Mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Haidar barusan, Azzura terkejut. Ia tidak menyangka, demi menyelamatkan nama baiknya, Haidar berani bicara seperti itu.
"Secepatnya, insya Allah kami akan menikah. Kalau memang kalian tidak percaya saya ini adalah calon suami Azzura, kalian semua bisa tanyakan kebenarannya pada Bu Santi. Beliau menjadi saksi. Setiap hari selama di rumah sakit, saya menemani calon istri dan mertua saya. Betul, kan, Bu?"
Bu Santi memandang wajah Haidar dengan penuh kebahagiaan. Dengan mantap beliau mengangguk.
"Iya, betul. Mas Haidar adalah calon suami Mbak Yuan. Selama Bu Hasni di rumah sakit, saya standby terus. Jadi, saya tahu betul siapa Mas Haidar ini."
Lagi-lagi Azzura dibuat terkejut, kali ini karena ucapan Bu Santi yang setali tiga uang dengan Haidar. Mereka terlihat kompak seperti sudah latihan untuk bicara seperti itu.
"Semua yang di sini sudah mendengar kebenarannya, ‘kan? Jadi kamu, Bapak Tua, mau nunggu apa lagi? Mau pulang sendiri atau menunggu pihak berwajib yang datang menjemput?"
Broto dengan wajah memerah bak udang rebus, berjalan cepat meninggalkan rumah Azzura, menerobos kerumunan warga yang masih ramai berdiri. Semua warga sontak menyoraki dan mengatainya dengan cacian dan ejekan.
Setelah pak RT dan RW memberikan pengertian kepada semua warganya, tidak lama kemudian mereka semua bubar dan pulang ke kediaman masing-masing.
Bu Santi menggandeng Azzura masuk ke dalam rumah. Haidar yang sudah mengantongi izin dari RT untuk berkunjung sebentar ke rumah Azzura berjalan mengekor di belakang mereka berdua.
"Mbak, Ibu mau pulang dulu, ya. Cucu Ibu takut nangis, karena mamanya belum pulang kerja shift siang."
"Iya, Bu Santi. Terima kasih."
"Sama-sama, Mbak. Jangan banyak pikiran, ya, Mbak."
"Iya, Bu."
Bu Santi kemudian menghampiri Haidar dan berkata,"Mas Haidar, Ibu permisi pulang, ya."
"Iya, Bu. Terima kasih banyak atas bantuannya tadi."
"Sama-sama, Mas. Saya juga sangat salut pada Mas Haidar. Akhirnya, Mas Haidar bersedia menjalankan amanat itu." Haidar memelototi Bu Santi.
Sadar kalau ia sudah keceplosan, dengan gelagapan ia mengeles berbicara ngelantur tidak karuan.
Setelah Bu Santi keluar rumah, Azzura dan Haidar duduk berhadapan. Kedua sama-sama diam.
Sementara itu, air mata Azzura masih terus bercucuran.
"Azzura," panggil Haidar dengan suara pelan.
Azzura bergeming. Kepalanya menunduk, menatap lantai keramik berwarna merah hati.
"Azzura, maafkan atas kelancanganku tadi. Tidak ada cara lain untuk menyelamatkanmu serta mempermalukan balik si bandot tua itu. Aku refleks bicara begitu. Aku harap kamu tidak tersinggung."
"Amanat apa, Pak?" isak Azzura.
"Amanat? Maksudmu?"
"Jangan berlagak tidak tahu. Apa yang Bapak dan Bu Santi sembunyikan dari saya?"
"Tidak ada."
"Jujurlah, Pak."
"Sungguh, tidak ada." Haidar berusaha bersikap tenang.
"Baiklah. Kalau begitu, mulai hari ini saya mengajukan resign dan akan saya kembalikan uang Bapak secepatnya."
Azzura masuk ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian, ia keluar lagi dengan membawa sebuah amplop cokelat. "Ini sisa uang yang Bapak bilang suruh saya simpan untuk jaga-jaga. Belum saya pakai. Sekarang, saya kembalikan. Uang pemberian dari Bapak, terpakai 12 juta untuk biaya pengobatan serta perawatan Mama selama dirawat di ruang ICU. Segera akan saya lunasi, Pak.”
"Kamu kenapa? Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak mengizinkanmu resign. Besok, kamu harus masuk kerja seperti biasa."
"Tidak mau. Kalau Bapak memang masih membutuhkan tenaga saya di kantor, tolong katakan dengan jujur tentang amanat yang diucapkan oleh Bu Santi tadi."
Haidar terdiam, posisinya benar-benar serba salah saat ini. Ia menarik napas panjang.
"Baiklah."
"Silahkan bicara, Pak. Saya akan mendengarkannya."
"Sudah beberapa kali, aku bermimpi didatangi oleh ibumu. Beliau menitipkanmu padaku dan memintaku untuk menjagamu. Aku bercerita pada Bu Santi tentang arti dari mimpi itu. Sudah itu saja."
"Apa artinya?"
Haidar menghindari tatapan Azzura.
"Kenapa diam, Pak?"
"Artinya, itu ... aku ... aku harus menikahimu."
Azzura terhenyak. Ia berdiri dan meminta agar Haidar segera pulang dan meninggalkannya sendirian.
"Saya mohon, Bapak pulang sekarang. Saya ingin sendiri, Pak."
"Tapi ...."
"Sudah, Pak, pulanglah."
Azzura berdiri di ambang pintu. Begitu Haidar sudah berada di luar rumah, dengan segera ia menutup pintunya rapat-rapat.
"Mama, kenapa, Ma? Kenapa Mama tidak pernah sekali pun datang di mimpiku? Aku rindu Mama."
Diusap dan dipandanginya foto mendiang mama yang sangat dicintainya. Berkali-kali Azzura mengecup dan memeluk foto wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.
Sementara di luar, Haidar dengan langkah gontai berjalan menuju mobil. Ia merasa bingung apa yang harus dilakukannya. Ia memukul setir mobil berkali-kali.
"Argh, kenapa harus serumit ini? Ya Allah, mengapa Engkau mengujiku seperti ini? Mengapa aku harus terlibat dan masuk ke dalam pusaran masalah yang dialami oleh gadis itu?"
Kembali ia mengingat ucapan Bu Santi dan Haris tentang arti mimpinya. Baik Bu Santi dan Haris,memberikan statemant yang sama.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin aku menikahinya. Aku masih sangat mencintai istriku. Tidak ada tempat untuk wanita lain di hatiku. Argh ...."
Sejenak, Haidar menyandarkan kening di atas setir mobil. Rentetan kejadian yang terjadi akhir-akhir ini sungguh membuat kepalanya mau pecah.
Ia melirik jam di tangan kanan, waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB. Tidak membuang waktu, ia pun melajukan mobilnya dengan cepat.
*
Dengan raut wajah yang tidak bersahabat Haidar berdiri berkacak pinggang di ambang pintu ruangannya, semua karyawan tertunduk kuyu tidak berani mengangkat kepala.
"Kenapa Azzura sampai sekarang belum datang?"
Tidak seorang pun menjawab pertanyaannya.
"Kalian tuli?"
"Maaf, Pak. Baik saya atau teman-teman lain tidak tahu kenapa Azzura tidak masuk kerja hari ini."
"Kalian teman macam apa? Memangnya, kalian nggak bertanya, hah? Kan, kalian punya kontak Azzura, kenapa tidak ada satu orang pun yang mencari tahu?"
Haidar yang emosi pun berjalan dan kemudian berdiri di tengah-tengah meja anak buahnya. Setelah puas melampiaskan amarah, ia kembali masuk ke dalam ruangan.
Semua rekan kerja Azzura yang dari tadi menunduk ketakutan, mulai bergosip setelah Haidar kembali ke ruangannya.
"Doi kesambet setan apa pagi-pagi gini udah mencak-mencak?"
"Setan juga ogah nyambet dia, emang dasarnya aja dia senewen bin stres."
"Duh, ya, si Azzura yang bolos, kita semua yang kena semprot."
"Hooh, si Brewok itu makan daging kambing sama duren kali, ya? Jadi, darting gitu. Serem banget, sih. Nggak kebayang kalo jadi istrinya, pasti abis dimarahin terus itu, hiiiii."
"Doi itu frustrasi, Gaes. Gue denger bocoran dari sumber terpercaya, kalau dia ditinggal kabur bininya," ujar Marsya.
"Pantesssss, dia stres marah-marah sama kita. Istrinya kabur juga pantes, wong galaknya kaya ngono, jangan-jangan dia juga suka KDRT sama istrinya," timpal Tita.
"Sssttt, gagang pintu kandang si Brewok bergerak." Dion memperingati.
Haidar keluar dari ruangannya. Suasana kembali sepi dan mereka yang tadi bergosip kini terlihat sok sibuk di depan PC-nya masing-masing.
"Saya mau keluar. Aldilla, tolong kamu cek schedule saya di buku agenda yang ada di meja Azzura, lalu pending semua meeting. Saya full ke lapangan hari ini."
"Baik, Pak."
Begitu Haidar meninggalkan ruangan divisi, keempat belas karyawan yang tertekan itu bersorak-sorai merayakan kepergiannya.
"Yes! Akhirnya, gue bisa santai dikit," tutur Dilla bahagia.
"Yups, mantafff ... gue telepon pantry dulu lah, mau suruh OB beliin batagor sama es campur," seru Dion.
"Gue titip, Dion. Teman-teman yang lain juga pada mau, tuh," ucap Marsya.
"Oke, oke. Sabar Non Marsya and the Bear."
Begitu ramai suasana ruangan divisi pengadaan sepeninggal Haidar. Semua merayakan kebebasan dengan makan bersama.
???????????
Tok ... tok ... tok ....
"Assalamualaikum, Azzura." Haidar mengetuk pintu rumah kontrakan sekretarisnya.
"Mas, Mbak Yuan sejak tadi pagi sudah pergi."
"Ke mana, ya, Bu Santi?"
"Kerja Mas, seperti biasa."
"Tidak ada Bu di kantor. Makanya saya ke sini. Khawatir dia kenapa-napa."
Bu Santi berlari kecil menghampiri Haidar yang tengah berdiri di depan pintu rumah Azzura.
"Ya Allah, ke mana, ya, dia? Coba telepon Mas ke HP-nya."
"Sudah berkali-kali, tapi nggak diangkat."
"Astagfirullah, Mbak Yuan ke mana?"
"Pakai baju apa tadi, Bu? Perginya jam berapa?"
"Pakai pakaian rapi seperti mau kerja, sekitar jam delapan pagi."
"Bikin susah saja itu anak!"
"Sabar Mas, jangan begitu. Mbak Yuan kini sebatang kara. Hanya saya dan Mas Haidar yang dia punya sekarang."
'Hah, kenapa aku yang harus bertanggung jawab menjaganya? Kenapa nggak papanya atau si Yoga, kekasihnya itu? Sebagai lelaki, harusnya dia bisa berjuang mendapatkan Azzura. Bukan hilang seperti sekarang, takut dengan ancaman si bocah tua nakal.'
"Mas, kok, ngelamun?"
"Euh, maaf, Bu. Kalau begitu, saya pamit pulang, ya, Bu. Oh, iya, ini kartu nama saya. Kalau ada kabar tentang Azzura, tolong segera hubungi saya, ya."
"Iya, Mas."
"Terima kasih, Bu. Mari, saya pamit. Assalamu’alaikum."
"Waalaikumsalam."
Dengan hati yang gusar, Haidar berjalan menuju mobilnya.
"Di mana kamu, Azzura? Kalau bukan karena kamu anak buahku, aku nggak akan peduli padamu. Buang waktu dan tenaga saja." Haidar melajukan mobilnya dengan pelan, mencoba menyisir jalanan sekitar dengan harapan dapat melihat Azzura.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal.
"Halo."
"Mas, ini Bu Santi."
"Oh, iya, Bu. Ada kabar tentang Azzura?"
"Iya, Mas. Kata anak saya yang kecil. Katanya, pas tadi dia pulang sekolah, lihat Mbak Yuan di area pemakaman. Sepertinya, dia sedang berada di makam mamanya. Tolong lihatin, ya, Mas. Saya nggak bisa ke sana karena tidak ada orang lain lagi di rumah. Cucu saya sedang tidur."
"Baik, Bu. Terima kasih infonya."
Dengan cepat, Haidar memutar balikan mobilnya menuju TPU yang letaknya kurang lebih 500 meter dari rumah kontrakan Azzura. Benar saja. Begitu Haidar sampai di tempat tujuan, ia melihat Azzura sedang duduk sambil memeluk gundukan tanah merah yang merupakan makam mamanya.
Perlahan, Haidar menyapa Azzura. Namun, tidak ada sahutan. Dengan ragu, kemudian Haidar memberanikan diri untuk meraih bahunya.
Azzura bergeming. Haidar menarik tubuh Azzura yang terasa berat. Gadis berkemeja putih itu tidak sadarkan diri. Dari kedua lubang hidungnya terlihat darah yang sudah mulai mengering.
"Kenapa lagi kamu, Azzura? Hidungmu, berdarah. Astaghfirullah ...." Haidar panik. Dengan cepat, ia mengangkat tubuh Azzura dan segera membawanya ke klinik terdekat.
Perlahan, Azzura membuka matanya. Ia menatap ke sekitar ruangan yang terasa asing baginya.
"Kamu sudah siuman?"
"Saya di mana, Pak?"
"Klinik lah, masa bioskop!"
"Hmmm … maaf, saya merepotkan Bapak terus."
"Kenapa kamu bolos kerja?"
Azzura memalingkan wajah, tidak ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan Haidar.
"Kamu tuli?"
"Saya sudah bilang semalam, saya resign."
"Saya tidak mengizinkan. Beri kabar kalau memang tidak akan masuk kerja."
"Buat apa? Saya bukan anak buah Bapak lagi."
"Jangan sok! Kamu masih butuh uang untuk keseharianmu."
"Saya bisa cari pekerjaan lain."
"Carilah dulu. Setelah dapat, baru kamu resign. Aku nggak mau dicap sebagai pimpinan yang dzalim pada bawahannya."
Azzura memejamkan mata. Hatinya sungguh terluka. Ujian ini membuatnya sangat terpuruk dan sedih. Ia merasa tidak berguna hidup tanpa mamanya.
'Mama ... aku rindu.'
Lelehan air matanya terus keluar. Perasaannya tidak karuan. Ia kehilangan semangat hidup dan telah lupa bagaimana caranya untuk berbahagia seperti dulu.
"Hei, malah bengong!" bentak Haidar. "Dokter bilang, kamu depresi dan kelelahan. Jaga pola makanmu! Kamu juga dehidrasi karena kurang cairan dan asupan makanan."
"Sengaja, biar aku bisa cepat mati."
"Mau bunuh diri?"
"Aku ingin berkumpul dengan Mama."
"Kalau kamu bunuh diri, yang ada kamu malah jadi hantu gentayangan dan masuk neraka. Nggak bisa bertemu Mamamu. Kamu mau?" sahut Haidar sewot. "Justru dengan cara bunuh diri, yang ada kamu akan membuat Mamamu bersedih."
"Tadinya, saya ingin bangkit, Pak. Tapi, kejadian tadi pagi sungguh membuat saya ingin mati."
"Ada apa? Broto atau anaknya?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Papa." Azzura kembali terisak.
"Kenapa lagi dengan Papamu?"
"Saya tadi pagi ke rumah Papa, bermaksud minta perlindungannya. Tapi, dia berkata bahwa setelah Mama tiada, sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara saya dengannya. Saya gak mengerti kenapa Papa bisa sebenci itu kepada saya, terlebih saat istri papa mencaci maki saya dengan kata-kata kotor dan tidak pantas, Papa malah ikut tertawa seperti aku ini bukan darah dagingnya."
"Tegarlah! Semua ini ujian bagimu. Kamu jangan menyerah, kamu harus bertahan hidup. Buat mamamu tenang dan damai di sana. Kamu harus mandiri, jangan bergantung pada manusia. Kamu punya Tuhan, sebaik-baiknya tempat berlindung."
"Apa saya bisa, Pak?"
"Bisa, kamu pasti bisa."
"Setelah Mama tiada, tidak ada lagi tempat saya untuk berkeluh kesah."
Haidar menarik napas panjang. Ia menatap iba gadis muda yang terbaring lemah di atas ranjang. Sesaat kemudian, Haidar mematikan televisi yang sedari tadi menyala, tapi tidak ditonton. Ia berbalik dan berjalan mendekati Azzura yang masih terisak.
"Azzura, jangan menyerah begitu. Percayalah, Allah bersama hamba-Nya." Kali ini nada suara Haidar terdengar melunak dan bergetar.
"Mudah bicara, Pak. Tapi, saya sekarang sendiri. Saya sebatang kara, hidup tidak ada tujuan."
"Kamu tidak sendiri, ada aku bersamamu."
"Apa maksud Bapak?"
"Menikahlah denganku."
Azzura membalikan tubuhnya, memunggungi Haidar yang duduk di sampingnya.
"Jawab Azzura. Kalau perlu ... aku akan meminta langsung pada Papamu."
Azzura menggeleng. Tangisnya pecah lagi.
"Menikah bukan jalan keluar, Pak. Saya tidak mau dinikahi karena dasar kasihan atau ingin menjalankan amanat. Tinggalkan saya sendiri, Pak. Saya ingin tidur."
"Pikirkanlah baik-baik ucapanku tadi. Walaupun kita tidak saling mencintai, tapi setidaknya aku bisa menjagamu."
"Pergi!" teriak Azzura histeris.
Haidar bergegas melangkah keluar dari ruangan. Ia duduk di kursi luar. Kedua tangannya menopang kepala. Ia terlihat sangat bingung dengan apa yang ia ucapkan barusan.
'Bodoh! Karena terbawa perasaan kasihan, aku meracau yang tidak-tidak. Di hatiku hanya ada Arini, untuk saat ini dan nanti.'
*
Setelah menjalani rawat inap di rumah sakit selama dua hari, akhirnya pagi itu Azzura memutuskan untuk kembali masuk kerja.
Saat waktunya pulang, Azzura memutuskan untuk naik metromini supaya lebih murah, ia harus berhenat. Namun saat dirinya baru sampai di halte bis, tiba-tiba saja pergelangan tangannya dicengkeram oleh seseorang.
"Lepasin!”
“Come on, Yuan. Aku tidak mau kehilanganmu."
"Aku bilang hubungan kita sudah berakhir. Tidak ada lagi yang harus kita bahas. Aku lelah dengan semua ini, Ga."
"Beri aku satu alasan yang masuk akal, lalu setelah itu ... aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi."
Azzura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya melemas, terduduk di bangku halte bis dekat rumahnya.
Yoga duduk menatapnya tidak berkedip. Pemuda berparas tampan itu, masih menuntut jawaban Azzura.
"Maafkan sikap kasar aku ke kamu. Aku janji gak akan mengulanginya lagi. Aku sangat mencintaimu, Yuan. Menikahlah denganku. Aku gak peduli walaupun Papa setuju. Setelah menikah, aku akan membawamu ke Malaysia. Kita akan hidup bahagia di sana, Sayang."
Azzura menggeleng. Ia masih bersikukuh dengan pendiriannya. Ia tidak ingin menikah dengan Yoga, karena Broto.
"Maaf, Ga. Aku nggak bisa. Carilah wanita lain yang lebih baik dariku. Aku tidak ingin membuatmu menjadi anak durhaka."
Rahang Yoga mengeras, matanya membulat sempurna. Ia tidak dapat menerima kenyataan kalau kekasihnya masih tetap menolak. Lelaki itu menggenggam tangan Azzura, lalu memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.
Azzura berusaha minta tolong, tapi suasana sepi karena hari sudah mulai gelap.
Yoga menarik paksa Azzura hingga tas selempang yang dipakai Azzura putus. Dengan cepat, Yoga mengambil tas tersebut sebagai jaminan agar gadisnya itu mau masuk ke dalam mobil.
"Kembalikan Ga. Di dalam tas itu banyak dokumen penting."
"Masuk dulu ke dalam mobil! Baru aku akan memberikan tas ini."
"Tapi, kita mau ke mana? Aku sudah lelah, baru pulang kerja."
"Kita kawin lari. Itu adalah jalan terbaik."
"Tidak, lepasin aku! Aku mohon! Tolooongggg ...."
Dari kejauhan, sebuah mobil sedan hitam berhenti. Laki-laki di dalam mobil tersebut turun dan melangkah cepat mendekati Azzura dan Yoga.
'Sudah kuduga, anak si bocah tua nakal akan mendatangi Azzura lagi.'
Tanpa bicara, laki-laki bertubuh tegap dan atletis tetsebut menepuk pundak Yoga.
"Lepaskan dia!" ucap Haidar pelan.
"Lo lagi? Bisa nggak, sih, lo nggak sok jadi pahlawan buat cewek gue?"
"Saya tidak sok pahlawan. Saya hanya nggak mau kamu menyakiti dia." Telunjuk Haidar mengarah pada Azzura.
Yoga terpancing emosi. Dengan kedua tangan tubuh Haidar didorongnya.
Haidar mundur beberapa langkah. Namun, sikapnya masih tetap tenang.
"Mau lo apa? Hah?"
"Jangan ganggu Azzura lagi, hargai keinginannya!"
"Cuih, jangan berlagak lo tahu segalanya tentang dia. Gue yang tahu apa yang terbaik buat dia, karena gue lebih lama kenal lama dibandingkan elo."
"Weleh, Mas. Woles aja!"
"b*****t, aaargh!"
Yoga melayangkan bogem mentah ke wajah dan perut Haidar. Azzura menjerit dan menangis. Ia berusaha melerai kedua pria di hadapannya. Namun, naas ia terkena hantaman bogem dari Yoga yang sebetulnya akan diarahkan kepada Haidar yang mulai tersungkur.
Yoga terkejut, lalu segera menghampiri gadis pujaan hatinya yang meringis kesakitan.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu."
"Pergi kamu, pergi …!"
"Tidak Yuan, aku sangat mencintaimu."
"Hei, Bung! Kamu tuli, ya?"
"Diam!"
"Dengarkan aku, Yoga. Mulai detik ini, jangan pernah ganggu aku lagi! Aku tidak akan mungkin menikah denganmu, karena—"
Belum usai berbicara, Haidar langsung memotong ucapan Azzura. "Karena dia akan menikah dengan saya."
Mata Yoga membelalak. Napasnya naik turun dan tangannya mengepal.
"Benarkah Yuan, apa yang dikatakan lelaki itu?"
Azzura menganggukan kepalanya.
Sejenak kemudian, Azzura berjalan mendekati Haidar, lalu memeluknya.
"Apa yang dikatakan Mas Haidar benar adanya, Ga. Aku akan menikah dengannya. Jadi, tolong, kamu jangan ganggu aku lagi!"
"Keterlaluan kamu, Yuan! Mencampakkan aku dengan mudah demi laki-laki lain. Kamu sama aja kaya cewek murahan. Kini aku ngerti kenapa Papa menentang keras niatku untuk menikahimu. Itu karena memang kamu bukan cewek yang baik. Apa bedanya kamu dengan p*****r? Cuih!"
Azzura menangis sesenggukan di pelukan Haidar.
"Jaga ucapanmu!" teriak Haidar penuh penekanan.
"Sudah, Pak, sudah. Biarkan dia mencaciku sepuasnya, aku terima dengan ikhlas," bisik Azzura.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kuantar kamu pulang."
Tanpa memedulikan Yoga yang masih berdiri sambil berkacak pinggang, keduanya berjalan perlahan menuju mobil Haidar.
-BERSAMBUNG-