“Gas, aku duluan ya.” Bagas menarik tangan Aira. “Ra, kenapa kamu akhir-akhir selalu sibuk? Apa kamu udah nggak mau berteman denganku lagi?” Sudah satu bulan lebih, Aira dan Bagas jarang menghabiskan waktu berdua. Meskipun itu hanya sekedar jalan-jalan ke mall ataupun taman. Bagas merasa dirinya seperti telah kehilangan separuh nyawanya. Ia bahagia, meskipun Aira tidak bisa menerima cintanya. Tapi, itupun juga karena Aira masih bersedia menemani hari-harinya, hingga rasa sakit itu terasa tak begitu menyakitkan. Tapi, saat Aira mulai menjauh, Bagas kembali merasakan sakit di hatinya. Ruang di hatinya terasa kosong. Tak ada lagi senyuman manis yang bisa dilihatnya setiap mereka menghabiskan waktu berdua. “Gas, bukan gitu. Tapi kamu tau kan, kalau aku sekarang tengah berjuang untuk bi

