Kadang kita tak tahu kemana benang takdir dan nasib akan membawa kita…
Karena masa depan bukanlah milik kita yang hidup di masa kini….
Sepasang kaki ini, hanya mampu berjalan dan melangkah…
Saat semesta dengan hati-hati merengkuh tangan kita…
…………………………………………………………………..
Kediaman Johan, seminggu kemudian, malam harinya…
“Baiklah, Dian. Saya mengerti….”
“Tidak, aku tidak menunda. Hanya saja, waktunya belum ada. Johan akhir-akhir ini sibuk sekali dengan pekerjaannya dan aku tidak mau merepotkan dirinya. Mohon bersabar saja ya? Kalau sudah ada waktunya, aku pasti berkunjung ke tempat praktekmu…”
Mama Sharren menutup teleponnya dengan senyum lemah yang terukir di wajahnya. Ia tidak mengada-ngada. Johan memang sibuk sekali beberapa minggu ini. Ada beberapa proyek besar yang sedang putra kesayangannya itu kerjakan sehingga pria itu harus berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya. Sebagai seorang ibu rumah tangga, bukan bagiannya untuk merecoki hal tersebut. Tugasnya hanyalah menunggu Johan untuk pulang kantor dan menyiapkan makanan bergizi untuk anaknya tersebut sehingga staminanya tetap terjaga. Sepanjang hidupnya, Mama Sharren merasa sangat bersyukur dikaruniai seorang putra yang yang tampan dan gagah seperti Johan. Dari dulu, putranya ini sangat penurut padanya. Walau ia tahu kalau sebagai seorang ibu, ia selalu menginginkan yang terbaik untuk putranya dan seringkali membatasi ruang geraknya. Semuanya itu karena murni kasih sayangnya. Di depan semua orang, citranya sudah terkenal sebagai seorang wanita yang angkuh dan otoriter karena ia berasal dari kalangan menengah atas. Banyak teman-temannya yang menginginkan supaya Johan bisa menjadi menantu mereka, tapi semuanya itu ditolak mentah-mentah olehnya. Sampai kemudian, tanpa ia sadari, ternyata diam-diam Johan sudah menjalin kasih dengan Renata tanpa sepengetahuannya dan meminta restunya untuk menikah. Walaupun tak rela, tapi Mama Sharren terpaksa mengijinkannya walaupun secara pribadi, ia tidak terlalu menyukai gadis itu. Dan kesempatannya datang untuk memisahkan pasangan itu ketika di tahun keempat pernikahan mereka, sang buah hati tak kunjung hadir.
Dengan pengaruhnya, Mama Sharren berhasil memisahkan pasangan tersebut walaupun hasil akhirnya, malah ternyata berakhir melukai putranya tersebut. Sangat dalam malah. Binar kesedihan dan wajah murung adalah dua hal yang terus terlihat di wajah tampannya ketika dengan pongahnya, dirinya menyuruh Johan untuk segera menikahi Kinara. Menyangka kalau pilihannya tersebut merupakan pilihan terbaik dari seorang ibu kepada putranya. Seorang gadis yang sempurna dilihat dari bibit, bebet, dan bobotnya. Tapi, tak pernah ia sangka kalau tuduhan mandul yang pernah ia kenakan pada Renata malah berbalik menyerangnya seperti sebuah bumerang.
Kinara yang tak juga hamil akhirnya bisa hamil setelah ia berselingkuh dengan mantan pacarnya lalu hasil vonis dokter yang menyatakan kalau pihak yang infertile sebenarnya adalah Johan.
BUM!!
Mama Sharren merasa seakan-akan baru saja terkena bom nuklir combo berturut-turut di atas kepalanya. Harga dirinya, gengsinya, kebanggaannya, semuanya….
Hancur sudah…
Lebih lagi, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, pernikahan keduanya dengan Kinara tidak berlangsung lama dan berakhir mengenaskan dengan skandal s*ks menantunya tersebut yang turut mencoreng nama baiknya. Selama beberapa tahun belakangan, di saat-saat kondisi mereka tengah jatuh dan terpuruk, Mama Sharren tak henti-hentinya menangis dan menyesali semua keputusan fatal yang pernah dibuatnya dulu. Bagaimana sikap otoriter dan pemaksanya sudah menyebabkan begitu banyak orang yang sakit hati kepadanya. Bagaimana dengan pongahnya ia memaksakan anaknya untuk bersanding dengan seorang wanita yang bukanlah pilihan hati Johan dari sejak awal mula ia bertemu Kinara. Dan kini, ia sudah menerima akibatnya. Lalu, penyakit yang dideritanya sekarang, mungkin adalah babak akhir dari semua balasan yang pantas ia terima.
Tidak apa-apa…
Tapi, jika ia boleh bersikap sekali lagi sebagai seorang ibu…
Penyesalan…
Memang selalu datang di akhir kisah…
Dan kini, ketika akhirnya ia dihadapkan pada gerbang karmanya sendiri….
Vonis penyakit kanker serviks yang ada di depan matanya…
Ia tak lagi bisa berkutik…
Pasrah dan ikhlas menunggu nasib…
Ia ingin untuk terakhir kalinya sebelum ia menutup mata, ia bisa melihat seseorang di sisi Johan. Seorang pendamping yang akan bisa menemani putranya melewati masa suka dukanya secara utuh. Sama seperti yang terjadi dengan pernikahannya dengan Papa Benito sebelum suaminya tersebut menghembuskan nafas terakhirnya beberapa tahun yang lalu.
Malam itu, ia sedang menunggu kepulangan Johan dari kantor seperti biasa. Hidangan makan malam sudah tersaji dengan apiknya di atas meja. Tak lama, ia mendengar suara pintu dibuka dan langkah seseorang mulai memasuki rumah mereka. Tidak hanya satu, tapi dua orang. Mama Sharren spontan menengok kea rah asal suara. Lalu, seulas senyumnya terkembang saat Johan datang kepadanya sambil menggandeng seorang wanita cantik yang terlihat gugup di sampingnya.
“Ma, kenalkan. Ini…”
…………………………………………………………………………………….
Seminggu sebelumnya, ruangan VVIP, Hotel Ragasa….
“Please, Wina?”
“Bayaran gue mahal loh, Johan….” pancing Wina lagi dengan ekspresi jahil dan mata mengerling nakal.
“Aku tahu. Derry juga yang merekomendasikanmu padaku…”
Mata Wina terbelalak kaget sekali lagi. Eh? Bocah k*mpret itu? Sialan bener…
Wina masih ingat betapa beringasnya pemuda itu mengejar dirinya saat mereka tak lagi terikat perjanjian kontrak yang sudah disepakati dulu. Saat itu, ia pura-pura berperan sebagai selingkuhannya Derry karena pemuda tersebut benar-benar ingin putus dari kekasihnya yang sangat posesif dengan dirinya. Dan, sukses!!
Pasangan itu akhirnya putus juga setelah melalui berbagai macam drama dan konflik yang hampir saja membuatnya menyerah kalah atas kegigihan wanita g*la itu. Syukurlah usahanya tak sia-sia. Setelah deklarasi putusnya, Derry langsung menghadiahinya dengan berbagai bonus dalam bentuk uang tunai yang memang sangat dibutuhkan oleh Wina untuk membayar hutang-hutang kartu kreditnya. Tapi, buntutnya, pemuda tersebut malah sangat terobsesi dengan dirinya dan balik mengejar-ngejar dirinya kemanapun ia pergi. Puncaknya adalah ketika akhirnya….
Wina terpaksa harus berpindah domisili demi menghindari kejaran Derry dan mengganti nomor teleponnya. Barulah ia bisa menghela nafas lega…
Tapi, sekarang, pemuda itu malah memberinya masalah baru. Uhhhh….br*ngsekkkkk….
“Baiklah kalau kau memaksa. Ada beberapa aturan yang harus kita sepakati sekarang.
Pertama adalah soal bayaran atas peranan yang harus aku jalankan. Jika kau hanya butuh aku sebagai pendamping untuk acara-acara keluarga, tarifku lima belas juta per panggilan. Tapi jika kau membutuhkan bantuanku untuk peranan lain yang lebih spesifik misalnya seperti pelakor atau yang lainnya, tarifku bisa dua atau tiga kali lipatnya dari tarif awal. Kenapa? Karena untuk peran-peran semacam ini, aku kemungkinan juga akan bekerjasama dengan beberapa pihak lainnya untuk mensukseskan target yang ingin kau raih dan untuk itu, aku harus membayar para peran pembantu ini juga kan?”
“Kedua, kau sama sekali tidak boleh membocorkan identitas asliku kepada siapapun. Mengerti?”
“Ketiga, begitu kita berdua selesai bekerjasama, hubungan kontrak diantara kita usai sudah. Kau bisa menghapus nomor teleponku dari dalam kontakku karena aku tak pernah menerima tugas kedua dari klien yang sama….”
“Keempat, kita akan selalu bertemu di tempat dan waktu yang berbeda sesuai kesepakatan. Tidak perlu aku mengetahui dimana kau tinggal dan juga sebaliknya…”
“Kelima, tidak ada hubungan fisik ekstrim yang akan dilakukan selama kita menjalani peran masing masing, kecuali hanya sekedar memeluk, bergandengan tangan dan cium pipi. Aku selalu tidak pernah melakukan hubungan intim dengan para mantan klienku atau terjerat dalam hubungan romantic dengan mereka…”
“Apa ini sudah cukup jelas, Tuan Johan Alvaro?” kata Wina dengan nada seformal mungkin. Berusaha keras untuk tetap professional dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang escort lady tanpa merasa terganggu dengan kehadiran sang mantan. Padahal. Kalau boleh jujur, saat ini ia sedang gugup setengah mati. Debaran jantungnya terus bertalu-talu di dalam hatinya seperti mau melompat dari dalam rongga dadanya.
Damn!
Setelah sekian lama, ternyata rasa itu masih ada di dalam hatinya. Bercokol kuat dan mencengkram dirinya di dalam sana tanpa ia mampu berpaling kepada siapapun sekalipun.
Johan Alvaro…
Sekuat ini kah mantra dan pesonamu padaku?
Lalu, kenapa setelah mereka berdua berpisah sekian lama, aura pria ini malah tambah bersinar di depan dirinya?
Astagaaaaa……Winaaaaaa…. Bangunnnn!!!
Buka matamu lebar-lebar!!! Pria setampan, sekaya, dan sesempurna dirinya pasti sudah beris….
“Baiklah…” balas Johan lagi sambil mengeluarkan sebuah kartu plastic berwarna hitam dan langsung menyerahkannya kepada Wina.
“Ini adalah kartu debet platinum milikku. Anggap saja sebagai pembayaran DP pertama dari kesepakatan kita sekarang….
“Lalu, peranan yang aku ingin kau jalankan sekarang adalah….”
“Sebagai kekasihku…”
WHATTTT???
Sekarang kedua mata Wina benar-benar copot dari kedua rongganya dan dagunya jatuh ke lantai saking kagetnya.
“Ke….ka….sih???”
Ga salah ini?
“Apa, Johan?”
Meminta pemuda itu untuk mengulangi pernyataannya sekali lagi, kalau-kalau ia salah dengar barusan. Johan spontan menggenggam tangan Wina dan menatapnya tajam. Membuat dunia Wina berhenti berputar seutuhnya.
“Jadilah kekasihku sekali lagi, Wina. Walau ini hanya pura-pura…”
…………………………………………………………………………….