Chapter 6

1280 Words
Aroma menyengat obat-obatan mulai tercium. Dr. Arthur telah lebih dulu memasuki lorong rumah sakit yang tampak sepi. Fea berjalan mengikuti di belakangnya sambil menggendong Sondea. Masker 3M Particulate Respirator N95 sudah siap melindungi pernapasan Sondea dari virus-virus yang tinggal di Rumah Sakit. Di sepanjang lorong tak banyak lalu lalang perawat ataupun penjenguk lain. Seolah dunia telah menyediakan jalan bagi mereka secara cuma - cuma. Sondea tampak menarik-narik pengait masker di telinganya. Merasa tidak nyaman, wajahnya terlihat setengah menangis. Fea mencoba mengalihkan ketidaknyamanannya dengan bernyanyi-nyanyi riang. Menyibukkan dua telapak tangan Sondea dengan tepukan-tepukan yang dibantu tangannya. Usahanya tak memperlihatkan tanda-tanda keberhasilan. Sondea malah semakin menjadi, kini sudah menangis dan sulit ditenangkan. Ruang perawatan Pak Gandhi tinggal beberapa langkah lagi. Dr. Arthur sudah menarik gagang pintu dan siap masuk terlebih dahulu. Fea yang masih berjalan, terhenti sejenak untuk membuat Sondea lebih kondisional. “Aduh sulit sekali ditenangkan anak ini” Fea menggerutu disertai rasa panik. Dr. Arthur yang sudah di dalam ruang perawatan Pak Gandhi pun tengah sibuk sendiri dengan pembicaraannya bersama sang ayah. Dr. Hilman telah lama tidak bertemu dengan anaknya, tentu banyak sekali cerita yang ingin didengar dari Dr. Arthur. “Bagaimana keseharianmu nak?” “Baik yah, masih sama seperti biasa.” “Lalu hubunganmu dengan Fea, apakah sudah menemukan kecocokan?” “Kami berdua memang tidak berusaha untuk cocok yah. Mengalir saja sesuai kebutuhan dan kenyataan. Setidaknya kami tidak saling menyusahkan, itu sudah sangat baik.” “Baiklah, yang terpenting kehidupan pernikahan kalian tidak menjadi beban untuk masing-masing saja itu sudah baik.” “Karena aku juga tidak tahu dan tidak mau tahu tentang hakikat pernikahan yah. Sudah terjadi ya jalani saja, aku juga tidak berharap akan rasa kepemilikan yang membuatnya semakin rumit.” “Iya, ayah percaya kepadamu nak. Kamu tidak mungkin pula berbuat yang tidak-tidak. Terdengar bunyi ketukan pintu, yang seketika muncul Fea bersama Sondea dibaliknya. Masih suara tangisan yang keluar dari mulut mungil Sondea. Dengan menanggalkan segala rasa gengsi, Fea mendekati Dr. Arthur dan meminta tolong untuk mencoba menenangkan Sondea. Diterimanya Sondea dari uluran tangan Fea, Dr. Arthur kemudian keluar ruangan untuk mencoba menenangkan Sondea dengan caranya. Fea mencium tangan Dr. Hilman dan mengucapkan salam. Dr. Hilman tersenyum lebar melihat menantunya yang sangat cantik dan begitu sopan. “Bagaimana kabarmu nak, apakah Arthur menyusahkanmu?” Fea tertawa ringan dan melanjutkannya dengan jawaban “Tidak sama sekali yah, kami mempunyai hubungan yang simpel.” Dr. Hilman mengimbangi tawa Fea. Fea mendekat ke ranjang pasien dan menyentuh tangan ayahnya. Diciumnya tangan itu, kemudian berbalik dan bertanya “Bagaimana keadaan ayah, apakah sudah membaik Dr. Hilman?” “Ya begitulah, sudah ada pergerakan-pergerakan kecil di jarinya” sambil menunjuk dengan mata ke arah jari telunjuk Pak Gandhi yang tiba-tiba mengalami pergerakan. Fea meneteskan air mata ketika melihat tangan yang sudah setahun lebih terlihat pucat dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Fea meletakkan tangan itu ke pipinya, merasakan kelemahannya di kulit pipinya. Menciuminya berkali-kali, sampai basah terkena air mata yang membanjiri wajah cantiknya. Suara Sondea yang sedari tadi menangis, sudah tak terdengar lagi dari dalam ruangan. Tergantikan oleh bunyi tap tap tap derap langkah sepatu mendekat. Yang Fea mengenali langkah itu, Dr. Arthur. Dalam kondisi masih menangis, Fea berpikir sejenak. Tak terdengar suara tangisan Sondea lagi. “Apakah dia berhasil menenangkan Sondea?” tanyanya pada diri sendiri di dalam hati. Telinga Fea berusaha mencari-cari suara tangis Sondea, tapi memang hening. Hanya ada suara sesenggukan dari hidungnya sendiri. “Bagaimana bisa dia yang bahkan dalam sehari saja belum tentu menyentuh Sondea, bisa dengan mudah membuatnya tenang.” Tak sabar dipusingkan dengan pertanyaan –pertanyaan. Fea memutar leher sembilan puluh derajat ke arah terakhir bunyi tap sepatu berhenti. Benar Fea menemukan Dr. Arthur di sudut matanya. Dan Sondea memang sudah diam dalam gendongannya. Tapi ada satu hal yang aneh. Masker yang meliputi setengah wajah Sondea sudah tidak berada di tempatnya. “Yahh kalau hanya dengan melepas maskernya seperti itu sih, aku tidak perlu meminta bantuanmu Dr. Arthur.” Fea membuka pembicaraan sembari meletakkan tangan ayahnya lagi. “Justru memang seharusnya dilepas sejak awal, karena masker inilah yang membuat dia menangis.” “Kamu ini gimana sih. Bukannya kamu dokter. Bisa membiarkan anak balita tanpa perlindungan di Rumah Sakit?” Fea hampir memakai nada dasar G5 untuk suara wanita, sebelum menyadari dimana keberadaannya. “Aku memang dokter, dan aku juga tidak akan marah kalau hanya diomeli seorang aktris karena perkara ini.” Merasa tersinggung Fea hendak marah dan meneriaki Dr. Arthur lebih kencang. Tapi urung, rupanya dia berencana lain. “Ya baiklah, kau memang lebih tahu tentang hal-hal medis. Tapi kalau sampai Sondea sakit, itu sama sekali bukan urusanku. Jangan libatkan aku, apalagi mengganggu waktu istirahatku. Dr. Arthur mendapat bertubi-tubi ancaman darinya. Dr. Hilman yang menyaksikan pertengkaran menantu dan anaknya, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. “Sondea anak tampan, sini ikut opa” Dr. Hilman membuka tangannya untuk meminta Sondea dari gendongan Dr. Arthur. Sondea menatap Dr. Hilman dengan kilau mata beningnya, khas bayi normal yang belum bisa berjalan. Dr. Arthur menyingkir dari tepi ranjang pasien, duduk di kursi yang berada di sudut ruang. Fea masih tak bergeming duduk di sebelah ranjang ayahnya, kembali fokus menatap tubuh sang ayah. Dr. Hilman mendekat ke ranjang pasien, kemudian duduk berseberangan dengan Fea. Sondea anteng dalam pangkuan opanya, seakan mengerti sedang apa dirinya di rumah sakit. Sesekali jari-jari mungilnya memainkan selimut Pak Gandhi di hadapannya. Tak luput tangan mungil itu meraba-raba lengan opanya yang terbaring tak berdaya. Suasana dalam ruangan itu terasa hening dan memang tidak ada siapapun yang membuka suara. Semua berada di dimensinya masing-masing. Fea masih tetap dalam renungannya. Sudah bukan tentang Nevan ataupun ayahnya, atau Sondea, dan semakin tidak mungkin jika itu Dr. Arthur. Baru saja dirinya teringat atas berkas yang ditemukannya tempo hari. Fea melawan prasangka buruk yang menghinggapi pikirannya. Tapi untuk berprasangka baik pun itu malah menjadi suatu kebodohan. Entahlah, Fea tak mau tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Di sudut ruangan, Dr. Arthur sibuk menekan tombol-tombol layar ponselnya. Rupanya pikirannya masih dikuasai rasa ingin tahu tentang penyakit pasien semalam. Berusaha menggali informasi lebih banyak darinya. Dr. Hilman semakin asyik dengan Sondea. Berusaha membangkitkan komunikasi batin antara Sondea dan Pak Gandhi. Memperhatikan wajah Pak Gandhi, memastikan atau lebih tepatnya menantikan perubahan raut wajah dan terbukanya kelopak matanya. Tiga puluh menit berlalu, masih tetap sama. Hanya terdengar sedikit ocehan Sondea dan kekehan kecil Dr. Hilman. Fea tersadar, teringat jadwalnya hari ini bertemu Mr. Ransom. Diambilnya ponsel dari dalam tas untuk melihat jam. Sekaligus terlihat pula belasan missed calls dari Furla. Memang Fea sudah hampir dua jam berada di rumah sakit. Dirasanya besukan kali ini cukup. “Ayah, jam sebelas ini saya ada jadwal bertemu dengan klien” Fea membuka suara kepada Dr. Hilman. “Hm baiklah, ayah pikir besukanmu kali ini juga sudah cukup. Kondisi ayahmu mulai menunjukan progress yang baik. kalau kalian terlalu lama disini itu juga dapat mengganggu ketenangan ayahmu.” “Baiklah ayah, saya pamit dulu ya” sambil mengulurkan tangan untuk menerima Sondea dari pangkuan kakeknya.” “Kau tidak diantar Arthur?” “Tidak yah, Furla sudah menjemput saya dan sebentar lagi segera tiba kok.” “Kenapa kalian tidak berusaha untuk kompak dan saling mengenal satu sama lain? Bukankah itu lebih baik.” Dr. Arthur menyahut pembicaraan ayahnya dan Fea. “Ayah jangan mencemaskan kami yah, biar semuanya berjalan secara alami. Kami merasa nyaman dengan cara kami yang seperti ini.” “Tapi mau sampai kapan kalian dalam kondisi stagnan seperti ini terus? Akan lebih baik kalau sebuah keluarga itu ada komunikasi yang intens, merasa saling dibutuhkan satu sama lain.” “Siapa yang berani jamin yah, kalau kami berdua berbuat seperti anjuran ayah pasti akan berjalan lebih baik daripada hubungan kami saat ini?” To be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD