-2-

1623 Words
SERANJANG DENGAN si BREWOK - 2 “What? Waduh, gimana dong, Gaes, nasib gue? Alamat kelar ini nyawa gue di kantor ini. Nggak bakalan diangkat jadi karyawan tetap ini, mah. Duh, amsyiong gue. Argh! Kalian kenapa, sih, nggak kasih gue kode supaya gue paham?” “Ah, elu, udah kaya gini aja malah nyalahin kita. Wew,” sungut Tita. Paras cantik Azzura pucat pasi. Peluh membanjiri wajahnya. “Gimana ini, Gaes?” “Lo cukurin aja brewoknya si Bos baru. Kali aja Doski mau maafin elu, Zur, haha!” ledek Rama tertawa terpingkal-pingkal. “Rama, nyebelin banget sih lu!” Semuanya tertawa, sangat tergugu melihat kepanikan rekan barunya itu. “Udah-udah! Ntar sore atau besok, lu minta maaf secara personal sama beliau. Biar posisi lu aman di sini. Jangan gara-gara tatapan maut tadi, nyawa lu di perusahaan ini ikut terenggut.” Nasihat Marsya tanpa beruangnya, sedikit menghibur Azzura. “Alamaaaak, iya-iya!” Marsya dan yang lainnya tertawa lagi melihat tingkah Azzura yang tak tenang. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu pun selalu mengacak rambut jika kembali mengingat seperti apa perlakuan terhadap sang atasan barunya tadi. “Mati gue! Mati...,” rutuknya geram, mengepalkan kedua tangannya ka atas, kembali mengundang tawa para rekan sekerjanya. “Ketawa aja terus sampai gigi kalian kering, huft!” “Makanya, jadi orang jangan galak. Udah datang telat, songong pula.” “Ah, berisik, Dion. Lu juga yang rugi kalau gue dipecat. Acara traktiran makan-makan dan traveling untuk merayakan pengangkatan gue jadi pegawai tetap akan batal secara mutlak!” “Eits, jangan, dong! Gue udah kosongin schedule untuk acara itu. Hadeuh!” “Bodo amat! Emang gue pikirin? Weee!” rutuk Azzura sambil berlalu meninggalkan ruangan menuju toilet. Usai selesai membuang hajat, Azzura pun membersihkan tangannya di wastafel yang terletak di luar toilet. Saat sedang merapikan rambut di depan cermin, tiba-tiba saja Haidar muncul hendak masuk ke dalam toilet. “Sekarang saat yang tepat buat gue minta maaf,” gumamnya pelan. Azzura membalikkan tubuh dan berjalan menghampiri atasan barunya tersebut. Haidar menghentikan langkahnya, menatap tajam ke arah cewek tengil yang berani memelototinya tadi. “Pak Haidar, boleh saya bicara sebentar?” “Tidak sopan! Apa tidak ada tempat lain?” sungut Haidar sambil berlalu pergi meninggalkan Azzura yang wajahnya pucat. Sepeninggal Haidar, Azzura memasang wajah kesal. Kedua tangannya mengepal. “Kampret! Kingkong! Brewoookk, nyebeliiiin!” Kedua kakinya dientakkan secara bergantian ke lantai. Ia kemudian berlalu dengan wajah yang masam. Mulutnya terus komat-kamit, mengumpat dan menyumpahi Haidar yang sangat menyebalkan. ?????????????? Serah terima jabatan dari Cindy kepada Haidar diadakan dengan acara ceremony yang dihadiri oleh seluruh keluarga besar yang tergabung di perusahaan kontruksi terbesar se-Indonesia itu. Sang regional manager tampaknya menaruh harapan besar terhadap districk manager yang baru, berharap perusahaan yang telah berkembang pesat itu semakin berjaya dan sukses dari sebelumnya. Suasana kerja di bawah kepemimpinan Haidar sangat berbeda dengan Cindy. Ia menerapkan peraturan yang sangat ketat dan disiplin kepada kelima belas karyawan dan karyawatinya. Ia banyak mengubah serta mengganti kebijakan-kebijakan yang telah ada sebelumnya. Dari mulai jam masuk yang dimajukan lebih awal setengah jam dan memberlakukan peraturan mengenai penampilan semua pegawai. Karyawan dan karyawati dilarang keras mengganti sepatu kerja mereka dengan sandal jepit ketika sedang bekerja di mejanya masing-masing, seperti yang sudah dilakukan selama ini. Jeritan para karwati yang mengeluhkan kakinya akan merasa pegal jika harus terus memakai high heels tak digubrisnya. Tanpa ada toleransi, pria berhati keras itu dengan tegas tetap memberlakukan kebijakan baru yang ia buat tersebut. Selain itu, ia mengatur penampilan wajah para karyawati. Ia mengharamkan mereka memakai make-up tebal, menor, dan sebagainya. Warna lipstik pun turut menjadi perhatiannya. Hanya warna-warna yang soft dan nude yang boleh dipakai. “Lipstik warna merah tidak pantas dipakai dalam suasana kerja. Kalian bukan vampir yang bibirnya merah seperti habis minum darah orok. Lipstik warna merah lebih pantas dipakai untuk melenong atau kondangan. Lalu, masalah rambut yang panjangnya melebihi bahu, wajib diikat rapi seluruhnya ke belakang. Jangan pakai kriwil-kriwil di sisi kanan dan kiri kepala kalian, mengganggu mata di saat bekerja. Untuk poni yang sudah mulai panjang, cepat dirapikan. Batas maksimal sejajar dengan alis, kalian mengerti?” “Mengerti, Pak!” jawab seluruh karyawati bersamaan. “Bagus! Tidak sampai di situ. Untuk kalian para ladies, masih ada peraturan yang harus kalian taati, yaitu mengenai warna high heels yang boleh dipakai hanya warna hitam dan cokelat. Saya tidak mau lagi melihat kalian memakai sepatu warna-warni seperti anak TK. Itu sepatu atau rainbow cake? Kalau memang mau me-matching-kan dengan tas dan pakaian, jangan di sini. Kalian paham, ladies?” “Paham, Pak!” sahut para ladies dengan wajah mengerut dan bibir mengerucut. “Next, untuk karyawan yang tampan, kalian wajib memakai dasi. Kemeja haram untuk digulung. Kalian bekerja di perusahaan yang bonafit, bukan perusahaan ecek-ecek. Untuk sepatu hanya dua warna yang boleh dipakai, yaitu hitam dan cokelat, juga harus selalu disemir, mengkilat, dan bersih. Tidak harus ganti baru, yang penting layak dipakai.” “Baik, Pak!” seru kelima lelaki yang memasang tampang lesu. “Good! Baiklah, kalau begitu, kalian bisa keluar dari ruangan saya dan kembali ke mejanya masing-masing. Ingat, jangan banyak bicara saat bekerja. Kalian harus mengefektifkan waktu yang diberikan. Berikan dedikasi terbaik untuk perusahaan ini.” Mereka yang wajahnya ditekuk itu pun berjalan gontai keluar dari ruangan sang manager. Masing-masing dalam hati mereka saling merutuk kebijakan sang atasan yang dianggap nyeleneh dan aneh. “Buseeeeeet, dagh! Banyak bener peraturannya, ya. Harus beginilah, harus begitulah, pfuh!” keluh Dara, tepok jidat. “Yoi, Ra. Apalagi sekarang kita yang laki kudu wajib pake dasi. Alamat jajan dasi ini, mah, judulnya, hadeuh!” tambah Dion, menggaruk-garuk rambut klimisnya. “Yang parah itu dasi pastinya harus beli lebih dari dua. Doski pasti protes bin komplain ‘kok dasi yang kamu pakai itu-itu aja’? Kita ini kerja di perusahaan bonafit, bukan ecek-ecek,” timpal Rama geram. “Beli aja di Pasar Senen, Gaes! Murce. Bawa duit seratus rebu dapet banyak.” Bagus memberi ide, berusaha menyemangati kawan-kawannya. “Bukan kalian yang pening, gue juga sama, cuy. You know why? Sepatu warna-warni gue yang kata si Bos mirip rainbow cake itu gimana nasibnya, coba? Gila aja tiap hari gue cuma pake sepatu item sama cokelat. Kolot amiiiirrr, ckck!” gerutu Marsya, matanya tampak berkaca-kaca. “Kalian masih mending hanya bermasalah dengan barang-barang. Gue, nih, yang lebih parah. Semenjak insiden itu, dia sentimen banget sama gue. Kayak sengaja banget selalu mencari-cari kesalahan gue. Setiap laporan yang gue kasih, pasti selalu dia komplain. Padahal, gue yakin banget, laporan yang gue serahkan ke dia itu udah bener dan rapi, huft!” sungut Azzura. “Masalah sama elu, itu namanya dendam, Zur!” Tita menimpali dengan kesal. “Gue juga kemarin dipanggil sama si Bos, kena SP-1 hanya gara-gara gue izin selama tiga hari pas keluarga bini gue ngadain acara pernikahan. ‘'Kamu itu laki, Gus. Nggak usahlah betah di pesta. Kan, yang nikah bukan kamu, yang nikah saudara istri kamu. Kamu antar aja istrimu ke tempat saudaranya, terus kamu pulang lagi ke Jakarta. Ntar waktunya pulang, kamu jemput lagi istrimu itu. Emangnya kamu mau jadi saksi pas malam pertamanya juga?’' Nyebelin, kan, punya boskaya gitu?” Bagus meraup wajahnya yang terlihat kusut. “Lah, kemarin juga gitu, Gus. Si Bos mencak-mencak hanya karena gue lepas sebelah sepatu, waktu gue jelasin masalah report gue ke si Azzura. Dia lewat, tuh, mau ke lapangan, sempet-sempetnya dia menghentikan langkahnya dan bilang kaya gini ‘Intan, itu sepatu mau dipakai atau mau saya buang ke tong sampah? Saya nggak mau kejadian seperti itu terulang kembali. Kalau sekali lagi saya lihat kamu begitu, saya nggak akan segan kasih kamu SP-1.” Intan naik pitam. Azzura, Marsya, Tita, Dara, Bagus, Rama, Dion dan yang lainnya tertawa tanpa suara. Mereka semua merasakan penderitaan yang sama. Pesawat telepon di atas meja Azzura berbunyi. Dengan cepat ia mengangkatnya. “Halo Pak, ada yang bisa saya bantu?” “Tolong kamu ke ruangan saya, sekarang!” bentak Haidar. “Ba-baik, Pak.” jawab Azzura gugup, menelan salivanya. “Bismillahirrahmanirrahim,” gumamnya pelan. “Mau kemana lu?” “Dipanggil si Kingkong Brewok, Tan. Bentak-bentak, galak banget, hiiiiy takut!” “Haha, siapin mental, tebelin kuping, kuatin tuh mata. Jangan mewek di depan dia.” “Iya, nih. Gaes, doain gue, ya. Gue mau masuk ke dalam kandang si Kingkong Brewok itu dulu,” oceh Azzura mengata-ngatai atasannya dengan asal. Seluruh rekannya tertawa kecil mendengar ucapan Azzura barusan. Sejenak, Azzura menghela napas panjang. Ssetelah dirasa siap, ia pun segera mengetuk pintu ruangan sang manajer. “Masuk!” 'Duh, ada apa lagi, nih? Gile bener, dagh. Itu muka si Brewok, nyeremin banget. Lebih serem dari mukanya setan sundel bolong yang diperanin sama Suzzanna,' batinnya. “Duduk!” “I-iya, Pak.” Haidar meletakkan setumpuk berkas di hadapan sekretarisnya. “Kamu bisa kerja nggak, sih? Kamu itu sudah mau satu tahun kerja di sini. Masa ngerevisi aja tidak becus! Ini juga report salah formatnya. Kan, saya sudah bilang pakai format baru. Kamu nggak tuli, kan, Zura?” “Ma-maafkan saya, Pak. Saya akan segera merevisinya.” “Jangan ‘akan’, tapi lakukan SEKARANG!” “Baik, Pak. Saya permisi.” Azzura segera menggondol tumpukan berkas tersebut, lalu ngacir meninggalkan ruangan. “Kamu tidak boleh pulang sebelum semua berkas itu selesai.” “Ba-baik, Pak.” Azzura menghentikan langkahnya di ambang pintu. “Ish, ya, beneran itu si Brewok. Hati nuraninya mana, sih? Jahat banget jadi manusia. Setumpukan gini harus kelar hari ini juga? Ini udah jam dua siang. Untung aja gue makannya nasi. Kalau gue kaya Sumanto pastinya udah gue makan kamu Brewoooook!” “Kenapa, Bu?” “Nih, Bos elu, Zahra. Songong banget. Masa gue harus revisi semua berkas ini? Mana ada report yang harus diganti formatnya.” “Bos elu itu, mah, Zu. Hahaha!” ??????????????? -BERSAMBUNG-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD