Keraguan Mulai Datang

2206 Words
Sejak Kemarin malam, Kean sudah tidak berharap lagi akan kepulangan sang mama. Biarlah ibunya menikmati kebebasan di luar sana dan pulang kapan pun ia mau. Gadis kecil itu sudah tidak peduli lagi, karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada kesehatan Erin.  Semakin hari, tubuh Erin bertambah lemas, serta hampir setiap saat pula ia buang air besar dan muntah. Kean sendiri sudah tidak mengerti apa yang harus dilakukan, selain memberikan Erin banyak minum s**u agar perutnya tidak kosong. Ingin sekali ia membuat Erin sembuh, tetapi sayang di rumah mereka tidak ada apa pun yang bisa digunakan selain minyak kayu putih. Itulah satu-satunya obat yang mereka punya, dan hanya bisa digunakan untuk menghangatkan perut. Ingin membelikan Erin obat yang bisa diminum, tetapi dirinya tidak punya uang, meskipun sekadar membelikan obat warung. Kean terpekur, apa yang bisa ia lakukan di tempat sepi dan jauh dari penduduk seperti ini? Bagaimana kalau keadaan adiknya tidak membaik? Bagaimana kalau Erin akhirnya tidak dapat di selamatkan Membayangkan begitu banyak hal buruk yang bisa terjadi pada Erin, membuat Kean ingin  menangis. Menyesali keadaan mereka yang sangat menyedihkan. Kini nasib buruk mereka semakin menjadi, bukan hanya ibunya yang tidak pulang hingga berhari-hari, serta keadaan Erin yang belum juga membaik. Alam pun saat ini, seakan ingin turut serta menyiksa mereka berdua dengan menambah rasa takut. Hujan lebat yang tak berhenti sedari sore diiringi petir dan angin kencang, memutuskan aliran listrik di rumah. Memaksa Kean dan Erin harus diam dalam gelap, saling berpelukan di dalam sebuah selimut tipis. “Kak, Erin takut,” bisik Erin pada Kean sambil mengetatkan pelukannya. Suara desau angin, meliuk dan menghempaskan atap seng di bagian dapur yang sedikit terlepas. Menciptakan suara-suara besar dan menakutkan. Cahaya kilat yang membias dari celah-celah dinding, mengiringi gemuruh petir yang menyambar, membuat mereka berdua semakin tenggelam dalam rasa takut tak berkesudahan. Entah bagaimana rupa mereka saat ini, Kean pun sudah tidak peduli. Apakah wajah mereka masih berwarna merah ataukah sudah pucat pasi seperti mayat. Rasa takut yang kian memuncak, membuat keduanya tidak berani bergerak. Hanya saling rangkul untuk saling menguatkan satu sama lain. “Tidak usah takut, ada Kakak disini,” hibur Kean dengan suara yang berubah serak. Berpura-pura berani di depan Erin, agar anak itu tidak lagi merasa takut. Ya Allah, tolong segera hentikan hujan ini, dan nyalakan lampunya. Kami berdua takut, doa Kean dalam hati sembari semakin mengeratkan pelukannya pada Erin. Suara gemuruh petir semakin menjadi dan memekakkan telinga. Kilat yang menyambar saling bersahutan, membuat kedua kakak beradik itu berpindah ke sudut kamar dengan membawa selimut tipis mereka. Duduk berdua di tempat yang dirasa aman dan terlindung dari sambaran kilat serta petir yang mungkin saja akan menghanguskan mereka.  Seandainya Mama ada di sini, tentu aku dan Erin tidak akan setakut sekarang. Meskipun tidur dalam gelap, kami masih memiliki sedikit keberanian karena ada mama yang menjaga. Kembali Kean membatin, terkenangkan sang mama yang kini entah berada di mana. “Erin mau Mama, Kak,” rajuk Erin, kali ini dengan isakan yang mulai pecah. Tubuh lemah anak kecil itu terguncang, menangis di dalam pelukan Kakaknya. Kean mengeratkan pelukannya pada Erin, merasakan tubuhnya turut bergetar hebat. “Mama masih sibuk, nanti kalau sudah tidak sibuk, pasti segera pulang,” sahut Kean ragu, mencoba membujuk Erin agar tidak bertanya kemana sang mama. Jauh di dalam hati, Kean selalu bertanya-tanya. Benarkah ibunya akan segera pulang? Mengapa firasatnya mengatakan, bahwa mereka tidak akan pernah bertemu dengan ibunya lagi? Apalagi sekarang sudah hari ke empat Widya pergi, seharusnya wanita itu sudah pulang sejak kemarin dan ada bersama mereka. Memeluk dirinya dan Erin saat ketakutan seperti ini. Entah sudah berapa ratus kali dirinya harus membohongi Erin. Memberikan harapan palsu pada anak sepolos adiknya tentang kepulangan sang mama yang sesungguhnya ia pun tidak tahu pasti kapan akan terjadi. Beribu tanya seputar keberadaan mamanya selalu berputar di kepala, bahkan kini pertanyaan itu semakin bertambah dengan kenyataan yang tidak sejalan dengan ucapan Widya.  Apakah aku dan Erin telah dibuang oleh ibu kandung sendiri? tanya Kean dalam hati. Mengingat kembali ucapan terakhir ibunya yang akan segera pulang. Namun, kenyataannya, hingga detik ini satu kabar berita tentang wanita itu, tidak terdengar. Satu pertanyaan itulah yang selalu mengusik pikirannya sejak kemarin. Apakah Mereka sengaja ditinggalkan di desa ini? Di tempat yang sangat jauh dari penduduk dan terpencil? Namun, pertanyaan itu tidak pernah mendapatkan jawaban. Bukan hanya tidak mendapat jawaban, justru pertanyaan itu berkembang menjadi pertanyaan yang lain, yang membuat keraguannya akan kepulangan Widya semakin besar. Entah mengapa sudut hatinya selalu mengatakan, kalau sang mama tidak akan pernah pulang untuk mereka. “Kakak, bohong! Mama tidak pulang … Mama tidak pulang!” ucap Erin setengah berteriak, melawan kerasnya suara derai hujan. Tangis yang tadinya cuma berupa isakan pelan tertahan, kini berubah menjadi sedu sedan yang memilukan. Kean tidak dapat berkata apa-apa lagi, hanya turut menangis bersama Erin, meresapi rasa perih yang membaur dengan kekecewaan.  Ucapan Erin sangat benar. Kean telah membohonginya berkali-kali. Memberikan jawaban yang sama setiap kali dia menginginkan sang mama. Namun, selain kata-kata ampuh itu, jawaban apa lagi yang dapat ia berikan? Kean bukan hanya membohongi Erin, tapi juga dirinya sendiri. Mengubur kenyataan dengan harapan palsu, bahwa mereka berdua akan segera dapat melihat wujud sang mama di rumah. Malam semakin larut dan hujan masih setia turun, meskipun tiupan angin mulai meredup. Suara petir juga telah menghilang, hanya menyisakan guruh yang sesekali terdengar. Erin telah terlelap setelah puas menangis, tetapi Kean masih terjaga, memindai langit-langit rumah dalam gelap. Sulit untuknya memejamkan mata saat Pikiran masih mengembara ke mana-mana. Mengembara dalam sebuah tanya, yang selalu sama sejak kemarin. Di manakah keberadaan ibunya saat ini? Gadis kecil itu mengait sebuah bantal kecil dan perlahan meletakkan di bawah kepala Erin, kemudian ,enyelimuti adiknya hingga batas d**a, agar dinginnya udara malam tak menambah penyakit sang adik yang belum juga sembuh. Kean meletakkan tubuhnya di samping Erin. Berbaring sambil memeluk tubuh mungil sang adik. Mencoba memberikan perlindungan pada anak kecil itu sebisa yang ia lakukan, sembari menunggu rasa kantuk yang sejak tadi tak kunjung datang. Apalagi saat terdengar suara-suara aneh yang berasal dari luar, semakin membuat kedua matanya enggan terpejam. Entah apa yang bergesekan pada dinding rumah, menciptakan suara mengerikan yang membuat mata Kean semakin susah untuk terpejam. *** Suara kokok ayam mengusik tidur Kean. Mengabarkan pada gadis kecil itu, kalau hari telah berganti pagi, dan matahari di luar sana telah menyebarkan cahayanya sejak tadi. Siap bertakhta menguasai hari hingga petang nanti. Kean melepas pelukannya pada Erin, melihat adiknya masih terlelap di balik selimut tipis yang mereka gunakan.  Akhirnya mereka berdua bisa tidur nyenyak meskipun diredam ketakutan akibat hujan lebat semalam. Tertidur dengan posisi saling berangkulan saat malam telah merangkak semakin jauh. Bahkan sang adik pun belum terbangun juga hingga pagi ini. Lampu di rumah telah menyala. Entah kapan tepatnya, Kean juga tidak tahu. Anak itu hanya tahu, saat matanya terbuka, keadaan di dalam kamar sudah terang benderang.  Kean bergerak dengan sangat perlahan agar tidak membangunkan Erin yang tidur nyenyak. Bergegas ke luar, memeriksa keadaan sekeliling rumah setelah diterjang badai semalam. Tarikan napasnya terdengar memanjang, melihat daun-daun bertebaran di halaman. Patahan ranting pohon turut meramaikan pemandangan di halaman mereka yang kini menjadi lebih kotor dari biasanya. Kean Bergegas ke samping rumah, tepatnya ke bagian dinding luar kamar mereka. Mencari asal suara mengerikan saat hujan semalam. Sekali lagi ia menghela napas panjang. Rupanya ada sebuah ranting pohong yang condong ke arah rumahnya. Menciptakan suara saat bergesekan pada atap rumah saat hujan disertai angin kencang.  Anak itu kembali masuk ke rumah, sedikit merasa lega karena tidak ada bagian mana pun yang rusak karena badai semalam. Di depan pintu kamar, ia menyempatkan diri mengintip Erin sebentar, memastikan kalau adiknya masih terlelap kemudian meneruskan langkah menuju dapur. Gadis kecil itu berniat memasak air untuk membuatkan adiknya segelas s**u dan dan roti yang ditaburi meses, untuk sarapan.  Dikeluarkannya bungkusan roti yang disimpan dengan hati-hati beberapa hari lalu dari dalam sebuah kantong plastik hitam yang tergantung di dekat meja kompor. Sesaat ia menarik napas panjang, melihat keseluruhan permukaan roti telah berubah warna menjadi kehijauan. Kali ini dirinya yakin, kalau warna hijau itu sesungguhnya memang tidak ada saat mereka membeli roti kemarin, dan warna hijau itu adalah jamur yang berkembang pada makanan yang tidak bisa disimpan lama. pasti ini yang menyebabkan Erin sakit, memakan roti yang telah busuk, pikir Kean.  “Semoga saja Erin tidak apa-apa,” lirihnya, sembari membungkus kembali roti tersebut ke dalam kantong plastik hitam dan membuangnya ke tempat sampah. Kean terdiam, memandangi buih-buih kecil yang mengebul dalam panci tempat ia memasak air. Hanya memandang air yang sudah mendidih itu tanpa melakukan apa pun. Berkutat dengan pikirannya sendiri. Meresapi rasa bersalah yang telah memberi Erin makanan tidak layak. Sebuah kebodohan besar yang telah dilakukannya tanpa sengaja, berujung pada kesehatan Erin yang menurun. “Kak, Erin mau minum s**u,” pinta Erin dengan suara yang nyaris tak terdengar.  Entah sejak kapan anak itu bangun, tiba-tiba saja sudah duduk bersimpuh tak jauh dari tempat Kean duduk. Mengejutkan sang kakak yang sedang asik menatap buih-buih air yang bergolak. Kean mematikan api kompor, mengambil cawan plastik dan menuangkan s**u kental manis, serta air panas ke dalamnya. Diliriknya Erin yang terlihat tidak sabar menunggu air s**u yang sedang ia buatkan.  “Diaduk dulu air susunya, baru diminum!" Perintah Kean, sembari menyerahkan segelas s**u panas pada Erin. Dalam hati ia berdoa, semoga dengan rajin minum s**u dapat membuat penyakit Erin segera sembuh. “Kak, kapan Mama pulang?” tanya Erin lagi, mengusik kesabaran Kean. “Entahlah!” jawab gadis kecil itu ketus. Selalu pertanyaan yang sama dari waktu ke waktu ditanyakan Erin. Apakah tidak ada hal lain yang ada di dalam pikiran adiknya, sehingga selalu mengulangi pertanyaan yang sama tanpa rasa bosan? Dirinya yang mendapatkan pertanyaan itu sudah jenuh dengan memberikan jawaban yang sama. Lelah berharap dan membohongi diri setiap hari.  Andaikan saja dirinya tahu kapan ibu mereka akan pulang, tidak mungkin dirinya menunggu bersama Erin sejak kemarin. Menunggu di rumah terpencil yang terkadang terasa mengerikan. Bertahan dalam rasa takut dan keterbatasan persediaan makanan yang semakin menipis. Jika saja dirinya tahu kalau sang mama pergi begitu lama seperti sekarang, tentu dirinya akan merengek, meminta ikut dibawa serta kemarin. Terserah mereka harus tinggal di mana. Hidup di pinggir jalan pun tidak mengapa, asalkan bersama sang mama. “Kalau Mama tidak pulang selamanya, bagaimana?” tanya Erin lagi, sukses membuat Kean tercenung. Dipandanginya wajah polos Erin yang sedang menikmati s**u panas. Menelisik riak wajahnya ketika mengajukan pertanyaan yang sanggup mengiris hati.  Jujur saja, selama beberapa hari ini Kean belum pernah terpikirkan apa jadinya jika ibu mereka benar-benar tidak pulang selamanya. Bagaimana keadaan mereka berdua tanpa kehadiran sang mama. Apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan hidup di tempat asing dan tidak ada seorang pun yang dikenal. Bagaimana nasib mereka berdua nantinya jika sang mama benar-benar tidak ada. Siapa yang akan menjaga mereka berdua? memberikan tempat tinggal, dan makanan? “Berdoa saja, Mama segera pulang,” sahut Kean datar, menutupi perasaan gelisah yang tiba-tiba saja menyeruak. Celoteh Erin tentang ibu mereka masih terdengar, tetapi tidak gadis kecil itu hiraukan. Ia sengaja menyibukkan diri dengan memasak nasi, agar adiknya berhenti bertanya. Sungguh, ia tidak tahu jawaban Apa yang harus diberikan jika Erin bertanya tentang ibu mereka lagi. “Kak, kita cari Mama, yuk!” ajak Erin tiba-tiba. “Cari ke mana?” jawab Kean, balik bertanya. “Ke mana saja, yang penting cari. Siapa tau Mama lupa jalan, tersesat dan tidak bisa pulang," sahut Erin, mengajukan saran dengan wajah polosnya. Kean ingin tertawa mendengar celoteh Erin yang tidak masuk akal. Tidak mungkin ibu mereka tersesat dan tidak tahu jalan pulang, karena ibunya orang dewasa, yang pastinya sudah mengerti ke mana arah jalan pulang dan pergi. Lagi pula, saat mereka pergi ke pasar kemarin, Ibunya terlihat hapal dengan semua jalan yang ada di daerah sini. "Mama sudah besar, Dek. Tidak mungkin tersesat. Kita tunggu saja di rumah, seperti perintah Mama," sahut Kean. "Mama pasti pulang, kalau pekerjaannya sudah selesai," lanjut gadis itu meyakinkan Erin. Di dalam hati Kean bertanya, benarkah keyakinannya saat ini? Padahal dirinya pun tidak bisa memberikan jawaban pasti akan harapan palsu yang selalu ia kemukakan. Yakinkah dirinya kalau sang mama akan pulang begitu pekerjaannya selesai? Tapi kapan? Apa yang dikerjakan mamanya begitu lama, hingga tidak ada waktu menjenguk mereka? Sejujurnya pertanyaan Erin barusan, membuatnya sangat takut. Dirinya menderita dengan keyakinan palsu dan kenyataan pahit yang mendera mereka berdua saat ini. Setiap hari, setiap waktu, bahkan setiap detik, dirinya memupuk harapan dengan keyakinan yang mulai memudar, kalau sang mama akan pulang. Perlahan gadis itu menggeser tubuhnya ke dinding, duduk bersandar di sana sambil melihat Erin yang terlihat tidak peduli pada keadaan mereka. Dua bulir bening mengalir di pipinya, menyadari mulai hari ini tidak ada lagi keyakinan dihati akan harapan pada kepulangan sang mama.  Impian melihat dan berkumpul bersama sang mama memudar, seiring keraguan yang semakin kokoh menancap. Ragu jika Widya mengingat keberadaan mereka berdua di desa terpencil ini. Ragu jika mamanya menyayangi dan peduli pada mereka berdua. Perlahan Kean menyadari, kalau sang mama telah melupakan mereka. Tidak ingin merasa terbebankan oleh kehadirannya dan Erin. Namun, benarkah demikian? Bagaimana jika ada sesuatu yang lain terjadi pada sang mama? Gadis kecil itu menarik rambutnya kasar. Bimbang harus mempercayai sisi hati yang mana. Berprasangka baik pada orang yang telah melahirkannya, ataukah mempersiapkan diri, memenuhi hati dengan kebencian? Jika nantinya keadaan berkata sang mama benar-benar telah membuang mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD