Hari Kedua Tanpa Mama

1741 Words
Seperti yang Kean duga sebelumnya, sia-sia saja Kean dan Erin menunggu kepulangan Widya hingga larut malam. Wanita itu tega berbohong dan meninggalkan mereka berdua hingga berhari-hari di sebuah rumah papan. Dua malam, kedua anak kecil itu tidur saling berpelukan, menghalau rasa takut, ditemani suara nyanyian binatang malam. Sedikit suara yang terdengar dari luar, segera menyadarkan mereka dari tidur yang memang tidak pernah lelap. Memasang telinga, adakah yang datang atau mungkin mamanya yang pulang. Suara lolongan anjing berulang kali terdengar, menambah rasa takut keduanya hingga bulu kuduk bergidik ngeri. Memaksa mereka bertahan di dalam kamar. Menahan rasa takut meskipun terkadang rasa ingin buang air kecil sangat menyiksa. Mereka harus bersabar menunggu hingga hari terang. Dampaknya, erin kembali pipis di celana, dan membuat Kean harus membersihkan kamar lagi, di tengah pagi buta. “Kak, Ibu kapan pulang?” tanya Erin, saat Kean mencuci kain pel, bekas membersihkan sisa air seninya di kamar. Kean mengangkat kedua bahu. “Entah, Kakak juga tidak tau,” jawabnya acuh. “Adek, duduk di situ, ya. Temani Kakak mencuci," pintanya pada Erin sambil membuka pintu dapur dan menjemur kain pel. Kean sengaja mengalihkan perhatian Erin, agar tidak bertanya lagi tentang kepulangan Widya. Hati gadis kecil itu sudah patah, merasa dibohongi oleh ibunya. Janji pergi bekerja pagi dan pulang sore hari, nyatanya hingga dua malam tak kunjung ada. Jangankan kehadiran ibunya, bayangannya pun tidak tampak. Kean masuk kembali ke kamar mandi, mengisi baskom kosong dengan air dan menuangkan sedikit sabun cuci bubuk ke dalamnya. Memasukkan pakaian kotor miliknya dan Erin, kemudian mulai mencuci. “Kakak, bisa nyuci baju?” tanya Erin. Ia duduk bersandar pada dinding dapur, memperhatikan Kean yang mulai mengucek baju. “Harus bisa! Kalau bukan Kakak yang mencucinya, siapa lagi? Mama tidak pulang, pakaian kotor kita menumpuk, kalau tidak segera dicuci, baju bersih bisa habis. Trus kita mau pakai apa?” jawab Kean lugas. Memberi pengertian pada Erin, walaupun, belum tentu anak itu paham apa yang sedang mereka alami saat ini. Gadis kecil itu memang tidak pernah mencuci pakaian, karena selalu mamanya yang melakukan. Menurut Widya, mencuci merupakan pekerjaan yang sangat berat, dan Kean belum bisa melakukannya. Namun, di saat seperti sekarang, tidak mungkin membiarkan baju kotor menumpuk. Mengharapkan ibunya mencuci baju kotor mereka saat pulang nanti? Mereka bisa kehabisan pakaian bersih. Lagi pula hati kecil Kean merasa ragu, kalau ibunya akan pulang hari ini. Meskipun ada harapan yang terselip, kalau keraguannya terbukti tidak benar. “Erin mau buat s**u. Kakak, mau?” tanya Erin lagi, sambil beranjak menuju meja kompor. “TIdak ada air panas, Dek. Nanti saja, tunggu selesai cuci baju, Kakak buatkan,” pungkas Kean, meneruskan mencuci pakaian yang tidak seberapa banyak. Erin mengangguk, kembali duduk di tempatnya semula. Menunggu dengan sabar, hingga Kean menyelesaikan pekerjaannya Pakaian kotor mereka berdua, hanya dicelupkan Kean ke dalam air sabun dan  dikucek sekedarnya. Bukan karena malas, tetapi dirinya memang tidak pandai mencuci baju. Namun, usaha yang dilakukannya saat ini cukuplah untuk menghilangkan bau pesing dari sisa air kencing Erin yang menempel.  Setelah dikucek, pakaian tadi ia masukkan ke dalam ember kosong dan mengisinya dengan air biasa. Membuang sisa air sabun yang melekat dengan dua kali bilas. Didekatnya baju tersebut ke hidung, menghidu aromanya apakah sudah harum atau masih berbau pesing. Entah seperti apa hasil cucianku nanti, walaupun tidak bersih, setidaknya aku sudah berusaha untuk mencucinya. Kean membatin, sembari menatap pakaian basah yang ada di tangannya. Sekali lagi ia mengisi ember dengan air bersih dan membilas semua pakaian yang tadi dicuci. Khawatir bau pesing sisa kencing Erin, masih melekat di sana. “Kak, Erin lapar,” keluh Erin, sambil memegangi perut. Kean mendongak, memandangi wajah adiknya yang terlihat pucat, mungkin karena menahan lapar. Kemarin mereka makan hanya satu kali, itu pun saat siang hari. Selebihnya mereka hanya duduk di muka pintu, menunggu kepulangan sang mama. Keduanya tidak ada selera untuk makan malam, hanya duduk seharian tanpa melakukan apa pun. “Tunggu sebentar, Kakak jemur ini dulu,” sahut Kean. Mempercepat pekerjaannya membilas baju dan bersiap menjemur pakaian yang di tali yang membentang panjang di antara dua tiang kayu. Susah payah gadis kecil itu berusaha menggantung pakaian di tali plastik yang ternyata cukup tinggi untuk ukuran tubuhnya. Berdiri dengan ujung jari kaki, agar tangannya sampai pada tali jemuran, dan menyidai pakaian meraka dengan sempurna.  Bibir mungil Kean tertarik ke samping, melihat usahanya menjemur baju berhasil, meskipun hasil gantungan bajunya tidak serapi sang mama. Ia kembali ke dalam rumah, berniat membuatkan sarapan untuk Erin. “Adek, makan roti dulu ya, Sambil nunggu air masak untuk buat s**u,” ucapnya yang dibalasnya dengan anggukan kepala Erin. Gadis kecil itu bersyukur adiknya tidak pernah rewel, dalam keadaan sulit seperti ini. Erin selalu sabar dan menuruti semua perkataannya tanpa ada bantahan sedikit pun. Sejak pertama kali diaanugerahi tanggung jawab mengurus adiknya, Kean belum pernah mendengar anak itu membantah ataupun berkeras dengan kemauannya. Tanpa diperintah, Erin beranjak dari duduknya. Membantu Kean mengisi beras ke dalam panci rice cooker yang masih tampak kotor dengan butiran nasi sisa semalam. Mengisinya dengan air sesuai takaran yang diberikan, memasak nasi tanpa mencuci berasnya terlebih dulu. Sementara itu, Kean cuma diam,  melihat apa yang adiknya kerjakan sambil menyalakan kompor dan memasak sedikit air untuk membuatkan Erin s**u. Sambil menunggu airnya matang, Kean mengambil roti yang tergantung di dinding serta kaleng berisi s**u yang tersimpan di samping meja kompor. Mengeluarkan tiga keping roti dari bungkusan dan meletakkannya di piring. Gerakannya terhensi saat melihat ada bercak berwarna kehijauan di bagian atas roti tersebut. Berusaha mengingat apakah sejak pertama kali roti itu dibeli, sudah terdapat bercak di sana.  "Entahlah, mungkin saja memang ada, cuma aku yang tidak ingat," lirih Kean. Berbicara pada dirinya sendiri. Menghalau kebimbangan yang bermain di benaknya. “Adek, makan ini dulu!” titah Kean, menyerahkan piring berisi tiga keping roti yang sudah ia beri sedikit s**u dan meses pada Erin. Wajah cantik Erin tersenyum semringah menerima roti pemberian Kean. Mengigitnya perlahan dengan ekpresi sedikit berbeda dari biasa. Namun, tidak berapa lama ia tersenyum lagi, menghabiskan roti yang diberi kakaknya dengan lahap, sementara Kean menyimpan kembali sisa roti ke dalam kantong plastik hitam. Roti ini bisa untuk sarapan Erin besok pagi, ucap Kean dalam hati. Menahan keinginannya untuk ikut menyantap roti tersebut. Aroma manis s**u dan harusnya coklat meses menggoda Kean untuk merasakan roti meses. Namun, memikirkan mereka harus berhemat karena  persediaan makanan yang semakin menipis, sementara menunggu sang mama pulang, terpaksa keinginan itu ia tahan. Kean mengalah, membiarkan semua rotinya untuk Erin. Biarlah dirinya mendapatkan sisa remahan saja, itu pun sudah membuatnya sangat bersyukur. *** Entah kenapa, sejak siang Erin mengeluhkan perutnya perih. Bolak-balik ke WC, buang air besar disertai muntah yang sudah ke sekian kali. Wajahnya semakin lama semakin bertambah pucat, matanya pun mulai tampak sayu. Anak itu juga menolak untuk makan, meskipun tubuhnya mulai lemas. Membuat Kean kebingungan sekaligus khawatir. “Adek, minum s**u saja, ya? Kakak buatkan, untuk ganjal perut,” rayu Kean, berharap kali ini Erin tidak akan menolak. Gadis kecil itu sedikit bisa bernapas lega, melihat adiknya mengangguk tanda setuju. Bersyukur Erin masih mau minum s**u, walaupun tetap tidak mau makan sama sekali. Setidaknya, bisa membuat perut adiknya tidak kosong. “Kak, Mama di mana?” tanya Erin, memutus langkah Kean yang hendak menuju dapur. “Mama sedang kerja, Dek. Cari uang untuk kita. Sabar, ya, Mama pasti pulang,” sahut Kean, walaupun di dalam hati, ia ragu akan kata-katanya sendiri. Gadis dengan tubuh ringkih itu hanya berusaha menenangkan adiknya. Apalagi saat ia melihat, dari mata bening Erin yang semakin layu, tampak dua bulir bening mengalir keluar. Adiknya menangis, entah karena merindukan sang mama atau karena menahan rasa nyeri di perutnya. “Erin mau Mama, Kak,” ucap bocah itu lagi, dengan air mata yang telah berderai. “Tunggu, Adek sembuh dulu, baru kita cari Mama, ya,” hibur Kean lagi, berharap adiknya berhenti menangis. Sungguh, Kean sangat bingung berada dalam situasi seperti ini. Menghadapi Erin yang sedang sakit sendirian, tanpa tau harus berbuat apa, dan tidak ada tunjuk ajar dari siapa pun yang dapat membantunya. Seketika tangis anak itu pecah, menyesali keadaan mereka yang sedang kesulitan tanpa ada bantuan. Menangisi nasib mereka yang begitu malang. Di dalam kamar tangis Erin semakin keras. Ia beranjak dari kasur dan setengah merangkak membawa tubuh lemasnya ke ruang tamu. Menangis kencang sambil duduk menunggu sang mama di muka pintu rumah.  Air mata Kean menetes semakin deras. Pilu melihat Erin yang bersedih merindukan kedatangan Widya dengan kondisinya yang sedang sakit,  serta memikirkan nasib mereka berdua.. Entah apa yang akan terjadi pada mereka nanti. Andaikan saja, saat ini ibunya ada di rumah, tentu wanita itu tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara mengobati Erin.  "Cepat pulang, Ma. Lihat Erin, sakit karena merindukan Mama sejak semalam," lirih Kean, nyaris tak terdengar.  Dilihatnya sekali lagi Erin yang menangis sambil meratap. Memanggil-manggil sang mama yang tak kunjung pulang. Namun, tidak lama  Kean segera memalingkan wajah, tidak tega melihat keadaan adiknya yang terlihat begitu menyedihkan. Gadis kecil itu segera mengatur langkah menuju dapur. Berniat membuatkan Erin segelas s**u, sesuai janjinya.  Di dapur, Kean menangis tersedu sembari memasak sedikit air. Hilang sudah ketegarannya sebagai seorang kakak. Dirinya kini kembali menjelma menjadi sosok anak kecil yang butuh perhatian, seperti seharusnya. Berhari-hari menyembunyikan air mata, akhirnya gadis kecil itu menyerah. Dirinya bukanlah orang dewasa yang bisa menyimpan begitu banyak beban dan tanggung jawab. Ia hanya seorang anak kecil yang dipaksa berpikir dan bersikap dewasa sebelum waktunya. Mengapa keadaan menempanya begitu keras, di luar kemampuannya sebagai seorang anak-anak. Bunyi air yang mendidih menyadarkan Kean dari lamunan. Segera ia menuang air tersebut ke dalam gelas berisi s**u, mengaduknya cepat hingga terdengar bunyi dentingan yang cukup keras. Hati-hati ia membawa s**u tersebut ke depan, setelah sebelumya  menyempatkan diri mencuci wajah, menyembunyikan sisa air mata. Gadis bertubuh ringkih itu tidak ingin adiknya khawatir mengetahu dirinya menangis. Di ambang pintu ruang tamu, Erin terbaring di lantai dengan isak tangis yang masih tersisa. Tubuh lemahnya berusaha bangun, begitu mendengar suara langkah Kean yang mendekat. Bibir pucatnya berusaha mengukir senyum saat melihat sang kakak datang dengan segelas s**u panas. "Erin tiduran di kamar saja, ya. Kita tunggu Mama di dalam!" ajak Kean sembari meletakkan s**u di sampingnya. Erin menggeleng. "Duduk di sini saja, Kak. Minum s**u sambil nunggu Mama pulang." Mata bulatnya semakin sayu, menatap jalan di depannya. Kean terdiam. Begitu rindukah dirimu pada mama, sehingga tidak memikirkan keadaanmu sendiri? tanya Kean dalam hati. Melihat Erin yang bersikukuh menunggu sang mama di depan pintu. Perlahan Kean meraih tubuh mungil Erin, membawa sang adik di dalam pelukannya, kembali menangis tanpa suara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD