10 JOHAN ALVARO ( MASA LALU)

1126 Words
Imagine me and you, I do I think about you day and night, it's only right To think about the girl you love and hold her tight So happy together If I should call you up, invest a dime And you say you belong to me and ease my mind Imagine how the world could be, so very fine So happy together Bayangkan kau dan aku, pasti… Aku berpikir tentangmu siang dan malam, itulah yang kulakukan.. Untuk berpikir tentang gadis yang kau cintai dan mendekapnya erat… Senang sekali bersamanya.. Jika aku harus memanggilnya, menginvestasikan sebuah receh… Dan katakana kalau kau milikku dan meredakan pikiranku… Bayangkan bagaimana dunia nantinya… baik sekali… Senang sekali bersamanya.. (Happy together – The Turtles) …………………………………………………………………….. Empat belas tahun yang lalu… “Dasar nenek sihir!!” ejek Johan dengan mata mendelik dan menjulurkan lidahnya. “Apa lo! Beganjulan pekok!!” balas Wina tak kalah sengitnya dengan mata melotot marah. Setiap hari ada saja yang mereka berdua ributkan. Sementara teman-teman sekelas mereka hanya bisa geleng-geleng kepala dengan pasrah saat menyaksikan kelakuan aneh bin ajaib dua makhluk yang sialnya, ternyata malah sekelas. Setelah insiden keroyokan tersebut, ada luka memar di wajah tampan Johan tapi pemuda itu terlihat biasa dan acuh. Pihak orangtua Johan serta sekolah juga langsung bertindak tegas serta memberikan hukuman skorsing kepada para kakak kelas yang mencari masalah dengan mereka berdua kemarin sore. Tantangan duel Wina juga belum dijawab oleh Johan karena pemuda itu sibuk sekali. Sepulang sekolah, ia pasti mengikuti kelas ekstra kurikuler basket dan fotografi sementara Wina sibuk latihan karate dan mengikuti English Club. Mereka berdua punya kegiatan masing-masing dan jarang sekali bertemu. Kalaupun bertemu, sudah pasti di dalam ruangan kelas dan interaksi mereka juga dibatasi dengan padatnya kegiatan akademis karena sekolah dimana mereka berada termasuk dalam daftar Lima Sekolah Peringkat Teratas dari seluruh sekolah negeri di Bandung. Jangan harap bisa berleha-leha di sini… Sampai akhirnya, pada suatu hari… Pluk!! “Aduh!!” Wina mengaduh dengan suara setengah terpekik ketika kedua matanya tiba-tiba tertuju pada segumpal kertas yang dibentuk seperti bola. Tidak perlu ditanya siapa pengirimnya. Wina sudah tahu siapa itu. Si Nobita yang kini dengan santainya memperhatikan pelajaran dengan tatapan polosnya ke depan. Pelan, sambil membuka bola kertas itu, kedua mata Wina lalu membaca sebaris tulisan di dalamnya. “Hari Minggu, Pukul 15.00, Lapangan Basket Saparua. Be there!” Seulas senyum mengejek lalu muncul di wajah cantik Wina. Challenge accepted, Johan!! …………………………………………………. Lapangan Saparua Tanpa terasa, hari Minggu pun tiba. Anehnya, suasana lapangan pada sore hari itu sama sekali tidak terlihat seperti biasanya. Di akhir pekan seperti ini, Lapangan Saparua biasanya lebih ramai dan banyak pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan mereka. Akan tetapi, sore ini, sepi sekali. Wina sendiri sudah datang dari pukul 14.45. Ia sengaja datang lebih awal karena ia tidak suka membuat orang lain menunggu. Tapi, karena merasa aneh, ia akhirnya memutuskan untuk menunggu di luar gedung sampai pukul 15.00 tiba dan baru masuk ke dalam gedung. Di dalam gedung olahraga sendiri, semuanya terlihat sama saja. Tidak ada siapapun di sana. Hanya ada suara langkah kakinya saja yang bergema di sana. Ada apa ini? Pikirnya bingung di dalam hati. Tapi, sedetik berikutnya, pertanyaannya langsung terjawab. “Kau sudah datang..” Wina spontan menoleh ke belakang sementara dari arah pintu masuk, Johan melangkah santai ke arah dalam sambil menyalakan lampu ruangan. Tubuh jangkung dan wajah tampannya terlihat semakin menarik di bawah terang sinar lampu. Sama seperti dirinya, Johan juga mengenakan pakaian khusus. Seragam judo miliknya. “Bisa kita mulai sekarang?” ……………………………………………………………. Wina dan Johan lalu berdiri berhadapan sambil mengambil jarak. Tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua ketika tiba-tiba Wina mulai menyerang Johan dengan tendangannya. “HYAHHHHHH!!!!” teriaknya kencang sambil melancarkan serangannya dengan tenaga penuh. Johan sendiri tidak bergeming saat melihat posisi kaki Wina yang semakin lama semakin dekat dengannya. Tapi yang tidak disangkanya, begitu kaki Wina hampir mengenai wajah Johan, pemuda itu spontan mengambil jarak selangkah ke belakang sehingga tendangan Wina hanya mengenai udara kosong. “Hanya itu kemampuanmu, Win?” tanya Johan dengan seringai mengejek di wajahnya dan langsung dijawab dengan dengusan kasar Wina yang marah besar. Dengan cepat, Wina segera melancarkan serangannya secara bertubi-tubi dan terus berusaha menutup jarak diantara mereka berdua. Tapi, sekeras apapun Wina berusaha, Johan tetap bisa berkelit dari semua serangannya dengan sempurna. Seakan-akan ia bisa menebak setiap arah serangan yang dilancarkan oleh gadis itu sebelumnya. Sikap Johan seperti ini… Benar-benar membuat Wina tersinggung! Belum pernah ada seorangpun yang melakukan hal ini kepadanya! Baru bocah kaya sombong ini saja!! Dan, Wina yang dibesarkan dalam d******i dunia laki-laki, merasa sangat terusik dengan perlakuan pemuda ini kepadanya. Sampai kemudian, setelah beberapa saat, salah satu pukulannya berhasil melewati celah batas aman dari pemuda itu dan Wina tersenyum senang. Akhirnya!! Tapi, tiba-tiba ia merasa tubuhnya tertarik dengan sebuah kekuatan yang luar biasa besar. Dalam waktu sepersekian detik, Wina merasa tubuhnya mengambang di udara bebas sebelum kemudian terjatuh ke bawah dengan kecepatan tinggi. Kedua mata Wina melotot kaget. Tapi, ia tak bisa apa-apa selain membiarkan gravitasi bumi menariknya jatuh ke atas lantai. Pikirannya sudah macam-macam. Setelah hari ini, cideranya pasti parah. Setidaknya ia pasti harus bedrest sekitar empat sampai enam minggu di atas kasur. Sial!! Wina hanya bisa merutuki dirinya sendiri dengan pasrah ketika mendadak, ia merasa sebuah tangan menahan laju tubuhnya dan memegang punggungnya sehingga bagian belakang tubuhnya tak membentur dinginnya lantai. Tep! Laju tubuhnya spontan terhenti sementara wajah Johan terlihat sangat dekat di depan mukanya. Wina bahkan bisa mencium wangi mint segar dari deru nafas pemuda itu sekarang. Sialan! Kenapa dia tampan sekali?? Rutuk Wina kesal. Rona panas mulai menjalari wajahnya sementara Johan membantunya untuk bisa kembali berdiri tegap dengan kedua kakinya. “Guruku mengajarkan untuk menghormati kaum perempuan dan sama sekali tidak boleh untuk memukul mereka….” “Kau sudah kalah, Wina. Mengaku saja…” kata Johan lagi dengan senyum jenakanya seperti biasa. Wina hanya bisa mendelik kesal pada Johan dengan nafas tersengal-sengal. Ia kesal, tapi pemuda itu benar. Tenaganya sudah habis. Tidak ada gunanya lagi pertandingan ini dilanjutkan. “Baiklah, kau menang. Omong-omong, siapa nama gurumu?” “Namanya Abdullah Saleh. Tapi aku memanggilnya Dullah…” ……………………………………………….. Note: Ternyata awal cerita mereka ga ada manis-manisnya ya, gengs…wkwkwkwkwkwkw…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD