Sebuah mobil putih yang Fea kenali bentuk dan platnya, berhenti di ujung keramaian. Turunlah seorang dokter masih dengan jas putihnya. Refleks Fea melambai-lambaikan tangan kearah penyelamat itu. Mata Fea memancarkan harapan besar terhadap penyelamat itu.
Tak berapa lama Dr. Arthur tiba-tiba sudah disisi Fea. Fea nyengir lebar kepada suaminya, merasa malu atas kecerobohannya. Meskipun lebih tepatnya itu kecerobohan Furla. Tapi bagaimanapun juga Fea terlibat di dalamnya. Terlebih Fea lah yang menjadi alasan Furla meleng.
“Egh Dr. Arthur tepat sekali kedatanganmu. Hm beruntung sekali Fea punya suami yang sigap sepertimu.” Furla memuji-muji Dr. Arthur untuk sedikit menutupi rasa malunya. Entah benar bisa tertutupi atau tidak, yang penting Furla sudah berusaha.
“Haduh memalukan sekali dua wanita dewasa ini. Selalu berkata bisa mengatasi sendiri, aku baik-baik saja, aku merasa bisa melakukannya, tak perlu bantuan ahahahaha dan masih banyak sekali sebenarnya tapi kucukupkan segitu saja.” Dr. Arthur menirukan gaya dan logat bicara yang biasa Fea lakukan.
Fea merasa tau diri, kali ini dia benar-benar membutuhkan bantuan suaminya. Sekalipun ejekan suaminya tadi telah membuatnya sebal, Fea tak mau mengekspresikannya. “Ya itulah yang namanya kesialan Dr. Arthur, tidak bisa dihindari.”
Mobil ambulance menyusul kedatangan Dr. Arthur. Segera petugas Rumah Sakit mengangkat Rendra dengan tandu. Mobil ambulance menuju rumah sakit tempat Dr. Arthur praktek. Fea dan Furla turut bersama Dr. Arthur mengikutinya.
“Kalian berdua sama saja dengan anak itu, ugal-ugalan di jalan” ejek Dr. Arthur sambil fokus menyetir.
“Terserah kau sajalah. Yang penting kamu membantu kami selesaikan perkara ini.” Fea pasrah mendapat ejekan dari suaminya.
Furla hanya diam, sibuk mengabari klien akan keterlambatannya nanti. Belum bisa memastikan pula kapan sampai di kantor Mr. Ransom.
Rendra mempunyai wajah yang tampan. Terbilang populer di sekolahnya karena tergabung di club basket. Dari segi akademik tergolong rata-rata. Di satu sisi kehidupannya bisa dikatakan berteman dekat dengan kesialan, ya memang sengaja dibuat seperti itu supaya hidupnya tidak terlalu sempurna. Bahkan baru tiga hari yang lalu Rendra tertimpa kesialan yang membuatnya merasa jengkel.
Waktu Rendra sedang berjalan-jalan santai di acara festival makanan bersama tim basketnya. Memilih-milih makanan yang menggugah selera sebagai teman sore harinya. Sebenarnya Rendra tidak tertarik untuk membeli makanan pilihannya ini. Tetapi karena dia merasa kasihan terhadap nenek penjual, yang dengan suara serak-serak khas lansia tetap lincah menjajakan dagangannya. Akhirnya mampu meluluhkan hati Rendra untuk merasa tersentuh dan tergerak membeli lontong sate nenek itu.
Tak hanya sampai disitu, Rendra sempat mengajak teman-temannya untuk membeli lontong sate nenek itu. Tapi penolakan lah yang didapatnya dari mereka. Salah seorang temannya bilang “ada banyak menu enak, yang jualan lebih menarik, kenapa milih beli yang enggak-enggak sih lo Ren. Pakai ngajak-ngajak kita segala lagi.” Sontak mereka semua tertawa.
Tak terpengaruh teman-temannya, Rendra tetap mengikuti kata hatinya, mendekat ke stand nenek itu. Membeli satu porsi lontong sate yang telah dibungkus rapi dengan daun pisang. Bagian atasnya sudah kering di beberapa sisi. Rendra yang hendak membayar, menanyakan harga dari lontong sate itu. Dia sangat terkejut saat mengetahui harganya. Bisa dibilang tidak tahu diri untuk ukuran lontong sate buatan nenek tersebut. Tapi “whatever lah” kata Rendra dalam hati. Tujuan utamanya kan misi kemanusiaan, tentang hati nuraninya. Begitulah maminya sering menasehatinya sewaktu dia kecil.
Setelah mendapat lontong satenya, Rendra bergegas menghampiri teman-temannya di salah satu tenda pengunjung. Yang memang disediakan untuk tempat makan. Rupanya mereka semua telah siap dengan makanan pilihan masing-masing. Ada pula yang sudah hampir selesai menghabiskan makanannya.
Kini giliran Rendra membuka bungkusan lontong satenya. Pelan-pelan Rendra melepaskan stapler pengait supaya tak jatuh ke makanan. Rendra yang sudah kelelahan sehabis latihan basket, membuat konsentrasinya baur dan pastinya kelaparan. Tiba-tiba meloncatlah seekor jangkrik berukuran cukup besar dari celah bungkusan daun yang belum terbuka sempurna itu. Sontak untuk kedua kalinya semua teman-teman menertawakannya sampai terbahak-bahak.
Rendra kaget bukan kepalang, tak habis pikir akan terjadi hal seperti itu. Dalam hati merasa jengkel dan memaki harga dari lontong sate tersebut. Teman-temannya belum berhenti menertawai kedermawanan dirinya yang berujung keaiban itu. “Udah-udah woy! Stop ngetawain gue.” Bentak Rendra kepada teman-temannya sambil mencoba menjejalkan lontong sate ke dalam mulut siapa saja yang sedang terbuka puas menertawainya.
Bedanya dengan kesialan hari ini, kesialan yang ini tidak bisa secepat kilat diselesaikan begitu saja. Banyak yang harus diurus. Berurusan dengan banyak pihak, hal yang tidak disukai Rendra.
Ambulance tiba di ujung lorong penjemputan pasien. Ranjang dorong sudah siap mengantarkan Rendra menuju ruang perawatan. Para perawat kalang kabut mempersiapkan perlengkapan. Rendra mengaduh kesakitan ketika perawat membersihkan lukanya. Betisnya yang robek harus mendapat jahitan yang tidak sedikit. Belum lagi luka-luka di wajah tampannya yang tidak mungkin hilang dalam hitungan minggu. “Argh kenapa harus sesial ini hidup gue. Padahal bulan depan ada pertandingan DBL” sesalnya.
Dokter yang menangani Rendra dan perawat yang membantunya meninggalkan ruangan. Dr. Arthur masuk ke ruangan Rendra diikuti Fea dan Furla. “Bagaimana keadaanmu? Masih adakah yang kamu keluhkan?” tanya Dr. Arthur.
“Sedikit lebih baik, hanya sisa-sisa sakit setelah dijahit dan rasa perih hampir di semua luka.”
“Bagus kalau begitu, beristirahatlah yang cukup. Dan jangan terlambat minum obatnya.”
“Iya-iya baik Dok, lalu ini gimana? Saya kan korban kecelakaan yang disebabkan oleh manajer istri anda. Saya berhak menuntut ganti rugi kan?”
“Memangnya sedari tadi kau belum sadar juga? Kalau pertanggungjawaban kami sudah lebih dari cukup. Kelebihan malah.” Jawab Fea mencoba menegaskan pengorbanannya untuk korban kecelakaannya itu.
“Yaelah Bu, kalau soal perawatan di rumah sakit dan perbaikan kendaraan sih itu sudah sewajarnya dilakukan. Tapi kesehatan dan penampilan saya apakabar?”
“Udah macem banci Thailand aja, musingin penampilan. Lagian ya anak sekolah itu prioritasnya belajar, bukan dandan.” Sambung Furla yang merasa geli dengan pertanyaan Rendra.
“Hallo Bu, Ibu tidak lihat ketampanan saya? Ini modal cuma-cuma yang saya miliki untuk memperbanyak supporter ketika pertandingan DBL nanti. Tapi malah seperti ini kejadiannya.” Keluh Rendra sebal.
“Lalu kenapa kamu mengendarai motor ugal-ugalan? Itu resiko kamu sendiri yang tidak hati-hati.” Fea menasehati.
“Niatnya juga tidak mau ugal-ugalan Bu, tapi saya terburu-buru. Alah yaudah deh Bu yang penting bulan depan saya bisa ikut pertandingan. Saya menuntut percepatan kesembuhan dari anda bertiga.”
“Aduh songongnya tidak ketulungan anak ini. Supaya cepat sembuh kamu nurutlah sama kata dokter, minum obat, minum suplemen yang mempercepat penyembuhan luka, makanan juga diatur.” Fea melanjutkan nasehatnya.
“Ehem, lancar betul Fea. Kau sudah banyak meniruku ya?” Dr. Arthur memotong nasehat Fea yang belum selesai.
To be continued...