-8-

1772 Words
SERANJANG DENGAN si BREWOK - 8 Azzura mengambil ponsel yang berdering pelan di samping mouse yang sedang ia operasikan. "Halo," ucap Azzura menjawab telepon. "Halo, Yuan. Tadi aku ke rumah. Tapi, kata Bik Surti katanya kamu sudah tidak tinggal di sana lagi," jawab seseorang yang suaranya tidak asing bagi Azzura. "Yoga?" tanya Azzura dengan wajah semringah. "Kamu tega kalau sampai lupa sama suara aku, Yuan." Lelaki yang bernama Yoga tersebut kemudian terkekeh. "Hehe, kamu apa kabar?" "Kalau aku sakit, mustahil nada suara aku sesemangat ini. Jangan basa-basi ah sama aku, buruan jawab pertanyaan aku tadi." Azzura yang mulai fokus pada lawan bicaranya itu langsung menjeda pekerjaan, ia menyandarkan bahu agar lebih santai. "Iya, Ga. Sudah hampir tiga tahun aku dan Mama mengontrak rumah di daerah Cimanggis." "Ngontrak?" Yoga tersentak dengan penuturan Azzura. "Iya, ngontrak." "Ada masalah apa?" tanya Yoga lagi, semakin penasaran. "Panjang, Ga. Bingung harus mulai dari mana." Azzura menghela napas, tatapan ia buang jauh ke jendela samping. "Kita ketemuan, yuk!" "Memangnya kamu ada di Indo?" "Hehe, iya, sudah." "Pantesan kamu telepon aku. Selama tiga tahun ini kamu loss contact. Aku kira kamu sudah lupa sama aku." "Yaelah, sensi amat, Jeng. Gimana gak loss contact, orang kamunya ilang gak jelas, kamu yang ganti nomor handphone, kok aku yang disalahin? Ini aja aku dapat nomor kamu dari Bi Surti." "Oh, gitu, hihihi. Sorry, sorry." "Jadi, nggak kita ketemu?" "Ok, di mana dan jam berapa?" "Tempat biasa. Kamu pulang kerja jam berapa?" "Setengah jam lagi aku lepas kantor." "Ya udah, kalau gitu aku jemput kamu." "Gak usah, muter lagi kamu nanti. Ketemuan di TKP aja." "Ok kalau gitu." "Ok, sip." "Sip, see you." Usai menutup telepon, Azzura segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia pastikan tidak ada yang salah sehingga tidak mendapatkan komplain dari bosnya yang killer. Azzura begitu bersemangat sore itu, karena akan bertemu dengan Yoga yang sudah lama tidak bersua. Yoga merupakan sahabat Azzura dari semenjak ia kuliah. Sama-sama aktif di kegiatan kampus, membuat mereka dekat dan akrab. Namun, tiga tahun terakhir, Yoga menetap di Malaysia, mengurus usaha properti papanya. Tersemat rasa rindu karena lama tak bertemu mendera di dalam kalbu. Saat jam kerja usai, ia bergegas menyerahkan berkas ke meja Haidar, setelah semua aman ia pun berpamitan untuk pulang duluan pada teman-temannya di kantor. Gadis berkemeja garis-garis biru putih tersebut naik ojek online, menuju ke sebuah kedai makan yang biasa dulu ia datangi bersama dengan sahabatnya itu. Sebelum petang datang, Azzura sudah sampai di tempat tujuan. Begitu memasuki ruangan bergaya minimalis dan modern, matanya langsung tertuju pada sosok pemuda tampan yang melambaikan tangan ke arahnya. "Sudah lama nunggu, ya, Ga?" ucap Azzura, menjabat tangan sahabatnya itu. "Dari bedug Subuh aku nungguin kamu, Yuan, haha!" Gigi putih Yoga yang terawat terpampang saat tawanya lepas. "Bise aje, Cangkang Telor Puyuh." Azzura menggulung-gulung lalu melemparkan tisu yang barusan ia pakai menyeka lehernya ke arah Yoga. "Haha, dasar ceker ayam!" Keduanya tertawa lepas. Mereka melepaskan kerinduan dengan berbincang dan saling berbagi pengalaman masing-masing selama tiga tahun terakhir. "Aku ikut berduka cita, ya, Yuan, atas kepergian Mamamu. Maaf, nggak bisa melayat karena aku nggak tahu." "Iya, nggak apa-apa, Ga. Makasih, ya." Azzura yang sudah lebih tegar dan ikhlas pun tersenyum simpul. "Kamu harus tegar dan kuat, okay." "Yes, harus itu. Walaupun sekarang aku hidup sendiri." "Kamu pasti bisa melewati semua ini, kamu bisa berbagi semuanya sama aku," hibur Yoga mengelus punggung tangan Azzura yang bertumpu di atas meja. "Siap, Ga. Oh, iya, gimana kabar Gisca?" Azzura langsung mengalihkan pembicaraan karena merasa suasana mulai mengharu biru. "Gak tahu, aku udah lama gak kontekan sama dia." "Loh kok bisa? Kalian gak jadi nikah?" "Kita nggak pacaran Yuan, cuma dekat sebagai teman aja. Baik aku ataupun dia, gak ada yang mau dijodohin. Jadi, kami kompak menolak perjodohan itu. Emangnya ini zaman Siti Nurbaya." Mendengar hal itu perasaan Azzura merasa senang, mungkin karena dahulu ia pernah menaruh hati pada sahabatnya tersebut. "Kamu kurang keren kali, Ga. Jadinya si Gisca nolak dijodohin sama kamu," ledek Azzura. "Enak aja, segini tamvannya. Gisca nolak karena dia udah punya pacar." "Lah, terus kamu alasan menolak karena apa? Kan, kamu jomblo akut, hehe." "Ngeledek? Aku juga punya gebetan lah. Walaupun belum jadian, tapi aku yakin kayaknya kalau aku nembak dia, aku bakal jadian sama cewek itu." Hati Azzura mendadak mencelos, terselip rasa sedih karena ternyata Yoga ternyata memiliki perasaan yang sama terhadapnya. "Ya udah tembak lah, keduluan orang kamu tahu rasa. Nangis bombay kamu, Ga." "Ragu-ragu aku, haha." "Tadi pede setengah mati, sekarang maju mundur, payah ah." "Sebenernya, aku udah lama suka sama dia, tapi belum berani ngungkapin." "Ah, cemen, siapa orangnya?" "Hehe, gak gitu juga." "Kalau kamu yakin, ya udah maju." "Nah itu dia, kepulanganku kali ini, udah aku niatin buat nembak dia. Syukur-syukur dia mau, langsung nimah secepetnya." "Wow, keren niatnya. Bagus-bagus, aku dukung, Ga." "Menurutmu, dia akan menerima aku, nggak?" "Kayaknya bakal nerima. Kamu itu cowok baik dan pekerja keras. Dari dulu dan mudah-mudahan sampai sekarang hidup kamu lempeng-lempeng aja, iya kan. Bego aja kalau cewek itu nolak kamu." "Alhamdulillah, kalau begitu. Aku jadi bersemangat." Yoga mengepalkan kedua telapak tangannya, tanda bahwa ia sangat bersemangat. "Nah, gitu, dong. Aku dukung niat kamu itu. Siapa dia?" "Dia siapa?" "Ya, cewek itu, Kamper Lemari." "Oh, kirain nanya siapa. Hehe." Yoga mulai terlihat salah tingkah, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Malah nyengir sambil garuk-garuk kaya nyomet, siapa dia?" "Hmmmm, dia ...." Yoga menggantung ucapannya, ia kemudian membetulkan posisi duduknya dengan punggung tegap dan kedua tangan terulur ke arah tangan Azzura. "Siapa?" "Dia ... kamu, Yuan." Mulut Azzura menganga. Dengan iseng, Yoga melemparkan kentang goreng ke dalamnya. "Sialan, aku kaget malah dikasih kentang." "Habis, kagetnya kayak orang kampung, haha. Bikin suasana yang tadinya mau romantis jadi rusak." Azzura tertawa kecil, tapi tawa itu tak berlangsung lama saat kedua tangannya digenggam erat Yoga. "Cewek itu kamu, Yuan." "Jangan bercanda, ah. Nggak lucu!" Kali ini Azzura yang salah tingkah, jantungnya mendadak berdebar hebat. "Udah dari dulu aku suka kamu, Yuan. Cuma aku ragu mau nyatain. Dulu kamu lagi deket sama si Reno. Jadi, aku mendingan mundur aja." "Halah, serius ah, Ga! Kamu dari dulu nggak berubah, selalu iseng dan jailin aku." "Demi Tuhan, aku serius Yuan! Aku suka sama kamu dari zaman kita kuliah dulu. Sejak aku dan kamu sering bareng dalam kegiatan kampus." Azzura memalingkan wajah. Dadanya berdesir ketika Yoga terus memandanginya. "Kamu mau nggak mau nerima cinta aku?" Azzura menarik mundur kedua tangannya, ia bergeming menatap kosong ke jendela samping. "Hei, jangan bengong! Jawab! Aku cinta sama kamu, mau serius sama kamu, kamu mau gak jadi istri aku?" "Wait, wait ... aku bisa mati kalau kamu nembak aku bertubi-tubi kaya gitu, Ga. Hehe." "Come on, Yuan.Seriuslah dikit." "Aku bingung, Ga." "Kenapa?" "Bingung aja. Kita udah lama nggak ketemu. Pas ketemu, kamu langsung nembak aku and bilang pengen nikahin aku." Azzura mengeles dan berusaha menguasai perasaan yang sebenarnya sangat membuncah. "Kita udah kenal lama. Hampir lma tahun kita bareng di kampus. Kamu udah tahu semua kekuranganku, begitu juga sebaliknya. Aku pengen ngelindungin kamu. Aku tahu hubunganmu dengan papamu dari Bik Surti. Aku gak mau kamu terluka sendiri. Aku pengen jadi orang yang bisa kamu jadikan tempat ternyaman dari segala keluh kesahmu." "Kasih aku waktu. Jujur, aku juga sempet suka sama kamu dulu, tapi ...." "Kamu juga suka sama aku? Tunggu apa lagi?" "Aku takut ...." Azzura menggigit bibir bawahnya, meski bahagia ia mempunyai rasa takut yang sulit untuk digambarkan. "Kenapa?" "Aku takut kecewa. Mama dan papamu pasti keberatan punya calon menantu sepertiku, anak korban broken home." "Ah, aku gak peduli. Aku cinta kamu apa adanya." "Walaupun orang tua kamu gak setuju?" "Aku yakin, mereka akan setuju. Percayalah, Yuan. Orang tua aku pasti bakal bahagia lihat anaknya bahagia." Sejenak Azzura terdiam dan termenung. "Kasih aku waktu buat mikir, oke?" "Baiklah," jawab Yoga lesu. Semenjak pertemuan pertama itu, keduanya intens bertemu dan semakin dekat. Di setiap pertemuan, Yoga tak pernah bosan mengharap jawaban Azzura. Seperti malam ini, Yoga sengaja mengajak makan malam romantis di sebuah restoran mewah. "Yuan ... jangan diem. Maukah kamu jadi istri aku?" Azzura diam. "Jawab aku! Aku pengen jadi pelindungmu. Izinkan aku buat ngebahagiain kamu, Yuan." Azzura yang ingin memantapkan hati, pun kemudian bertanya, "Kamu bersedia nerima segala kekurangan aku, Ga?" "Iya." "Janji gak akan pernah ngeduain aku seperti yang dilakukan papaku terhadap Mama?" "Aku janji. Dalam hatiku cuma ada kamu. Perasaan aku sama kamu ini gak berubah dari zaman kuliah dulu." "Janji, Ga?" Yoga tersenyum lalu mengangguk mantap. Melihat keseriusan di mata Yoga akhirnya Azzura pun mengangguk sambil tersipu malu. Kedua tangannya diciumi oleh sang kekasih. "Yes! Boleh cium, gak?" "Jangan macem-macem," ancam Azzura seraya melotot dan mencubit lengan Yoga yang tertawa bahagia. "Makasih, Sayang, cubitan kamu kerasa sakiiiiittt." Tawa keduanya seketika pecah, makan malam pun berlangsung semakin romantis dan syahdu karena diiringi dengan live musik yang mengalun indah. ??????????? Setelah menjalin hubungan yang serius. Malam berikutnya Yoga mengajak Azzura itu untuk makan malam bersama di rumahnya. Ia ingin memperkenalkan Azzura kepada kedua orang tuanya. "Aku sudah cantik belum, Ga?" Berkali-kali Azzura mematut wajahnya di sebuah cermin kecil. "Perfect, Honey." Mobil yang dikendarai Yoga melaju santai. Empat puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah pekarangan sebuah rumah mewah yang dipenuhi tanaman hias yang indah nan terawat. "Yuk, Honey, kita masuk!" Azzura mengangguk. Kemudian, ia menggandeng tangan Yoga. "Duduk dulu, ya. Sebentar, aku masuk manggil Mama dan Papa." Tidak lama kemudian, Yoga kembali dan mengajak Azzura ke dalam. "Mama dan papaku sudah menunggu di ruang makan." "Oke. Penampilanku masih rapi, kan, Ga?" "Ya ampun, hehe. Kamu cantik banget, Sayang." Azzura tertawa kecil lalu kemudian berjalan mengekor di belakang Yoga. Di ruangan yang berukuran cukup luas tersebut, tampak mama dan papa Yoga sedang berbincang ringan di meja makan. "Hai, sudah lama kami tunggu, loh," sambut mama Yoga menghampiri dan kemudian memeluk Azzura. "Maaf, Tante, telat. Aku tadi lembur sebentar di kantor." "Nggak apa-apa. It's ok. Oh, iya. Pa, ini loh calon mantu kita. Kenalin dulu, dong!" Wanita berwajah cantik itu membimbing calon menantunya mendekat ke arah suaminya. Azzura langsung pucat pasi ketika lelaki yang sedari tadi duduk memunggungi itu berbalik, kedua matanAzzura terbelalak sempurna saat bertemu calon papa mertuanya. Tanpa berkata apa-apa dan permisi, gadis berambut panjang tergerai tersebut langsung lari keluar rumah. "Honey, kamu mau ke mana?" teriak Yoga. Azzura berlari dengan kencang. Aair matanya kembali bercucuran. Ia tidak menyangka bahwa Yoga adalah putra dari seseorang yang sangat ia benci. ??????????? Makin seru kan? Kira-kira kenapa Azzura kabur? Jangan lupa kasih komentarnya ya, supaya author makin semangat UP kelanjutannya. Buat yang belum follow, subscribe, kasih bintang-5, dan like ... Hayu ah gaskeeeeeeeun, ? Buat yang udah, author haturkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, semoga kalian semua terhibur, panjang umur, sehat, dan bahagia selalu, aamiin, ? ??????????? -BERSAMBUNG-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD