Kesempatan Emas

1832 Words
Hari itu tampak mendung, Zoya yang sudah bersiap-siap sejak subuh tampak mengernyitkan jidatnya tatkala melihat cuaca dari balik jendela kamarnya. Dalam hatinya ia berdoa hujan tak akan turun. Hari ini Zoya harus menghadiri undangan di acara peresmian masjid baru dikotanya. Ia akan bertugas sebagai qori yang akan membacakan ayat-ayat suci Alquran. Tamu undangan banyak dihadiri oleh pejabat salah satunya menteri agama dan para tokoh masyarakat. Zoya sedikit gugup, tapi seperti biasa ia selalu bisa mengendalikan dirinya diatas panggung. Zoya tampak sudah siap, ia pun tersenyum mengetahui akhirnya matahari muncul tanda tak jadi hujan. "Terimakasih ya Allah," ucapnya penuh sumringah sambil keluar kamar. Ibunya tampak sedang menyiapkan sarapan untuk Zoya dana adik-adiknya. "Ayo anak-anak kalian sarapan dulu," ucap Bu Halimah kepada anak-anaknya. Zoya dan adik-adiknya pun lekas duduk di meja makan untuk menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh bu Halimah. "Kak Zoya... semoga lancar ya nanti acaranya," ucap Amee kepada kakaknya. Zoya pun tersenyum sambil menggangguk kepada Amee. "Aamiinn, terimakasih sayang," jawab Zoya sambil mengelus adiknya. Bu Halimah pun tersenyum menyaksikan kehangatan itu. "Jangan lupa berdoa ya sayang," ucap Bu Halimah kepada Zoya. Zoya pun menggangguk sambil menatap ibunya. "Pasti bu...," jawab Zoya dengan santun. Zoya tampak makin semangat karena keluarganya selalu mendukung dan mendoakannya setiap saat. Mereka adalah penyemangat dalam hidup Zoya. Tak lama merekapun selesai sarapan, Ihsan dan Amee bergegas berangkat ke sekolah dan Zoya pun lekas bergegas menuja ke acara undangan. Mereka berpamitan ke Bu Halimah sambil mencium tangan, dan satu persatu jejak mereka pun hilang dari pandangan Bu Halimah yang menunggui kepergian mereka dari depan pintu. Dalam perjalanan, di dalam angkot Zoya tampak sedang melatih diri membaca Alquran kecil yang selalu ia bawa dengan suara lirih. Kali itu angkot tidak begitu sesak seperti biasanya, hanya beberapa anak berseragam sekolah didalamnya. Hampir 30 menit perjalanan yang Zoya harus tempuh, akhirnya ia sampai di tempat acara. Sesampainya disana, tampak berdiri kokoh sebuah masjid yang sangat besar dan indah yang baru akan diresmikan itu. Ada air mancur yang mewah menghiasi halaman masjid bercat putih dan emas itu. Papan bunga pun berderet begitu banyak nya diluar gerbang. Para tamu undangan sudah mulai ramai berdatangan. Mobil-mobil mewah pun tampak berjejer rapi di parkiran Vip. Sesampainya didalam area masjid, Zoya pun segera menuju ke ruang panitia. Ia mencoba menemui Pak Ridwan yang kelihatan tampak sibuk sekali. Pak Ridwan pun menyambut Zoya, dan mengenalkan Zoya dengan para panitia lainnya. Zoya dengan percaya diri mencoba berbaur dengan mereka, dan membantu menyiapkan segalanya sebelum dimulainya acara. Zoya tampak mempelajari rundown acara, sambil melatih diri sesekali agar ia makin siap. Tamu undangan sudah mulai berdatangan, tampak menteri agama duduk di deretan depan di apit oleh bapak gubernur dan seorang kyai tersohor pemilik pondok pesantren terkemukan di kota itu. Ribuan masyarakat memenuhi tiap sudut masjid yang memiliki luas 5,5 hektar. Baik diruang shalat utama, pelataran berpayung membran, sampe lantai dua masjid itu. Orang tua, remaja, hingga anak-anak berpakaian bernuansa putih datang berbondong-bondong ke masjid yang baru dibuka itu. Zoya melihat tamu undangan dari balik panggung, jantungnya agak berdegup kencang, ia agak sedikit grogi, ia pun mencoba menarik nafas panjang supaya lebih relax. Tak lama, acara pun di mulai, pembawa acara menaiki panggung dan mulai untuk memandu acara. Para tamu dan undangan tampak begitu antusias meyaksikan acara demi acara. Hingga akhirnya tiba giliran pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang akan dibawakan oleh Zoya, ia pun naik kepanggung dengan tenang, ia tampak menyapa dengan salam para tamu undangan. Paras nya yang ayu membuat para tamu undangan sudah terkesima bahkan sebelum ia membacakan ayat-ayat suci Alquran. Zoya pun mulai membaca ayat-ayat suci dengan suara indahnya. Ayat demi ayat di dalam surah Thoha ia baca dengan sangat merdu dan indahnya. Semua mata dan telinga seakan terpana dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibawakan oleh Zoya. Tak terkecuali para tamu Vip yang duduk di deretan paling depan, terutama kyai Abu Basoir, pemilik pondok pesantren El-Qolam yang sampai menggeleng-gelengkan kepalanya karena begitu terpukau dengan suara Indah Zoya. Orang-orang yang mendengar lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibawakan oleh Zoya serasa ikut bergetar hatinya, ditambah paras wajah Zoya yang menyejukkan mata makin membuat suasana begitu khidmat rasanya. Selesai dengan tilawah nya, Zoya pun membaca salam dan tampak tersenyum kupada para hadirin. Ia turun kepanggung dengan penuh kelegaan karena telah merampungkan tugasnya. Zoya pun kembali duduk bersama para panitia dibelakang panggung, ia disambut dengan ucapan selamat kepada para panitia lain karena berhasil membacakan ayat-ayat suci Alquran dengan sukses. Zoya tampak begitu senang, dan mengucapkan terimakasih kepada mereka. Acara demi acara pun berlangsung, Zoya dan para panitia lain tampak begitu antusias dan bersemangat karena acara hampir rampung. Hari itu acara pun berjalan dengan lancar. Pak Ridwan sebagai kepala panitia menghampiri mereka dibalik panggung dan mengucapkan terimakasih atas semua kerjasama panitia yang membuat acara berjalan dengan lancar. Ia juga mengatakan bahwa ingin berbincang kepada Zoya, dan menyuruh Zoya untuk tidak pulang dulu. "Nak Zoya, terimakasih sudah bepartisipasi dalam acara ini, nanti jangan pulang dulu ya..," ucap Pak Ridwan kupada Zoya. Zoya yang tampak bingung pun mencoba mengiyakan permintaan Pak Ridwan. "Baik Pak..," jawab Zoya sambil mengangguk. Dalam hatinya, Zoya tampak bingung, kenapa Pak Ridwan menahannya untuk tidak langsung pulang. Ditengah kebingungannya Zoya pun tetap duduk bersama panitia lain sampe acara selesai. Hingga akhirnya acara pun selesai, tampak satu persatu para undangan yang hadir berbondong-bondong keluar dari masjid untuk pulang kerumah mereka masing-masing. Tiba-tiba datang Pak Ridwan dengan beberapa orang menghampiri Zoya dibalik panggung. Zoya nampak kaget karena yang datang bersama Pak Ridwan adalah kyai Abu Basoir, pemilik pondok pesantren El-Qolam yang terkenal itu. Zoya nampak gugup mengetahui mereka datang untuk menghampiri Zoya. Pak Ridwan pun mencoba menyapa Zoya kembali. "Nak Zoya, ini Kyai Abu Basoir pemilik pondok pesantren El-Qolam," ucap Pak Ridwan mengenalkan Kyai Abu kepada Zoya. Zoya pun menunduk seraya memberi hormat kepada Kyai Abu Basoir. Kyai pun tampak tersenyum kepada Zoya. Pak Ridwan menjelaskan kepada Zoya bahwa Kyai Abu Basoir sangat kagum dengan penampilan Zoya ketika bertilawah tadi, Kyai pun penasaran dengan background Zoya, dan mencoba menanyakan kepada Pak Ridwan. Setelah Pak Ridwan menjelaskan tentang background Zoya, Kyai makin penasaran untuk berbicara langsung kepada Zoya. "Monggo Pak Kyai, jika mau berbicara langsung dengan nak Zoya," ucap Pak Ridwan setelah memberi penjelasan. Kyai Abu pun tampak tersenyum kepada Zoya. "Tadi penampilan mu bagus sekali, kamu benar-benar Qori bertalenta," ucap Kyai Abu dengan bersemangat. "Terimakasih banyak Kyai," jawab Zoya dengan santun. "Nah jadi begini, kebetulan pondok El-Qolam sedang butuh pengajar, jadi saya ingin menawarkan nak Zoya untuk mengajar di pondok pesantren El-Qolam," ucap Kyai Abu kepada Zoya. Zoya pun terkejut sekali, dalam hatinya ia sangat senang sekali tetapi juga tampak bingung. Ia bahkan tidak tahu apakah ia bisa mengajar disana karena ia bahkan tidak menamatkan sekolahnya. "ta-ta-pii kyai... saya bahkan tidak tamat SMA," jawab Zoya sambil kembali menunduk. "Ah gampang itu, kamu bisa mengambil ujian paket C," ujar kyai Abu seolah menyemangati Zoya. "Betul nak, kamu bisa ikut ujian paket C untuk bisa mendapatkan ijazah SMA, nanti saya bantu untuk mencari infonya," ucap Pak Ridwan ikut menyemangati. Mata Zoya pun tampak berbinar, ia seperti tampak bersemangat dengan tawaran itu, tapi ia masih belum mampu untuk menjawab tawaran kyai Abu. Ia masih tampak bimbang karena harus memberi tahu ibunya dahulu. "Ya sudah kamu coba pikirkan dulu tawaran saya ini, nanti kalo berminat nak Zoya datang saja ke pesantren," ucap Kyai Abu kepada Zoya. "Baik Kyai, terimakasih banyak sebelumnya," ucap Zoya dengan sedikit tegang. "Tapi saya berharap kamu mau menerima tawaran saya ini, karena El-Qolam butuh tenaga pengajar seperti kamu," ujar Kyai Abu sambil tersenyum bangga kepada Zoya. Zoya pun tampak mengangguk sambil tersenyum kepada kyai Abu. "Baik kyai, saya akan coba pertimbangkan tawaran kyai dengan matang," jawab Zoya sambil mengangguk. Kyai Abu Basoir pun berpamitan pulang diikuti oleh Pak Ridwan yang tampak mengantarnya ke parkiran. Zoya yang masih berdebar kencang pun mencoba menghela nafas dan tampak tersenyum kegirangan. Ia tak sabar uituk pulang kerumah memberi tahu kabar bahagia ini kepada ibunya. Ia pun segera bergegas pulang kerumah. Zoya tampak tersenyum-senyum didalam angkot. Ia terpikirkan tawaran Kyai Abu Basoir yang memintanya mengajar di pondok pesantren miliknya. Ia tak pernah membayangkan pemilik pondok pesantren menawarkan langsung kesempatan itu kepadanya. Kesempatan langka itu tidak akan ia sia-siakan. Ia akan membujuk ibunya untuk memperbolehkan nya mengajar di pesantren ternama itu. Ibunya pasti akan mendukung tawaran kali ini, karena memang sejak sedari dulu ia menginginkan bisa mengajar di sebuah pesantren, tapi karena status Zoya yang tidak lulus Sma, ia tampak mengurungkan niatnya itu. Ibunya pasti mengerti bahwa ini yang selama ini ia impikan. Tak lama angkot pun berhenti didepan g**g di sebuah komplek rumah. Zoya pun turun dan berjalan memasuki g**g menuju rumahnya. Ia memberi salam sesampainya di depan pintu rumahnya. Ibunya yang sudah menunggunya sejak tadi tampak tak sabar mendengar cerita Zoya tentang acara hari itu. "Walaikumsalam, bagaimana acara tadi nak?" tanya Bu Halimah kepada Zoya. Zoya yang tampak bersemangat pun, seolah tak sabar menceritakan harinya kepada ibunya. "Alhamdulilah semuanya berjalan dengan lancar bu, bahkan Zoya ada kabar baik, " ucap Zoya sambil tersenyum. Ibunya pun tampak penasaran tentang kabar baik yang ingin Zoya sampaikan. "Alhamdulilah... kabar baik apa nak?" tanya Bu Halimah lagi. Zoya pun duduk mendekati ibunya. "Tadi Zoya bertemu dengan Kyai Abu Basoir, pemilik pondok pesantren El-Qolam. Beliau menawarkan Zoya nutuk mengajar di pondok pesantren nya," jelas Zoya dengan mata berbinar. Ibu Halimah pun tampak kaget dan tampak merasa sangat bahagia mendengarnya. "Masha Allah nak, ibu senang sekali mendengarnya," ujar Bu Halimah. Melihat tanggapan ibunya Zoya tampak begitu lega, akhirnya ibunya ikut merasa senang dengan tawaran ini. Zoya pun menjelaskan bahwa ia harus mengambil ujian paket C sebagai syarat untuk mengajar disana. Pak Ridwan akan membantunya untuk mencarikan info tentang ujian itu. Setelah mendapat ijazah dari ujian itu, ia bisa pergi ke pondok pesantren untuk menemui Kyai Abu Basoir. Beliau sangat berharap Zoya bisa mengajar disana. Ibu Halimah tampak bahagia mendengar tawaran ini. "Ibu sangat senang sekali kamu bisa mendapatkan kesempatan emas ini. Ibu begitu bangga kepadamu. Ibu akan selalu mendukung keputusanmu nak," ujar Bu Halimah sambil mengelus kepala Zoya. "Terimakasih bu, Zoya janji akan melakukan yang terbaik untuk membantu ibu dan adik-adik," ucap Zoya sambil memandangi ibunya dengan haru. "Kamu sudah banyak mengorbankan apa saja untuk ibu dan adik-adikmu, sekarang waktunya kamu memikirkan masa depanmu nak. Ibu tau sudah sejak lama kamu menginginkan bisa mengajar di sebuah pesantren, dan ini adalah kesempatan emas yang diberikan oleh Allah," ujar Bu Halimah sambil terisak. Zoya pun dibuat iba dengan penjelasan ibunya, ia pun memeluk ibunya dengan erat. Ia berjanji kepada ibunya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia akan segera menghubungi Pak Ridwan untuk mencari tahu tentang ujian paket C. Zoya pun tampak begitu bersemangat. Setelah beberapa hari menghubungi Pak Ridwan, akhirnya hari itu Zoya di minta untuk datang mendaftarkan diri mengikuti ujian. Beberapa hari setelahnya ia pun akhirnya mengikuti ujian yang sudah ia tunggu-tunggu. Berhari-hari ia belajar untuk menghadapi ujian itu, sehingga ia pun tidak kesulitan dalam mengerjakannya. Zoya berhasil merampungkan ujian dengan baik dan dengan nilai yang memuaskan. Akhirnya ia berhasil mendapatkan ijazah setara Sma yang ia dambakan. Ia begitu sangat bersyukur sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD