“Haduh, jangan bercanda Dr. Arthur aku sudah cukup jengkel menghadapi anak ini. Jangan menambahi.” Keluh Fea. “Kita lihat saja siapa yang lebih dulu menyerahkan diri. Aku atau kamu?” “Payah, drama pasangan macam apa ini.” Anak SMA itu menyambung pembicaraan Dr. Arthur dan Fea, mencibirkan bibir bawahnya. Membuat otot dagunya tertarik ke atas, rasa perih langsung menyengati dagunya sampai membuatnya mengaduh kesakitan. “Rasakan” komentar tiga orang dewasa di sekelilingnya kompak sambil menertawainya. Ketika masih asyik tertawa, pintu ruang perawatan Rendra dibuka oleh seseorang dari luar. Spontan ketiga orang dewasa itu menengok ke arahnya. Hanya Dr. Arthur saja yang terkejut. Memalingkan dari pandangannya setengah tak percaya, kemudian menatapnya lagi. “Sepertinya memang benar wanita i

