Setelah sebulan sejak pertemuan terakhirnya dengan Kyai Abu Basoir di sebuah acara peresmian masjid, hari itu Zoya tampak sedang berada disebuah angkot menuju ke pondok pesantren El-Qolam untuk menemui Kyai Abu Basoir. Hari itu Zoya begitu excited, dengan sebuah map ditangan yang sudah ia siapkan, Zoya akan melamar untuk bekerja sebagai pengajar di pondok pesantren milik Kyai Abu Basoir. Ia mengenakan setelan blazer dengan bawahan rok dibalut dengan jilbab hitam, Zoya tampak kelihatan rapi tapi wajah ayu nya masih tetap terpancar. Angkot pun akhirnya berhenti tepat di depan sebuah gedung yang menyerupai sekolahan tapi tampak begitu besar sekali. Ia pun berjalan menuju pos sekuriti dan meminta ijin masuk untuk memberikan lamaran yang ia bawa ke dalam pesantren. Pak sekuriti pun tampak begitu baik dan mencoba mengantar Zoya menuju ruangan staff di dalam pesantren. Zoya tampak tercengang dengan bangunan pesantren yang begitu besarnya, ia belum pernah memasuki pondok pesantren sebesar itu sebelumnya. Ketika ia sedang berjalan mengikuti pak sekuriti, tiba-tiba sebuah mobil mewah Vellfire melintas didepannya dan berhenti, tampak seseorang membuka pintu mobil dan mencoba turun. Zoya pun dibuat kaget karena yang turun adalah Kyai Abu Basoir. Kyai Abu tampak tersenyum dan menyapa Zoya.
"Alhamdulilah akhirnya kamu datang juga," ucap Kyai Abu kepada Zoya.
Zoya yang tampak kaget tampak memberi salam kepada kyai sambil tersenyum. Sekuriti disampingnya juga dibuat kaget dengan kedatangan kyai dengan tiba-tiba menyapa Zoya.
"Apakah kamu sudah membawa semua dokumen yang diperlukan?" tanya Kyai.
"Iya kyai, ini saya sudah bawa semuanya," jawab Zoya sambil menyodorkan sebuah map.
Kyai Abu pun meraih map milk Zoya.
"Yasudah, besok kamu sudah bisa mulai mengajar ya, nanti kamu temuin Bu Aisyah, nanti beliau yang akan memberikan kamu arahan," ucap pak Kyai sambil berpamitan kepada Zoya.
"Ba-aik kyai, terimakasih banyak," jawab Zoya sambil agak kaget.
Zoya masih tidak menyangka ia sudah bisa mengajar besok. Dalam hatinya ia begitu senang. Kyai bahkan belum sempat melihat dokumen apa saja yang ia bawa, tapi beliau sudah memintanya untuk mengajar besok. Zoya tampak senang sekali. Ia pun akhirnya pulang kerumah untuk menyiapkan diri untuk mengajar besok.
Dan keesokan paginya, Zoya datang ke pesantren dengan sangat bersemangat. Di sapa nya para sekuriti dengan ramahnya, kemudian ia berjalan ke sebuah ruangan untuk mencari Bu Aisyah. Dan akhirnya Bu Aisyah yang sudah menunggu nya pun menyambut kedatangan Zoya dengan gembira. Bu Aisyah yang terpukau dengan kecantikan Zoya tampak memandangi Zoya dari atas sampai bawah.
"Masha Allah, kamu cantik sekali," ucap Bu Aisyah ketika pertama kali bertemu Zoya.
Zoya pun nampak malu-malu, dan ia pun mencoba memperkenalkan dirinya. Ternyata Bu Aisyah sudah membaca profil Zoya, ia tampak sangat senang menyambut Zoya. Bu Aisyah pun mempersilahkan Zoya duduk dan mulai berbincang dengan Zoya. Tak lama kemudian, Bu Aisyah mengajak Zoya untuk mengikuti briefing seluruh pengajar di pesantren El-Qolam. Ia mengajak Zoya menuju suatu ruangan yang didalamnya sudah hadir para staff pengajar. Zoya berjalan mengikuti Bu Aisyah, dan ia pun di minta berdiri di depan para staff pengajar untuk memperkenalkan diri. Dengan penuh percaya diri, Zoya memperkenalkan dirinya dihadapan yang lain. Tampak para staff pengajar menyambut Zoya dengan senang. Mereka pun saling berbaur dan berkenalan. Mereka sangat terpukau dengan kecantikan dan keramahan Zoya. Mereka berharap Zoya akan betah mengajar disana.
Hari pertamanya mengajar dipenuhi dengan perkenalan kepada para staff dan para santri. Zoya pun diberi tahu bahwa minggu setelahnya ia harus sudah bisa tinggal di mess pengajar di lingkungan pesantren, itu akan memudahkan Zoya untuk mengajar karena tidak harus pulang pergi naik angkot. Zoya yang sudah membicarakan hal itu dengan ibunya pun tampak sudah siap, ia masih bisa pulang kerumah ketika mendapat hari libur. Zoya tampak senang sekali akhirnya bisa tinggal di lingkungan pesantren.
Hari-hari berlalu, Zoya pun akhirnya sudah tinggal di lingkungan pesantren, ia tinggal sekamar berdua bersama teman mengajarnya Aminah. Mereka berdua pun sudah nampak sangat akrab sekali. Aminah yang berasal dari kota lain hampir jarang pulang kerumah, Aminah lebih sering menghabiskan waktu liburnya untuk keluar jalan-jalan. Berbeda dengan Zoya, ia lebih sering pulang ketika libur karena rumahnya yang tidak jauh dari pondok pesantren. Zoya selalu merindukan ibu dan adik-adiknya.
Sore itu selepas shalat ashar, Aminah mengajak Zoya uituk berjalan-jalan di taman belakang di area pesantren, Zoya belum pernah ke taman itu. Zoya tampak terpukau dengan taman yang indah itu.
"Masha Allah aku baru tahu pesantren ini punya taman sebagus ini," ucap Zoya dengan terpukau.
Aminah pun tampak tersenyum meledek Zoya.
"Kamu sih dikamar terus, makanya sekali-kali keluar menghidup udara segarr," ucap Aminah sambil menelantangkan tangannya.
Zoya pun tersenyum kepada Aminah. Tiba-tiba matanya tertuju kepada bangunan mewah yang berdekatan dengan taman itu, ia pun mencoba bertanya kepada Aminah.
"Aminah... itu bangunan apa sih, mewah sekali seperti istana," ujar Zoya sambil menunjuk ke sebuah bangunan.
"Oh ituu... itu sih kediaman Kyai Abu Basoir pemilik pondok pesantren ini," jawab Aminah sambil menoleh ke rumah megah itu.
"Wahh aku baru tahu kalau rumah Kyai Abu masih berada di lingkungan pesantren," ujar Zoya.
Aminah yang sudah mengajar lebih lama disana pun mencoba menceritakan tentang profil keluarga Kyai Abu Basoir kepada Zoya.
"Istri Kyai Abu sudah meninggal sejak lama. Kyai Abu mempunyai dua anak, yang pertama perempuan sudah menikah dan ikut suaminya ke jeddah karena suaminya orang sana, dan satunya laki-laki sudah lama tidak pernah pulang, kabarnya setelah menempuh pendidikan di Al-Azhar mesir, sekarang ia juga mengajar disana. Hampir 5 tahun ini tidak pernah pulang, padahal Kyai sudah sering meminta ia untuk pulang. Sekarang yang mengurusi Kyai Abu adalah para ajudannya. Banyak orang kasihan dengan beliau, karena tinggal dirumah mewah tapi tidak ada sanak saudaranya, bahkan akhir-akhir ini Kyai Abu sering sakit-sakitan," ucap Aminah menceritakan kehidupan Kyai Abu kepada Zoya.
Zoya pun ikut merasa kasihan dengan Kyai Abu, ia tidak pernah tahu bahwa kehidupan Kyai Abu selama ini kesepian tanpa kehadiran keluarga disisinya. Tiba-tiba Zoya pun melontarkan pertanyaan menggelitik.
"Kenapa Kyai Abu tidak menikah lagi ya? gumam Zoya.
Aminah pun menghela nafas.
"Kyai Abu tidak seperti kyai kebanyakan yang biasanya mempunyai istri lebih dari satu, beliau sangat mencintai almarhumah istrinya," ucap Aminah.
Zoya pun tampak mengangguk angguk mendengar penjelasan Aminah.
Dan hari pun hampir gelap, Zoya dan Aminah akhirnya berjalan meninggalkan taman dan menuju kamar mereka untuk bersiap-siap pergi ke masjid yang berada di lingkungan pesantren. Mereka segera berwudhu dan memakai mukena masing-masing kemudian berjalan ke masjid. Seperti biasa, masjid sudah ramai dengan jamaah yang kebanyakan para santri di pondok pesantren itu. Setelah shalat magrib berjamaah, Zoya pun tidak lekas beranjak dari masjid, ia memperhatikan jamaah yang keluar dari masjid. Aminah yang keheranan dengan sikap Zoya pun mencoba menegur Zoya.
"Kok tumben kamu tidak langsung pulang, malah memandangi pintu masjid dari tadi," tanya Aminah kepada Zoya.
"Aku dari tadi tidak melihat kyai Abu, biasanya beliau ada di shaf paling depan di bagian makmum laki-laki," ucap Zoya.
Aminah pun tampak mengernyitkan dahinya.
"Hmmm... masa sih," ujar Aminah sambil menoleh ke dalam masjid.
Zoya pun makin penasaran, ia masih tidak menjumpai Kyai Abu di dalam masjid. Aminah pun mencoba memberi tahu Zoya, mungkin kyai Abu sedang bepergian keluar kota, karena beliau sering keluar kota untuk menghadiri undangan. Zoya pun mencoba berpikiran positif dan akhirnya merekapun kembali ke kamar mereka.