-6-

1776 Words
SERANJANG DENGAN si BREWOK - 6 "Weleh-weleh, aku jadi terbakar gairah, nih, kalau begini caranya. Kamu sangat agresif dan tidak suka bertele-tele, ya?" "Iya. Mau di hotel ini atau pindah ke hotel yang lain?" "Terserah Anggita saja." "Saya mau lihat uangnya dulu, Mas. Saya tidak mau terkecoh." "Ya ampun, Cantik. Jangan takut! Ini Mas sudah siapkan uang sebanyak lima puluh juta." Broto si hidung belang, menyodorkan amplop cokelat ke hadapan Azzura. Dengan cepat, amplop tersebut diraih. Namun, tangan Broto menahannya. "Eits, tunggu dulu. Tapi, dijamin ORI, ‘kan?" "ORI! 1000%, masih segel." Azzura menghitung uang yang ada didalam amplop cokelat tersebut. Setelah jumlahnya pas, ia pun mengajak Broto untuk segera chek in. Ia nekat menjual keperawanannya kepada laki-laki hidung belang itu, demi mendapatkan uang untuk pengobatan mamanya. Broto dengan semangat '45 memesan kamar suite. Setelah mendapatkan kunci, ia pun berjalan menghampiri Azzura. "Mari, Cantik. Kita indehoy di kamar suite yang luas dan nyaman." Azzura mengangguk. Tangan Broto merangkul pundak Azzura. Walaupun risih dan jijik, perempuan bertubuh langsing itu menahan rasa tersebut demi uang lima puluh juta. Broto dan Azzura menaiki lift, menuju lantai lima. Broto membuka pintu kamar bernomor 512, lalu mempersilakan calon mangsanya itu untuk masuk duluan. "Ladies first." "Terima kasih, Mas," ucap Azzura gugup. Jantung Azzura berdetak tidak beraturan. Sekujur tubuhnya gemetar, merasakan ketakutan yang luar biasa. Broto memeluk Azzura dari belakang. Dengan liar, ia mulai menciumi tengkuk Azzura yang berbau harum. "Harum sekali, Sayang. Aku semakin b*******h dan tidak tahan ingin segera merasakan keperawananmu, ehmm …." Dengan nakal, ia terus menggerayangi tubuh yang indah itu. Azzura memejamkan mata. Air mata di pelupuk tak dapat ia tahan. Perasaannya campur aduk. Rasanya ia ingin menendang pria botak yang kini sedang menciuminya. Ia menjerit dalam hati. Ia meronta, ingin melawan. Namun, tidak bisa. Ia pasrah pada kenyataan hidup, kenyataan hidup pahit yang harus ia jalani. Kedua tangan Broto bergerilya lebih gila. Jemarinya mulai bekerja sama hendak membuka kancing kemeja yang dipakai oleh gadis bayarannya. Aksinya terhenti ketika pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Tok ... tok ... tok ...! "Room Boy," teriak seseorang di luar. "Saya tidak memanggil," teriak Broto. "Saya ingin mengembalikam barang yang tercecer di depan pintu kamar Bapak," ucapnya lagi. "Huh, mengganggu saja. Dasar sialan!" rutuk Broto jengkel. "Sebentar, ya, Sayang. Mas buka pintu dulu." Azzura mengangguk. Wajahnya lega dan tampak sangat bahagia walaupun setelah si room boy itu pergi, ia harus bersiap kembali melayani nafsu b***t Broto. Begitu Broto membuka pintu kamar, seseorang yang mengaku seorang room boy tersebut menerobos masuk. Broto berusaha menahan. Namun, tenaga laki-laki yang bertubuh tinggi dan kekar itu lebih kuat dari dirinya. "Azzura!" teriak laki-laki tersebut. Azzura yang sedang duduk di tepi tempat tidur pun terkejut dengan kehadiran pria tersebut. Ia menangis histeris sambil menundukan kepalanya. Dengan cepat, laki-laki itu menarik paksa tangan Azzura. Melihat calon mangsanya mau dibawa kabur, Broto tidak tinggal diam. Ia segera menghadang. "Mau kamu bawa k emana gadisku, hah?" pekik Broto. Tanpa menjawab, laki-laki itu langsung menghajar Broto sampai tersungkur ke lantai. Azzura menjerit ketakutan. Ia menutup matanya dan mundur beberapa langkah ke belakang. "Kamu ikut aku!" teriak laki-laki berbaju merah itu pada Azzura. Kemudian, ia menarik paksa kembali tangan Azzura dan bergegas keluar dari kamar hotel. "Hey, begundal sialan! Kalau memang kamu mau membawa p*****r murahan itu pergi, kembalikan dulu uangku, lima puluh juta." Laki-laki yang menarik paksa tangan Azzura tadi berbalik, lalu kembali menghajar Broto. "Jaga bicaramu, Tua Bangka! Tidak tahu malu!" Tangan kanan pria itu merogoh tas selempang kecil, mengeluarkan segepok uang pecahan lima puluh ribuan, lalu melemparkannya pada Broto yang sedang duduk meringis kesakitan. Dari ujung bibirnya, mengucur darah segar. "Ambil ini, Bocah Tua Nakal!" "Ayo, Azzura! Ikut aku." Azzura terisak ketika tangannya kembali ditarik oleh pria itu. "Dari mana Bapak tahu saya di sini?" "Nanti aku jelaskan! Bodoh sekali kamu nekat berbuat seperti ini. Dasar cewek gila!" Tak dapat berkata-kata, gadis berkemeja lengan 3/4 itu hanya bisa menangis. Haidar berjalan sangat cepat. Langkahnya yang lebar, membuat Azzura sulit untuk mengimbanginya. Napasnya terengah-engah hingga sampai di pelataran parkir. "Bu Cindy meneleponku semalam, menanyakan tentangmu yang tiba-tiba meminta kontak bekas kliennya dulu. Sejak pagi, aku sudah standby di parkiran depan gedung rumah sakit dan mengikutimu." Azzura masuk ke dalam mobil. Ia masih menangis. "Sudah kubilang jangan biarkan setan menguasaimu. Menjual kesucian tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah baru. Isi otakmu itu apa? Atau, kamu memang nggak berotak, hah? Kamu mau membiayai mamamu dengan uang haram? Anak durhaka kamu itu, Azzura." Haidar murka. Ia memukul setir mobil dengan kasar. "Maafin saya, Pak!" "Bertaubat dan minta maaflah pada Allah!" "Iya, Pak. Saya khilaf!" "Dasar manusia berakal pendek, nggak punya iman, murahan! Cuih!" "Jangan bicara begitu Pak!" "Jangan hanya cuma menangis, berpikirlah yang jernih!" "Habis saya bingung, Pak. Papa saya tidak mau memberikan uang. Dia sibuk memanjakan istri barunya. Saya buntu, Pak, buntu." "Sudahlah, jangan menangis lagi. Kupingku pengang! Menangis tidak akan menyelesaikan masalah ini. Pakai uang lima puluh juta yang ada padamu sekarang untuk berobat mamamu. Itu sudah halal karena uang si bocah tua nakal itu sudah aku kembalikan." "Bagaimana cara saya mengembalikannya, Pak?" "Jangan pikirkan dulu masalah itu, yang penting saat ini adalah mamamu." "Terima kasih banyak, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak ini dengan pahala beribu-ribu kali lipat. Saya janji, ketika sudah ada uang nanti, saya akan mengembalikannya." "Iya. Kita kembali ke rumah sakit sekarang?" "Iya, Pak. Hari ini saya janji pada pihak rumah sakit akan menambah uang deposit." "Oke. Sekarang, bersihkan wajahmu! Jangan sampai mamamu dan juga Bu Santi melihatmu berantakan seperti ini." Haidar memberikan tisu basah pada Azzura. Dengan perlahan, ia pun membersihkan wajahnya. Sesekali pria yang duduk di balik kemudi itu melirik Azzura, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak menyangka kalau sekretarisnya di kantor itu berani berbuat nekat dan mengorbankan masa depannya demi sang ibu. Timbul rasa iba di hati lelaki kelahiran Surabaya itu pada gadis yang duduk di sebelahnya. "Kita sudah sampai. Sebelum turun, aku ingin bicara padamu." "Iya, Pak." "Jangan ulangi perbuatanmu. Dan, jangan ceritakan masalah tadi pada siapa pun. Itu aib. Jangan sampai suatu hari kamu diperolok orang lain karena perbuatan bodohmu itu." "Baik, Pak." "Dan, ingat satu hal, jangan membenci papamu. Seburuk apa pun, dia tetap papamu. Maafkan beliau agar hatimu tenang." "Untuk yang satu itu, saya tidak dapat mengiyakan sekarang, Pak. Sayatan yang dia torehkan di hati Mama dan juga saya terlalu dalam dan perih. Saya yang merasakannya. Terlebih lagi setelah dia mengusir kami tanpa memberikan uang satu rupiah pun. Wanita jalang itu telah mengubah Papa menjadi suami dan ayah yang kejam. Papa jahat, Pak. Papa tak memberikan harta gono-gini kepada Mama, karena hati dan pikirannya telah diracuni oleh w************n itu. Gara-gara wanita itu, Mama menderita. Terusir dari rumah, tanpa uang, apalagi harta gono-gini.” "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Itu hakmu. Kamu yang merasakan dan menjalani semua. Yang penting, aku sudah mengingatkan." "Terima kasih banyak, Pak Haidar sudah mengingatkan saya." Azzura tidak menyangka. Di balik sikap kerasnya di kantor, Haidar memiliki sifat yang baik walaupun kata-katanya terkadang kasar dan menyakitkan hati. "Ya sudah, mari kita turun!" "Iya, Pak." Haidar dan Azzura berjalan menuju ruang administrasi rumah sakit. Namun, petugas administrasi berkata, "Ibu Hasni, yang dirawat di ruang ICU sudah dipindahkan ke kamar jenazah." Wajah Azzura seketika pucat pasi dan tubuhnya lemas. Kemudian, ia jatuh tidak sadarkan diri. Haidar menahan tubuh gadis itu. Ia mengangkat Azzura dan membaringkannya di kursi panjang. Dengan bantuan perawat, beberapa menit kemudian Azzura terbangun. Ia kembali menangis histeris, menyebut-nyebut nama mamanya. Haidar menenangkan Azzura. Dengan pelan, ia menuntunnya berjalan menuju kamar jenazah. "Mama, tega sekali ninggalin Yuan sendirian! Bagaimana hidup Yuan, Ma?" Azzura mengguncang-guncang bahu mamanya yang sudah damai menutup mata untuk selamanya. "Bangun, Ma, bangun!" Ia bersimpuh di lantai. Dengan hati yang hancur, ia meratapi semua yang terjadi dalam hidupnya kini. Bu Santi yang sama-sama menangis, memeluk Azzura. "Sudah, Mbak. Ikhlas supaya Mama tenang. Masih ada Ibu. Anggap Ibu sebagai mama kedua untuk Mbak Yuan." "Mama kenapa pergi secepat ini, Bu?" "Semua kehendak Allah, Mbak. Kita sebagai manusia tidak bisa melawan takdir-Nya." Azzura menenggelamkan wajahnya di d**a Bu Santi. Haidar pun turut berduka atas musibah yang dialami oleh karyawatinya itu. Setelah tenang, Azzura mulai mengurus administrasi kepulangan mamanya. Dengan langkah gontai, ia berjalan perlahan menuju mobil ambulans yang sudah menunggu di depan pintu masuk rumah sakit. "Pak, saya mau naik ambulans saja." Azzura menolak halus tawaran Haidar untuk pulang bersamanya. Haidar mengangguk dan mempersilakan Bu Santi untuk naik ke mobilnya. "Terima kasih Mas Haidar. Mas begitu baik." "Sama-sama, Bu Santi. Kan, sudah seharusnya kita sebagai manusia harus saling tolong-menolong." "Iya, Mas, betul itu. Oh iya, Mas, kalau tidak merepotkan, bisakah nanti kita mampir sebentar ke rumah papanya Mbak Yuan?" "Oh, tentu bisa, Bu. Sama sekali tidak merepotkan." Satu jam kemudian, mobil yang dikendarai oleh Haidar sampai di tempat tujuan. "Mas, mau ikut turun?" "Tidak, Bu. Saya tunggu di mobil saja." "Baiklah. Saya turun dulu kalau begitu." Beberapa menit kemudian, Bu Santi kembali masuk ke dalam mobil. "Sudah, Bu?" "Sudah, Mas." "Ada Papa Yuan-nya, Bu?" "Nggak ada. Kata pembantunya sedang pergi ke Lombok. Berangkatnya baru tadi pagi, jam 09.00." Haidar tidak berkomentar dengan apa yang diucapkan Bu Santi. "Saya heran, Mas, sama papanya Mbak Yuan." "Heran gimana, Bu?" "Ya, heran. Susahnya sama Bu Hasni, tapi setelah sukses dan kaya, malah yang menikmati wanita lain." "Iya, Bu." "Kasihan Mbak Yuana sekarang, hidupnya pasti akan sangat menderita. Hidup sebatang kara tanpa orang tua. Punya Papa, tapi seperti tidak punya." Bu Santi mengusap air mata dengan ujung kerudungnya. "Ibu, sayang banget, ya, sama Yuan?" "Sayang sekali, Mas. Mbak Yuana dan mamanya orang yang sangat baik. Di tengah keterbatasannya, mereka masih mau menolong dan berbagi pada orang lain. Salah satunya saya, yang banyak merasakan kebaikan mereka." Haidar kembali terdiam. Jari telunjuk mengetuk-ngetuk setir di hadapannya. "Hmmm ... Bu. Saya ingin bicara sesuatu. Tapi, janji, Bu, jangan ceritakan masalah ini pada Yuan." "Apa itu, Mas?" "Janji dulu Bu, idak akan menceritakan yang akan saya bicarakan ini pada siapa pun, terutama Yuan." "Iya, saya janji tidak akan bocorkan rahasia ini." "Semalam saya mimpi, didatangi mamanya Yuan. Beliau menangis meminta saya untuk menjaga putri semata wayangnya itu. Di dalam mimpi tersebut mamanya menyerahkan Yuan pada saya, lalu perlahan melayang ke atas dan menghilang. Pertanda apa, ya, Bu?" "Maaf, ya, Mas. Bukan saya sok tahu. Tapi, menurut tafsiran Ibu, sepertinya Mas Haidar diminta Bu Hasni untuk menikahi Mbak Yuan." "Kok gitu, Bu?" "Ya, dengan cara menikahinya, Mas Haidar jadi bisa menjaga Mbak Yuan." "Hmm, tapi saya sudah beristri, Bu. Tidak mungkin saya poligami." "Waduh, kalau statusnya begitu … Ibu nggak ngerti, deh, bingung." Haidar tersenyum sekilas. Kembali ia membayangkan mimpi yang dialaminya semalam. Sangat jelas sosok wanita paruh baya dengan pakaian serba putih itu adalah Bu Hasni, ibunda dari Azzura, sekretarisnya. -BERSAMBUNG-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD