9 KEMBALI KE MASA LALU (2)

1269 Words
Restoran Warna Alam Bunyi gemericik air yang mengalir serta suara seruling bambu menyambut kedatangan Wina ke salah satu restoran nusantara ini. Bagi masyarakat Bandung, restoran ini terkenal sebagai salah satu restoran yang menyajikan menu-menu klasik khas Indonesia dengan citarasa terbaik. Wina sendiri pernah mencoba beberapa menu yang ada di dalam restoran ini dan sangat puas dengan rasanya. Sekarang, ia hanya tinggal menemukan dimana Johan berada. Setelah bertanya kepada salah satu pelayan restoran, Wina akhirnya bisa menemukan Johan yang tengah menunggunya di dalam salah satu saung lesehan yang lokasinya cukup jauh dari ruangan utama. Seperti biasa, Johan adalah seseorang yang menyukai privasi. Sisi ini tak banyak berubah dari dulu dan Wina tahu jelas akan masalah tersebut. Setelah ia duduk, Johan lalu menyerahkan daftar menu kepada gadis tersebut dan menyuruhnya untuk memesan beberapa menu serta dengan cepat, membuat daftar pesanan yang kemudian diserahkan kepada pelayan restoran setelahnya. Sembari menunggu, Johan lalu menyerahkan daftar list serta keterangan yang harus dihafal oleh Wina supaya ia mampu menjalankan perannya secara sempurna di depan mata Mama Sharren. Wina lalu menelusuri dan membaca setiap detil informasi yang ada di tangannya sambil beberapa menanyakan informasi tambahan yang dirasa perlu untuk ia ketahui dan dijawab dengan sabar oleh Johan. Tak lama, menu pesanan mereka pun datang. Ketika pelayang sedang menghidangkan makanan, kedua mata Wina sontak melotot kaget saat melihat taburan kacang yang mengambang di soto bandungnya. “M….Mb..Mbak ini…” Wina belum habis bersuara ketika tiba-tiba Johan ganti berbicara menggantikan dirinya dan memegang sendok untuk kemudian mulai memisahkan kacang secara hati-hati dari kuah soto. “Maaf, saya lupa bilang. Nona ini tak suka kacang. Saya lupa minta agar soto dan kacangnya dipisah tadi…” Wajah Wina spontan bersemu merah. Astaga! Ia masih ingat! Johan masih ingat kalau soto bandung merupakan salah satu makanan kesukaannya. Dan pria ini juga ingat kalau Wina sama sekali tidak menyukai kacang atau makanan berbumbu kacang. Tanpa ia sadari, Wina lalu menggigit bibir bawahnya sendiri. Jangan begini, Johan. Kalau kau sebaik ini padaku… Bagaimana aku bisa lupa padamu? Wina pun tak kuasa kembali teringat pada masa silam. Saat ia bertemu dengan pria ini untuk pertama kalinya serta mengenal apa itu cinta monyet. …………………………………………………………………… Empat belas tahun yang lalu… Pertama kali Wina mendengar nama Johan Alvaro adalah ketika pemuda itu mendadak pindah ke sekolahnya pada awal semester ini. Semua murid sibuk bergosip tentang keberadaan pemuda tersebut yang merupakan salah satu anak konglomerat terkaya di Jakarta dan juga terkenal ganteng maksimal. Benar-benar perpaduan yang sempurna. Sementara Wina bisa bersekolah di sekolah favorit tersebut karena ia seringkali memenangkan pertandingan karate dalam kota dan hasil prestasinya tersebut akhirnya membawa dirinya untuk bisa diterima menjadi salah satu siswa dengan jalur prestasi. Tapi, dengan syarat, ia harus selalu ikut berkompetisi di dalam setiap pertandingan karate berikutnya dan bertarung dengan membawa nama sekolah. Wina menurut dan sampai sejauh ini, ia sama sekali tak pernah kalah. Otomatis, ia juga tak pernah membayar uang SPP karena prestasinya tersebut. Kali kedua Wina mendengar nama Johan Alvaro adalah ketika secara tak sengaja ia melewati area belakang lapangan sekolah dan mendengar seseorang memaki dalam bahasa binatang. Hari itu sekolah sudah cukup sepi dan Wina baru saja pulang setelah ia berlatih keras dengan pelatihnya untuk acara pertandingan karate tingkat daerah yang akan diselenggarakan kurang lebih dua minggu dari sekarang. Karena penasaran, Wina lalu berjalan mengendap-ngendap ke arah asal suara dan menemukan kalau ada beberapa kakak kelas tingkat akhir yang terkenal kasar dan biang onar ternyata sedang mendempet seorang remaja kurus kerempeng dan berkacamata. Dilihat dari bahasa tubuh mereka, kelihatannya mereka sedang memalak remaja malang tersebut. Tak lama, salah satu dari kakak kelas itu lalu menampar remaja itu dengan keras. PLAKKK!!! Kacamatanya langsung terjatuh ke atas tanah dan tubuh remaja laki-laki itu juga ikut limbung akibat tamparan tersebut. Tapi dengan sigap, remaja itu kembali berdiri tegap dan memandang tajam pada keenam orang yang sedang mengelilinginya sekarang. Tidak ada rasa takut sama sekali di kedua sorot matanya padahal tubuhnya jelas-jelas kalah besar dari para pengepungnya sekarang. “b******k!!” bentak salah satu kakak kelas tersebut dengan marah sambil kembali melayangkan tinjunya dengan kekuatan penuh ke arah wajah remaja tersebut. TAPPPP!!! Tiba-tiba kedua matanya melotot kaget saat melihat seorang gadis cantik berwajah judes menangkis serangannya dengan sangat santai. “Pick someone on your size, Ogin..” (Pilih lawan yang tepat, Ogin…) desis Wina geram sambil memasang kuda-kuda karatenya. Dari dulu, ia sama sekali tidak suka jika melihat ada orang yang teraniaya atau orang yang suka memamerkan kekuasaannya dengan semena-mena. Dan kedua hal ini tepat ada di depan matanya sekarang. “Lidwina Andrea!!” desis pemuda yang dipanggil Ogin itu kesal dan dengan sekali isyarat kepalanya, keenam pemuda tersebut spontan maju untuk menghajar sepasang remaja bau kencur di depan mereka. Wina tak gentar. Ini saatnya ia unjuk gigi! Menunjukkan hasil latihannya selama ini di dunia nyata. Membela yang lemah dan menumpas ketidakadilan. PAKKKK!!!! BRUAKKK!! Mulut Wina spontan melongo ketika dengan kedua matanya sendiri ia melihat para kakak kelas yang bertubuh dua kali lipat lebih besar dari mereka mulai jatuh bergelimpangan satu persatu di bawah kakinya dalam keadaan pingsan. Sementara remaja kerempeng yang tadi ditampar sedang beraksi dan melancarkan serangannya dengan sangat santai. Semua gerakannya terlihat luwes dan efisien seperti air mengalir. Setiap tendangan dan pukulan yang ia lancarkan tidak pernah lebih dari satu atau dua serangan tapi semuanya berhasil mengenai bagian vital lawan serta membuat mereka tak sadarkan diri. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Ogin dan teman-temannya sudah terbaring jatuh di atas tanah dalam keadaan tak berdaya. Kedua mata Wina spontan bekerjapan tak percaya. “Ap…Apa itu tadi???” Kenapa bisa begini? Ia yang tadinya bermaksud membela malah sekarang hanya bisa bengong melihat semua musuh-musuhnya terkapar pasrah sekarang. Sementara remaja laki-laki tadi hanya sibuk mengibaskan debu dari baju seragamnya serta mengambil tas ranselnya. Tak lupa, ia juga memungut kacamata yang barusan jatuh, mengelap lensa dan mengenakannya kembali. “Namamu Lidwina Andrea bukan? Tak apa-apa. Kau bisa pulang sekarang…” “Seingatku kau akan menghadapi pertandingan karate daerah dua minggu dari sekarang bukan? Jadi, kau tidak boleh terikat atau terlihat ada di insiden ini atau program beasiswamu akan dicabut…” kata pemuda tersebut dengan kalem. Terlihat ada sedikit memar di pipinya akibat tamparan Ogin tapi selain itu, ia terlihat baik-baik saja. “Ke…ke..kenapa begini? Aku yang seharusnya membantumu tadi!!” kata Wina setelah ia baru sadar apa yang barusan terjadi. “Dan membiarkan aku yang seorang laki-laki ini dibela oleh seorang perempuan?!!” “Hah!! Yang benar saja!! Mau ditaruh dimana mukaku ini kalau begitu??” balas pemuda itu dengan nada sengit. Tak mau kalah. “Lagipula aku juga tak minta dibantu olehmu, Lidwina Andrea…” balas pemuda tadi dengan nada cuek sambil bersiap pergi. Wina terusik. Darahnya mendidih karena merasa gengsinya terusik oleh perlakuan pemuda ini yang dirasa sangat merendahkan dirinya. Dari dulu, Wina terbiasa menjadi nomor satu dan dielu-elukan oleh semua orang. Sekarang, ia merasa kalau posisinya terancam bahaya. “Tunggu…” kata Wina sambil menyambar tangan pemuda tersebut. Mencegahnya melangkah lebih jauh lagi. “Cih! Apa lagi sih maumu??” desis pemuda itu dengan nada kesal. “Sebuah duel denganmu…” tantang Wina dengan sikap arogan. “Okay…” balas pemuda itu dengan senyum mengejek di wajahnya. “Lalu, namamu?” “Johan Alvaro…” …………………………………………………………………………..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD