Pagi itu, di pusaran makam yang masih basah, Zoya tampak lemas lunglai seperti tak bertulang, di tatapnya batu nisan yang bertuliskan nama ayahnya yang baru semingguan meninggalkan nya untuk selamanya. Ia menahan air matanya untuk tidak jatuh. Ia memegangi dadanya yang kian sesak, dan di remasnya buku yasin yang baru ia baca.
"Ayah, Zoya janji akan menjaga adik dan Ibu dengan baik...," ucap Zoya lirih sambil menyeka airmatanya dengan jilbabnya.
"Assalamualikum ayah... Zoya pulang dulu".
Zoya akhirnya berdiri dan beranjak pergi meninggalkan makam ayahnya. Ia berjalan pulang kerumah. Sesampainya di rumah ia disambut kedua adiknya, Ihsan dan Amee. Ibunya tampak sedang duduk dan melamun, Zoya pun lekas menghampiri nya dan mencoba menghiburnya.
"Buu.. jangan melamun terus, ndak baik," ucap Zoya lirih kepada ibunya.
Ibunya pun menoleh ke Zoya, dan matanya yang berkaca-kaca akhirnya tumpah. Zoya meraih tangan ibunya dan menggenggamnya dengan erat. Zoya tahu ibunya sangat kehilangan sosok ayahnya yang pergi dengan tiba-tiba karena serangan jantung. Ia menyadari setelah kepergian ayahnya, kehidupannya akan berubah.
Dan hari-haripun berlalu. Zoya yang harus membantu ibunya membesarkan adik-adiknya, rela untuk putus sekolah demi untuk membiarkan adik-adiknya untuk terus bisa bersekolah. Ibunya yang hanya seorang penjahit tidak mampu membiayai ketiga anaknya sekaligus untuk tetap bersekolah, sehingga Zoya memutuskan berhenti di bangku SMA. Zoya mencoba bekerja dengan mengajar ngaji anak-anak di komplek rumahnya. Zoya yang pandai membaca Alquran dengan Qiroah nya yang sangat merdu sering di undang untuk mengisi acara-acara pengajian atau acara-acara islami yang ada dikota nya. Zoya juga kerap meraih banyak juara dalam setiap perlombaan Tilawah Quran yang diikutinya, tampak piala terjejer rapih dirumahnya. Zoya juga sedikit-sedikit bisa berbahasa arab. Cita-citanya untuk bisa bersekolah di Al Azhar Mesir harus ia kubur dalam-dalam. Ia bahkan tidak mampu melanjutkan sekolahnya dibangku SMA. Tapi Zoya tidak pernah berhenti berdoa. Ia selalu percaya bahwa yang dilakukan nya saat ini tidak lah sia-sia.
Pagi itu seperti biasa, Zoya tengah membuat kan sarapan untuk adiknya sebelum pergi ke sekolah. Ibunya sejak pagi telah pergi kepasar untuk berbelanja bahan kain utuk menjahit pesanan pelanggan. Adiknya Ihsan yang sekarang berada dibangku kelas 2 SMP, tampak dengan seksama memperhatikan kakaknya yang tengah sibuk didapur.
"Kak...mending Ihsan berhenti sekolah saja ya, seperti kakak," ucap Ihsan sambil menatap kakaknya.
Zoya pun menoleh ke arah Ihsan dengan terkejut.
"Kok kamu bilang seperti itu?" tanya Zoya kepada Ihsan.
"Soalnya biar Ihsan bisa bantu kak Zoya dan Ibu untuk cari uang, Ihsan kan laki-laki," jawab Ihsan dengan suara lantang.
Zoya pun tersenyum mendengarnya.
"Kalau kamu ingin membantu kakak dan ibu, caranya kamu dan Amee harus rajin sekolahnya, biar nanti jadi orang sukses," jawab Zoya sambil menoleh ke adik-adiknya.
Amee yang tengah duduk di meja makan tampak mendengarkan Zoya dengan seksama.
"Kakak cuma mau kalian semua jadi anak yang pintar dan jadi anak yang sholeh dan sholehah biar bisa membanggakan ayah dan ibu kelak," ucap Zoya kepada adik-adiknya sambil mengusap kepala mereka satu persatu.
Ihsan pun tampak terdiam mendengarkan kakaknya. Kemudian Zoya pun menyodorkan nasi goreng ke arah Ihsan dan Amee.
"Sudah, mending kalian makan saja dulu gih nasi goreng buatan kakak," ucap Zoya kepada kedua adiknya.
Ihsan dan Amee pun memakan sarapan buatan kakaknya itu dengan lahap, setelah itu merekapun bergegas pergi kesekolah. Sambil di pandanginya adik-adiknya dari kejauhan, Zoya pun tampak tersenyum bangga kepada mereka.
Setelah itu Zoya pun membereskan rumahnya dan bersiap-siap untuk pergi mengajar ngaji kerumah beberapa anak yang berada tidak jauh dari komplek rumahnya. Dari pagi hingga sore hari ia keliling dari rumah ke rumah untuk mengajar ngaji. Zoya tampak tak pernah lelah, ia selalu bersemangat. Walau kadang ia merasa iri dengan teman-teman sebaya nya yang sekarang sudah menginjakan kaki dibangku kuliah, tetapi Zoya tak berkecil hati. Ia percaya perjuangannya sekarang adalah yang terbaik untuk adik-adiknya.
Suatu hari sepulangnya dari mengajar, Zoya bertemu dengan temannya dulu waktu ia masih dibangku sekolah. Zoya pun menyapanya dengan ramah.
"Assalamualaikum Zara, kamu apa kabar?" sapa Zoya sambil menjabat tangan temannya itu.
Zara yang sudah lama tidak bertemu dengan Zoya tampak terkejut dan menjabat erat tangan Zoya dan memeluknya.
"Walaikumsalam, alhamdulilah aku baik. Kamu teh apa kabar?" tanya Zara dengan logat sunda nya yang khas.
"Alhamdulilah aku juga baik. kamu mau kemana, kok tumben main sampai kesini?" tanya Zoya sambil tersenyum.
Zara pun tampak tersipu malu, ia pun tersenyum sambil mengeluarkan sebuah surat undangan untuk Zoya.
"Ini...aku teh mau mengundang kamu di acara pernikahanku," ucap Zara dengan bersemangat.
Zoya pun kaget dan sambil tersenyum meraih undangan itu.
"Masha Allah Zara, aku seneng banget dengernya. Selamat yaa.." ucap Zoya dengan girang.
"kamu harus datang yaa, jangan sampe enggak!" ucap Zara.
"Insha Allah, aku datang," ujar Zoya dengan tersenyum.
"Baiklah, aku pergi dulu yaa, aku masih ada perlu, assalamualaikum" ucap Zara sambil melangkah pergi seraya melambaikan tangannya.
"Walaikumsalam," jawab Zoya sambil tersenyum.
Zoya menatap kepergian temannya itu dengan tersenyum. Ia tak menyangka Zara akan menikah secepat itu. Ia mencoba membuka surat undangan dan membacanya. Ia pun mengingat-ingat tanggal pernikahannya agar tidak lupa.
Beberapa hari kemudian, Zoya pun tengah bersiap-siap untuk pergi ke pesta pernikahan Zara. Ia mengenakan dress hijab tosca dengan jilbab warna senada. Zoya yang berparas ayu, makin ayu memakai dress itu. Ia tak perlu memakai riasan tebal untuk mempercantik wajahnya, karena wajahnya sudah sangat menawan. Ditambah bubuhan lipstik pink yang tidak terlalu mencolok, makin membuat aura anggun dari wajahnya kian terpancar. Kecantikan sederhana dari wajahnya sangat begitu khas. Sudah banyak lelaki yang mencoba mendekatinya sejak dulu, tapi Zoya tidak mau menjalin hubungan pacaran. Ia selalu berprinsip ingin menjalin ta'rufan saja jika waktu nya tiba nanti. Untuk saat ini Zoya belum memikirkan utuk kearah sana, ia lebih fokus untuk membantu ibu dan adik-adiknya. Ia merasa perjalanannya masih panjang, walaupun sudah banyak teman-teman sebaya nya yang sudah menikah tapi tak mengurangi semangatnya untuk tetap fokus membantu keluarganya dulu.
Sesampainya di pesta pernikahan Zara, Zoya sangat terpukau dengan dekorasi pesta ala timur tengah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Disana ia bertemu dengan beberapa temannya juga. Zoya tampak bersemangat berbincang-bincang dengan mereka sembari melepas rindu. Mereka pun menyempatkan foto dengan pengantin baru. Kemudian tiba acara sesi lempar bunga. Zoya dan teman-temannya ikut bergabung mencoba menangkap bunga yang akan dilemparkan oleh kedua pengantin. Mereka tampak sangat bersemangat.
'Dan.... satu..dua..tigaaaaa....' ucap MC dengan semangat.
Bunga pun dilempar membelakangi pengantin kearah tamu undangan, Zoya yang berada ditengah-tengah para tamu undangan tampak begitu bersemangat menangkap bunga itu, dan...akhirnya bunga pun berhasil Zoya tangkap, dan semua orang pun bersorak kepada Zoya. Teman-temannya pun tampak meledek Zoya.
"Kamu harus cepat-cepat cari calon," ucap salah satu temannya.
"Iya, karena setelah ini kamu yang akan naik kepelaminan," ledek temannya kepada Zoya.
Zoya pun hanya tertawa mendengar gurauan dari teman-temannya. Zoya tidak percaya tentang mitos bahwa yang mendapatkan bunga dari pengantin akan menikah selanjutnya, bagaimana mau menikah, calon saja tidak punya, gumamnya dalam hati. Zoya pun kembali berbaur dengan teman-temannya. Mereka pun tampak menikmati hidangan yang telah disediakan. Dan tak lama setelah itu Zoya pun pulang kerumah. Sekembalinya dari pesta, Zoya pun menaruh buket bunga yang ia dapatkan dari pesta kedalam vas dan meletakkannya di kamar. Ia pun berganti pakaian dan membersihkan wajahnya. Sebelum tidur, tak lupa ia pun shalat isya dan setelahnya ia merebahkan badannya dikasur. Dipandanginya bunga dalam vas itu sambil tersenyum. Pikirannya dibuat melayang memikirkan kembali kata teman-temannya dipesta tadi. Ia bahkan tidak pernah terbesit untuk memikirkan siapa calon imamnya kelak. Ia selama ini sibuk dengan dunianya yang bertujuan untuk membahagiakan ibu dan adik-adiknya saja. Ia baru sadar bahwa umurnya sudah hampir 24tahun, dan temannya sudah ada beberapa yang menikah bahkan punya anak. Apakah ini berarti ia harus mulai memikirkan akan bagaimana masa depannya kelak. Pikiran-pikiran baru pun mulai tampak mengusik imajinasi Zoya. 'Ahh...sudahlah aku mau tidur saja' gumam Zoya dalam hati sambil pelan-pelan memejamkan matanya, dan tak lama ia pun tertidur.
Pagi itu, sebelum berangkat mengajar ngaji, Zoya tampak sedang membantu ibunya di dapur. Ia membantu mengiris sayuran untuk membuat sup jamur kesukaan adiknya Amee. Tiba-tiba ibunya bertanya tentang bunga yang ada di kamarnya.
"Ibu lihat ada bunga di dalam kamarmu, bagus sekali," tanya ibu Halimah, ibunya Zoya.
Zoya pun tersenyum mendengar ibunya. Ia pun menjelaskan bahwa bunga itu ia dapatkan dari pesta pernikahan Zara, ia berhasil menangkap bunga itu ketika sesi lempar bunga.
"Mitosnya siapa yang dapat menangkap bunga itu, selanjutnya dia yang akan menuju ke pelaminan," ujar Zoya dengan tersenyum bercanda.
"Aamiinn...," jawab ibunya sambil tersenyum.
Zoya kaget mendengar ibunya mengaminkan perkataannya.
"Lho kok di aminin bu," ucap Zoya sambil terkejut.
"Lho kan siapa tahu bisa terkabul, menikah kan sunah rasul, Dalam hadis riwayat Ibnu Majah, nabi bersabda: 'nikah termasuk sunnahku, barangsiapa tidak mengamalkan sunahku, ia tidak termasuk golonganku,' begitu katanya," jawab ibunya dengan semangat.
"Taa-pii kan Zoya belum punya calon buu..." ucap Zoya agak bingung.
Ibunya pun tersenyum lebar kepada Zoya.
"Makanya ibu aminkan, supaya kamu lekas punya calonnya," jawab ibunya seraya meledek.
Zoya pun tertawa sambil mengangguk-angguk kebingungan.
"Oke deh, iyaa... aamiinnn, hehehe," jawab Zoya sambil tersenyum.
Merekapun akhirnya tertawa bersama. Dalam hati Zoya sempat berpikir, apakah ibunya sudah menginginkan dirinya untuk menikah. Apakah ibunya hanya bercanda. Ahh entahlah.. Zoya tampak bingung dibuatnya. Tak lama ia pun pamit untuk pergi mengajar ngaji. Dicium tangan ibunya dan ia pun berjalan keluar rumah sambil mengucapkan salam. Ibunya tampak menatap putri nya itu dengan tersenyum, raut wajah bangga selalu ia tampakkan untuk anaknya itu. Bu Halimah sangat bersyukur Zoya mau membantunya membesarkan adik-adiknya. Zoya yang tidak pernah mengeluh dan selalu semangat sangat membuat Bu Halimah begitu bangga kepadanya. Bu Halimah selalu mendoakan dalam sujudnya, semoga Zoya akan meraih kesuksesan di masa depan.
Hari itu seperti biasa, Zoya mengajar ngaji dari rumah satu kerumah yang lain, di jadwal terakhir menjelang sore, Zoya tampak bergegas memasuki sebuah rumah yang berpagar tinggi dan mewah itu. Rumah itu adalah rumah Ibu Amel, sudah beberapa bulan ini Zoya mengajar ngaji kedua anak Bu Amel. Zoya pun mengucap salam sebelum memasuki rumah Bu Amel. Tampak Bu Amel yang sedang kedatangan tamu itu mempersilahkan Zoya masuk. Zoya pun masuk kedalam rumah dan bersiap-siap untuk mengajar ngaji. Selang beberapa waktu, sesi mengajarpun selesai dan Zoya pun bergegas pulang.
Tiba-tiba sebelum pulang Bu Amel memanggil Zoya dan menyuruh nya untuk berbincang sebentar. Bu Amel menawarkan Zoya untuk bekerja dikediaman saudaranya di luar kota sebagai Baby Sitter dengan gaji yang sangat menggiurkan. Zoya yang tampak bingung dan ragu belum bisa memberikan jawaban, ia membutuhkan waktu hingga esok untuk berpikir dan membicarakan nya dengan ibunya dulu. Bu Amel pun mengerti, ia pun mempersilahkan Zoya untuk pulang.
Sesampainya dirumah, Zoya pun lekas mandi dan shalat, dan setelah itu ia pun meluangkan waktu untuk berbicara kepada ibunya. Ibu Halimah tampak sedang mengukur kain. Zoya pun lekas duduk di samping ibunya.
"Bu...Zoya mau bicara dengan ibu," ucap Zoya dengan serius.
"Silahkan nak...," ucap Ibu Halimah sambil menoleh ke Zoya.
"Tadi Bu Amel menawari Zoya pekerjaan sebagai Baby Sitter untuk saudara nya yang berada di luar kota," ucap Zoya dengan nada serius.
Bu Halimah pun sedikit terkejut, dan ia pun menghentikan pekerjaannya dan mencoba duduk mendekati Zoya. Amee adik Zoya yang sedang berada diruang tamu, tak sengaja mendengar percakapan mereka. Amee pun ikut terkejut mendengar perkataan Zoya. Ia pun berjalan mendekati Ibu dan kakaknya.
"Terus kakak bersedia bekerja diluar kota?" tanya Amee dengan tiba-tiba.
Ibu dan Zoya pun tampak terkejut dengan kedatangan Amee.
"Ameeee.. kamu ngagetin Ibu saja," ujar Bu Halimah kepada Amee.
"Ma-aaf buu..," jawab Amee sambil meringis.
Bu Halimah pun mencoba meneruskan pertanyaannya yang tertunda kepada Zoya.
"Terus, kamu mau nak?" tanya Bu Halimah kepada Zoya.
"Zoya belum menjawabnya bu, Zoya butuh pendapat ibu," ucap Zoya lirih.
Bu Halimah pun terdiam, ia merasa tak sanggup jika harus jauh dari anaknya itu.
"Kalau kamu memang berminat, ibu akan mengijinkan mu nak," ujar Bu Halimah dengan nada sendu.
"Tapi Amee gak mau kalau kak Zoya jauh dari kita," ujar Amee dengan muka sedih nya.
Zoya pun tampak bingung. Ditatapnya wajah Amee yang memelas itu, juga wajah ibunya yang penuh sendu. Zoya pun sadar bahwa ibu dan adiknya seperti tak rela jika dirinya jauh dari mereka. Ia pun tersenyum mencoba menenangkan keduanya.
"Tidak bu, Zoya sepertinya tidak berminat, walaupun gaji nya menggiurkan, Zoya akan tetap disini bersama ibu dan adik-adik, Zoya akan tetap menjadi guru ngaji," ucap Zoya dengan tersenyum.
Amee pun tampak sumringah mendengar ucapan Zoya. Dipeluknya kakaknya dengan sangat erat. Zoya pun dibuat tersenyum oleh tingkah adiknya itu. Bu Halimah pun tampak mengelus kepala Zoya dengan bangga.
"Ibu sangat berterimakasih kamu selalu ada buat ibu dan adik-adikmu. Ibu juga sangat bersyukur mempunyai anak sholehah sepertimu," ucap Bu Halimah sambil tersenyum kepada Zoya.
Zoya pun tersenyum kepada ibu dan adiknya. Keesokan harinya ia pun kembali menemui Bu Amel, dan mencoba menolak tawaran kerja Bu Amel dengan halus. Zoya menjelaskan bahwa ia tidak bisa meninggalkan ibu dan adik-adiknya. Bu Amel pun memahami alasan Zoya. Bu Amel pun merasa bangga dengan keputusan Zoya. Ia bahkan mendoakan agar Zoya mendapatkan masa depan yang cerah dikemudian hari. Zoya pun tersenyum sambil berterimakasih kepada Bu Amel.
Hari itu, selesai shalat dhuha, Zoya dikejutkan oleh ketukan pintu yang diiringi suara salam dari luar rumahnya. Ia pun menjawab salam dan lekas memakai jilbabnya kemudian segera berjalan untuk membukakan pintu. Diluar tampak seorang bapak-bapak memakai seragam pns berdiri menyapa Zoya. Zoya yang tidak asing dengan bapak itu pun segera mempersilahkan nya masuk. Bapak itu adalah Pak Ridwan salah satu humas di kantor Gubernur dikotanya. Pak Ridwan sudah sering menghubungi Zoya untuk mengundang nya mengisi suatu acara untuk melatunkan ayat-ayat suci Alquran. Prestasi Zoya yang sudah tidak diragukan lagi membuat ia sering di undang dalam acara-acara Islami, baik itu tingkat desa maupun provinsi.
Zoya pun mempersilahkan Pak Ridwan duduk dan menyiapkan minuman untuk beliau. Setelah itu mereka pun berbincang-bincang. Pak Ridwan yang sangat ramah itu mengatakan bahwa akan ada acara peresmian masjid terbesar dikota itu, yang akan dihadiri oleh menteri agama dan para pejabat serta tokoh masyarakat setempat. Dan Zoya pun diminta untuk ikut mengisi acara tersebut sebagai pembaca ayat-ayat suci Alquran dalam acara peresmian masjid tersebut. Zoya sangat senang sekali bisa di undang dalam acara itu, dengan penuh semangat ia menyetujui untuk bisa ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
"Baik pak, insha allah saya bisa," Jawab Zoya dengan bersemangat.
"Alhamdulilah kalo begitu, acara nya minggu depan, jangan lupa yaa," ucap Pak Ridwan sambil memberikan selembar undangan.
Zoya pun membuka dan membacanya, ia pun menggangguk sambil tersenyum.
"Siap pak!" ucap Zoya bersemangat.
"Ya sudah saya pamit pulang dulu soalnya masih harus mengurus yang lainnya, assalamualaikum," ujar Pak Ridwan sambil berdiri untuk berpamitan pulang.
"Walaikumsalam, sebelumnya terimakasih ya pak" jawab Zoya sambil ikut berdiri mengantar pak Ridwan keluar rumah.
Pak Ridwan pun mengangguk sambil melambaikan tangan ke Zoya.
Zoya yang tampak bersemangat berjalan ke kamar dan meraih kalender di kamarnya, di lingkari nya tanggal sesuai undangan agar ia tidak lupa. Setelah itu ia pun bersiap-siap untuk mengajar ngaji.