SERANJANG DENGAN si BREWOK - 5
Di luar sana, Alwi melihat putri semata wayangnya tengah tertawa puas sambil berkacak pinggang. Dengan geram, ia meneriaki putrinya itu dengan makian yang sangat kasar, serta dibubuhi dengan sumpah serapah yang menyakitkan hati.
Azzura tersenyum kecut dan menantang tatapan tajam dari kedua orang tak punya hati yang tengah berdiri di atas balkon. Tak sampai di situ, ia pun mengambil serpihan besi kecil di samping pot bunga, lalu menggoreskannya ke body mobil baru tersebut.
Melihat hal itu, sang papa semakin geram. Kali ini ia tidak tinggal diam. Dengan cepat, ia berlari masuk untuk menghampiri putrinya yang dianggap telah berbuat kurang ajar.
Sebelum papanya datang, Azzura bergegas pergi. Tawanya kembali terdengar. Puas rasanya ia dapat merusak barang yang dianggap papanya lebih berharga dari nyawa ibunya yang kini sedang sekarat di rumah sakit.
Langkahnya ia percepat agar lelaki yang dulu sangat penyayang itu tak dapat membalas perbuatannya. Wajah lemah ibunya kembali terbayang. Air matanya pun kembali berlinang.
“Mama ... Mama harus kuat! Demi Yuan, Mama harus sembuh! Yuan akan lakukan apapun demi kesembuhan Mama. Yuan akan dapatkan uang itu. Mama yang sabar, ya!” ucapnya lirih.
Langkahnya berhenti di halte depan kompleks perumahan. Tak lama mobil sedan biru pun distopnya. Di dalam taksi, ia mencoba berpikir keras bagaiamana cara agar dapat mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya.
Tebersit ide buruk di pikirannya. Sebuah jalan pintas untuk mendapatkan uang tersebut. “Kalau tak ada jalan halal, maka jalan haram pun akan aku tempuh. Maafkan hamba, ya Allah!”
Tangisnya kembali pecah. Ia tak peduli dengan tatapan heran sang sopir taksi yang meliriknya lewat kaca spion tengah di dalam mobil.
Satu jam kemudian, taksi pun sampai di depan rumah sakit. Azzura yang terlelap, sedikit terkejut ketika supir taksi membangunkannya.
“Kembaliannya ambil saja, Pak!”
“Terima kasih, Mbak.”
Dengan langkah cepat, Azzura masuk ke dalam bangunan berlantai tiga tersebut, menuju ruang ICU yang berada di lantai dua. Langkahnya gontai, wajahnya kuyu tak bersemangat.
Haidar yang kala itu tengah berbincang bersama Bu Santi, langsung berdiri ketika melihat sekretarisnya datang.
“Pak Haidar?”
“Aku kemari karena ini,” kata Haidar seraya menyodorkan ponsel milik Azzura kepada pemiliknya.
“Astaghfirullah, saya sampai lupa. Terima kasih banyak, Pak.”
“Sama-sama. Maafkan sikapku tadi, ya, Azzura!”
“Sudahlah, Pak. Tak usah dibahas lagi.”
“Tapi, aku tetap merasa bersalah. Aku tak memercayaimu. Aku turut prihatin atas apa yang menimpa mamamu. Semoga kamu tabah.”
“Amin, Pak. Terima kasih.”
Melihat wajah Azzura yang lelah, Haidar pun mempersilakan gadis itu untuk duduk. Bu Santi pun menggeser duduknya.
“Makasih banyak, Bu. Bagaimana kata Dokter?”
“Dokter belum mengabari apa-apa. Katanya, masih harus dilakukan observasi lanjutan besok. Bagaimana, Mbak? Dapat uangnya?”
Azzura menggeleng lemas. Air mata pun kembali jatuh membasahi pipinya. Di atas bahu Bu Santi, tangisnya kembali pecah.
“Papa jahat, Bu. Tak satu rupiah pun dia berikan untuk Mama.”
“Ya Allah, teganya...,” isak Bu Santi iba.
“Yuan bingung. Cari uang sebanyak itu dari mana? Batas pembayarannya besok malam. Seandainya sampai besok malam Yuan gagal mendapatkan uang, bagaimana nasib Mama, Bu?”
“Serahkan semua pada Allah, Nak! Atau, coba minta tolong pada Mas Haidar. Siapa tahu beliau bisa membantu.”
“Coba Yuan bicara sebentar dengan Pak Haidar, ya, Bu.”
“Baik, Mbak.”
Azzura bangkit dari kursi tunggu, lalu mendekat ke arah Haidar yang sedang bersandar di dinding dekat pintu keluar.
“Pak, bisa kita bicara sebentar?”
“Bicaralah, jangan sungkan!”
“Tidak di sini. Di luar saja, Pak.”
“Baiklah.” Haidar berjalan mengekor di belakang Azzura, menuju ke tempat yang sepi. Di ujung lorong dekat ruang penyimpanan alat kebersihan, keduanya berhenti.
Azzura celingukan, memastikan bahwa tempat itu benar-benar aman.
“Pak, saya ingin meminta tolong pada Bapak.”
“Apa itu? Katakanlah! Semoga aku bisa menolongmu.”
Azzura mendekatkan bibir ke telinga atasannya. Haidar terperangah mendengar apa yang dibisikkan gadis itu.
“Gila! Istigfar kamu!”
“Tapi, Pak....”
“Sudahlah, aku mau pulang saja. Tak ada gunanya juga aku di sini, apalagi dengan apa yang kamu bilang barusan.” Haidar pun berlalu dengan wajah yang kurang menyenangkan.
Sepeninggal bosnya itu, Azzura meremas rambutnya kasar. Berkali-kali ia membenturkan dahinya ke tembok. Matanya basah dan memerah.
“Aku pun tak sudi melakukan apa yang aku tawarkan tadi padamu, Pak Haidar. Semua terpaksa, demi menyelamatkan nyawa Mama. Demi Mama, apa pun akan aku lakukan, meski itu harus mengorbankan nyawaku sendiri.”
?????????????
"Terima kasih banyak, Bu Cindy. Saya tunggu, ya, Bu," pungkas Azzura menutup sambungan teleponnya dengan mantan atasannya dulu.
Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan WA dari Bu Cindy berisi beberapa kontak klien emasa menjabat sebagai DM dulu.
[Sudah saya kirim ya Azzura. Semoga salah satu atau bahkan semua klien yang saya kenal itu bersedia menjalin kerjasama kembali dengan perusahaan kita.]
[Aamiinn. Terima kasih banyak Bu.]
Paras cantik itu pun berseri. Matanya berbinar. Secercah harapan untuk dapat menyelamatkan mamanya muncul, membuatnya kembali bersemangat.
Tidak membuang waktu, ia segera menghubungi kontak-kontak yang dikirim oleh Bu Cindy tadi, mencoba menyampaikan maksud dan tujuannya. Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Salah seorang pengusaha kaya menerima baik penawarannya. Setelah deal dengan harga yang diajukan, mereka pun menyudahi perbincangan.
Senyum mengembang di wajah Azzura. Ia kembali duduk berdampingan dengan Bu Santi yang sedang khusyuk mengaji.
"Shadaqallahul'adzim...." Bu Santi mencium Al-Qur'an kecil yang selalu dibawanya ke mana-mana, lalu menoleh pada Azzura yang tampak berbeda dari sebelumnya. Rautnya kini lebih tenang dan ceria.
"Ibu kenapa, kok, lihatin Yuan terus?"
"Nggak apa-apa. Hanya saja agak heran."
"Heran kenapa, Bu?"
"Tiba-tiba saja ekspresi Mbak Yuan berubah, sepertinya sekarang Mbak lagi bahagia."
"Oh, itu. Yuan bahagia karena masalah biaya untuk Mama akan segera terselesaikan, Bu."
"Subhanallah, walhamdulillah! Terima kasih banyak, ya, Allah atas rezeki yang Engkau berikan."
Azzura tersenyum getir, melihat respons Bu Santi yang sangat bahagia sampai-sampai terharu dan menitikkan air mata.
"Selalu doakan Mama, ya, Bu. Semoga Allah dapat memberikan keselamatan serta umur panjang pada Mama."
"Amin! Tanpa diminta ... Ibu akan selalu berdoa yang terbaik untuk Bu Hasni dan Mbak Yuan."
"Terima kasih banyak, Bu. Yuan sayang sama Ibu."
"Sama-sama, Nak! Ibu juga sangat menyayangimu."
Baik Azzura maupun Bu Santi, keduanya sama-sama berharap bu Hasni bisa selamat dari masa-masa kritis. Tak lelah dan tak putus doa dipanjatkan untuk kesembuhannya, berharap agar badai yang tengah dialaminya kini, akan segera berakhir.
"Mbak, handphone-nya bunyi."
"Iya, Bu."
Azzura menjauh dari Bu Santi. Sambil berjalan, ia mendengarkan apa yang disampaikan oleh lawan bicaranya di telepon.
"Baik, Pak. Saya tunggu di lobi jam sebelas, siang ini. Jangan lupa uangnya, cash!" ucap Azzura.
Usai menutup telepon, Azzura bergegas menuju kursi di mana Bu Santi sedang duduk.
"Ibu, Yuan mau pamit sebentar, ya.”
"Mau ke mana, Mbak?" tanya Bu Santi.
"Mau ketemu teman Papa, Bu. Beliau mau bantu pinjamkan uang untuk Mama. Yuan titip Mama sebentar, ya, Bu. Habis Zuhur, Yuan sudah kembali, kok."
"Jangan pikirkan masalah yang jaga mamamu. Mudah-mudahan berhasil, ya, Mbak, karena hari ini adalah batas terakhir untuk pembayaran."
"Amin. Terima kasih, Bu Santi sudah bersedia menemani Mama di sini. Kalau tidak ada Bu Santi, mungkin Yuan hanya sendiri."
Bu Santi memeluk Azzura. "Sama-sama, Nak. Bu Hasni adalah orang yang baik. Beliau banyak membantu Ibu. Jadi, sudah seharusanya Ibu membalas budi padanya."
"Tidak ada kata pamrih dalam menolong. Insyaallah, Mama ikhlas menolong Ibu."
Bu Santi adalah tetangga Azzura di tempat tinggalnya yang sekarang. Ia merupakan buruh tukang cuci gosok dari rumah ke rumah. Terkadang, ia juga suka memijit demi mendapatkan uang tambahan.
"Oh, iya, Bu. Sekarang sudah jam 09.30. Yuan harus berangkat sekarang untuk bertemu teman Papa yang mau pinjamkan uang itu."
"Iya, Mbak, berangkatlah! Ibu doakan semoga berhasil. Hati-hati di jalan, ya."
Azzura mencium punggung tangan Bu Santi, kemudian memeluknya sebentar.
Sebelum pergi, gadis itu masuk ke dalam ruang rawat, lalu mendekati mamanya yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Ma, Yuan pergi dulu sebentar. Mama harus sembuh dan sehat, ya! Yuan sayang sama Mama," tutur Azzura lirih. Ia mengecup kening dan mencium punggung tangan sang ibunda.
"Ya Allah, maafkan aku. Terpaksa aku melakukan hal ini."
Azzura masuk kedalam toilet rumah sakit untuk merapikan penampilannya. Ia menyisir rambutnya yang berantakan, lalu memoleskan make-up tipis ke wajahnya. Dan terakhir, menyemprotkan parfum aroma bunga krisan yang dipadu dengan wangi vanila yang lembut.
Wajahnya yang putih mulus bak pualam sangat cantik, walaupun hanya dipoles make-up yang tipis. Sejenak, ia menarik napas panjang, lalu membuangnya lewat mulut.
Di luar rumah sakit, ia berdiri sebentar, menunggu taksi online yang telah dipesannya. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, taksi online yang ia pesan pun tiba. Sebuah mobil Ertiga hitam berhenti di hadapannya.
"Mbak Azzura?"
"Iya, Mas," jawab Azzura singkat.
Ia menaiki taksi online tersebut. "Jalannya santai aja, ya, Mas."
"Ok, Mbak."
Azzura terlihat gelisah dan tidak nyaman. Beberapa kali ia mengubah posisi duduknya. Berkali-kali pula ia melirik jam tangannya. Kedua tangannya diremas-remas untuk menghilangkan ketegangan.
Ia memandangi gedung pencakar langit yang berderet di sepanjang jalan raya yang dilewati. Pengendara motor yang melintas di hadapannya pun tidak luput dari perhatiannya.
Sungguh beruntung hidup mereka, seperti tidak ada beban. Bisa tertawa lepas, tidak sepertiku. Jangankan untuk tertawa, untuk tersenyum saja rasanya sangat sulit.
"Sudah sampai, Mbak."
Ucapan sang sopir taksi online membuyarkan lamunannya. Dengan cepat, ia menyodorkan uang seratus ribu.
"Kembaliannya ambil aja.”
"Terima kasih banyak, Mbak. Have nice weekend."
"Thanks, Mas."
Azzura berdiri di depan sebuah gedung megah. Ia lantas merapikan rambutnya yang agak berantakan. Dengan santai, ia berjalan masuk menuju lobi gedung yang merupakan sebuah hotel berbintang lima.
Untuk mengusir rasa suntuk karena seseorang yang sudah janjian bertemu dengannya belum kunjung tiba, Azzura pun membuka ponselnya. Ia tersenyum, menatap foto-foto sang ibunda sewaktu masih sehat dan segar bersama papanya, saat di mana si pelakor belum hadir merusak semuanya.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan WA masuk ke ponselnya.
[Anak sialan! Gara-gara ulahmu, mobil baruku rusak parah. Mati saja kamu, Azzura Gila!]
Bibir Azzura tersenyum sinis membaca pesan yang dikirimkan oleh ibu tirinya. Namun, sesaat kemudian, ia pun menangis meratapi nasibnya. Gadis itu menundukkan kepala, tak ingin menjadi pusat perhatian karena menangis sendirian.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pundaknya di pegang oleh seseorang. Azzura terkejut bukan main. Seorang laki-laki paruh baya berdiri di hadapannya. Usianya kira-kira seusia papanya.
"Anggita, ya?" tanyanya.
Gadis bermata indah itu mengangguk. Sengaja ia menyamarkan nama demi keamanan. Si lelaki setengah botak itu tersenyum, lalu Azzura pun segera menjabat tangan laki-laki paruh baya tersebut.
"Silahkan duduk, Pak," tutur Azzura, tegang.
"Jangan panggil Pak, dong. Panggil aku, Mas, Mas Broto."
"Ok, Mas Broto. Aku tidak punya banyak waktu. Mau dimulai kapan?"
"Weleh-weleh, aku jadi terbakar gairah, nih, kalau begini caranya. Kamu sangat agresif dan tidak suka bertele-tele, ya?"
-BERSAMBUNG-