Betrayal
Langkah Claudia Carlson terasa ringan saat memasuki Gedung Carlson yang menjulang angkuh di pusat kota Las Vegas, harta warisan terakhir ayahnya, Harry Carlson. Hari itu, Claudia datang tanpa janji. Ada kabar penting, kabar bahagia yang harus Roy dengar dari mulutnya sendiri. Kabar yang tentunya akan membuat Roy senang karena merupakan impian mereka berdua.
Di dalam tasnya, test pack dengan dua garis merah terselip rapi.
Di lobby gedung, foto besar ayahnya seolah tersenyum menyambutnya. Claudia balas tersenyum kecil, menahan rasa haru, ayah yang sangat menyayanginya , yang dua tahun lalu telah tiada.
Sambil menaiki lift Claudia bisa membayangkan Bella, sahabat yang dianggapnya bagaikan saudara dan sekretaris suaminya akan memeluknya duluan bila mendengar kabar bahagia ini.
Lift bergerak naik ke lantai tertinggi. Meja sekretaris kosong, tidak ada Bella di sana
Mungkin Bella lagi laporan ke Roy, batinnya.
Pikirannya membayangkan saat kabar bahagia disampaikan kepada kedua orang tercintanya itu , pasti mereka akan memeluknya erat bagaikan pelukan Teletubbies… konyol, tapi menghangatkan hati.
Tapi semua bayangan indah itu hancur bahkan sebelum Claudia menyentuh gagang pintu.
Sebuah suara, menghantam dadanya lebih keras dari apa pun.
“Ah… ah… Roy… cukup kuat nggak? Kamu suka gerakan ini? Atau kamu lebih suka Claudia yang lakukan gaya ini untuk kamu?”
Suara Bella terengah penuh nafsu.
Kemudian suara Roy terdengar rendah
“Kalau dia naik ke pangkuanku kayak kamu, bisa-bisa pahaku patah ketiban badannya.”
Tawa Bella pecah dengan desahan Diikuti suara pok-pok-pok, suara paha dan b****g beradu cepat
Dunia Claudia berhenti.Napasnya hilang.Hatinya seperti diremas dari dalam d**a.
Air mata jatuh tanpa aba-aba.
Sahabat yang dia sayangi seperti saudara. Suami yang ia cintai, ia lindungi saat ayahnya menolaknya. Suami yang ia biayai kuliahnya dan ia percayai memegang seluruh warisan ayahnya.- Dua orang yang paling ia sayangi, menghancurkannya sampai ke tulang sum-sumnya.
Tangis Claudia berubah menjadi api.
Ia meraih gagang pintu tapi terkunci.
“Nggak usah berhenti, Bella. Pintu terkunci. Nggak ada yang bisa masuk,” suara Roy terengah dia hampir mencapai klimaksnya.
Sesuatu di dalam diri Claudia meledak. Gelap naik dari kaki sampai ke ubun-ubunnya.
Dia meraih kursi tamu warna merah di depan pintu dan menghantamkannya ke kaca samping pintu.
Prang!
Kaca meledak berhamburan. Serpihan menyayat kulit tangannya. Claudia tidak peduli. Perih di kulitnya tidak ada apa-apanya dibanding perih yang mencabik hatinya.
Ia menyelipkan tangan melalui bingkai kaca yang hancur, memutar selot dari dalam, lalu menerobos masuk.
Roy dan Bella setengah telanjang di kursi direktur ….Terperanjat.
“Cla–Claudia? Kamu kok bisa ke sini?” suara Bella pecah, lemas ketakutan.
“Claudia, ini nggak seperti yang kamu lihat….” Roy panik.
Claudia tidak mendengar apa pun kecuali degup jantungnya yang keras seperti drum perang.
Dengan kursi yang dia pakai menghantam jendela, ia menghantam Bella.
Tubuh Bella terpelanting, celana dalam merahnya masih menggantung di betisnya.
“BELLA!” Roy menjerit.
Claudia tak peduli. Ia mengangkat kembali kursi itu, siap menghancurkan apa pun yang tersisa dari pengkhianatan mereka.
Roy merebut kursi itu di detik terakhir.
“Tenang, Clau… please. Aku lupa diri. Maafin aku,” ucapnya terburu-buru sambil menarik celana.
“Diam!”
Suara Claudia meledak, terbakar oleh luka yang tak bisa disiram air.
“Bukan lupa diri, Roy. Kamu memang gatal! Kamu memang nggak pernah bisa menjaga celanamu tetap tertutup! Kamu… BIADAB!”
Napasnya patah-patah, wajahnya merah, amarahnya memuncak.
“Setelah semua yang aku lakukan untukmu…. membiayai pendidikanmu, keluargamu, hidupmu…. jabatan direktur yang kuberikan karena aku percaya padamu, karena kamu suamiku, karena aku pikir kamu mencintaiku… begini balasanmu? Dengan menghianatiku? Begini caramu menginjak harga diriku?!”
Bella terdiam membatu di lantai, tidak berani bernapas.
“Aku akan ceraikan kamu. Kalian berdua keluar dari perusahaanku!”
Roy panik. Dia langsung menyalahkan Bella “ Bella yang menggodaku, Clau… Bella yang binal”
Dam Bella tentu membantah, lalu mereka saling tuduh seperti dua sampah busuk yang baru saja tercium baunya.
Roy lalu mendekat ke arah Claudia dengan suara serupa racun manis.
“Clau… maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu. Kita sudah bersama sejak SMA. Jangan ceraikan aku. Bella cuma seks. Kamu satu-satunya wanita di hatiku…”
Perlahan, tubuh Claudia melemah dalam pelukan Roy. Segala amarah dan luka hampir runtuh saat ia merasakan kehangatan lelaki yang meski telah menghancurkannya masih ia cintai. Dan Roy tahu itu. Ia selalu tahu cara membuat Claudia luluh.Senyum licik melintas di wajahnya. Dengan gerakan kecil, hampir tak terlihat, Roy memonyongkan bibir memberi kode pada Bell seperti memberi kecupan rahasia pada wanita yang baru saja memuaskan dirinya. Sayangnya, pantulan cermin di samping mereka tidak bersekongkol dengannya. Claudia melihat semuanya.
Kesadaran Claudia menyala seperti bensin yang disulut korek.
Ia mendorong Roy sekuat tenaga.
“Kamu pikir aku bodoh?” suaranya gemetar tapi tajam. “Kamu suruh Bella diam supaya aku luluh? Supaya kalian bisa lanjut berselingkuh?! Aku tidak akan jatuh lagi ke rayuan busukmu!”
Napasnya memburu, matanya merah oleh kemarahan.
“Tunggu pengacaraku. Kalian akan keluar dari hidupku dan dari perusahaanku ….tanpa sepeser pun. Aku akan buat kalian miskin!”
Wajah Roy menggelap.
Detik berikutnya, tangannya melingkar ke leher Claudia. Mencekik.
“Kamu pikir kamu siapa? Tanpa aku, perusahaan ayahmu sudah bangkrut! Kamu cuma wanita gendut yang bisa hidup enak karena aku! Harusnya kamu bersyukur aku masih mau sama kamu!”
Cekikannya makin kuat.
Claudia terhempas ke meja. Tubuhnya melemah. Pandangannya kabur. Nafasnya hampir berhenti. Ia meraba-raba meja, mencari apa pun… apa pun… yang bisa menyelamatkannya
Jarinya menyentuh gagang gunting.
Tanpa pikir lagi karena nafasnya hampir habis Ia menancapkan gunting itu ke d**a kiri Roy.
Jeritan Roy terdengar
“AUGH!”
Roy terjatuh. Darah menyebar di lantai.
Bella menjerit histeris.
“CLAUDIA! Kamu membunuh Roy! KAMU PEMBUNUH!”
Pandangan Claudia menggelap.Suara-suara memudar. Dunia perlahan menghilang.