-9-

2236 Words
SERANJANG DENGAN si BREWOK - 9 Yoga terus mengejar, mamun Azzura bersikukuh tidak ingin kembali ke rumah itu. "Kita putus, Ga. Jangan ganggu aku lagi!" "Tapi, kenapa? Tiba-tiba kamu bicara putus?" “Lupakan aku! Lupakan rencana kita untuk menikah." "Jangan ngawur kamu, Yuan! Apa salah aku?" "Kamu gak salah, kita bukan jodoh. Lupain semuanya yang udah terjadi di antara kita." "Kita bicara, ya! Jangan kaya gini." Azzura menggeleng dan tetap pada pendiriannya untuk pergi dari hadapan Yoga. "Maafin aku. Aku gak bisa jadi istri kamu." Azzura menepis genggaman tangan Yoga. Kemudian, ia langsung menyetop sebuah taksi yang melintas di hadapannya. Di dalam mobil, ia menangis sesenggukan. Membayangkan kembali wajah papa Yoga, rasa jijik dan muak menyeruak di seluruh rongga dadanya. 'Maafin aku, Yoga. Demi kebaikan bersama. sebaiknya kita berpisah.' Begitu Azzura sampai di rumah, ia langsung masuk dan mengunci diri di dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu keras berulang-ulang. Azzura bergeming tidak beranjak sama sekali dari tempatnya. "Yuan!" panggil seseorang di luar yang tidak lain adalah Yoga. "Yuan! Aku tahu kamu ada di dalam." "Yuan, buka pintu! Katakan apa salah aku sampai-sampai kamu tega mengkahiri hubungan kita secara tiba-tiba?" Berkali-kali, Yoga menggedor pintu rumah kontrakan kekasihnya tapi tidak ada sahutan. Azzura tidak sanggup menemui Yoga. Hatinya telanjur sakit ketika ia mengetahui kalau Yoga adalah putra dari Broto, pria paruh baya yang dulu pernah mau membeli keperawanannya. 'Maafin aku, Ga. Aku gak bisa nerusin hubungan ini. Lain kali, kita akan bicara. Untuk saat ini, aku masih ingin sendiri.' Kembali Azzura menangis tersedu. Bantal menjadi sandaran yang nyaman untuknya saat ini. Yoga masih memanggil dan menggedor pintu terkejut saat seseorang menegurnya dengan keras. "Woi, Mas. Nggak ada orangnya berarti. Jangan gedor-gedor terus, berisik!" teriak seorang ibu di samping rumah kekasihnya itu. Setelah si ibu meneriaki Yoga, suasana hening dan sepi. Lelaki itu pergi dengan wajah kusut. Azzura pun merasa lega. Dengan langkah gontai, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Di atas sajadah, ia mengadukan semua permasalahannya kepada sang Maha Pencipta. Tak lupa, ia pun mengirimkan doa untuk almarhumah ibunya. Usai salat dan mengaji, Azzura naik ke atas peraduan. Matanya sudah lelah. Perlahan, ia pun tertidur ditemani suara gemercik air hujan yang cukup deras. ?????????????? "Nak Haidar, Tante titip Yuan. Jagalah dia, karena kini dia sebatang kara." Haidar menatap iba wanita paruh baya di hadapannya. Perlahan, sosok berbaju putih itu menghilang dari pandangan. Netranya berkeliling, mencari-cari si ibu yang tadi menitipkan Azzura. Haidar bangkit, bermandikan peluh. Napasnya terengah-engah. Ia meneguk segelas air putih yang tersedia di meja samping tempat tidur. Kemudian, ia bersandar berusaha mengingat kembali mimpinya. "Mamanya ... Azzura? Ya Allah, apa maksudnya? Mimpi itu lagi. Sering aku bermimpi yang sama. Lagi-lagi mama Azzura berucap begitu," gumamnya bingung. Lelaki berkaus hitam itu meraih ponsel, kemudian ia menghubungi seseorang. Seseorang yang sangat dekat dengannya. Ia adalah Haris, sahabat semasa kuliah dan sama-sama pernah bekerja bersama ketika menjadi marketing dulu. Kepada Haris, Haidar menceritakan tentang mimpinya. "Itu amanat, Dar," ucap Haris. "Maksudmu?" "Ya, amanat. Ibu itu ingin agar kamu menjaga putrinya." "Dengan cara apa aku menjaganya? Dia bukan bayi dan anak kecil lagi." "Naif sekali kamu, Haidar. Ya, jelas kamu harus menikahinya. Itu jalan satu-satunya kamu dapat menjaganya, melaksanakan amanat Ibu itu." "What?" "Ya, apa lagi? Masa, iya, kamu mau adopsi itu bocah gede? Lalu kamu kasih sangu tiap hari, gitu?" "Haris, tapi … kan, kamu tahu kalau aku sudah—" "Beristri? Siapa istrimu? Arini? Si Arini itu sudah berbuat nusyuz. Kamu paham arti nusyuz kan? Aku ingatkan lagi supaya kamu paham. Nusyuz adalah meninggalkan perintah suami, menentangnya, dan membencinya. Hal itu sudah dijelaskan di dalam Al-Qur'an. Kalau istri berbuat nusyuz atau melakukan pembangkangan, durhaka kepada suami, secara hukum agama kamu sah untuk menjatuhkan talak padanya. Di mata agama status pernikahanmu dengan Arini sudah berakhir. Sudah hampir tiga tahun dia menghilang tanpa jejak, meninggalkanmu. Come on, Haidar, move on!" "Entahlah, Ris. Aku nggak bisa berpikir." "Jangan cengeng jadi cowok, malu sama brewok, haha." "Sialan! Ya sudah, Ris. Thanks, ya, sudah kasih masukan." "Oke, Bro, sama-sama. Kamu harus ingat, jangan terjebak di masa lalu. Arini sudah meninggalkanmu demi laki-laki lain. Dia tidak takut dosa karena masih menyandang status istri, tapi selingkuh. Wanita seperti itu, tidak pantas kamu tunggu, Dar." "Iya, Ris. Di satu sisi, aku ingin melupakannya. Tapi, di sisi lain aku juga ingin bersamanya kembali, bahagia seperti dulu. Aku sangat merindukannya." "Apa? Rindu? Hanya wanita baik yang pantas kamu rindu. Cemen kamu, Dar. Untuk apa kamu memikirkannya? Dia saja lupa sama kamu, suaminya. Dia lebih memilih pria lain. Tidak ada gunanya. Sudah, ah. Aku malas kalau kamu masih bersikukuh menunggu Arini." Tidak lama kemudian, Haris pun menutup telepon dengan ketus. "Ris ... Ris! Ya Allah, rumit sekali hidupku ini!" ??????????? "Lepaskan aku, Yoga!" pekik Azzura, menepis cengkeraman tangan Yoga. "Kita harus bicara, Yuan." "Gak ada lagi yang harus kita bicarakan, semua sudah berakhir." "Tapi, kenapa? Beri aku penjelasan. Setelah itu, aku berjanji gak akan ngusik hidup kamu lagi." "Aku gak cinta lagi sama kamu. Itu alasan terbesarku mengakhiri hubungan kita." "Bohong, aku tahu dari mata kamu kalau kamu masih cinta sama aku. Jujurlah, Yuan. Ada apa? Jangan siksa aku dengan kebisuanmu." "Aku mohon. Kita sudah udah gak ada hubungan apa-apa lagi. Sudah, ya, aku pamit pulang." Yoga tidak tinggal diam. Ia menarik paksa lengan Azzura. Azzura meringis kesakitan karena Yoga itu mencengkeram tangannya sangat kuat. "Sakit, Ga. Lepasin!" Yoga tidak memedulikan rengekan Azzura. Dengan emosi, ia menyeret kekasihnya itu menuju mobil. Aksi mereka berdua berhasil menjadi tontonan semua mata yang berada di sekitar kantor. Namun, tidak ada satu orang pun berani menolong Azzura yang memberontak dan memekik kesakitan. "Aku gak akan ngelepasin kamu, Yuan. Kita harus bicara. Aku mau tahu kenapa sikap kamu jadi aneh kaya gini." "Lepasin aku. Kamu gak punya otak ya! Aku malu jadi pusat perhatian semua orang di sini, Ga." "Peduli setan dengan pandangan orang-orang di sini, aku mau kita bicara tentang kamu." "Lepasin aku, lepasin!" Yoga tidak menggubris jeritan Azzura. Dengan kasar, ia menarik paksa wanita yang sangat dicintainya itu mendekat ke pintu mobil. "Pak Haidar, tolong!" Azzura berteriak ketika melihat Haidar berjalan menuju mobilnya. Haidar menoleh ke asal suara. Ia terkejut melihat sang sekretaris diperlakukan tidak baik seperti itu. "Lepaskan dia!" teriak Haidar. "Jangan ikut campur!" Yoga menatap tajam ke arah Haidar. "Lepaskan dia!" Haidar mengulangi ucapannya. "Dia calon istriku. Kamu gam berhak melarangku membawanya pergi." "Saya berhak, karena kamu berbuat seperti itu di dalam ruang lingkup pekerjaan. Azzura bawahan saya. Sudah sepatutnya saya melindungi semua karyawan di sini." "Masuk kamu, Yuan!" Yoga mendorong tubuh Azzura masuk ke dalam mobil. Setelah Azzura berada di dalam mobil, Yoga langsung menantang Haidar untuk duel. Azzura melihat kedua pria di hadapannya sedang adu mulut. Terlihat Yoga sangat bernafsu. Berkali-kali ia mendorong tubuh kekar Haidar. Tidak gentar, pria berambut agak ikal itu pun tetap berdiri kokoh pasang badan, membela sekretarisnya. Yoga kehabisan kesabaran. Tangan kanannya mengepal dan melayangkannya mengarah ke pipi Haidar. Haidar menghindar. Tinjunya kemudian mendarat manis di perut Yoga. Yoga tersungkur, tapi ia belum menyerah. Ia kembali menyerang. Lagi-lagi pria berperawakan tinggi besar itu dapat menghindar. Namun, Yoga tak patah arang. Di saat lawannya lengah, ia pun mendaratkan bogem mentah di wajah Haidar. Terlihat darah segar mengucur dari sudut bibir dan pelipis mata kirinya. Azzura berteriak histeris. Ia keluar dari mobil untuk melerai mereka. "Sudah, cukup. Cukup, kataku!" Tubuh Yoga didorongnya agar menjauhi Haidar. "Pulanglah, Ga, sebelum Pak Haidar bertindak lebih jauh. Maafin, aku. Aku gak bisa ngewujudin impian kita berdua untuk hidup bersama." Yoga yang pantang menyerah tetap menolak, dengan nada yang melunak ia coba mengajak Azzura untuk ikut bersamanya. "Pergi dari sini, Ga!" "Aku mohon, Yuan, ikutlah denganku. Maafin sikapku tadi, aku khilaf." Azzura menggeleng. Ia mundur perlahan menjauhi Yoga. "Aku akan pulang dengan Pak Haidar. Sekali lagi, maafin aku, Ga. Aku mau putus, kita gak mungkin bersama. Maafin aku." Azzura membalikan tubuhnya, berjalan perlahan menghampiri Haidar. Haidar yang mengerti pun mengajak Azzura masuk ke dalam mobilnya. "Bapak tidak apa-apa?" tanya Azzura sesaat setelah duduk. "Ya, aku baik-baik saja." "Maaf, ya, Pak. Sudah membuat Bapak terlibat. Gara-gara saya, Bapak jadi kaya gini." "Lain kali, selesaikan baik-baik. Kalian harus duduk berdua, bicara dengan kepala dingin. Jangan di tempat umum, malu." "Iya, Pak. Sekali lagi maafkan saya." "Sudahlah, tak apa. Ini bukan urusanku. Tapi, kalau boleh aku tahu, siapa dia? Kenapa dia mengejarmu?" "Dia Yoga, pacar saya. Dia ngejar saya karena ... saya menolak menikah dengannya." "Kamu pacaran sama dia ngapain kalau diajak nikah gak mau? Kamu pacaran buat main-main?" "Bukan itu, Pak." "Lalu apa alasannya?" Sembari menyetir Haidar kembali bertanya. "Ayahnya." "Tidak setuju?" "Sudah tentu," jawab Azzura lesu. "Maksudmu? Kenapa kamu bisa yakin ayahnya gak akan setuju sama hubungan kalian?" "Yoga ... dia anak si Broto." "Broto?" "Bapak masih ingat gak pria paruh baya yang Bapak pukuli di hotel?" "Si Bocah Tua Nakal?" "Iya, Pak. Karena alasan itu saya mundur, Pak." "Bapak sama anak sama saja. Kasar dan arogan." "Yoga sebetulnya baik, kami bersahabat semasa kuliah dulu. Dia tadi emosi, karena saya terus menolak memberi alasan yang jelas kenapa saya membatalkan rencana pernikahan kami." "Hmmm, tapi tidak harus dengan kekerasan, ‘kan?" "I-iya Pak, seharusnya." Suasana sesaat kemudian hening. Baik Azzura maupun Haidar diam. Keduanya fokus menatap jalanan. "Saya turun disini saja, Pak." "Ini jalanan sepi, sudah lewat Magrib pula. Aku antar kamu ke rumah saja." "Tidak usah, Pak. Sampai sini saja." "Jangan membantah!" "Baiklah ... di depan kita belok kiri, Pak. Nanti setelah minimarket ada gang besar, masuk ke situ." Haidar membelokan mobilnya sesuai arahan Azzura. "Sudah sampai, Pak. Itu rumah saya." Azzura menunjuk rumah kecil bercat hijau. "Sudah tahu. Aku, kan, pernah kemari waktu mamamu meninggal." "Oh, iya, saya lupa." "Dasar, cewek labil. Ayo aku antar kamu sampai rumah. Aku khawatir si arogan itu datang menyusul kemari." "Baik, Pak." Keduanya segera turun dari mobil. Azzura merasa heran. Ia mengernyitkan dahi, karena di depan rumahnya sudah banyak orang berkumpul. "Kok, di depan rumah saya ramai banyak orang. Ada apa ya, Pak?" Haidar dan Azzura mempercepat langkahnya. Semua warga yang sedang berkumpul lantas menatap mereka berdua dengan tatapan tidak baik. Bu Santi, berlari tergopoh memberitahukan kalau ada tamu mencari Azzura. "Siapa Bu?" "Bapak-Bapak, Mbak. Tapi sepertinya tamu itu punya tujuan yang gak baik." "Ada di mana tamu itu sekarang?" "Ada. Sedang duduk di teras sambil terus memaki." Azzura berjalan menerobos kerumunan. Betapa terkejutnya ketika melihat tamu yang datang ke rumahnya. "Ini dia p*****r yang sudah menggoda anak saya. Cuih!" Si tamu yang dimaksud Bu Santi bangkit dari duduknya, menunjuk ke arah Azzura. Lelaki bertampang sinis ternyata Broto, ia menatap jijik pada Azzura. Semua warga saling berbisik hingga suasana menjadi riuh tidak menentu. Azzura menangis, memeluk Bu Santi. Ia tidak menyangka kalau Broto tega mempermalukannya seperti itu. "Hei kamu, p*****r Murahan. Saya peringatkan agar kamu menjauhi anak saya. Saya tidak sudi punya menantu p*****r murahan sepertimu." Suasana semakin riuh. Semua warga saling berbicara satu sama lain. Azzura menangis semakin kencang dipelukan Bu Santi. "Dan, kalian warga kompleks Pesona Indah, jangan mau punya tetangga wanita kotor sepertinya. Kalau perlu, usir dia!" Warga kembali riuh. Kini suasana semakin memanas. Broto terus meracau. Dia membeberkan bukti pesan singkat ketika Azzura menawarkan keperawanannya. Liciknya, dia berujar kalau bukan dia yang menjadi orang yang bertransaksi dengan Azzura yang kala itu memalsukan namanya menjadi Anggita. Haidar yang masih berdiri di belakang kerumunan warga merasa penasaran. Ia berusaha menerobos ke depan. Suara Broto masih terdengar lantang hingga Azzura semakin terpojok. Semua warga emosi dan mulai memojokkan Azzura. Mereka mendesak Pak RT agar segera mengusir Azzura dari lingkungan kompleks. Azzura membalikan badan, hendak pergi meninggalkan semua orang yang mulai tidak menginginkan keberadaannya. Namun tangan kekar Haidar memegang Azzura. "Tetap di sini." Azzura menatap wajah lelaki di hadapannya, lalu menggeleng lemah. Haidar memberi isyarat agar ia tetap diam di tempat. "Maaf, sebelumnya saya bicara di sini. Saya ingin membersihkan nama wanita di hadapan saya ini. Azzura adalah seorang wanita baik-baik. Dia bukan p*****r seperti apa yang dikatakan oleh laki-laki tua itu." Broto mengepalkan tangannya menahan emosi. Ia tidak menyangka kalau begundal sialan yang dulu telah menghajarnya di hotel bersama Azzura, kini ada untuk menghancurkan rencananya. "Bukti kalau dia p*****r sudah jelas. Tidak usah kamu membelanya lagi. Jangan-jangan kamu adalah germonya," cela Broto tanpa berdosa. "Jaga bicaramu! Saya bisa menuntutmu dengan pasal pencemaran nama baik." Rahang Haidar mengeras, wajahnya memerah, napasnya naik turun menahan amarah. "Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu semuanya. Semua yang diucapkan oleh laki-laki tua itu adalah bohong. Mulai dari anaknya digoda oleh Azzura, maupun yang mengatakan kalau Azzura ini adalah seorang p*****r. Jangan percaya padanya." Dengan suara lantangnya Haidar kembali buka suara. Azzura tidak dapat membendung kesedihan, di dalam pelukan Bu Santi, ia menumpahkan semuanya. "Memangnya kamu siapa? Sampai tahu seluk beluk wanita itu, kamu om-om yang memelihara dia ya," hina Broto tak memberikan sedikit celah pada Haidar. "Kalau memang dia bukan p*****r, kalau memang dia gak berusaha menipu anak saya, buat apa saya buang-buang waktu di sini? Saya ini orang sibuk, gak mungkin saya mau mengurusi hal macam gini kalau bukan menyangkut masa depan anak saya," cerocos Broto lagi berusaha menarik simpati warga. "Coba kalian pikir, apa keuntungan saya bohong? Apa yang saya dapatkan kalau memang tuduhan saya cuma fitnah? Apa?" Haidar yang emosinya mulai memuncak pun maju beberapa langkah ke hadapan Broto, jarak keduanya semakin dekat. "Tidak mungkin Azzura menggoda anakmu, saya tahu persis siapa Azzura. Dia wanita baik dan terhormat, kalau memang kamu dan semua warga mau tahu alasan saya kenapa membela mati-matian Azzura, itu karena ... karena, dia adalah calon istri saya." -BERSAMBUNG-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD