SERANJANG DENGAN si BREWOK - 3
Dengki dan amarah sudah merajai hati Azzura. Gadis berambut cokelat agak kemerahan itu langsung membanting berkas-berkas tersebut dengan kasar ke atas mejanya.
“Sssstt, ntar ada si Bos kena lagi, loh!”
“Udah buruan kerjain, ntar gue bantu,” hibur Angga.
“Beneran, ya?”
“Iya, temen-temen lain juga pasti mau bantu, ya, nggak, Gaes?”
“Iya, Zu. Tenang aja.”
“Hooh, Zu. Ntar kalau kerjaan gue kelar, gue ke meja lu, deh.”
“Gue juga siap bantu, Zu.”
Kekompakan dan solidaritas dari teman-temannya itu membuat wajah Azzura kembali berseri. Tampak semangat yang semula hilang, telah kembali. Ia mengambil satu buah berkas pertama dan mulai mengerjakannya dengan lebih teliti lagi.
Tidak berapa lama, ia melirik arloji di tangan kanannya. “Ya Allah, udah jam tiga ini. Mustahil buat gue kelarin semuanya dalam sisa waktu yang hanya dua jam. Punya atasan, kok, kaya gitu? Galak dan nyebeliin!” pekiknya sambil melemparkan pulpen ke lantai.
“Kamu kenapa Azzura? Kamu tidak suka saya beri tugas sebanyak itu?” Kehadiran Haidar yang tiba-tiba sungguh sangat mengejutkan Azzura.
“Ti-tidak, Pak. Ini saya ngedumel gara-gara pulpen yang saya pakai ini macet. Makanya saya banting karena kesal.”
Haidar memungut pulpen yang tergeletak di lantai, lalu mencoret-coretkannya di atas kertas kosong yang ada di atas meja Azzura. Pulpen itu tintanya baik. Hasil coretannya pun tebal karena memang itu pulpen yang memiliki kualitas yang bagus.
“Kamu lihat, pulpen ini bagus. Otak kamu yang macet, bukan pulpen ini,” cela Haidar tanpa dosa, lalu meninggalkan ruangan menuju ke lift.
“Otak lu yang macet, Breeewoookkkkk! Dasar manusia nggak punya hati.”
Dion tertawa puas sekali. Azzura yang sedang kesal pun tak terima dan mendelik tajam ke arahnya.
“Apaan lu Dion, ngetawain gue mulu! Lu mau gue lempar pake pulpen ini, hah?”
“Bahaha, lu kalau mau ngedumel liat kanan, kiri, depan, belakang dulu, Zur! Jangan kaya tadi, terciduk!” ledek Dion, tawanya semakin menjadi-jadi.
??????????????
Waktu menunjukkan pukul 17.10 wib, sebagian karyawan sudah meninggalkan ruangan untuk pulang ke rumah. Yang masih setia menemani Azzura adalah Angga, Marsya, Intan, dan Tita. Mereka berniat untuk membantu pekerjaan sang sekretaris yang masih menumpuk di atas meja.
“Tinggal berapa berkas lagi, Zur?”
“Nih, tiga lagi. Kalian beneran mau bantuin gue?”
“Iya. Siniin berkasnya, gue kerjain di meja gue aja.”
“Yang dua juga kasih aja ke kita, Zur! Biar kita kerjain sekarang.”
Berkas masih di tangan, tiba-tiba Haidar keluar dari dalam ruangannya.
“Kalian mau jadi pahlawan?”
“Tidak, Pak. Kami hanya mau bantu Azzura mengecek bagian mana saja yang salah,” kilah Angga.
“Yang dibilang oleh Angga itu benar, Pak,” timpal Intan.
“Kalian pulang saja. Biarkan si Azzura mempertanggungjawabkan kesalahannya.”
“Ba-baik, Pak. Kami permisi. Azzura, kita balik duluan, ya.” Mereka pun kabur meninggalkan Azzura bersama bos yang super duper menyebalkan.
Tak sedetik pun pandangan Haidar lepas dari keempat anak buahnya yang lari terbirit-terbirit menuju lift. Sepak terjangnya di kantor itu, sungguh sangat dibenci oleh seluruh pegawai yang dipimpin olehnya. Tak pernah sekali pun ia bersikap ramah dan merangkul. Bisanya hanya memerintah dan marah-marah jika pekerjaan yang dilakukan salah.
Setelah Tita, Intan, Angga, dan Marsya menghilang di balik pintu lift, Haidar mendekati meja kerja Azzura. Sambil memicingkan mata, ia mencoba memperhatikan pekerjaan yang sedang dilakukan oleh gadis yang tampak sudah kelelahan itu.
“Yang ini salah,” bentaknya.
“Yang-yang mana, Pak?” jawab Azzura gelagapan.
“Kamu taruh mata kamu di mana sih? Yang ini, tinggal meng-copy paste saja tidak becus. Aneh saya sama Bu Cindy, bisa menerima pegawai yang tidak kompeten seperti kamu.”
“Ma-maaf, Pak. Baik, segera saya rapikan kembali.”
Dengan tangan gemetar, Azzura merevisi laporan yang ditunjuk oleh bosnya tadi. Dinginnya udara di ruangan itu, tak dapat menghentikan kucuran keringat yang terus membanjiri wajah dan lehernya. Haidar sempat melirik raut wajah sang sekretaris yang pucat pasi. Namun, sepertinya pria bertubuh tinggi besar itu tidak memedulikan apa yang dirasakan oleh gadis itu. Baginya, kedisiplinan dan tanggung jawab adalah yang utama dalam pekerjaan.
“Ingat, ya, jangan meninggalkan kantor ini kalau kamu belum merampungkan semua berkas. Biar sampai tengah malam, saya tunggu! Saya akan berada di sini untuk menyusun bahan untuk meeting besok dengan Pak Rangga. Jadi, jangan pikir kalau saya lembur sampai malam di dalam ruangan hanya duduk bersantai nonton TV. Kamu mengerti?”
“I-iya, Pak.”
“Bagus.”
Haidar berlalu masuk ke dalam ruangannya. Setelah terdengar suara pintu yang tertutup, Azzura sejenak menghentikan pekerjaannya. Ia melirik dan kembali merutuk sang manajer yang dinilai telah berlaku tidak baik padanya.
“Kingkong Brewooookkk, awas aja, ya, lu nanti akan dapat balasan dari Allah! Gue doain lu bisulan di mata, bibir, dan telinga lu. Uuuuhhhhh!”
Setelah puas memaki, ia pun kembali melanjutkan pekrjaan yang masih menumpuk.
Satu jam kemudian, ponsel di samping keyboard bergetar. Sebuah panggilan masuk dari sang ibu. Dengan mata berbinar, Azzura pun menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum, Ma.”
“Waalaikumsalam, Yuan. Kamu di mana, Nak? Kok, belum pulang?”
“Maaf, Ma. Yuan ada tugas di kantor, disuruh sama manajer Yuan untuk lembur.”
“Syukurlah kalau begitu. Mama tadi sempat khawatir takut terjadi apa-apa denganmu, Nak. Kamu sudah makan?”
“Mama jangan khawatirkan Yuan, ya. Yuan sudah makan tadi sore,” kilahnya berbohong.
“Alhamdulillah kalau begitu. Mama takut kenapa-kenapa, karena semenjak siang tadi kamu nggak ada menghubungi Mama. Mama rindu kamu.”
“Maafkan Yuan, ya, Ma. Pekerjaan hari ini sangat menyita waktu juga pikiran Yuan. Sampai-sampai Yuan lupa untuk perhatikan Mama. Mama sudah makan, Ma?”
“Sudah, Nak. Iya, Sayang. Mama mengerti.”
“Maafkan Yuan, Ma, nggak bisa pulang cepat.”
“Iya, Sayang. Jangan lupa salat Magrib, ya, Nak!”
“Iya, Ma. Mama baik-baik di rumah. Yuan sayang sama Mama.”
“Mama juga sangat menyayangimu, Nak!”
“Dah, Mama, assalamu’alaikum.”
Dengan mata berkaca-kaca, ia pun meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Wajah lemah sang ibu kembali hadir di dalam benaknya, menghiasi pikirannya. Sesungguhnya, ia tak tega membiarkan wanita yang sangat disayanginya itu tinggal di rumah sendirian. Tetapi, apalah daya, ia tak kuasa menolak tugas kantor itu.
Mata indahnya mengembun. Bulir bening yang tertahan di pelupuk akhirnya luruh membasahi pipinya yang memerah.
“Mama, baik-baik, ya, di rumah,” isaknya.
Tak lama kemudian, adzan Magrib pun berkumandang lewat ponselnya. Ia memang sengaja menyetel alarm dengan suara azan di setiap waktu salat tiba. Tanpa berlama-lama, ia segera menyimpan tiga tumpuk berkas yang belum selesai ke ujung mejanya.
Gadis itu bangkit, lalu mengetuk pintu ruangan Haidar untuk meminta izin untuk salat. Setelah sang manajer mengizinkan, ia pun segera berlalu menuju sebuah kamar di dalam pantri yang dirubah menjadi musala kecil untuk para karyawan di districk tersebut.
Usai salat, dengan langkah gontai, ia pun berjalan kembali menuju meja kerjanya. Lalu, melanjutkan kembali sisa pekerjaan yang sudah mengantre. Sesaat kemudian, ponselnya kembali bergetar, sang ibu kembali menghubunginya.
“Yuan, d**a Mama sesak lagi, Nak. Bisakah kamu pulang cepat, Nak?”
“Mama ... iya sebentar, ya, Ma. Yuan minta izin pada atasan Yuan dulu.”
“I-ya, Sa-yang ....”
Dengan panik, ia membereskan semua berkas yang ada di meja dan kemudian membawanya ke ruangan Haidar.
“Sudah selesai?” tanya Haidar.
Dengan wajah pucat dan cemas, Azzura menggeleng.
“Kalau belum selesai, kenapa kamu ke sini?”
“Anu Pak, saya ... saya ....”
“Saya apa? Mau pulang?”
“I-iya, Pak. Saya mohon izin untuk pulang. Ibu saya ....”
“Ibu kamu kenapa? Sakit?”
“I-iya, Pak.”
“Alasan klise. Kerjakan segera semua sisa berkas yang belum selesai!”
“Hiks, tapi ... tapi, Pak.”
“Nggak ada tapi-tapi. Kamu harus profesional dalam bekerja. Jangan campur adukkan masalah pribadi dengan urusan kantor. Saya juga sama sepertimu, mau pulang, istirahat. Sebenarnya, pekerjaan saya sudah selesai dari tadi. Karena nungguin kamu, akhirnya saya terjebak di ruangan ini, membuang waktu.”
“Hiks, saya mohon, Pak. Izinkan saya pulang.”
“TIDAK! Kembali ke mejamu, sekarang! Atau, kamu saya saya pecat.”
“Ba-baik, Pak.”
Dengan wajah muram dan sedih, Azzura pun berbalik dan meninggalkan Haidar yang menatapnya tajam.
“Maafkan Yuan, Mama. Yuan takut dipecat, karena hasil kerja di perusahaan inilah kita bisa bertahan hidup dan bisa sedikit menabung. Ya Allah, jagalah ibuku. Angkat semua penyakit yang bersarang di dalam tubuhnya. Sesungguhnya Engkau Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Tidak ada pilhan lain. Dengan hati dan pikiran yang kacau, ia kembali berkutat mengerjakan segala tugas-tugasnya. Dua jam kemudian, berkas pun telah rampung dikerjakan. Tak ingin membuang waktu, ia segera bergegas masuk ke dalam ruangan manajernya.
“Pak, ini sudah selesai.”
“Duduk dulu, saya akan memeriksanya terlebih dahulu. Saya harus memastikan semuanya sudah benar, karena semua ini akan saya serahkan pada Pak Rangga besok.”
“Saya pastikan semuanya sudah benar dan aman untuk diserahkan pada Pak Rangga, Pak. Izinkan saya pulang, Pak! Ibu saya kasihan, hiks.”
“Kamu jangan mengatur saya! Kamu bawahan saya. Sayalah yang menentukan, bukan kamu.”
“Tapi ... Pak.”
“Kamu masih mau kerja, nggak?”
Azzura mengangguk lemah.
“Ya, sudah, kalau begitu, duduk!”
Azzura pun menurut. Wajahnya yang kalut terus menunduk, menatap kedua kaki yang gemetar panik. Ponsel di saku blazer kembali bergetar. Ia meminta izin pada atasannya itu untuk dapat menjawab panggilan masuk.
“Waalaikumsalam. Innalillahi … Mama.” Seketika tubuh gadis itu pun jatuh ke lantai, tumbang tak sadarkan diri.
Haidar yang sedang memeriksa pekerjaan sangat terkejut, mendapati sekretarisnya jatuh pingsan, terjatuh dari kursi yang ia duduki.
“Azzura, kamu kenapa?”
-BERSAMBUNG-