Chapter 23

966 Words

Tiba di depan pintu ruang perawatan Pak Gandhi. Mereka bertiga mendapat sambutan dari Ibu Renata. “Sondea, cucu Oma. Sini nak.” Ibu Renata mengambil Sondea dari kereta bayi sambil untuk beberapa saat menatap Fea dengan tatapan datar sedikit sinis. Fea balik memandanginya dengan tatapan tanpa makna. Ekor mata Fea berlanjut melirik satu-satunya ranjang yang ada di ruangan itu. Kemudian menghambur kesana. Fea memeluk dan mencium telapak tangan ayahnya. “Ayah. Lihat. Fea bawa bunga kesukaan ayah.” Fea berbicara dengan sangat bahagia bercampur haru. “Teiiimm.makas.ssiih.” Jawab Pak Gandhi susah payah. Melihat keadaan yang seperti ini, Fea tidak mau membebani pikirannya dengan bercerai dari Dr. Arthur. Terlebih Fea sendiri juga tahu, kalau ayahnya tidak akan pernah sembuh total dari penyakit

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD