Keesokan harinya, dikantor tampak orang-orang membicarakan Kyai Abu yang tengah terbaring sakit. Beliau yang mempunyai penyakit darah tinggi dan jantung itu memang sering kambuh akhir-akhir ini, tapi seperti biasa beliau enggan dibawa kerumah sakit. Beliau lebih suka memanggil dokter pribadinya kerumah untuk memeriksanya. Tapi keadaan Kyai Abu kali ini membuat dokter pribadinya sedikit khawatir dan menyarankan untuk di bawa kerumah sakit. Akhirnya karena kondisi nya cukup drop Kyai Abu dibawa kerumah sakit. Kerabat dan ajudannya tampak saling menghubungi anak-anak kyai untuk memberi kabar.
Kyai pun dirawat dirumah sakit secara itensif. Tampak anak perempuan nya Naura, datang dari jeddah bersama anak dan suaminya untuk menjenguk Kyai Abu Basoir ayahnya. Naura yang cukup shock melihat Kyai Abu terbaring dirumah sakit tak sanggup membendung tangisnya. Ia menjaga Kyai dirumah sakit hingga kondisi Kyai cukup stabil dan akhirnya bisa berkomunikasi dengan anaknya. Kyai tampak senang melihat naura datang bersama cucu dan menantunya. Kyai pun menanyakan anak laki-lakinya yang berada di mesir kenapa tidak datang. Naura yang sudah kerap kali menghubungi adiknya itu hanya bisa menjelaskan bahwa adiknya akan datang secepatnya. Ia tidak mau membuat Kyai terus kepikiran.
Sudah 3 hari Kyai masih berada dirumah sakit. Bu Aisyah sebagai kepala staff di pondok pesantren milik Kyai Abu Basoir pun berniat menjenguk kyai dirumah sakit. Ia tidak mau mengajak banyak orang karena takut mengganggu ketenangan Kyai. Bu Aisyah hanya berniat mengajak Zoya dan Aminah untuk ikut dengan nya kerumah sakit. Zoya dan Aminah pun bersedia mengikuti ajakan Bu Aisyah. Merekapun tampak bersiap-siap untuk berangkat kerumah sakit. Merekapun akhirnya berangkat bersama menuju kerumah sakit menggunakan mobil Bu Aisyah yang di kendarai nya sendiri.
Tak lama merekapun sampai di rumah sakit. Dengan membawa bingkisan buah dan bunga mereka berjalan ke arah receptionist. Zoya bertugas membawa bunga dan Aminah bertugas membawa buah. Setelah bertanya kepada receptionist mengenai kamar tempat dirawatnya Kyai, akhirnya mereka berjalan menuju lorong rumah sakit dan mencoba mencari-cari ruangan yang dituju.
Dan sampailah mereka di ruangan Vip yang tampak begitu luas dan bersih itu. Mereka masuk dan memberi salam, tampak Kyai sedang berbincang dengan anaknya Naura. Bu Aisyah, Zoya, dan Aminah pun masuk dan menaruh bingkisan yang sudah mereka bawa. Pak Kyai nampak tersenyum kepada mereka dan mengucapkan terimakasih. Merekapun saling berbincang satu sama lain. Tak lama Zoya berpamitan untuk pergi ke toilet. Zoya pun berjalan keluar menuju toilet, dengan agak tergesa-gesa ia pun masuk kedalam toilet. Tak lama kemudian ia pun selesai dan kembali menuju ke kamar Kyai di rawat. Ia berjalan melewati lorong rumah sakit lagi. Saat ia memegang gagang pintu kamar tempat Kyai dirawat, tiba-tiba sebuah tangan secara berbarengan juga memegang gagang pintu yang sama dan spontan Zoya tampak kaget dan matanya saling tatap dengan laki-laki itu. Zoya tampak berdebar menatap laki-laki dengan brewok tipis dan wajah yang tampan sedang berdiri dihadapannya, mereka pun terlibat saling tatap dengat sangat dekatnya. Zoya pun sontak memundurkan badannya secara refleks, ia tidak pernah berdiri sedekat itu dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Laki-laki dihadapan Zoya pun masih belum melepas pandangannya ke Zoya, ia seolah takjub dengan kecantikan wanita berkerudung hitam yang sedang berdiri dihadapannya itu.
"Maaf sebelumnya..." ucap laki-laki itu kepada Zoya.
Zoya yang masih berdebar kencang dadanya tampak tersipu.
"Tidak apa-apa, saya yang minta maaf tadi terburu-buru," ujar Zoya sambil agak menunduk malu.
"Kamu mau masuk kedalam juga?" tanya lelaki itu penasaran.
Zoya pun tersadar bahwa mereka tadi berbarengan mau masuk ke kamar Kyai.
"Oh iya, saya sedang menjenguk seseorang," ucap Zoya lagi.
Lelaki itu tampak tersenyum kepada Zoya. Ia pun mempersilahkan Zoya masuk dan membukan pintu untuk Zoya. Dengan kebingungan Zoya pun masuk kedalam, di ikuti oleh lelaki itu yang juga masuk kedalam sambil memberi salam. Sontak Kyai Abu sangat terkejut melihat lelaki itu yang ternyata adalah anaknya Hakim El Ihsan datang. Kedatangannya yang sangat dirindukan itu sontak membuat Kyai Abu begitu bahagia, ia pun memeluk anaknya itu dengan sangat erat. Zoya yang menyaksikan itu juga di buat kaget. Ia tidak mengetahui bahwa lelaki yang membuat jantungnya berdebar itu adalah anak kyai Abu. Selama ini ia belum pernah melihat wajahnya, hanya mendengar dari cerita para staff di lingkungan pesantren. Zoya pun ikut teharu menyaksikan pertemuan anak dan ayah yang sudah lama tidak berjumpa. Merekapun tampak hanyut dan saling melepaskan rindu. Setelah itu kyai Abu tampak mengenalkan Hakim dengan Bu Aisyah, Zoya, Dan Aminah. Hakim yang berparas tampan itu menyapa mereka dengan begitu ramah. pandangan Hakim pun tertuju kepada Zoya, ia masih terkesima dengan kecantikan Zoya. Hakim tidak menyangka Zoya adalah pengajar di pondok pesantren milik ayahnya itu. Hakim tampak tersenyum tak henti kepada Zoya yang terlihat malu-malu. Hakim yang baru saja kembali ke indonesia seperti disambut oleh senyum manis seorang Zoya, Hakim pun tak bisa melepaskan pandangannya ke Zoya. Dan tak lama Bu Aisyah pun berpamitan untuk pulang, Hakim yang masih belum rela melepas kepergian Zoya terlihat kecewa, hingga akhirnya ia tersadar bahwa ia akan bisa sering bertemu dengan Zoya karena ia mengajar di pondok pesantren milik ayahnya. Hatinya pun tampak bersemangat kembali. Ia tersenyum tak henti menatapi langkah Zoya yang keluar dari kamar rumah sakit.
Setelah pertemuan itu, Zoya hampir dibuat tak bisa tidur, ia tidak pernah merasakan rasa bendebar yang membuncah setiap teringat wajah Hakim. Zoya jadi sering senyum-senyum sendiri akhir-akhir ini. Ia tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan itu.
Dan akhirnya setelah beberapa hari berada dirumah sakit, Kyai Abu akhirnya pulang kerumah. Naura yang melihat kondisi Kyai yang sering drop, memutuskan untuk menetap di Indonesia. Ia ingin lebih dekat dengan ayahnya. Ia pun memboyong anak dan suaminya untuk tinggal di lingkungan pesantren. Hakim pun diminta Kyai untuk mengurus pondok pesantren El-Qolam milik ayahnya, sudah sejak lama Kyai menyuruhnya untuk pulang mengurus pesantren, tapi hakim merasa belum siap, dan kali ini karena kondisi Kyai yang sering ngedrop, Hakim pun mau tidak mau menuruti kemauan Kyai. Pondok Pesantren El-Qolam nantinya kan menjadi milik Hakim, karena Hakim adalah ahli waris yang kuat. Hakim pun mencoba mempelajari tentang manajemen pesantren, ia mencoba berbaur dengan para staff pengajar dan para santri. Ia mencoba membaurkan diri untuk mempelajari tentang lingkungan pondok secara langsung. Hakim yang sudah lama berada di mesir, merasa sangat senang akhirnya bisa kembali ke Indonesia. Setelah cukup lama menimba ilmu disana, ini saat nya ia harus mengabdikan diri di pesantren milik ayahnya yang saat ini cukup tersohor itu. Pesantren yang sudah berdiri hampir 25 tahun itu berkembang cukup pesat karena kegigihan Kyai Abu Basoir. Sifat ulet beliau membuat pesantren terus menunjukan kemajuan yang signifikan setiap tahun. Dan sekarang mungkin saatnya Kyai beristirahat karena kondisinya yang sering sakit-sakitan. Hakim yang menuruni sifat ayahnya yang cerdas, bertekat akan memajukan pesantren sesuai harapan ayahnya. Ia tidak mau mengecewakan ayahnya.
Hari itu Hakim mengumpulkan para staff untuk melakukan rapat. Hakim akan merombak beberapa program yang ada di pesantren untuk membuat pesantren lebih maju lagi. Ia pun meminta Bu Aisyah untuk mengumpulkan para staff diruang rapat. Selang 30 menit para staff pun sudah berkumpul di ruang rapat, Hakim dan para pengurus pesantren yang lain tampak sudah duduk di depan para staff. Merekapun memulai rapat. Zoya yang berada di deretan tempat duduk pengajar, tampak berdebar-debar setiap menatap Hakim, tapi ia mencoba menutupi karena ia harus bersikap profesional. Zoya masih tidak tahu perasaan apa yang ia alami. Ia pun selalu mengelakkan pandangannya setiap matanya tertuju kepada Hakim ketika Hakim sedang berbicara didepan. Hakim yang berperawakan gagah, tinggi dan berdada bidang itu tampak berkharisma ketika memberikan pengarahan. Kecerdasan dan kemampuan nya membawa diri di depan banyak orang makin membuat aura ketampanan nya makin terpancar. Semua manita yang melihatnya pasti ikut terpukau, tidak terkecuali Zoya. Tapi karena mereka berada dilingkungan pesantren mereka harus menjaga pandangan mereka. Hakim yang tersadar bahwa Zoya berada di antara para pengajar yang duduk dihadapannya, tampak sesekali mengarahkan pandangan ke Zoya. Ia kembali teringat halus nya tangan Zoya ketika mereka tidak sengaja saling bersentuhan di rumah sakit, bau harum parfum Zoya pun masih ia ingat, juga senyum Zoya yang begitu manis semakin memancarkan kecantikan alami dari wajah nya. Hakim dibuat tersenyum sendiri karena memandangi Zoya. Hakim pun dibuat hampir hilang kosentrasi, dan akhirnya ia pun mencoba untuk kembali fokus dalam rapat.