12 MERAJUT MIMPI (2)(MASA LALU) – 14 TAHUN YANG LALU

1243 Words
Aku sedang merajut mimpi Merajut mimpi bersamamu Ditemani panas hujan yang tiada berhenti Demi kita Kali ini pegang janjiku Janji yang tak pernah berubah Meski langit runtuh ku akan tetap berdiri Disampingmu Aku akan bahagiakanmu Kita bisa melewatinya Kau pun akan belajar merawat dan menjagaku Hingga waktu memisahkan Kita (Merajut Mimpi by Felix Irwan) …………………………………………………………………………………………. Perjalanan dari Bandung ke Pangalengan tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu kurang lebih selama satu setengah sampai dua jam lamanya. Dan, karena papa Wina, Donny Andrea membawa kendaraan sendiri maka mereka berdua tidak perlu terburu-buru segera pergi ke rumah aki. Sambil sarapan pagi bersama sebelum berangkat, Wina lalu bertanya pada ayahnya tentang jalur apa yang kira-kira akan mereka lewati sepanjang perjalanan. Dari Bandung sendiri, ada tiga rute alternatif yang bisa ditempuh dengan durasi waktu yang berbeda-beda yaitu melalui Jalan Raya Banjaran atau Jalan Raya Ketapang Andir atau langsung melalui Jalan Raya Pangalengan. Setelah berdiskusi cukup lama, Wina dan ayahnya akhirnya sepakat untuk mengambil rute Jalan Raya Banjaran dan akan melewati jalur Bandung bagian selatan. Bukan tanpa alasan, Wina ingin sekalian menikmati panorama alam yang akan mereka lewati seperti Kawah Putih, Danau Situpatengan serta pemandangan kebun teh yang terhampar hijau sejauh mata memandang. Wina sendiri sudah cukup lama tidak bertemu dengan kakeknya tersebut sejak dari SMP. Dan sejauh pengamatannya, kakeknya tersebut masih sangat bugar walaupun sudah berumur. Apa kabarnya orang tua itu sekarang? Tritrittt…. Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Spontan, membuat keningnya berkerut heran dan bingung. Tapi seulas senyum manis segera menghiasi bibirnya ketika ia membaca nama sang pengirim pesan. “Hey…where are you? Johan.” Jari-jari Wina secara otomatis segera mengetikkan jawabannya. …………………………………………………………………………. Dalam perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta… Johan sibuk mendengarkan lagu dari earbud-nya di kursi belakang mobil Alphard sementara kedua orangtuanya tengah sibuk mengetik pesan dan menelepon kiri kanan. Sama sekali abai akan kehadiran Johan yang sedang duduk manis bersama-sama mereka dalam perjalanan ini. Mama Sharren sibuk mengatur jadwal dan membuat janji dengan asisten pribadi yang juga ikut beserta dengan mereka sementara Papa Benito sibuk membaca berita di ponsel serta memantau perkembangan harga saham perusahaan mereka. Tepat pada pukul 7 pagi, mobil mereka berangkat dari Bandung dan kini sudah dalam setengah perjalanan di jalan tol menuju bandara. Pesawat mereka sendiri akan berangkat pada pukul 15.00. Cukup waktu untuk mereka sampai di sana dan langsung melewati boarding pass dan sisanya tinggal menunggu keberangkatan pesawat. Dalam diam, jari-jari Johan berdansa di atas ponselnya dan mengetikkan sebuah kalimat. Johan : “Hey…where are you? Johan.” (Hey, kamu di mana? Johan) Terkirim. Tak lupa, Johan juga turut mengirimkan sebuah aplikasi untuk Wina. Tak berapa lama kemudian, sebuah balasan muncul di layar ponselnya. Spontan membuat wajah Johan tersenyum lebar. Wina : “I’m on the way to Pangalengan. Where are you? Wina.” (Aku sedang dalam perjalanan menuju Pangalengan. Kamu di mana? Wina.) Johan langsung mengetik lagi. Johan : “Somewhere, Win. Omong-omong, jangan lupa download aplikasi yang aku kirim ya?” Balasan dari Wina segera muncul di layar ponselnya. Wina : “Itu aplikasi apaan sih, Jo? Bikin penasaran aja…” Johan : “Udah download aja. Ga akan rugi dijamin…” Johan lalu segera memasukkan ponsel ke dalam sakunya sambil bersiul riang. ………………………………………………………………… “Ckkk…” Wina spontan mendecih kesal sambil men-download aplikasi yang tadi Johan kirimkan padanya. “Siapa sih?” tanya ayahnya dengan wajah penasaran dan senyum jenaka. Walaupun sebenarnya ia sudah bisa sedikit banyak menebak siapa yang membuat putrinya tersebut tersenyum-senyum sendiri seperti itu. Toh, ia juga dulu pernah muda. “Teman Wina, Pa…” kata Wina dengan wajah tersipu malu. “Oh, temannnn….. teman biasa apa teman special, Win?” goda papanya lagi sambil cekikikan dan terus menyetir. “Papa..ihhhh…..apaan sihhhh….” balas Wina malu sambil menyenggol ayahnya yang malah tertawa tambah keras. Tak lama, mereka berdua pun sampai di area Kawah Putih. …………………………………………………………………………….. Bandara Soekarno Hatta, Jakarta Mobil Alphard hitam itu akhirnya sampai juga di bandara dan dengan segera, semua penumpang yang ada di dalamnya bergegas turun sambil menurunkan semua barang bawaan mereka. Beberapa asisten segera mengambil trolley bandara dan meletakkan koper-koper berukuran besar ke atasnya dengan rapi sementara Mama Sharren dengan gesit menunjukkan tiket kepada petugas boarding pass di hadapannya. Setelah pihak petugas mengecek dengan teliti, rombongan kecil itu segera dipersilakan memasuki area waiting room sementara seluruh koper sudah diangkut oleh petugas bandara. Tapi, khusus untuk keluarga Mama Sharren, mereka memperoleh fasilitas untuk menunggu di dalam lounge. Bagi Johan sendiri, penantian saat itu terasa sangat lambat sampai ketika akhirnya jarum jam menunjukkan keberangkatan dan semua orang bangkit berdiri, bersiap-siap untuk segera memasuki pesawat, ia pun turut berdiri dan mengantri bersama para penumpang lain. Lalu, ketika semua orang sudah berbaris memasuki pesawat dan semua orang sudah menempati kursinya masing-masing, serta pesawat hampir tinggal landas, spontan Johan bangkit berdiri dan berlari secepat kilat keluar pesawat. Mama Sharren dan Papa Benito langsung tercengang kaget saat mereka melihat tindakan tak masuk akal putra tunggalnya tersebut. Kedua orang tua tersebut bermaksud menyusul Johan tapi mereka kalah cepat. Pintu pesawat sudah tertutup dan Johan sudah berada di luar pesawat sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan kepada kedua orangtuanya. “Byeeee, Mom!!! Aku pasti akan meneleponmu setiap hari…” “JOHANNNNNNNN!!!!!! “ teriak Mama Sharren tak rela sambil menggedor-gedor jendela pesawat. Tapi ia bisa apa? Pesawat sudah mulai mengudara sekarang. Tak ada lagi yang ia bisa lakukan. Dengan santai, Johan lalu berjalan kembali ke area bandara dan menghubungi seseorang. “Dullah, ini aku. Kita bersiap ke Pangalengan sekarang…” “Jemput aku di luar bandara….” Seulas senyum kecil muncul di wajahnya sementara kedua kakinya melangkah ringan sekarang. Winaaa…..I’m coming! ……………………………………………………………………… Rumah Aki Yayat, Pangalengan Wina dan ayahnya akhirnya sampai juga di sebuah rumah panggung besar yang terbuat dari kayu sore itu. Udara dingin terasa menggigit dan Wina otomatis merapatkan jaketnya. Ayahnya sendiri lalu menurunkan barang bawaan mereka dari mobil dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Aki Yayat yang sudah menunggu kedatangan mereka dari tadi segera menyambut ayah beranak tersebut dan memeluk mereka berdua secara bergantian erat-erat. “Udah lama Wina ga ke sini? Teu kangen sami aki?” Ditegur secara halus, Wina hanya bisa tersenyum lebar sambil membalas ucapan kakeknya. “Sibuk, Ki. Makanya baru bisa ke sini lagi…” “Masuk tah, si nini tos nyiapkeun pisang goreng dina lembur…” Wina mengangguk dan bertiga, mereka pun memasuki rumah bersama-sama. …………………………………………………………………
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD