Di sini ada sejumput harapan…..
Sebuah kisah dalam sejuta warna masa muda….
Sebuah wacana yang baru saja akan memulai ceritanya…
Dalam rajutan benang asa dan impian…
……………………………………………………………
Wina, Donny Andrea, Aki Yayat dan nini terus bercengkrama melepas rindu sampai larut malam. Udara Pangalengan yang dingin dan sejuk spontan membuat Wina merapatkan jaketnya. Tak lama, hujan gerimis pun turun. Menambah teduh dan syahdu suasana saat itu. Wina sendiri mulai mengucek kedua matanya dan menguap lebar.
Tapi, ketika ia bangkit dari kursinya dan mulai melangkah ke atas tangga menuju kamarnya sendiri, terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu masuk. Dengan kening berkerut bingung, Aki Yayat dan ayahnya lalu saling berpandangan sebelum kemudian Aki Yayat memutuskan untuk membuka pintu.
Di depan pintu, tampak seorang pemuda belia tengah berdiri dengan tubuh menggigil kedinginan dan bibir gemetar. Jaket tipis yang dikenakannya sama sekali tidak bisa membantunya untuk menahan terpaan udara malam. Pemuda itu mengenakan tas backpack sementara tangannya menggenggam sebuah tas koper berukuran sedang.
“Ma…Maaf, Oom. Apa Wina ada di sini?” tanyanya dengan suara bergetar dan gigi gemeletuk.
Mata Donny Andrea dan Aki Yayat bekerjapan kaget atas kedatangan mendadak pemuda asing ini tapi kemudian mereka lebih terkejut lagi saat tiba-tiba sebuah suara lain menyapa kedatangan pemuda aneh ini dari arah belakang tubuh mereka berdua.
“Pa..Jadi sia…. “
“JOHAN!!” pekik Wina kaget saat melihat kedatangan teman sekelas yang tak pernah disangkanya tersebut.
Johan sendiri hanya tersenyum lebar dengan wajah konyol saat melihat kalau ia sudah sampai di alamat yang benar.
“Hai, Win…”
“Ap…Ap…Ngapain kamu di sini???” cecar Wina lagi dengan nada kaget yang sama.
“Ehm… Win, mendingan kamu suru temen kamu masuk dulu aja deh. Biar papa minta nini siapin kamar tamu untuk dia. Kasihan…bibirnya udah biru gitu…” kata Donny Andrea sambil cepat-cepat menyilakan Johan untuk memasuki rumah dan diangguki dengan patuh oleh Wina yang segera menggandeng Johan untuk masuk ke dalam.
Aki Yayat sendiri hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil menghela nafas panjang dengan wajah bingung tapi sebelum ia benar-benar menutup pintu, sebuah tangan lain menahannya.
“Yat, aku titip tuan muda sementara ini ya….?”
Aki Yayat spontan menoleh dan ia terkesiap kaget saat melihat sesosok pria yang sangat akrab dengannya.
“Dullah? Abdullah Saleh?”
Pria yang disapa Dullah itu mengangguk tegas sambil tersenyum lemah.
“Apa kabarmu? Kemana saja kau selama ini?”
“Ceritanya panjang, Yat. Kalau ada kesempatan berikutnya, aku janji pasti akan menceritakan semuanya padamu…”
Aki Yayat hanya bisa menghela nafas panjang dengan wajah lelah dan akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah…”
………………………………………………………………………………
Fixed gue ga bakalan bisa tidur malam ini!!!
Wina berusaha keras untuk menenangkan debaran jantungnya yang terus menggila seakan-akan mau melompat keluar dari dalam rongga dadanya. Sementara isi kepalanya dibanjiri dengan berbagai pertanyaan yang menuntut untuk diberikan jawaban sesegera mungkin. Tapi terlepas dari semuanya, hanya ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya dari sejak sepasang langkah pemuda itu memasuki rumah ini.
JOHAN ALVARO!!!
KENAPA BOCAH EDAN ITU BISA ADA DI SINI???
…………………………………………………………….
Hotel Ritz Carlton, waktu bagian Hongkong
“DULLAH….!!!” teriak Mama Sharren sekencang-kencangnya dengan nada panik. Sementara yang diteleponnya terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya akibat kerasnya teriakan bernada tinggi dari majikannya tersebut.
“Ya, Nyonya?”
“Apa kau sedang bersama Johan saat ini?” cecar Mama Sharren lagi dengan nada panik yang sama.
“Ya, Nyonya…”
“Kau…”
Mama Sharren lalu berusaha mengambil nafasnya sebentar sebelum kemudian ia melanjutkan.
“Awasi terus anak itu. Amati perkembangannya setiap hari dan laporkan padaku…”
“Baik, Nyonya…”
Keduanya spontan mematikan sambungan telepon dan duduk dengan wajah lelah. Mama Sharren terduduk di atas sofa di dalam kamar hotel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih berusaha keras untuk mencerna apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran putra tunggalnya tersebut sampai ia memutuskan untuk kabur mendadak dari dalam pesawat. Sementara Dullah terduduk lemas dengan wajah pasrah dan mengusap-ngusap kepala plontosnya.
Tuan muda, kali ini kau benar-benar membuatku berada dalam masalah besar!
…………………………………………………………………..
“Dullah? Abdulah Saleh yang itu, Pa?” tanya Donny Andrea dengan wajah bingung setengah tak percaya tapi sebaliknya dijawab tegas dengan anggukan sang ayah.
“Papa yakin, Don. Ga mungkin papa sampai salah mengenali sahabat papa sendiri dari kecil…”
“Lalu?”
“Kemana saja ia selama ini?”
“Itulah yang papa tidak tahu, Don. Tapi, mungkin suatu saat nanti ia akan menceritakan semuanya…”
………………………………………………………………………
Wangi dan bunyi hujan yang akhirnya berubah deras terdengar sangat merdu di telinga Johan malam itu. Ya, udara malam masih terasa sangat dingin dan ia harus merapatkan selimutnya supaya tubuhnya bisa menyesuaikan diri dengan perubahan suhu drastic ini. Tapi hatinya terasa sangat nyaman dan bahagia.
Pelan, sebuah senyum konyol terukir di wajah tampannya. Hanya dengan memikirkan kalau ia sedang berada di bawah atap yang sama dengan gadis pujaannya, sudah membuat hatinya membuncah dan berbunga-bunga. Hari ini, ia sudah di sini.
Besok, ia akan mulai mengukir kisah untuk mereka berdua.