“Sam. Apa aku bisa kembali seperti dulu lagi? em...maksud aku, apa aku masih bisa menjadi pria normal?” Sam sejenak terdiam, sebelum akhirnya ia mengatakan apa yang ia pikirkan saat ini. “Rain, jika tebakan aku benar. Maka, yang bisa membantu mu kali ini hanya Aira. Tapi...” Sam menggantungkan ucapannya dan membuat dahi Rain mengernyit. “Tapi apa?” tanyanya penasaran. “Tapi, bagaimana cara kamu untuk membuktikan tebakan aku itu? Aira bahkan nggak ada bersamamu sekarang. Selain itu, kamu juga nggak mungkin mau melakukan itu sama Aira, hanya karena dia keponakan Karin.” Rain kembali teringat saat pertama kalinya dirinya membawa Aira masuk ke dalam rumahnya. Gadis kecil yang terlihat sedih, dengan kedua mata yang sembab karena terus menerus menangis. Gadis kecil yang malang, yang mampu

