-7-

1068 Words
SERANJANG DENGAN si BREWOK - 7 "Mamaaaaa!" raung Azzura ketika melihat jasad mamanya yang telah terbungkus kain kafan dan dimasukan ke dalam liang lahat. Ia meronta hingga lepas dari pelukan Bu Santi. Seketika ia nekat melompat masuk ke dalam lubang kuburan. Semua warga yang hadir di pemakaman sangat terkejut menyaksikan peristiwa tersebut. Dengan segera kedua hansip yang sedang berjaga langsung mengangkat paksa Azzura. "Aku mohon jangan pisahkan aku dengan Mama. Biarkan aku ikut dikubur dengannya. Aku mohon." Bu Santi bersama beberapa tetangga lain berusaha menenangkan Azzura, gadis itu dibawa menjauh supaya prosesi pemakaman dapat dilanjutkan kembali. Lambat laun, akibat kelelahan perempuan berpakaian lusuh dan kotor akibat terkena noda tanah merah itu pun memejamkan matanya yang sembap. Saat prosesi acara pemakaman selesai, rombongan rekan sekerja Azzura hadir. Mereka ikut merasakan apa yang temannya rasakan. Larut dalam duka yang sangat mendalam. "Lo yang sabar, Zu," hibur Marsya. "Nyokap lo sudah bahagia karena terbebas dari rasa sakitnya." "Bener kata Marsya, nyokap sekarang bersama Tuhan di surga-Nya. Jangan ngerasa sendiri, kita semua ada untuk lo, Zu." Tita menimpali ucapan Marsya. "Kita semua bersahabat. Sahabat rasa saudara. Betul, Gaes?" seloroh Dion, berusaha membuat wanita yang pernah ditaksirnya itu kembali ceria. "Betul, itu." "Ya, Zu. Dion benar." "Berpelukan, Gaes!" Semua merangkul Azzura yang duduk tertunduk. "Jangan sedih lagi ya, Zu. Ikhlas dan tawakal, bukan tangisan yang nyokap butuhin saat ini sampai nanti, tapi hadiah do'a." Perlahan Azzura mendongakan wajahnya, dengan suara parau ia menjawab, "Terima kasih banyak, teman-teman!" "Kita semua satu, satu untuk semua. Lo jangan pernah merasa bersedih dan sendiri. Kita semua selalu ada untuk lo." Azzura tersenyum tipis sambil menyeka air matanya. Selanjutnya, Dion, Angga, dan teman pria yang lainnya pun mulai bercerita tentang cerita-cerita konyol yang membuat suasana menjadi hangat. Tawa kecil terukir di wajah Azzura, ia sangat bersyukur karena memiliki sahabat yang sangat baik dan merangkulnya. Namun, kehangatan mereka tidak berlangsung lama. Suasana langsung berubah ketika suara salam dari bosnya terdengar. "Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan. Wajah yang tadinya cerah ceria, berubah menjadi tegang dan kaku. "Zu, kita pamitan, ya." "Iya, Zu. Kita pamit, ya." Mereka saling sikut, memberi isyarat agar segera meninggalkan kediaman rekannya itu. "Makasih atas kunjungan kalian." Azzura bangkit bermaksud mengantar kepulangan para sahabat, tapi tidak jadi karena mereka menyuruhnya untuk tetap diam di tempat. "Sama-sama, Zu. Mari, Pak Haidar. Kami permisi. Asslamu’alaikum." Marsya, Tita, Dion, dan yang lainnya kocar-kacir meninggalkan kediaman Azzura. Wajah mereka pucat, seperti habis melihat hantu. Lucunya, mereka lari tunggang-langgang menuju mobil yang terparkir di ujung gang. Melihat tingkah laku anak buahnya yang seperti anak kecil, Haidar pun menggeleng-gelengkan kepala. Setelah mereka hilang dari pandangan, barulah ia duduk di samping Azzura. "Aku turut berduka cita, Azzura. Semoga almarhumah tenang dan ditempatkan di sisi Allah. Dan, kamu diberikan ketabahan juga kesabaran yang tak terhingga." Wajah Haidar tampak teduh dengan tatapan hangat. "Amin. Terima kasih banyak, Pak." Azzura menjawab seraya menunduk kembali, entah mengapa setiap kali ada yang mengucapkan bela sungkawa hatinya bagai teriris dan matanya langsung menghangat berkaca-kaca. "Maafkan aku baru datang. Tadi aku ke kantor sebentar untuk merampungkan laporan yang harus aku serahkan pada Pak Rangga." "Nggak apa-apa, Pak. Bapak menyempatkan datang ke sini saja, saya sudah sangat berterima kasih." "Aku dengar dari Bu Santi, tadi kamu sempat nekat. Jangan begitu Azzura, kasihan mamamu di sana. Jangan beratkan langkahnya. Lebih baik perbanyak dan seringlah berkirim doa untuknya. Itu yang beliau butuhkan saat ini. Doa anak yang salihah yang akan menerangi dan melapangkan alam kuburnya." Azzura menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangisnya kembali pecah. Tak ada kata yang terucap, hanya isak tangis yang terdengar. "Ikhlas, tawakal, dan tegar ... itu yang harus kamu lakukan, ini adalah takdir Tuhan. Kita sebagai manusia tidak bisa menolak kehendak-Nya." Dalam sedu sedan Azzura mengangguk pelan, di pelupuk mata yang terpejam wajah sang ibunda yang di saat-saat terakhir di atas ranjang pesakitan dalam ruang ICU pun kembali terbayang. 'Mama, maafin Yuana karena belum bisa jadi anak yang berguna untuk Mama,' batinnya lirih. ??????????? Setelah satu minggu cuti, hari ini Azzura kembali masuk kerja. Semua rekan menyambutnya dengan bahagia serta suka cita. Di kantor, kini ia lebih banyak diam dan sering melamun. "Kamu sudah masuk rupanya?" ucap Haidar ketika ia melintas di depan meja kerja Azzura, hendak masuk ke dalam ruangannya. "Iya, Pak. Saya masuk mulai hari ini." Haidar tersenyum tipis lalu mengangguk tanpa jawaban, lalu masuk kedalam ruangan. Tidak lama kemudian, ia keluar lagi dan memberikan setumpuk berkas yang harus Azzura kerjakan. "Ini pekerjaan yang tertunda. Sebagian sudah saya kerjakan. Ini sisanya. Tiga berkas paling atas harus selesai hari ini sebelum jam makan siang, karena sore ini harus sudah sampai di meja Pak Rangga. Sisanya bisa dicicil sampai lusa." "Baik, Pak. Akan saya kerjakan." "Jangan banyak melamun karena tidak ada gunanya. Kamu harus profesional kalau sedang di kantor!" "I-iya, Pak, baik." Haidar kembali masuk ke dalam ruangannya. "Buset! Itu manusia salju, mulutnya kaya silet. Tajem, beud, dah!" protes Tita. "Kagak punya hati juga otak, kok ada ya manusia macem gitu," celetuk Dion. "Ya ada lah, ntu makhluknya barusan masuk ke dalam ruangan. Hiiiiiiy." "Yaelah Tita, Dion, lu kaya kagak tahu aja kalau si Bos kalau ngemeng kaya apa. Nyelekitt, sabar, ya, Friend!" hibur Marsya. Azzura tersenyum sekilas. Ia sangat bersyukur rekan sekerjanya sangat baik dan peduli padanya. Tanpa banyak bicara. Ia pun memulai pekerjaan hingga tak terasa waktu pagi pun telah berganti siang. "Azzura, tiga berkas tadi mana?" tanya Haidar ketika jam makan siang usai. "Eh, anu, Pak. Belum selesai. Segera saya selesaikan sekarang, Pak." "Ya ampun, Azzura. Masa tiga berkas sampai jam makan siang belum selesai semua? Itu, kan, tinggal memerika angka dan merapikan saja, tidak sulit." "Maaf, Pak, maaf." "Saya tahu kamu baru ditempa musibah, tapi ini kantor Azzura. Saat kamu memutuskan untuk masuk, berarti kamu harus sudah siap kembali fokus pada pekerjaan. Jangan campur adukkan masalah pribadi dengan urusan kantor! Jadi, kamu harus mengesampingkan dulu segala kepentingan pribadimu, karena atasan kita di pusat itu tidak mau tahu apa yang kita lalui dan hadapi. Mereka tahunya, semua yang mereka minta harus mereka dapatkan tepat pada waktunya." "Iya, Pak Haidar. Maafkan saya sekali lagi. Saya akan mengerjakannya sekarang." "Cepat, jangan banyak bicara! Saya tunggu satu jam dari sekarang." Dengan langkah cepat, Haidar meninggalkan ruangan di lantai tiga tersebut. "Ish, benar-benar. Astaga naga! Itu si Brewok keterlaluan amat, ya! Kalau nggak dosa, gue santet itu si Brewok. Gemes!" rutuk Yanti, sambil mengelus d**a. "Sssttt, sudah-sudah, Mbak. Ini semua memang salahku, karena dari tadi aku malah sibuk melamun," tutur Azzura. -BERSAMBUNG-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD