Suara tangis Erin memaksa Kean membuka mata yang masih terasa berat. Menunggu Mama yang tak kunjung pulang dan rasa takut yang mengintai sepanjang malam, membuatnya sulit memicingkan mata. Rasa kantuk menyerang justru saat kokok ayam sudah mulai terdengar, dan saat itu pula ia baru dapat terlelap hingga hari terang seperti sekarang. Namun, belum hilang rasa kantuknya, Erin sudah membuat ulah.
Kean meraih tangan Erin, mengajaknya mengabaikan suara kokok ayam yang memekakkan telinga, dan kembali masuk ke dalam selimut. Melelapkan mata sesaat lagi, agar dirinya punya cukup tenaga untuk menjaga sang adik sepanjang hari. Sayang, suara tangis Erin tak kunjung reda. Isak tangis bocah itu justru semakin keras sembari menunjukkan genangan air yang merembes di lantai.
Bau pesing semerbak masuk ke dalam indra penciuman Kean, memaksanya dengan berat hati meninggalkan peraduan. Menatap kesal secara bergantian pada lantai basah dan bagian bawah tubuh Erin yang basah kuyup. Itulah akar masalah yang menciptakan bau pesing menusuk hidung.
Kean membimbing Erin menuju kamar mandi dengan perasaan dongkol, walaupun tidak ada satu kalimat omelan yang keluar dari bibir tipisnya. Disuruhnya Erin membuka baju dan menunggu sebentar di kamar mandi, sementara dirinya mengisi ember kecil dengan air dan mengambil selembar baju bekas yang digunakan khusus untuk mengepel. Bergegas gadis kecil itu kembali ke kamar, membersihkan air kencing Erin di sana.
“Ma--maaf Kak. Erin tidak kuat lagi, tahan pipis,” ucap bocah itu terbata saat Kean sudah kembali ke kamar mandi.
Sudah lebih dari sepuluh menit Kean membersihkan lantai kamar, tetapi Erin masih setia menunggunya tanpa membersihkan diri, bahkan membuka pakaian pun tidak. Anak itu hanya berdiri di ambang pintu kamar dengan sisa-sisa air mata yang masih tampak jelas, meskipun ia mencoba meredakan tangis sembari mengusap pipi yang basah. Ingus meleleh perlahan dari kedua lobang hidungnya, sebagai penanda bahwa sudah lama tangis itu menjelma.
Kean tersenyum, menenangkan Erin yang menangis karena merasa bersalah padanya. Hilang sudah kekesalan hatinya karena ulah sang adik yang memaksanya bangun pagi ini, berganti dengan rasa heran. Mengapa Erin tidak mau membangunkannya dan minta ditemani ke kamar mandi seperti biasa.
“Tidak usah menangis," lirih Kean, "Erin, mandi saja. Biar Kakak bersihkan ini dulu,” lanjutnya sambil menunjuk pada lantai dapur yang terkena tetesan air kencing Erin. Diukirnya senyum tulus sekali lagi, agar sang adik berhenti menangis.
Erin bukanlah anak yang bisa dikasari. Sedikit bentakan atau omelan akan membuat air matanya luruh. Menyuruh anak itu melakukan sesuatu harus dengan tutur kata yang lemah lembut. Menjaga agar jangan sampai hatinya menjadi terluka dan akhirnya memuntahkan tangis. Dirinya selalu berusaha memaklumi sifat manja Erin. Selain terlalu perasa, anak itu juga sangat jarang mendapat kasih sayang dari sang mama. Semenjak ayah mereka meninggal, sikap Widya berubah menjadi dingin dan tak acuh pada mereka berdua. Lebih sering marah-marah daripada tersenyum.
Kean membersihkan lantai sembari termenung. Entah mengapa dirinya jadi teringat pada Widya yang telah banyak berubah. Terlalu lama dirinya dan Erin tidak merasakan hangatnya pelukan sang mama dan manisnya kasih sayang wanita itu. Terkadang ingin rasanya Kean protes, tetapi lidahnya selalu kelu setiap kali melihat Widya pulang bekerja dalam keadaan letih. Mamanya pasti akan gusar jika diganggu oleh hal-hal sepele yang menuntut perhatian.
“Kakak, tidak marah, kan?” tanya Erin. Matanya tak lepas memperhatikan gerakan Kean yang cekatan membersihkan lantai.
Kean menggeleng, sekali lagi memberikan senyum kecil pada Erin. Di dalam pikirannya merasa percuma memarahi adiknya untuk kesalahan yang sudah terjadi. Semua tidak akan bisa kembali seperti semula. Kemarahan tidak akan bisa membuat kantuknya kembali datang dan tidur lelapnya tidak terganggu. Begitupun air seni yang berceceran di lantai, tidak akan bisa bersih sendiri karena kekesalan yang memuncak. Lagi pula dirinya masih bisa memakluminya kesalahan Erin, karena ini pertama kalinya anak itu pipis sembarangan.
Erin tersenyum, memamerkan lesung pipi yang menghiasi wajah mungilnya. Cepat ia mengikuti perintah Kean, membersihkan diri dengan guyuran air dan sabun. Tak lupa bocah itu menggosok gigi, meskipun dengan secepat kilat. Dinginnya air pagi ini, membuatnya sedikit malas untuk mandi, tetapi apa daya, seluruh tubuhnya harus dibersihkan. Siapa yang menyuruhnya pipis sembarangan. Tidak menunggu lama, ritual mandi Kilat Erin akhirnya selesai. Tubuh mungil Erin menggigil dengan gigi gemeletuk, menahan dinginnya udara pagi. Bergegas ia melilitkan handuk, menutupi tubuhnya, dan berlari masuk ke kamar, mencari baju ganti yang lebih hangat. Disusul oleh Kean dari belakang. "Mama belum pulang, ya, Kak? tanya Erin. Di sela-sela kesibukannya mengancing baju.
Sudah lebih dari setengah jam, anak itu belum juga selesai memakai baju yang ia keluarkan dari dalam keranjang pakaian bersih. Ngotot ingin memakai baju sendiri, meskipun berulang kali Kean berniat membantunya.
Kean mendesah pelan, mendengar pertanyaan Erin. Ia menarik napas berat saat menyadari Widya belum juga pulang, hingga pagi ini. Apakah ibunya lupa pada janji yang terucap, kalau dirinya akan segera pulang? Tidak ingatkah ibunya, di rumah papan ini, ada dua orang anak kecil yang menunggu kepulangannya sejak semalam? Jauh di dalam hati, Kean bertanya-bertanya. Apa yang menyebabkan sang mama tidak kunjung pulang ke rumah. Apakah ada halangan atau memang disengaja?
“Kak, coba cium badan Erin. Sudah wangi, kan? Tadi Erin mandi pakai sabun yang baru Mama beli,” ucap adiknya sambil mendekatkan tubuh pada Kean. Memecahkan pikiran buruk gadis itu tentang ibunya.
“Iya, harum,” jawab Kean singkat. Mendekatkan kepalanya pada tubuh Erin. menghirup bau harum sabun yang menguar dari tubuh adiknya.
Sudah selesai pakai bajunya? Kalau sudah, Kakak mau mandi, dulu.” tanya Kean yang dibalas anggukan Erin.
Bocah bermata bulat itu merentangkan kedua tangan. Menunjukkan pada Kean kalau usahanya mengancingkan baju sejak setengah jam lalu, akhirnya berhasil. Kean tersenyum, diraihnya anduk yang terhampar di lantai, bekas Erin mengeringkan diri, dan mengeluarkan baju ganti dari dalam keranjang. Sebelum keluar kamar, ia sempatkan melirik jam dinding yang tergantung di bagian atas pintu.
Sudah pukul sembilan pagi lebih dua puluh menit, batin Kean. Ia menarik napas panjang, menyadari jika ibunya pasti tidak pulang pagi ini. Artinya ia dan Erin harus menunggu lagi hingga sore nanti.
Gadis kecil itu mandi dengan pikiran kalut. Campur aduk antara cemas dan kecewa pada sang Mama. Hatinya bertanya-tanya Apa yang sudah terjadi pada Widya, mengapa tidak pulang, dan kapan akan kembali? Dirinya dan Erin lelah menunggu seharian, bahkan hingga tidak tidur sepanjang malam.
“Kak, cepat mandi, Erin lapar!” teriak Erin dari balik pintu kamar mandi, membuyarkan lamunan Kean tentang ibunya. Memaksanya bergegas mandi dan memakai baju ganti.
Keluar dari kamar mandi, didapatinya Erin sedang menikmati nasi dan kuah ikan sarden sisa kemarin. Anak itu memakannya dengan lahap, meskipun bau tidak sedap telah menusuk hidung.
“Jangan dimakan lagi, Dek! Lauknya sudah basi,” titah Kean, menghentikan tangan mungil Erin yang bersiap menyuap nasi ke dalam mulut.
Disingkirkannya piring berisi nasi dengan kuah sarden yang telah berlendir. Menatap iba pada adiknya, memakan lauk basi karena tak mampu menahan lapar. Sementara Kean menyingkirkan piring kotor, Erin pergi ke arah pintu dapur, mengambil air dari dalam tempayan kecil yang ada di samping pintu untuk cuci tangan.
“Tunggu sebentar, ya. Kakak masak indomie dulu, buat lauk makan,” pinta Kean yang dibalas dengan anggukan kepala Erin.
Kean meletakkan panci berisi air di atas kompor dan menyalakan apinya, kemudian ia mengeluarkan satu bungkus mie instant dari dalam kantong plastik hitam yang tergantung di samping meja. Lenguhan pelan keluar dari mulut gadis kecil itu, menyesali keadaannya dan Erin. Mereka berdua terlalu sering ditinggalkan Widya di rumah tanpa ada pengawasan orang tua. Tidak hanya ditinggalkan, bahkan kini dirinya pun harus menggantikan peran sang mama, sebagai kakak sekaligus ibu untuk Erin.
Dulu saat ayahnya baru meninggal, sebelum berangkat bekerja, ibunya selalu memasak terlebih dulu untuk makan siang mereka berdua. Namun, seiring waktu, perlahan, dan tanpa mereka sadari, semua tugas rumah tangga berpindah tangan pada Kean. Dimulai dari menjaga Erin, membersihkan rumah, hingga memasak. Semua tugas-tugas itu dilakukannya setiap hari.
Kean mematikan api kompor. Tanpa terasa mie instant yang ia masak telah siap. “erin, ayo makan!” ajaknya pada Erin yang sedang duduk di muka pintu ruang tamu.
“Katanya lapar, kenapa duduk di sana?” tanya Kean sembari menyerahkan sepiring nasi.
“Erin tunggu Mama pulang,” jawab anak itu tak acuh. Mengambil piring dari tangan Kean dan memakan isinya dengan lahap tanpa melihat pada wajah sang kakak yang bertambah muram.
Kean meletakkan kembali nasi yang sudah siap ia makan ke dalam piring. Hilang sudah rasa lapar yang menggerogoti perutnya. Jawaban sang adik telah membuat dirinya tak lagi berselera menikmati sepiring nasi hangat yang disirami kuah mie. Diusapnya rambut Erin dengan segenap rasa sayang, menyuruhnya menghabiskan nasi yang masih banyak di piring.
“Habiskan nasinya. Selesai makan, kita tunggu Mama sama-sama!” ajak Kean yang mendapat sambutan senyum dari Erin.
Kean kembali menatap piringnya tanpa berniat memakan nasi yang sudah tersedia di sana. Seakan nasi itu hanyalah butiran pasir yang tidak enak untuk disantap.
Ma, cepatlah pulang! Kami menunggumu, pinta Kean dalam hati.
***
Hingga matahari mulai menggeser takhtanya di ufuk barat, menghadirkan semburat jingga yang indah, bayangan Widya belum juga tampak. Kedua anak kecil itu lelah duduk berjam-jam menunggu kepulangan sang mama. Sejak selesai makan hingga petang datang, mereka berdua tidak sedikit pun beranjak dari muka pintu.
Setiap ada kendaraan yang lewat, keduanya segera berlari ke halaman, berharap sang mama yang pulang. Namun, ketika kendaran itu terus melaju, mereka pun kembali duduk di muka pintu dengan raut wajah sedih. Menatap jalan yang semakin lengang.
"Kak, Mama tidak pulang lagi, ya?" tanya Erin, dengan suara sendu. Wajahnya menyiratkan kesedihan.
Kean menggeleng. "Entahlah, kita tunggu saja seperti semalam," sahutnya tak yakin.
Kean melenguh, jawaban apa yang dapat ia berikan pada Erin, selain harapan bahwa penantian mereka tidak akan sia-sia?
"Kalau Mama tidak pulang, malam nanti kita tidur berdua lagi, Kak? Erin takut, semalam ada suara grok grok di samping kamar kita," tanya Erin sekaligus mengadu akan ketakutannya semalam. Mata jernih milik bocah itu mulai berkaca-kaca.
Kean bingung, entah bagaimana caranya harus menghibur sang adik, karena sejujurnya, ia pun sangat ketakutan. Namun, mereka bisa apa kalau sang mama tidak kunjung pulang, selain bersabar dan terus menunggu.
"Kakak juga takut, tapi kita harus berani. Ingat pesan Mama, kita harus menunggunya sampai pulang," jawab Kean lirih.
Mereka berdua kembali duduk dalam diam, melihat hari yang mulai menghitam. Bayangan rembulan mulai tampak, menggantikan matahari yang telah tenggelam. Di dalam hati, kedua anak itu menangis. Sang mama telah membohongi mereka. Wanita itu pasti tidak pulang lagi hari ini.