Merasa setuju dengan pendapat suaminya. Fea pun menambahi “Betul yah, kami menghargai setiap masukan dan desakan untuk bersikap layaknya keluarga yang hangat. Tapi ini cara kami dan kami merasa baik dengan seperti ini.”
“Ah sudahlah, terserah kalian saja. Memang susah ya memberi pengertian kepada kalian berdua.” Dr. Arthur sedikit kesal tapi tidak menunjukan kepada anak dan menantunya itu.
Fea berjalan mendekat ke Dr. Hilman, mencium tangannya dan berpamitan. Ditutup dengan permintaan supaya mengupayakan yang terbaik untuk ayahnya dan menjaga kesehatan Dr. Hilman sendiri. Meskipun Fea suka berbuat seenaknya, dia pandai pula berbasa-basi yang tidak basi.
Selanjutnya Fea mendekat ke Dr. Arthur, berpamitan padanya juga memberitahu kalau Fea belum bisa memastikan jam kepulangannya nanti malam. Hanya mendapat jawaban singkat dari Dr. Arthur.
“Lalu kau akan tetap disini atau kembali ke tempat praktekmu?” tanya Dr. Hilman kepada Dr. Arthur.
“Akan kembali kesana tapi tidak sekarang. Ada yang ingin kutanyakan kepada ayah tentang penyakit ini.” Sambil memperlihatkan layar ponsel kepada ayahnya.
“Baiklah.” Dr. Hilman menjawabnya sambil manggut-manggut. Fea yang sudah berada di ujung pintu melambaikan tangan. Dr. Hilman mengangguk dan memberikan senyuman. Dr. Arthur menanggapinya dengan mengangkat alis sebelah kanannya saja.
Fea meninggalkan Rumah Sakit dengan perasaan lega. Mengetahui kalau ayahnya sudah mengalami perkembangan yang lumayan. Kini sedikit kehilangan beban dan bisa melangkah lebih tenang.
Dalam perjalanan menuju kantor Mr. Ransom, suasana hati Fea sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. Yang tadinya melow berubah menjadi gesit lagi seperti dirinya yang sebenarnya. Pikiran tentang ayahnya tergantikan oleh setumpuk berkas yang harus dipelajari. Beberapa kalimat yang harus dihafalnya sebagai influencer brand make up yang diusungnya.
Sambil menyetir, Furla mengarahkan, membetulkan dan memoles Fea secara keseluruhan. Supaya tidak perlu berlama-lama retake yang tentunya bisa membuat mood Fea berantakan.
Furla terlalu bersemangat akan coachingnya untuk Fea. Sampai-sampai tidak menyadari ada motor mendahuluinya dari samping kiri. Padahal Furla sudah sen ke kiri. Tentulah hal yang tidak diinginkan itu terjadi. Kecelakaan yang hanya melukai pengendara motor, tetapi bagian depan sebelah kiri mobil Furla dan motor milik korban ringsek.
Orang-orang yang berada di lokasi kejadian berduyun-duyun datang mengerumuni asal suara desingan barusan. Membantu pengendara motor yang jatuh ke dalam selokan kering di seberang trotoar. Ya, pengendara itu terpental sekitar 5 meter dari TKP.
Fea dan Furla yang masih di dalam mobil seketika panik dibuatnya. Muncul perasaan takut dihakimi masa di benak keduanya. Dengan sedikit gemetaran Fea keluar dari mobil, tangan kanannya memberi perlindungan untuk Sondea yang berada dalam gendongannya. Disusul Furla turun dari pintu depan.
Gebrakan tangan salah seorang warga setempat di sisa kaca mobil depan yang masih utuh, mengagetkan Furla dan Fea. “Jalan pakai mata dong Bu!” teriaknya. Fea berlindung di belakang Furla. Furla menarik napas panjang, menyusun kata-kata permintaan maaf yang diplomatis.
Entah naluri apa yang membuat jari-jari Fea menekan layar ponselnya dan mengetik satu nama untuk dihubungi. Dr. Arthur, begitu bunyi susunan hurufnya. Fea cemas sekali, tangannya sedingin es, terbukti dengan adanya bekas sidik jari yang jelas di layar ponselnya. Bunyi nada tunggu kelima, masih belum diangkat juga oleh orang yang dituju.
Beruntung pada nada tunggu terakhir, akhirnya Dr. Arthur mengangkatnya. Yang padahal itu semua adalah kesengajaan Dr. Arthur. Dia hanya akan mengangkat telpon Fea pada deringan terakhir ponselnya.
“Halo Dr. Arthur, aku sedang dalam masalah. Aku dan Furla baru saja mengalami kecelakaan. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dan takut juga.” Fea nyerocos saja berbicara tanpa jeda.
“Apa yang terjadi? Dimana kau sekarang?” Dr. Arthur menanggapi tetap dengan nada datarnya. Sepertinya urat panik dan terlalu bahagia dalam tubuhnya benar-benar sudah terputus. Jadilah Dr. Arthur yang dingin hampir beku.
“Aku di persimpangan jalan dekat mall biasa kita belanja. Banyak kerumunan orang disini, tidak susah menemukannya” terang Fea masih dengan nada yang sama.
“Baiklah, aku akan segera kesana. Tunggu aku sampai, jangan kemana-mana!” sekelebat teringat seringaian Sondea yang amat menggemaskan, Dr. Arthur menjadi sangat mengkhawatirkan keselamatan anak dan istrinya.
Dalam kondisi genting dan panik seperti ini, ada beberapa orang dari kerumunan itu yang menyadari siapa Fea. Salah seorang ibu-ibu yang pastinya sinetronholic menangkap wajah Fea dengan pertanyaan “Shafea Esmeralda ya? Yang sering tayang di tv itu kan?”
Fea tak mengindahkan pertanyaan itu, dia tiba-tiba menjadi berani. Fea melangkahkan kaki mendekati korban yang sudah dibaringkan di pinggir selokan. Ada luka goresan besar dan panjang di betisnya. Luka-luka kecil di lengan, dagu, tulang pipi dan keningnya.
Korban itu masih sadar, dengan tangannya yang terluka merogoh saku belakang celananya. Mengambil sebuah ponsel, mengetapkan sidik jari tangannya. Kemudian memberikan kepada salah seorang warga yang menolong untuk meneleponkan kerabatnya.
Fea menyukai tipe korban yang seperti ini. Korban yang tidak banyak mengaduh, menyalahkan, menuntut ganti rugi, perbuatan lemah dan rendahan lainnya. Fea menghampiri korban itu, berjongkok di sebelahnya. Menyalaminya sambil mengucapkan permintaan maaf. Tak lupa pula menanyakan namanya. Didapatinya korban itu bernama Rendra anak kelas sebelas SMA. Ketika ditanya sekolah dimana. Anak itu menyebutkan kalau dia bersekolah di salah sebuah sekolah yang memang reputasinya kurang baik. tapi Fea tidak menjudge orang dengan semudah itu.
Fea melihat ada pecahan kaca menancap di leher Rendra. “Astaga, lehermu!” pekik Fea sambil menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya. Anak itu menatap Fea dengan tatapan ngeri membayangkan akan adanya serpihan kaca menancap di lehernya.
“Di.... dimana?” tanya Rendra gelagapan ketakutan kalau-kalau menancap di urat nadinya.
Fea menyentuh leher Rendra dengan ujung telunjuknya tepat di sisi tancapan kaca. Sejak awal Rendra sudah menyadari kalau Fea adalah seorang aktris. Dia merasa senang lehernya disentuh oleh Fea, beberapa detik terlupa akan nasib sialnya saat itu.
Fea mencabut tancapan kaca di leher Rendra. Anak itu berjingkat kesakitan, mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang sesaat. “Aduh Bu! Ngawur sekali.” Mengalirlah lelehan darah kental dari bekas kulit yang terkoyak.
“Aw Bu, sakit Bu. Sembarangan banget anda!” teriak anak itu dengan kesal. Fea meringis sambil memberikan kode maaf dengan dua jari.
To be continued...