Wajah lelaki yang selama ini selalu terlihat tegas dan galak itu pun seketika berubah menjadi panik.
“Azzura, bangunlah!” serunya sambil menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu. Melihat sekretarisnya itu tak kunjung juga siuman, akhirnya Haidar pun untuk memutuskan untuk mengangkat tubuh lemah tak berdaya itu dan memindahkannya ke atas sofa.
Setelah membaringkannya di atas sofa, Haidar pun mulai mencari-cari benda yang berbau untuk memancing indra penciuman Azzura. Ia bangkit menuju kotak P3K yang ditempel di dinding dekat meja kerjanya, mencari kayu putih atau minyak angin. Namun, nihil. Kedua benda tersebut tidak ada di dalam kotak obat tersebut.
Tidak ada pilihan lain. Ia mengambil botol parfum miliknya, menyemprotkannya ke atas sapu tangan, lalu mendekatkannya ke hidung sang sekretaris. Usahanya ternyata berhasil. Tak lama kemudian, gadis itu pun siuman, membuka matanya perlahan, beringsut bangkit untuk duduk.
“Minumlah!” Haidar menyodorkan satu gelas air mineral.
“Terima kasih, Pak.”
Azzura meneguk sedikit air yang diberikan bosnya. Setelah itu, ia pun teringat kembali akan berita yang disampaikan oleh orang yang meneleponnya tadi.
“Mama,” isaknya lirih.
“Ada apa?”
“Mama saya, Pak.”
“Kenapa mamamu?”
“Mama masuk rumah sakit. Sesak napasnya kambuh. Tetangga yang selama ini selalu datang menemani Mama yang mengabari. Saya mohon, izinkan saya untuk pulang, Pak! Demi Allah, saya tidak bohong.”
Muncul raut rasa bersalah di wajah lelaki dingin itu. Dengan penuh sesal, ia pun menjawab iya.
“Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya permisi.”
“Hati-hati di jalan, Azzura!”
“Iya, Pak. Selamat malam.”
“Malam,” jawab Haidar menatap gadis yang berlari meninggalkan ruangannya. Di luar ruangan manajer, Azzura segera membereskan meja dan mematikan komputer.
Setelah itu, langsung menyambar tas dan berjalan cepat menuju lift.
Sepeninggal Azzura, Haidar termenung sejenak, memikirkan apa yang terjadi barusan. Muncul rasa bersalah karena ia telah memaksa serta sempat tak memercayai sekretarisnya itu. Lamunannya buyar ketika ia mendengar suara getaran yang berasal dari kolong meja kerjanya.
Pria brewok itu mencari-cari sumber getaran. Ternyata, ponsel milik sang sekretarisnya itu tertinggal di dalam ruangannya. Azzura tak menyadari kalau benda pipih miliknya itu tertinggal. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal masuk. Ia bimbang dan ragu ketika akan menjawab panggilan tersebut. Tak mau dianggap lancang, akhirnya Haidar menaruh ponsel tersebut di meja. Dan, ia pun kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.
Panggilan kembali masuk, masih dari nomor yang tidak dikenal. Nomor yang sama dengan sebelumnya. Haidar gamang, tapi akhirnya ia pun memutuskan untuk menjawab telepon yang masuk tersebut.
“Assalamualaikum, Mbak Yuan. Mbak, ini Bu Santi. Mama Mbak Yuan, masuk ruang ICU. Kritis, Mbak,” cerocos wanita yang bernama Santi.
“Waalaikumsalam. Ma-maaf, Bu. Saya teman kantornya. Ini ponselnya tertinggal di kantor.”
“Maaf, Mas. Saya kira tadi Mbak Yuan yang angkat. Sudah lama belum perginya Mas, itu si Mbak Yuan?”
“Su-sudah, Bu. Mungkin terkena macet.”
“Oh, ya, sudah kalau begitu, Mas. Biar saya tunggu di depan rumah sakit saja.”
“Iya, Bu. Eh, Bu, maaf kalau boleh tahu, Ibu Azzura dirawat di mana?”
“Di rumah sakit Sehat Medika, Mas.”
“Terima kasih informasinya, Bu. Saya akan ke sana untuk menjenguk, sekalian mengantarkan handphone ini.”
“Baik, Mas. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Haidar lemas.
Tak ingin membuang waktu, ia pun segera bergegas meninggalkan ruangannya.
Ia merasa turut andil dalam masalah sekretarisnya itu. Akibat kediktaktorannya ia sampai tega mengorbankan kebahagiaan orang lain. Rasa sulitnya untuk dapat memercayai orang lain, membuatnya sulit pula untuk mengizinkan Azzura pulang. Padahal, sudah jelas-jelas tadi gadis itu sudah memohon serta meminta kepadanya.
Sesal di hati pun muncul. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, lelaki itu tak henti berdoa agar ibunda dari sekretarisnya itu diberi kesembuhan.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam lamanya, Haidar pun sampai di pelataran parkir rumah sakit.
Ia segera bergegas menuju ke ruangan ICU untuk melihat keadaan ibunda Azzura. Sesampainya di sana, ia tidak menjumpai gadis yang sudah ia perlakukan dengan tidak baik sebelumnya di kantor. Ia hanya berjumpa dengan wanita paruh baya yang berbicara dengannya tadi di telrpon.
“Azzura ke mana, Bu?”
“Mbak Yuan sedang pergi ke rumah papanya, Mas.”
“Ke rumah papanya? Memangnya mama dan papanya Azzura ...?”
“Ya, Mas. Kedua orang tuanya sudah bercerai beberapa tahun yang lalu. Sekarang, Mbak Yuan sedang menemui papanya dengan harapan bisa mendapatkan bantuan dana untuk membayar biaya rumah sakit ini. Kasihan Bu Hasni. Semenjak diusir dan diceraikan oleh suaminya, beliau jadi sakit-sakitan. Kehidupannya yang tadi sangat mewah dan serba kecukupan, berubah drastis seperti sekarang ini. Tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat sederhana. Bersyukur setelah lepas kuliah Mbak Yuan langsung mendapat pekerjaan yang sangat baik sehingga dapat membiayai semua kebutuhan mereka, termasuk biaya berobat ibunya. Ya, bisa dibilang, sekarang kehidupan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya.”
Mendengar perjalanan hidup sang sekretaris yang sangat berliku dan pahit, membuat hati Haidar tersentuh sekaligus terenyuh. Ia tak pernah menyangka di balik sikap ceria dan cerobohnya Azzura, tersembunyi kepedihan yang teramat sangat mendalam.
“Saya tidak pernah menyangka kehidupan teman saya ini sungguh pelik dan rumit.”
“Iya, Mas. Saya juga kasihan sekali pada mereka berdua.”
“Bu Hasni sakit apa?”
“Komplikasi, jantung, sesak napas, dan diabetes basah. Mas tadi lihat luka sebesar bulatan gelas di punggung beliau?”
“Iya, Bu. Kasihan sekali, bernanah, dan sudah ... maaf, berbau busuk, ya, Bu.”
“Itu luka bekas terapi bekam yang dia lakukan. Karena diabetesnya itulah yang menyebabkan lukanya susah kering, bertambah lebar, dan membusuk,” isak Santi dengan suara parau. Wanita yang merupakan tetangganya Azzura itu sangat menyayangi Hasni dan Azzura.
Haidar menatap wanita yang usianya hampir sama dengan ibunya itu. Wanita yang sedang terbaring lemah tak sadarkan diri, di atas ranjang pesakitan dengan alat bantu medis menempel di hampir seluruh tubuhnya.
Tebersit rasa penyesalan yang mendalan di hati lelaki keturunan Jawa itu. Betapa tidak? Ia tadi sudah menahan sekretarisnya untuk tetap lembur di kantor, mengerjakan semua laporan yang harus ia serahkan kepada atasannya besok.
“Maafkan aku, Azzura. Semua yang kulakukan tadi, bukan karena aku membencimu, melainkan hanya karena profesionalisme dalam pekerjaan.”
***
Azzura memasuki pekarangan sebuah rumah yang berdiri sangat megah dan kokoh. Dengan wajah yang penuh kesedihan, gadis itu menggedor pintu keras-keras.
“Pa, tolong buka pintunya! Pa!” teriaknya.
Tidak ada sahutan dari dalam. Ia pun kemudian kembali menggedor dan berteriak tanpa henti. Tanpa menyerah, di malam yang mulai beranjak larut itu ia tetap teguh berdiri di depan pintu rumah sang ayah.
“Papa, buka pintunya, Pa!” Tangannya mengepal, memukul-mukul pintu bercat cokelat keemasan itu.
Dari dalam rumah, seorang wanita bertubuh pendek dan gemuk berlari sambil tergopoh-gopoh menuju pintu.
“Siapa, sih, tengah malam kaya gini gedor-gedor pintu?” rutuknya sambil membukakan pintu. Mata belok itu membulat sempurna, tatkala melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu rumah majikannya.
“Non Yuan, apa kabar, Non?”
Dengan penuh hormat, Azzura mencium punggung tangan sang asisten rumah tangga yang telah mengasuhnya sedari kecil itu.
“Alhamdulillah sehat, Bik. Ada Papa, Bik?”
“Ada, Non. Tapi sepertinya, Tuan sudah tidur sekarang. Apa nggak sebaiknya besok pagi saja, Non?”
“Nggak bisa, Bik. Harus malam ini. Yuan mau ketemu Papa. Yuan mau menolong nyawa Mama. Mama kritis di rumah sakit. Mama masuk ruang ICU, Bik.” Mata indah itu mengembun dan bulir bening pun luruh membasahi pipinya yang putih mulus.
“Innalillahi, Nyonya ...,” isak wanita paruh baya itu, memeluk anak majikan yang sangat disayanginya. Dengan penuh kasih, wanita berperawakan pendek itu mengelus punggung Azzura yang sesenggukan di bahunya.
“Untuk itu Yuan ke sini, Bik. Yuan mau minta uang sama Papa untuk membayar biaya rumah sakit.”
“Tapi, Non ... Bibik khawatir nanti Nyonya Susan akan ....”
“Jangan khawatir, Bik. Yuan tidak akan meladeni si Nenek Sihir itu. Yuan ke sini hanya mau bicara dengan Papa, bukan dia.”
“Baiklah, Non.”
Azzura melepaskan pelukan, lalu berjalan cepat menuju tangga. Gadis berambut panjang itu menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya sambil terus berteriak memanggil-manggil papanya.
“Pa, Papa!” teriaknya semakin kencang.
Saat ia sampai di lantai atas, dari dalam kamar tidur utama muncul seorang wanita berambut panjang serta pirang, dengan gaun tidur yang seksi dan agak sedikit menerawang.
“Kamu itu, ya, anak liar yang nggak tahu sopan santun! Kalau mau bertamu, besok!” hardiknya kasar. Matanya menatap tajam ke arah Azzura yang berdiri di dekat sofa.
“Hentikan ocehanmu! Mana papaku?”
“Kamu lihat jam tangan yang ada di tanganmu! Sudah jam berapa ini? Tentu kalau otakmu waras, kamu akan tahu di mana dan sedang apa papamu sekarang.”
“Aku buta angka. Cepat panggilkan Papa! Aku tak punya waktu untuk melayani ocehanmu yang tak berguna itu. Dasar benalu!”
Tak terima dikatai benalu, Susan, sang ibu tiri pun mulai emosi. Ia maju beberapa langkah ke depan, bermaksud ingin menampar Azzura. Namun, usahanya tidak berhasil karena sang anak tiri telah bersiap melawan dengan memelintir tangannya.
Susan meringis kesakitan, sementara Azzura tampak sangat bahagia menyaksikan pemandangan seperti itu. “Makanya, jangan macam-macam sama aku. Kku lebih kuat dan lebih jahat darimu, Pelakor!”
“Lepasin aku, anak sialan! Atau, aku akan teriak.”
Ancaman Susan tak sedikit pun membuat Azzura gentar. Ia semakin memperkuat pelintiran tangannya. Istri kedua papanya itu pun mulai mengaduh dan akhirnya ia pun menjerit kesakitan.
“Papa! Tolong aku, Pap!” teriaknya histeris.
“Kurang kencang teriaknya, Jalang! Harusnya kamu berteriak seperti ini ... Papa … Papa!” ejek Azzura, menyeringai jahat.
Teriakan Azzura sontak membuat papanya terbangun dan segera keluar dari dalam kamar.
“Ada apa ini?”
“Tolong aku, Pap! Si Yuan berulah lagi,” rengek Susan, lebay.
“Yuan! Lepaskan mamamu!”
“Apa? Mama? Mamaku hanya Hasni. Dan sekarang, beliau sedang koma di ICU.” Azzura menantang tatapan papanya tanpa takut, lalu melepaskan ibu tirinya sambil mendorong kasar tubuhnya ke depan.
Susan menangis bak anak kecil. Isakannya terasa dibuat-buat sedramatis mungkin agar sang suami merasa iba kepadanya dan murka kepada anak tirinya.
“Papa, tanganku sakit sekali.” Sambil menangis, Susan memperlihatkan tangannya yang memerah.
“Keterlaluan sekali kamu, Yuan. Dasar anak ....”
“Anak setan? Anak sial? Anak berengsek? Atau, anak kurang ajar? Sebut semua predikat hebat itu untukku, aku nggak peduli! Aku ke sini mau minta uang untuk menyelamatkan nyawa Mama.”
“Sudah berbuat onar, seenaknya saja kamu mau minta uang. Datang di waktu orang lagi tidur, dasar begundal!”
“Makilah aku sesuka Papa. aku ikhlas ... asal Papa kasih aku uang. Aku harus membayar rumah sakit, Pa.” Azzura mulai merintih dan terisak.
“Tidak ada uang!”
“Pa, aku mohon! Mama sedang sekarat sekarang.”
“Papa bilang tak ada uang. TITIK!”
“Pa, di mana hati nurani Papa? Mama adalah wanita yang pernah Papa cintai. Walaupun kini sudah bukan istri Papa lagi, tapi beliau selama masa pernikahan tidak pernah membuat Papa kecewa, kan, Pa? Tolonglah Mama, Pa! Karena hanya Papa yang bisa menolong Mama. Untuk itu aku kemari, mengharap belas kasih dari Papa.”
“Tahu apa kamu soal mamamu. Papa bilang tak ada uang, ya, tak ada uang.”
“Aku lihat di garasi ada mobil BMW model baru. Kenapa Papa membeli mobil itu bisa, tapi memberikan uang untuk menolong Mama nggak bisa? Uang yang aku minta untuk Mama lebih sedikit jumlahnya dibandingkan harga mobil itu, Pa.”
“Uang Papa habis untuk membeli mobil itu. Wajar Papa membelikan Mama Susan mobil itu karena dia sekarang adalah istriku. Jadi, segala kepentingannya adalah prioritas bagiku.”
“Jadi, Papa nggak mau kasih aku uang?”
“Ya, Papa nggak bisa kasih kamu uang.”
“Astagfirullah, Papa. Kalau begitu, aku mau ambil mobilku. Akan aku jual untuk Mama.”
“Semenjak kamu memutuskan untuk pergi dari rumah ini bersama mamamu, maka segala fasilitas yang kamu dapatkan dulu, bukan lagi milikmu.”
“Papa jahat!”
Azzura menangis histeris. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia duduk bersimpuh di lantai, menutup wajah dengan kedua tangannya.
Seolah tak peduli, lelaki paruh baya itu pun berlalu dengan mengajak istrinya kembali masuk ke dalam kamar.
Sementara Azzura duduk sambil tersedu, meratapi apa yang telah terjadi. Ibu tirinya tersenyum sinis penuh dengan kemenangan. Sebuah kemenangan yang telak.
“Ingat azab Allah, Pa! Terlebih lagi azab untukmu, Susan! Dasar pelakor, p*****r!”
Azzura terus berteriak dan merutuk. Seolah tak mendengar, papa dan ibu tirinya tak memedulikan tingkahnya di luar kamar. Keduanya dengan nyaman, naik ke peraduan dan saling b******u mesra.
Merasa tak diacuhkan, gadis itu pun bangkit dan bergegas untuk pulang. Dengan sejuta kesedihan, ia pun keluar dari rumah tempat di mana ia dibesarkan. Saat melintas di depan garasi, ia teringat akan mobil baru yang dibeli oleh papanya. Dengan emosi, ia mengambil sebongkah batu berukuran lumayan besar. Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung menghantamkan benda berwarna abu gelap itu ke bagian depan mobil yang terparkir di dalam garasi tersebut.
Suara pecahan kaca yang disusul dengan suara alarm mobil, membuat suasana menjadi gaduh. Susan dan Rahmat yang sedang asyik bercinta pun terkejut. Mereka buru-buru mengenakan pakaian mereka, lalu keluar melalui balkon yang terhubung dari dalam kamar untuk melihat keadaan di luar.
-BERSAMBUNG-