Viro tersenyum hangat mendapati ibunya terbangun dipagi hari itu, masih dengan wajah pucat dan badan lemasnya, ibu juga membalas senyuman hangat Viro.
"pagi bu.. gimana? yang mana yang ibu rasa masih sangat sakit? tanya Viro lembut sambil mencium kening ibunya
"pagi nak.. alhamdulillah.. masih lemes dan pusing dikit aja kok nak... jadi ibu sakit apa Viro? kok sampe nginep di RS?"
"Anemia ibu kambuh lagi.. belum juga seminggu baikan malah beberes rumah.. siapa yang suruh.. hemm?
"ibu cuma bosen diem aja dirumah nak.. ibu juga mau bantu kamu dikit2,, masa iya kamu udah kerja beberes rumah juga.. ibu ga mau kamu kecapekan malah ikutan sakit,, ntar pasiennya malah jadi 2 di rumah" gurau ibu dalam pembelaan dirinya.
"gapapa ibu... semua itu sudah jadi tugas, kewajiban dan tanggungjawab Viro sebagai anak satu2nya ibu, sekaligus satu2nya orang yang ibu punya di dunia ini.. ibu dari hamil Viro sudah berjuang untuk hidup Viro,, jadi sekarang gantian Viro yang harus berjuang untuk kesembuhan, kesehatan dan masa tua ibu" balas Viro lembut namun tegas.
"iyaaa nak.. iyaaa.. semoga Allah senantiasa memberimu kemudahan dalam meraih sukses hidupmu ya nak.. aamiin" do'a tulus ibu untuk Viro
"aamiin aamiin aamiin yaa Robbal alamiin" jawab Viro tak kalah tulusnya mengamini do'a ibu
Viro kembali bicara sambil menggenggam tangan ibunya
"buu... hari ini Viro masuk sift pagi, gada yang bisa diajak tukar sift. jadi Viro harus berangkat kerja sebentar lagi, jadi,,, Viro minta, ibu disini nurut ya.. semua yang dianjurkan dr dan perawat. Apapun itu termasuk tindakan pemeriksaan test dsb. Viro harap ibu bersedia dan tidak menolaknya. Satu lagi,, Viro harap ibu jangan banyak tanya ya,, tentang semua yang dilakukan dr pada ibu. karena itu semua demi kesembuhan ibu. Viro mau ibu sembuh,, Viro akan berjuang sekuat tenaga demi ibu. jadi ibu juga harus semangat dan berjuang juga untuk sembuh ya bu... Viro mohon" pinta Viro panjang lebar pada ibunya dengan tanpa sadar air matanya sudah membasahi wajah gantengnya.
Sejenak ibu berfikir atas pesan dan permintaan anaknya itu, mengapa dia tidak boleh bertanya pada dr dan perawat? jika memang sakitnya tidak parah mengapa harus menjalani serangkaian pemeriksaan tindakan test dsb itu. Namun ibu tidak ingin membuat suasana haru ini menjadi semakin haru bila ditanyakan kembali pada Viro, apalagi sebentar lagi Viro harus segera berangkat bekerja, ibu tidak ingin mengganggu konsentrasi kerja Viro. Jadi ibu hanya mengiyakan permintaan Viro.
"iyaa naaakkk.. akan ibu laksanakan semua permintaan kamu. sekarang kamu berangkat ya biar ga telat. jangan lupa sholat dan jangan sampai telat makan!" perintah ibu sambil menghapus air mata di pipih Viro.
"iyaaa bu.. kalau gitu Viro berangkat sekarang ya.. Assalamu'alaikum" pamit Viro sambil mencium tangan dan pipi ibunya
"walaikumsalam,, hati2 nak" balas ibu yang hanya diangguki Viro sambil berlalu keluar kamar rawat ibu.
Ditempat kerjanya Viro lumayan tidak fokus memikirkan ibu dan juga bagaimana cara mendapatkan uang secepatnya untuk uang muka perawatan ibu di rumah sakit. Viro terus berfikir hingga ia melihat sekelibatan boznya melewati Viro menuju ruangan pribadi boznya. Seketika Viro seperti mendapatkan ide untuk meminjam uang pada boznya.
Boznya yang masih sangat muda itu terkenal baik dan dermawan. Dalam kafe ini hampir seluruh pegawainya seorang mahasiswa pejuang beasiswa seperti Viro. Bang Rezki namanya, pria tampan dan mandiri itu sukses di usianya yang masih 27th. Dia seorang PNS dinas Perpajakan dan mempunyai bisnis kafe tempat Viro bekerja. Bang Rezki juga bukan anak orang kaya, namun kecerdasan kesabaran keuletan serta percaya dirinyalah yang membuatnya menjadi sesukses ini dimasa mudanya.
Dulunya bang Rezki juga pejuang beasiswa seperti Viro. dia juga bekerja parttime di sebuah kafe, karenanya setelah dia sukses dia membuka usaha kafe ini dari pengalamannya semasa kuliah dulu dan tentu saja untuk membantu para mahasiswa pejuang beasiswa seperti dirinya dulu. dia ingin memberi semangat pada generasi penerus bangsa, bahwa tidak ada yanb tidak mungkin bila kita bersungguh2.
Setiap jam istirahat bang Rezki pasti mengunjungi kafenya. dan nanti akan kembali ke kafe dijam pulang kantornya, bukan untuk sekedar mengecek, namun ia juga tidak malu membantu para pekerjanya disana. semua karyawan kafe disana sangat mengagumi dan menjadikan bang Rezki inspirasi untuk meraih sukses.
Tanpa berpikir lama akhirnya Viro segera menuju ruang pribadi boznya itu. Tok.. tok.. tok...
"masuk" seru bang Rezki dari dalam ruanganya.
"permisi bang.." jawab Viro malu sambil memasuki ruangan boznya
"eh Viro.. duduk Ro.." perintah boznya lembut yang diangguki Viro kemudian duduk di depan meja boznya.
"ada apa??" tanya lembut sang boz
"ini bang.. gimana ya ngomongnya?" bingung Viro memulai pembicaraan
"ngomong aja Ro.. ma gue ini,, kayak ma sape aje elo...!" bujuk sang boz yang akhirnya memberi Viro keberanian
"gini bang,, sebelumnya gue mau minta maaf karena gue mau repoti abang" kata Viro terjeda sambil melihat respon sang boz.
Oh iya jangan heran ya,, kalau mereka satu kafe memang dibiasakan sang boz ber elu gue satu sama lain bahkan dengan boznya sekalipu. tujuannya agar lebih akrab dan kayak saudara sendiri, ditambah usia mereka yang tidak terlalu jauh.
Dan ternyata boznya masih santai seperti sebelum Viro mulai bicara, dan Viro melanjutkan kalimatnya.
"ibu gue sakit bang di RS,, dan butuh banyak biaya.. jadi gue butuh bantuan elu buat minjemin gue uang buat DP biaya perawatan disana" lanjut Viro dengan menekuk wajahnya karena malu.
"iyaaa.. gue juga mau nanyain itu sama elo Ro.. gimana kondisi ibu? dokter bilang apa?" tanya bang Rezki
"kemungkinan Tumor Otak bang.." jawab Viro semakin lesu teringat kembali akan penderitaan sang ibu.
"yaa Allah.. elo yang sabar ya Ro.. yang kuat juga, dan jangan berhenti berserah padaNya" nasehat bang Rezki
"iya bang Insyaallah.." jawab Viro masih lemes
"gue boleh jengukin ibu elo?" tanya sang boz kembali dan mengejutkan Viro pasalnya usahanya meminjam uang dari tadi belum diiyakan oleh sang boz, namun malah meminta menjenguk ibunya.
"heh? eh.. boleh kok bang" jawab Viro masih dalam kebingungannya.
"okeh.. kalau gitu uangnya aku transfer ke kamu apa ke langsung rek RS aja Ro..?" tanya bang Rezki yang kembali membuat Viro tergelak.
"ma.. maksudnya bang? abang kasih pinjaman uang itu sama Viro?" tanya Viro kembali memastikan ia tak salah dengar ucapan sang boz.
"iyaa gue kasih elo pinjem.. gue transfernya kemana jadinya? jawab Rezki dengan senyumnya.
^_^ Beruntungnya Viro punya boz baek cem Rezki.. semoga kedepan Viro juga bisa sesukses Rezki yaaa guysss...
--- Timacih emmuaaaccchhh ---