Setelah duel tersebut, Wina tak lagi berani untuk menantang Johan. Tanpa diduganya, dibalik tubuh kerempengnya, ternyata pemuda itu sangat familiar dengan berbagai cabang bela diri seperti jiujitsu, taekwondo, capoeira, judo, karate, dan sebagainya. Yang lebih mengagetkan lagi, semua jurus beladiri tersebut diajarkan oleh orang yang sama yang disebut oleh Johan sebelumnya.
Tapi Johan sendiri tak pernah menonjolkan diri akan apa yang ia bisa terutama seputar keahlian bela dirinya. Ia membiarkan semua siswa melihatnya sebagai seorang murid pindahan biasa yang memang menonjol dalam bidang akademis. Tidak lebih. Tidak kurang. Anehnya lagi, sebagai salah satu anak konglomerat, Wina sama sekali tidak melihat adanya pengawalan ketat seperti yang ia lihat di film-film gangster. Johan Alvaro benar-benar terlihat seperti seorang siswa SMU biasa.
Lambat laun, hubungan keduanya mulai dekat. Karena mereka berdua sama-sama siswa berprestasi, maka pihak sekolah acapkali memasangkan mereka berdua dalam berbagai kompetisi akademis seperti pertandingan debat atau cerdas cermat antar sekolah. Di kelas pun, mereka seringkali dipasangkan sebagai ketua dan wakil ketua. Johan sendiri akhirnya sedikit banyak bisa bersosialisasi dengan teman-temannya serta banyak membantu Wina untuk menjelaskan beberapa rumus eksakta yang kadang Wina tak mengerti. Perlahan-lahan, Wina akhirnya juga mulai bisa beradaptasi dengan gaya Johan yang praktis dan serba efisien saat mengerjakan segala sesuatu.
Terkadang, ketika Wina sedang mengerjakan beberapa tugas dan ditinggalkan berduaan dengan Johan di dalam kelas, ia tak kuasa untuk menahan getaran-getaran aneh yang ada di dalam hatinya. Rona mukanya mendadak panas dan berubah merah padam saat kedua matanya lekat menelusuri setiap lekuk wajah pemuda itu yang tampak begitu dekat dengannya. Lalu, kalau Johan tidak sengaja menoleh dan melihat Wina sedang mencuri pandang ke arahnya, gadis itu cepat-cepat membuang muka ke arah lain.
Mereka berdua memang masih suka saling bersilat lidah tapi tidak sepanas dan setajam sebelumnya. Hubungan keduanya semakin lama semakin dekat. Baik sebagai seorang partner kerja dan sahabat. Dan tak terasa, libur semester pun tiba.
“Lo ada rencana mau ke mana liburan sekarang, Jo?” tanya Wina dengan rasa ingin tahu saat mereka berdua tengah berjalan beriringan kembali masuk kelas setelah bel istirahat usai.
“Ga tau…” balas Johan singkat dengan nada cueknya.
“Ga tau?” tanya Wina balik dengan wajah bingung.
“Bukannya kalo anak orang kaya kayak lo gitu selalu liburan keluar negeri ya?” tanya Wina lagi dengan nada sinis dan tatapan menyelidik.
“Biasanya begitu sih…” balas Johan malas-malasan dengan nada cueknya. Sementara Wina semakin tak habis pikir dengan kelakuan ajaib bocah konglomerat ini. Bukannya biasanya kalau mereka liburan ke luar negeri, raut wajahnya akan bahagia? Ditambah dengan status dan kekayaan yang dimiliki oleh orangtua Johan. Sudah pasti mereka akan menikmati fasilitas terbaik di setiap acara liburan. Ada begitu banyak pertanyaan yang berputar di dalam kepala Wina, tapi dengan segera, dipendamnya dalam-dalam.
Karena …… Ia sadar posisinya.
Bukan hak dan urusannya untuk tahu lebih banyak mengenai kehidupan pribadi Johan karena ia bukanlah siapa-siapa. Mereka berdua hanya dekat karena kebetulan sekelas dan diserahi banyak tanggung jawab bersama untuk mengurusi administrasi kelas.
Ya, hanya itu…
“Lo sendiri? Mau ke mana, Win?” tanya Johan lagi sambil melipat kedua tangannya di d**a dan melihat Wina dengan intens. Menyiksa gadis itu yang langsung menunduk gugup dengan wajah merah padam sambil terus menenangkan debaran jantungnya yang berlompatan tak keruan.
“Ke Pangalengan…” balas Wina singkat.
“Oh, di mana tuh?” tanya Johan bingung. Seumur-umur Johan baru mendengar kata asing itu di telinganya.
Memang ada tempat bernama seaneh itu di Indonesia?
“Di atas bumi!!” dengus Wina kesal sambil melengos pergi. Sementara Johan buru-buru mengejarnya sambil tertawa geli.
…………………………………………………………………………..
Tiga hari kemudian, kediaman Johan, malam harinya….
“Bu Marni, semuanya sudah siap?” tanya Mama Sharren sambil sibuk mengecek dan mengepak barang-barang yang akan mereka bawa pergi besok pagi. Selama dua minggu ke depan, Papa Benito, Mama Sharren, serta Johan akan berangkat untuk menemui beberapa calon investor perusahaan dan supplier retailer di Hongkong. Ada banyak pertemuan bisnis yang akan berlangsung selama empat belas hari ke depan karena Alvaro Corp. akan berekspansi ke kawasan Asia Pasifik. Kebetulan, waktu itu sekolah Johan juga sudah memasuki masa libur panjang sehingga pemuda itu bisa ikut menemani kedua orangtuanya.
Kurang lebih ada sekitar tujuh koper besar yang akan dibawa dalam perjalanan kali ini dan semuanya berisi barang-barang pribadi milik Papa Benito dan Mama Sharren. Sementara Johan sendiri hanya membawa sebuah koper berukuran sedang yang sesuai dengan persyaratan bagasi minimum serta sebuah tas ransel.
“Barang-barangmu hanya itu saja, Johan? Yakin?” tanya Mama Sharren pada putra semata wayangnya tersebut dengan mata membulat tak percaya. Sementara yang ditanyanya hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya dengan singkat.
“Yup…”
“Serius??” tanya Mama Sharren lagi.
“Yes…”
“Baiklah kalau begitu…” balas Mama Sharren dengan nada pasrah.
Entah turunan dari mana tapi putranya ini benar-benar berbeda darinya maupun suaminya. Jika bagi dirinya, penampilan dan gengsi adalah prioritas, bagi Johan justru sebaliknya. Penampilan sehari-harinya terkesan kasual dan biasa saja. Sama sekali tidak menunjukkan kalau pemuda itu berasal dari kalangan berada. Ia juga cenderung menghindari pergaulan dengan komunitas jetset yang biasanya disukai oleh kalangan anak muda.
Tapi, kemudian, Mama Sharren lalu menepis pikiran aneh-aneh yang sempat mampir di dalam kepalanya. Besok pagi, mereka bertiga harus sudah berangkat ke bandara.
Sayangnya, Mama Sharren sama sekali tidak melihat kerlingan licik yang muncul di wajah Johan sebelum putranya tersebut menuju kamar tidurnya.
………………………………………………………………………
Di hari yang sama, rumah Wina…
“Ini sudah semuanya, Pa?” tanya Wina sambil kembali mengecek semua pakaian dan perlengkapan yang akan mereka bawa berlibur ke rumah aki-nya di Pangalengan selama dua minggu.
“Iyaa… ga usah banyak-banyak koq…”
“Kayak mau ke mana aja..” sahut ayahnya santai sambil memeriksa ban mobil mereka dengan teliti. Kalau-kalau ada ban yang kempes atau bocor. Tak lupa, pria tua itu juga mengecek aki serta radiator mobil. Setelah memastikan kalau mobil sudah berada dalam keadaan yang paripurna, Donny Andrea lalu mengajak putri tunggalnya untuk beristirahat.
“Sudah malam. Ayo istirahat….”
“Besok siang kita akan langsung berangkat ke rumah aki…”
Wina mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
…………………………………………………………………
Johan menatap layar ponselnya dan tampaklah wajah seorang gadis cantik berwajah judes di sana sedang tersenyum ke arahnya. Johan sendiri mengambil foto tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuan Wina sebelumnya.
Entah kenapa, selama tiga hari tidak bertemu gadis bermulut pedas itu serasa ada yang kurang di harinya. Kangen sekali…
Besok, mereka bertiga memang akan pergi ke bandara. Tapi, diam-diam Johan sudah merencanakan sesuatu di dalam hatinya.
Wina! I miss you!!
So so much…