Me Cake & Bakery yang ada di seberang. Seketika teringat pada mantan sekretarisku, si pemilik toko kue.
Setelah membalas sapaan sekuriti yang berjaga di bagian samping gedung, aku meneruskan langkah menuju Eat Me. Menikmati beberapa camilan manis sepertinya bisa membuat tubuhku kembali rileks.
“Selamat datang di Eat Me ….”
Sapaan khas serta aroma manis kue menyambutku ketika aku mendorong pintu toko milik Mikayla ini. Aku menatap berkeliling, mencari keberadaan gadis itu dan tidak menemukannya dimana pun.
“Saya mau teh chamomile sama muffin dua, ya,” ucapku pada karyawan toko bernama Ari yang dulu juga melayaniku saat aku pertama kali datang ke toko ini.
Setelah mendapatkan muffin dan membayar pesanan, aku memilih duduk di salah satu meja kosong yang ada di dekat jendela. Aku kembali mengamati sekeliling toko yang tampak sepi sambil menikmati muffin cokelat. Hanya ada beberapa orang yang baru masuk dan sedang memilih di depan etalase khusus cake.
“Mikayla, kemana?” tanyaku pada Ari yang mengantarkan teh chamomile pesananku.
“Mbak Mika ada di dalam, Pak. Tadi sih lagi bikin nastar.” Aku mengangguk mengerti. Sepertinya gadis itu sedang sibuk. “Mau saya panggilkan, Pak?”
“Oh, nggak … Mika!” Baru akan menolak tawaran karyawan Mikayla yang bernama Ari itu, sosok gadis yang kucari muncul dari balik pintu bertuliskan staff only. Mikayla menatapku sesaat, tampak terkejut. Namun tak lama kemudian raut wajahnya berubah keruh.
Sebelah alisku terangkat saat melihat responsnya. Mikayla kelihatan marah. “Kenapa itu bos kamu?” tanyaku pada Ari yang masih berdiri di samping mejaku.
“Eh, n-nggak tahu juga saya, Pak.”
Setelah mengatakan itu, Ari segera pamit untuk kembali ke konter, meninggalkan aku yang terbengong mendapati ekspresi membunuh Mikayla. Aku bangkit dari kursi dan mendekati Mikayla yang sedang mengecek etalase kue. Gadis itu terlihat tidak peduli padahal dia tahu aku ada di hadapannya. Dasar.
“Heh, Mikayla, saya panggil kok malah diem aja, sih.” Gadis itu hanya melirik sekilas ke arahku kemudian berbalik dan berbisik pada Ari yang hanya mengangguk-angguk. “Mika …” Aku kembali memanggilnya. “Mikayla!”
“Apa sih?!”
Mendengar nada suara Mika yang meninggi membuatku terkejut dan seketika mundur beberapa langkah. Tak kusangka gadis kecil itu memiliki suara yang nyaring juga.
“Saya dari tadi manggil kamu, nggak denger emang?”
Mika hanya mendengkus, kemudian menatapku dengan wajah garang. “Bapak mau ngapain lagi?!” tanyanya ketus.
“Temenin saya makan muffin.” Aku menunjuk pada meja tempat aku menikmati kue itu.
“Saya sibuk.”
Aku hanya bisa bengong di tempat dengan mata berkedip-kedip tak percaya. Gadis itu meninggalkanku begitu saja setelah menjawab singkat permintaanku tadi. Astaga, kenapa dia jadi galak begitu? Apa salahku sampai dia seolah ingin mencincangku?
“Kenapa, sih bos kamu itu?” tanyaku pada Ari yang menatapku dengan senyum canggung. “Lagi PMS, ya? Galak banget kayak singa betina,” cibirku.
Ari mengusap belakang kepalanya sebelum akhirnya berjalan mendekatiku. “Ehm … kayaknya Mbak Mika kesel karena seminggu lebih Bapak nggak datang ke sini.” Sebelah alisku terangkat menatap Ari tak percaya. Masa Mikayla marah karena aku tidak lagi mampir ke tokonya? Entah mengapa memikirkan alasan gadis itu marah membuatku tersenyum-senyum sendiri. “Padahal Mbak Mika tiap hari bikin muffin ekstra yang Bapak pesan waktu itu. Mbak Mika juga udah hubungi nomor Bapak, tapi nggak pernah tersambung. Makanya dia bete banget.”
“Muffin pesanan saya?” tanyaku sambil menunjuk diri sendiri.
“Iya, Pak.”
Mendengar penjelasan Ari, pikiranku kembali berputar di saat aku pertama kali bertemu Mikayla di toko ini. Sebelum aku bangkit dari kursiku untuk kembali ke hotel, rasanya aku memang sempat memintanya untuk membuatkan muffin cokelat ekstra yang akan aku ambil keesokan harinya. Namun kesibukkanku mempersiapkan kedatangan tim Inggris membuatku melupakannya.
“Tiap hari dia bikin muffin ekstra?” tanyaku tak percaya.
Ari mengangguk pelan. “Kata Mbak Mika, kalo nggak dibikinin takutnya Bapak dateng. Jadi tiap hari Mbak Mika selalu bikin ekstra. Baru dua hari ini aja Mbak Mika nggak bikin.”
Aku mengangguk mengerti. Pantas saja tadi Mikayla seolah ingin melempar wajahku dengan serbet yang ada di tangannya. Gadis itu pasti kesal sekali padaku. Dia tahu aku adalah penggemar berat muffin, maka dari itu dia tetap membuatkannya walau tidak tahu apa aku akan datang atau tidak. Ah, mendadak aku jadi merasa bersalah.
“Saya boleh masuk ke sana?” Aku menunjuk pada pintu yang tadi dilewati Mikayla.
“Hmm, kata Mbak Mika cuma karyawan yang boleh masuk, Pak,” sahut Ari gugup.
Aku berdecak pelan. Melangkah mendekati Ari yang berdiri di samping pintu kemudian berkata, “Mika emang bos kamu, tapi saya ini dulu juga bosnya Mika. Saya cuma mau nemuin dia bentar aja, kok.” Ari hanya menggaruk-garuk kepalanya tampak bingung. “Saya jamin kamu nggak akan diomelin.”
Setelah mendengar ucapanku akhirnya Ari menyingkir dari pintu dan membiarkanku untuk masuk. Aroma manis dan gurih kue yang sedang dipanggang langsung menyerbu penciuman begitu pintu di belakangku tertutup. Aku melangkahkan kaki lebih ke dalam dan tanpa sadar menelan ludah begitu aroma manis itu menyerbu semakin kuat.
Suara tawa yang kudengar sejak dari depan pintu pembatas mendadak berhenti saat aku sepenuhnya berdiri di hadapan dua wanita yang sedang menyusun kue-kue kering ke dalam beberapa stoples di depan mereka. Satu orang yang kuyakini sebagai salah satu karyawan toko ini, menyenggol lengan Mikayla seraya membisikkan entah apa pada gadis yang tengah memelototiku itu.
“Siapa yang bolehin Bapak masuk ke sini? Nggak liat apa di depan pintunya ada tulisan staff only? Bapak nggak ngerti bahasa inggris apa emang nggak bisa baca?”
“Saya sebentar doang,” kilahku sementara Mikayla hanya mendengkus dan kembali fokus menyusun kue-kuenya, tak memedulikan kehadiranku.
“Saya beneran lupa muffin yang saya pesan sama kamu waktu itu. Seminggu kemarin saya sibuk banget di hotel. Ada tim sepak bola Inggris yang menginap. Jadi, ya saya harus pastikan semuanya berjalan lancar.”
Mikayla melirik sekilas sebelum kembali lanjut menyusun kue-kuenya. Bibirnya yang mengerucut sambil berbisik entah mengucapkan apa --sepertinya mengumpatiku-- benar-benar terlihat lucu seperti ikan koi peliharaan Mama. Aku tertawa pelan sambil terus mengamatinya.
“Nggak ada yang lucu di sini, ngapain Bapak ketawa gitu? Ngeledekin saya?”
Aku kembali terbahak. Wajah marahnya malah terlihat menggemaskan. Aku menggeleng pelan mencoba meredam kekehan. Ya, ampun padahal dulu mana berani gadis ini meninggikan suaranya di hadapanku.
“Kamu marah begitu bukannya bikin saya takut malah lucu. Udah nggak usah sok-sok marah, deh. Saya beneran minta maaf.”
Mikayla menghentikan kegiatannya, menatapku dengan wajah cemberut kemudian berkata, “Saya bikinin muffin buat Bapak setiap hari loh. Saya tungguin terus, tapi Bapak nggak dateng juga. Di telepon nggak bisa, dialihkan terus,” sewotnya. “Jujur deh, Bapak balas dendam sama saya, ya? Bapak bales blokir nomor saya, kan?” telunjuk gadis kecil itu menuduhku.
Aku menyentil keningnya pelan, membuat Mikayla mengaduh. “Jangan samain saya sama kamu, saya mana pernah bloki-blokir nomor orang sembarangan. Orang seminggu ini saya nggak ngerasa nerima telepon kamu, kok.”
“Ihh, saya beneran telepon, Bapak tauuu. Tapi dialihkan terus,” balasnya ngotot.
“Coba kamu tes, telepon saya sekarang.”
“Oke!” Tanpa banyak kata, Mikayla lalu merogoh saku celemek yang dipakainya. Mengeluarkan ponsel dan mengotak-atiknya sebentar. “Nih…,” Dia menunjukkan layar ponselnya yang dalam mode speaker padaku dan terdengar suara operator yang mengatakan jika panggilan dialihkan.
Buru-buru aku mengeluarkan ponsel dari saku jas dan tidak mendapati panggilan dari nomor milik Mikayla sama sekali. Keningku berkerut bingung.
“Kamu ngehubungin nomor siapa itu? Di saya nggak ada panggilan masuk,” tanyaku heran.
“Ya, nomor Bapak-lah.”
“Kamu yakin? Kok nggak muncul?”
“Makanya itu, Bapak blokir saya, kan?!”
“Enggak! Nih liat sendiri, kontak kamu masih ada di saya.” Aku menunjukkan nomor yang tersimpan di kontakku. Namanya bahkan tidak kuubah sama sekali. Mikayla mengambil ponsel dari tanganku kemudian menatapnya lama. Matanya berkedip-kedip sesaat sebelum menatapku dengan ringisan yang terlihat jelas.
“Yang Bapak simpen ini nomor saya yang lama. Minggu lalu saya ganti nomor karena yang lama kartunya rusak.” Mikayla menunduk sambil sesekali mengintip reaksiku.
Aku hanya bisa mengembuskan napas pelan, mencoba mengelola emosi. “Terus kamu hubungin saya pake nomor baru?” Dia mengangguk. “Ya pasti nggak saya jawablah. Kan kamu tahu sendiri saya paling males jawab telepon dari nomor nggak dikenal.” Aku menggeleng pelan sambil berdecak melihat perubahan sikap Mikayla yang sekarang malah cengengesan.
“Lupa, Pak. Harusnya saya kirim pesan dulu, ya?”
Aku kembali menyentil dahinya pelan, teringat pada satu nomor yang terus menerus menghubungiku minggu lalu dan akhirnya kublokir.
Pasti itu nomor baru Mikayla.