“Jadi muffin saya mana?” tanya Pak Abi setelah menyimpan nomor ponselku yang baru. Aku berdecih pelan seraya meliriknya sinis.
“Ya nggak ada. Salah sendiri kenapa nggak dateng. Padahal seminggu kemarin tiap hari saya bikinin sampe bosen. Giliran sekarang saya nggak bikin malah ditagih.” Aku melirik sebal pria yang sedang mencebik seraya bersedekap di depanku.
“Kamu ngomel terus dari tadi. Bibir manyun-manyun udah kayak bebek aja,” ledek Pak Abi. Tangannya mencomot satu nastar yang sudah tersusun di dalam stoples, membuatku memelototinya. “Ya udah kalo nggak ada sekarang, besok aja kamu bikinin. Lusa saya ambil.”
Aku hanya mengangguk sambil terus menyusun sisa nastar ke dalam stoples terakhir. Irma yang membantuku sejak tadi sudah membawa beberapa stoples yang sudah selesai untuk di taruh di etalase sebelum diambil oleh orang yang memesan.
“Ini isinya nanas, kan?” tanya Pak Abi yang hanya kuangguki. “Kok bisa beda ya. Biasanya kalo Mama saya beli nastar, isiannya itu kadang keras banget, lengket. Makanya saya kadang nggak mau makan isinya. Tapi bikinan kamu kok nggak, ya? Lembut dan nggak terlalu manis juga. Enak.”
“Bapak suka?” Dia mengangguk. “Nih, buat Bapak.” Aku mengulurkan stoples terakhir yang baru saja kututup. “Gratis.”
Pak Abi menatapku dengan mata melebar. “Beneran?” tanyanya tak percaya. Namun keterkejutan itu hanya sesaat karena tangannya segera meraih stoples yang kuberikan dengan semangat.
Aku mendengkus pelan melihat reaksinya. “Emang ya, orang di mana-mana kalo gratisan mah cepet. Mau kacung, mau bos sama aja.” Pak Abian hanya tertawa mendengar aku mengejeknya. “Itu lebihnya. Saya bikin ini karena ada yang pesen aja. Yang dibawa Irma tadi udah cukup.”
Di hadapanku Pak Abian hanya mengangguk-angguk dengan senyum lebar lalu mengucapkan terima kasih. Bahkan ketika dia akhirnya pamit untuk kembali ke hotelnya, senyum itu tidak juga hilang. Padahal aku hanya memberinya setoples kue kering yang bisa dia dapatkan dimana saja.
****
Aku sampai di rumah pukul tujuh malam. Melangkah lambat karena terlalu lelah aku mendapati semua anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tengah, tampak sangat gembira. Ada apa?
“Dek, baru pulang kamu?” Aku mengangguk seraya tersenyum tipis pada Mbak Indi yang menyapa.
“Sini, Mik,” ajak Bagas. Menepuk tempat di sebelah Mbak Indi.
“Ada apaan ini, kok kayaknya mukanya pada girang bener,” tanyaku sambil melepaskan sling bag dan menaruhnya di samping. Mbak Indi hanya tersenyum-senyum sementara Mas Gio, Papa dan Mama terlihat sangat antusias.
“Bentar lagi kamu jadi Tante, loh, Dek,” beritahu Mbak Indi. Aku masih terpaku di tempat, belum memberikan reaksi. “Mbak hamil, Dek. Udah dua bulan ternyata.”
Dan suasana seketika kembali riuh dengan celotehan-celotehan bernada gembira di sekelilingku sementara aku hanya terdiam kaku. Berusaha menekan perasaan tak nyaman yang tiba-tiba menghampiri, aku menarik sudut-sudut bibirku membentuk senyum senang. “Selamat, ya, Mbak. Aku seneng banget. Akhirnya yang ditunggu-tunggu hadir juga.” Aku memeluk Mbak Indi erat kemudian mengusap pelan perutnya yang masih rata.
“Makasih, ya, Dek.” Mbak Indi tersenyum lebar yang kubalas dengan cengiran.
Perlahan mataku melirik pada Bagas yang duduk merangkul Mbak Indi, berbisik entah apa, kemudian tertawa bahagia. Tangan lelaki itu terulur, mengusap dengan sayang perut Mbak Indi, tempat buah hati mereka tumbuh.
Tanpa sadar aku mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh saat melihat romantisme pasangan di hadapanku ini. Rasanya masih sakit. Perih melihat kebahagiaan Mbak Indi dan Bagas. Mengerjapkan mata yang terasa berembun, aku akhirnya pamit ke kamar untuk bersih-bersih. Padahal alasan yang sebenarnya adalah aku tidak kuat lagi menahan air mata yang terancam tumpah jika berlama-lama berada di sana.
Aku tahu perasaan yang kumiliki saat ini adalah sebuah kesalahan. Seharusnya aku segera berhenti dan tidak lagi menyimpan cinta pada Bagas saat akhirnya aku tahu jika dia menjalin hubungan dengan saudaraku. Tapi aku bisa apa jika pada kenyataannya tidak semudah itu untuk mencabut semua perasaan yang sudah mengakar di hati sejak sepuluh tahun yang lalu?
Tidak mudah bagiku untuk melupakan sosok Bagas setelah semua yang pernah kami lewati bersama. Kebaikannya, perhatiannya dan semua hal tentangnya masih terlalu sulit untuk aku lupakan.
“Move on dong, Mik, Move on …. Mau sampe kapan lo kayak gini terus.” Aku menunjuk pada pantulan diriku di cermin besar yang ada di kamar mandi. Wajah letih yang sudah dipenuhi air mata itu menatapku pilu. Aku kembali terisak.
“Ya Tuhan, sakit banget.” Aku menepuk-nepuk pelan d**a yang terasa sesak sebelum akhirnya luruh di lantai. Duduk bersandar pada dinding yang dilapisi marmer berwarna hijau, aku menumpukan tangan di atas lutut kemudian menangis di sana.
Sumpah mati aku bahagia melihat kebahagiaan Mbak Indi, juga Papa dan Mama yang sebentar lagi akan menimang cucu pertama. Aku bahagia akan segera memiliki keponakan lucu yang menyemarakkan keluarga ini. Tapi entah kenapa, sesak di hatiku belum juga mau hilang, padahal sudah tiga bulan sejak pernikahan mereka. Apa yang harus kulakukan jika sudah begini?
****
Beralasan lelah dan sudah sempat makan sebelum pulang, aku menolak ajakan Mas Gio untuk makan malam bersama. Walau terlihat bingung dan sedikit tidak percaya, untungnya Mas Gio tidak memperpanjang dan memilih membiarkanku beristirahat.
Aku bergelung di atas tempat tidur dengan hati sedikit lega. Setelah mengeluarkan segala emosi terpendam lewat tangisan di kamar mandi tadi, aku merasa lebih baik sekarang. Karena bingung harus melakukan apa, aku akhirnya membuka aplikasi WhatssApp dan melihat group chat Eat Me yang sepi. Tumben.
Me: Tumben nih, grupnya sepi. Lg pada ngapain?
Beberapa saat kemudian notifikasi ponselku mulai ramai oleh balasan dari para karyawanku.
Ari: Baru nyampe rumah, Mbak Bos :))
Irma: Abis makan Mbak.
Me: Ohh, pantes. Biasanya kan ada aja yg di obrolin di grup ini. Gak ada yg mau ngajakin gosip nih? Mumpung saya lagi free.
Dewi: Biang gosipnya @Ari tuh Mbak :D baru abis jalan sama gebetan.
Irma: Siapa? Siapa gebetannya si Ari? Tumben ada yg mau :p
Ari: Wah tau dari mana lo Wi? Diem-diem kepo juga…
Dewi: Lu kan posting di i********:, ya gue liat di news feed… lo selfie sama dedek2 :D Jgn2 masih SMA ya, Ri? Mukanya keliatan masih polos banget.
Irma: Gile si Ari mainannya dedek gemess… Jangan kau rusak gadis polos itu wahai playboy baru netas :D
Dan begitu saja aku sudah kembali tertawa. Menyenangkan sekali melihat interaksi para karyawanku di Eat Me. Padahal kami baru bersama selama tiga bulan terakhir, tapi kedekatan yang terjalin seakan kami sudah bersama untuk waktu yang lama.
Setelah ikut menggoda Ari mengenai gebetan barunya, Aku menutup w******p dan meninggalkan ponsel di atas tempat tidur. Beranjak menuju lemari buku yang ada di sudut dekat jendela dan mengambil satu novel terbaru yang belum selesai aku baca.
Aku larut dalam bacaanku entah berapa lama sampai akhirnya dering ponselku terdengar mengganggu. Malas-malasan aku turun dari bean bag empuk berwarna abu-abu muda yang menjadi tempat favoritku saat membaca dan melangkah menuju tempat tidur.
Nama Pak Abian yang tertera di layar membuatku mengernyit bingung. Jika dulu saat aku masih bekerja sebagai sekretarisnya, melihat nama Pak Abian ada di layar ponselku jelas hal yang biasa. Namun saat aku sudah tidak lagi bekerja untuknya, terasa cukup mengherankan.
“Ya, Pak?” tanyaku setelah menggeser layar untuk menjawab panggilannya.
“Mika, besok nastarnya kamu bikinin lima stoples, ya. Saya tadi pulang ke rumah orang tua saya, terus Mama nyobain nastar buatan kamu, katanya enak. Jadi mau juga.”
Aku tersenyum geli mendengar penuturan Pak Abian. Astaga keluarga itu memang benar-benar pencinta semua makanan manis. “Oke, Pak. Besok saya bikinin lima stoples. Ada lagi?”
“Umm … nastar lima stoples, muffin dua lusin … Enaknya apa lagi?”
Ya mana kutahu.
Tapi tentu saja aku tidak menjawab seperti itu. Biar bagaimanapun Pak Abi saat ini adalah konsumen yang harus dilayani dengan baik. Siapa tahu nanti dia mau memborong semua kue-kue yang kubuat, kan?
“Ya, terserah Bapak maunya apa? Atau kalo nggak ada request khusus, nanti pas ngambil pesenannya Bapak cobain aja kue-kue lain yang ada di Eat Me. Saya jamin enak semua kok.”
“Ya udah gitu aja deh, nanti saya cobain pas ngambil. Oh iya, Mama saya tadi minta alamat toko kamu. Pengin mampir kalo lagi senggang.”
“Oh, ya? Wah … saya jadi ngerasa terhormat Bu Miranda mau mampir ke toko saya,” sahutku antusias.
Sama seperti Pak Abian, Bu Miranda adalah sosok yang juga sangat menggemari penganan manis. Itu yang bisa kusimpulkan dari beberapa pertemuan kami sebelum aku resmi resign. Yang aku tahu setiap jamuan yang beliau adakan, akan ada satu corner khusus untuk menyajikan berbagai jenis kue, puding dan penganan-penganan manis lain yang menjadi favoritnya. Selalu seperti itu.
“Minggu depan Mama saya ada arisan sama temen-temennya. Siapa tau nanti dia beli kue-kuenya di toko kamu. Lumayan kan dapet pelanggan baru.”
Aku terkekeh pelan, mengangguk-angguk senang. “Bapak ternyata bukan cuma bisa jadi CEO hotel, tapi berbakat juga jadi marketing toko kue.” Di seberang sana aku mendengar Pak Abian tergelak.
“Ya bolehlah. Nanti kalo Mama saya beneran borong kue di toko kamu buat acara arisannya, kamu harus bayar saya, ya. Kan saya yang promosiin,” guraunya.
“Beres, Pak. Kalo Bu Miranda beneran beli di toko saya, saya bakal kasih bapak satu stoples nastar lagi. Gratisss.”
****
Keesokan harinya, pukul tiga sore, saat aku dan Irma sedang memasukkan nastar pesanan Pak Abian ke dalam stoples, Ari yang sedang berjaga di konter depan memanggilku. Katanya ada dua orang laki-laki yang mencariku.
Penasaran, aku akhirnya meminta Irma menyelesaikan sisa pesanan Pak Abian dan melangkah keluar menemui tamu yang mencariku.
“Loh, Mas Gio?” Aku menyapa kakakku yang sedang menyantap red velvet cake yang ada di hadapannya dengan santai. Sepertinya Ari belum terlalu familiar dengan wajah kakakku ini. “Aku kirain siapa.” Mas Gio hanya terkekeh saat aku menarik kursi yang ada di depannya dan duduk di sana.
“Habis jalan sama Robby tadi.” Aku menoleh pada sosok lain yang ada di samping Mas Gio, kemudian menyunggingkan senyum. Robby adalah teman Mas Gio yang bekerja sebagai desainer interior, juga pemilik kafe yang pernah Mas Gio tunjukkan padaku dulu.
“Hai, Mika,” sapa Mas Robby. “Muffinnya enak banget loh,” pujinya.
Aku hanya tersenyum senang. “Makasih, ya, Mas.”
“Rame juga ya, toko kamu, Dek.” komentar Mas Gio sambil menatap berkeliling.
“Lumayan, Mas,” jawabku. “Doain aja bisa gini terus.” Mas Gio hanya mengangguk-angguk. “Oh, iya. Pelangganku banyak banget yang suka sama desain interiornya loh, Mas Robby. Makanya pada betah mampir terus makan kuenya disini.”
Mas Robby tampak senang dengan ucapanku. Dia meminum kopi dari gelas kertas yang ada di depannya, menatapku sesaat sebelum menjawab, “Syukur deh kalo pada suka. Tapi yang bikin mereka terus mampir bukan cuma karena interior tokoknya kali, Mik. Emang kue-kue buatan kamu enak kok. Makanya pada balik lagi.”
Aku hanya tersipu malu mendengar pujiannya. Rasanya sangat menyenangkan mendengar penghargaan seperti itu. Membuat semangatku bertambah berkali lipat.
Mas Gio kemudian mengusap kepalaku, “Nggak sia-sia kan ternyata buka toko kue? Bakatnya tersalurkan dengan tepat.”
Setelah selesai menghabiskan penganan masing-masing, Mas Gio akhirnya mengajak Mas Robby untuk pergi karena masih ada janji dengan orang lain. Aku mengantar mereka sampai ke parkiran. Namun begitu Mas Robby sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin, Mas Gio yang berdiri di sampingku menahan tanganku. Membuatku mendongak menatapnya dengan raut bertanya.
“Kenapa sih, Mas?”
“Menurut kamu Robby gimana?”
Aku mengerutkan dahi bingung mendengar pertanyaannya. “Gimana apanya?”
“Robby naksir kamu, Dek,” bisik Mas Gio.
“Hah?” Refleks aku mundur selangkah, menatap Mas Gio dengan raut terkejut. Tak lama kemudian aku menepuk lengannya gemas. “Jangan bercanda deh, Mas. Nggak lucu.”
“Ih, siapa yang bercanda. Beneran ini, Mik.” Mas Gio kembali mendekatkan wajahnya ke telingaku. “Sebenernya yang ngajakin mampir ke sini tuh, si Robby. Udah dari lama pengin mampir, cuma dianya malu. Makanya maksa Mas buat nemenin.”
Aku menatap Mas Gio tak percaya, lalu mengalihkan pandangan pada Mas Robby yang sudah ada di balik kemudi dan tampak serius dengan ponsel di tangannya.
“Kalo kamu mau coba aja dulu deket. Siapa tau jodoh, iya kan?” goda Mas Gio.
“Mas tuh yang diminta Mama buat nyari jodoh, bukan aku!” gerutuku kesal.
“Ya, pokoknya gitu deh. Mas nggak maksa, tapi nggak ada salahnya dicoba kan?” Setelah mengacak pelan rambutku, Mas Gio akhirnya berpamitan dan menyusul Mas Robby masuk ke mobil. Aku menunggu hingga sedan hitam itu berlalu dan berbaur dengan padatnya jalanan sore ini.
Aku tertegun di tempat memikirkan kembali ucapan Mas Gio. Aku memang belum mengenal dekat Mas Robby selain saat dia membantuku soal desain interior Eat Me, tapi aku cukup yakin Mas Gio nggak akan sembarangan mengenalkan seorang pria untuk dekat dengan adiknya. Jadi, apa lebih baik aku coba saja memberi kesempatan pada Mas Robby untuk mendekat?