Hari itu Zoya tampak bersiap-siap untuk mengajar. Ia pun sudah beseragam rapi dan siap menuju ke kelas. Seperti biasa ia masuk ke dalam kelas dan memulai mengajar dengan memberi salam. Zoya mengajar mata pelajaran Aqidah Akhlak untuk setaraf jenjang Smp. Zoya adalah salah satu pengajar yang menjadi favorite para santri. Zoya yang cukup cerdas itu selalu menyampaikan pelajaran dengan begitu tegas tapi dengan bahasa yang lembut sehingga mudah diterima oleh para santri. Sikap ramahnya membuat para santri mudah untuk menerima pelajaran yang ia sampaikan. Zoya yang sangat menyukai pekerjaan nya itu tidak pernah merasa kan lelah dalam mengajar. Ia begitu menikmati pekerjaannya. Ia sudah bisa membeli motor untuk adiknya dari hasil mengajarnya. Zoya tidak pernah lupa membantu ibu dan adik-adiknya walaupun ia jarang pulang kerumah. Walaupun jarang pulang ia sering menelepon ibu dan adik-adiknya, bahkan kadang mereka datang mengunjungi Zoya di pesantren. Adik Zoya Ihsan dan Amee selalu mengatakan ingin sekali bisa sekolah di pondok tempat Zoya mengajar, tapi karena biaya untuk mondok di pesantren El-Qolam yang cukup tinggi, Zoya menyuruh adik-adiknya untuk menunggu beberapa tahun lagi sampai tabungan Zoya telah cukup. Adik-adiknya pun mengerti dan cukup girang dengan apa yang Zoya katakan.
Di dalam kelas, Zoya yang sedang sibuk memeriksa tugas para santri di jam istirahat tiba-tiba didekati oleh santri wanita yang berdiri dihadapannya. Zoya pun kaget dengan kehadiran santri yang diketahui bernama Bilqis itu. Dengan tersenyum Zoya pun bertanya kepada Bilqis.
"Ada apa Bilqis, kenapa tiba-tiba berdiri di depan ustadzah?" tanya Zoya.
Bilqis pun tampak tersipu malu dihadapan Zoya. Ia tampak salah tingkah sambil memainkan jilbabnya.
"Ustadzah, bagaimana bisa cantik seperti ustadzah?" tanya Bilqis dengan polosnya.
Zoya yang mendengar pertanyaan Bilqis pun sontak tertawa. Ia tidak menyangka Bilqis akan bertanya dengan pertanyaan yang sangat random.
"Bilqis.. semua wanita itu cantik, kamu juga cantik kok," jawab Zoya.
"Ta-ta-pi Bilqis tidak secantik ustadzah zoya, Bilqis mau bisa cantik seperti ustadzah," ucap Bilqis dengan nada polos.
Zoya pun tampak menarik nafas panjang sebelum menjelaskan kepada Bilqis.
"Bilqis, semua wanita itu cantik dimata Allah, yang membedakan adalah hatinya, cantik wajah itu bisa memudar, tapi cantik hati tidak akan memudar sampai kapan pun, makanya yang terpenting dalam hidup, kita harus mempercantik hati. Bagaimana kita mempercantik hati? yaitu dengan menjadi orang baik dan selalu rajin beribadah kepada Allah SWT," ujar Zoya mencoba menjelaskan kepada Bilqis.
Bilqis pun tampak tersenyum mendengar penjelasan Zoya.
"Oh begitu ya ustadzah...kalau begitu Bilqis akan mempercantik hati lebih getol lagi biar bisa seperti ustadzah Zoya," ucap Bilqis sambil tersenyum.
"Tapi harus kamu ingat juga, bahwa kecantikan hati itu bisa memancarkan aura pada diri kita. Jadi sebelum mempercantik wajah, yang paling penting adalah mempercantik hati dulu, karena kecantikan wajah tidak selalu menarik, tapi kecantikan hati pasti selalu menarik," jelas Zoya.
"Terimakasih banyak ustadzah atas wejangannya," jawab Bilqis sambil tersenyum.
Zoya pun tersenyum sambil mengangguk kepada Bilqis. Tak lama jam masuk pun berbunyi. Bilqis pun kembali ketempat duduknya. Zoya pun kembali melanjutkan pekerjaannya kembali.
Sore itu menjelang ashar, Zoya yang sedang berpuasa sunah senin-kamis tampak berjalan menuju gerbang pesantren. Ia berniat membeli makanan untuk berbuka puasa. Ia pun mencoba menyebrang untuk membeli makanan yang berada disebrang pondok. Karena lalu lintas yang begitu padat Zoya menunggu untuk bisa menyebrang. Tiba-tiba seseorang nenek tua yang ingin menyebrang juga tampak tersenggol oleh sepeda motor yang tengah melaju kencang. Sontak orang-orang pun berusaha monolong tak terkecuali Zoya, Nenek tua itu tampak pingsan dan darah segar tampak mengucur deras di kening dan lengannya. Zoya yang berusaha memberhentikan mobil untuk berusaha meminta bantuan membawa nenek itu ke rumah sakit tampak kebingungan karena tidak ada mobil yang mau berhenti. Lalu tiba-tiba sebuah mobil yang akan belok kearah pesantren tampak berhenti dan pengemudinya pun turun, dia adalah Hakim anak Kyai Abu, Zoya pun tampak kaget. Hakim yang melihat Zoya sedang kebingungan itu mencoba menyuruh orang-orang untuk membopong Nenek tua itu masuk ke mobilnya, dan Hakim menyuruh Zoya untuk ikut masuk ke mobil bersamanya menuju kerumah sakit.
Dalam perjalanan kerumah sakit, Zoya tampak begitu gugup dan kebingungan. Hakim yang tengah menyetir pun mencoba menenangkan Zoya. Ia menyuruh Zoya untuk relax dan jangan panik. Hakim lantas bertanya tentang kronologi kejadian kecelakaan itu. Zoya pun mencoba menjelaskannya kepada Hakim dengan jantung yang berdebar tak menentu. Dengan terbata-bata Zoya mencoba menjelaskan kepada Hakim. Hakim pun tanpa mengangguk seraya mengerti yang Zoya jelaskan. Sepanjang perjalanan kerumah sakit Zoya tampak terus memegangi nenek tua itu yang masih belum sadar. Zoya yang tidak mengenal nenek tua itu merasa sangat kasihan melihatnya. Zoya berharap nenek tua itu tidak apa-apa. Hakim pun tampak memperhatikan Zoya. Ia pun bertanya tentang identitas Nenek tua itu.
"Hey ukhti, apakah kamu mengenal Nenek ini?" tanya Hakim kepada Zoya.
Zoya yang tampak bingung pun menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak mengenalnya, tapi tadi pak sekuriti bilang nenek itu tinggal tidak jauh dari pondok pesantren," ujar Zoya.
"Oke baiklah, biar nanti saya menghubungi Bapak sekuriti untuk mencari tahu kediaman nenek ini. Tapi saya sangat berterimakasih karena kamu bersedia membantu nenek ini" ucap Hakim seraya kagum kepada Zoya.
Zoya pun tampak hanya terdiam mendengar apa yang Hakim katakan. Zoya masih tidak percaya ia bisa satu mobil dengan Hakim. Bau parfum khas Hakim memenuhi seisi mobil. Zoya bahkan hampir lupa bahwa ia sedang berpuasa dan ia bahkan tidak mempunyai apa-apa untuk disantap ketika berbuka. Zoya berharap sesampainya dirumah sakit ia bisa mencari makanan disana. Mobil merci yang membawa mereka kerumah sakit pun melaju dengan kencang. Dan tak lama mereka pun sampai dirumah sakit dan membawa Nenek itu ke ruangan UGD. Perawat pun segera menangani nenek itu. Hakim tampak sedang menghubungi sekuriti yang bekerja di pesantren miliknya, ia mencoba mencari tahu identitas Nenek itu, setelah mengetahui bahwa keluarga si Nenek sedang dalam perjalanan kerumah sakit, Hakim pun sedikit lega dan mencoba memberi tahu Zoya, ia pun berjalan menghampiri Zoya.
"Hey ukhti. keluarga si Nenek sedang menuju kerumah sakit, tadi saya telah diberi tahu oleh pak sekuriti," ucap Hakim kepada Zoya.
"Alhamdulilah kalau begitu," jawab Zoya tampak lega.
Lalu perawat yang menangani Nenek pun datang menghampiri mereka berdua, dan mengatakan kepada mereka bahwa Nenek tidak mengalami luka dalam, hanya luka dikening dan lengan karena terkena benturan batu, dan nampaknya si nenek sangat shock hingga tak sadarkan diri. Dan perawat mengatakan Nenek sudah sadar dan mengatakan ingin bertemu dengan Zoya dan Hakim, orang yang telah monolong nya. Dan Zoya dan Hakim pun menuju kamar tempat Nenek berbaring. Disana ia mendapati nenek yang telah diperban di kepala dan lengannya. Nenek mengucapkan terimakasih kepada Zoya dan Hakim, Nenek pun tampak terharu.
"Terimakasih ya nak, kalian telah menyelamatkan Nenek," ujar Nenek kepada Zoya dan Hakim.
"Sama-sama Nek, semoga Nenek lekas membaik ya..." jawab Hakim sambil tersenyum kepada nenek.
Zoya pun ikut tersenyum sambil mengangguk kepada Nenek.
"Apakah kalian suami istri? kalian nampak sangat serasi," gurau Nenek itu kepada Zoya dan Hakim.
Zoya dan Hakim pun nampak terkejut, mereka nampak saling pandang dan tersenyum malu.
"Bu-bu-kann nek, tadi saya sedang mencari makanan, dan melihat Nenek di serempet oleh motor yang melaju kencang, kemudian saya dibantu oleh Bapak ini mencoba membawa Nenek kerumah sakit," jawab Zoya seraya menjelaskan kepada Nenek.
"Terimakasih nak, kamu bukan saja memiliki kecantikan paras, tapi juga kecantikan hati," ujar Nenek sambil menatapi wajah Zoya.
Zoya pun tampak tersenyum dan berterimakasih kepada Nenek. Hakim yang ikut memandangi Zoya nampak ikut tersenyum-senyum.
"Jadi kalian saling mengenal?" tanya nenek itu lagi.
"Iya Nek, kita teman satu kerja" jawab Hakim sambil tersenyum.
"Wah sayang sekali padahal kalian begitu serasi, yang satu cantik yang satu ganteng, dan kalian sama-sama orang baik. Nenek doakan kalian berjodoh" ujar Nenek sambil tersenyum.
Zoya dan Hakim pun nampak serentak terkejut. Pipi Zoya terlihat memerah mendengar pernyataan Nenek. Hakim yang tidak berhenti tersenyum pun hanya memandangi Zoya yang tengah tersipu malu. Tiba-tiba keluarga Nenek pun datang, mereka tampak histeris melihat nenek yang tengah terbaring itu, mereka pun kelihatan panik, Hakim pun lekas menenangkan mereka dan mengatakan bahwa kondisi Nenek tidak apa-apa. Hanya luka goresan dan tidak ada luka dalam. Mendengar itu mereka pun tampak sedikit lega. Nenek pun mencoba mengenalkan Zoya dan Hakim yang telah monolong Nenek kepada keluarganya. Keluarga Nenek tampak berterimakasih kepada mereka karena telah menyelamatkan Nenek. Zoya dan Hakim pun mengatakan mereka senang bisa membantu Nenek, dan mereka juga senang Nenek tidak mengalami luka serius. Hakim pun berpamitan pulang kepada mereka. Ia mengajak Zoya untuk pulang bersama. Zoya yang tidak punya pilihan lain pun akhirnya menuruti ajakan Hakim, kemudian setelah mereka berpamitan dengan Nenek dan keluarganya, merekapun keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju parkiran. Zoya yang nampak canggung mencoba berjalan dibelakang Hakim. Hakim pun melihatnya dengan tersenyum. Tiba-tiba adzan magrib pun berkumandang. Zoya yang sedang berpuasa pun tampak menghentikan langkahnya. Ia pun mengatakan kepada Hakim untuk membeli minuman sebentar.
"Ma-aaf pak...saya mau ijin sebentar mau beli minuman di kantin rumah sakit," ujar Zoya dengan agak terbata-bata.
"Oh biar saya saja yang belikan, kamu tunggu sini," ucap Hakim sambil tersenyum melangkah pergi.
Zoya belum sempat berkata apa-apa, Hakim sudah dengan cepat tampak berjalan menuju kantin. Ia merasa tidak enak melihat Hakim harus membelikan minuman untuknya. Zoya pun hanya bisa berdiri kebingungan. Dan tak lama Hakim pun datang membawa minuman ditangannya dan memberikan minuman itu kepada Zoya. Zoya dengan canggung menerima minuman itu dan mengucapkan terimakasih. Zoya pun mencoba duduk dan berdoa sebelum meminum minumannya. Hakim pun tersadar bahwa Zoya tengah berpuasa.
"Ukhti, apakah kamu sedang berpuasa?" tanya Hakim dengan penasaran.
Zoya pun tampak kaget dan menggangguk dengan tersipu malu. Hakim pun tersenyum dan lekas mengajak Zoya untuk mencari masjid terdekat.
"Yasudah, mari kita ke masjid dulu untuk shalat magrib, di samping rumah sakit ini ada masjid," ajar Hakim.
Zoya pun menuruti Hakim, dan lekas beranjak untuk berjalan ke masjid. Selang beberapa saat merekapun selesai shalat di masjid dan menuju ke parkiran untuk pulang. Di dalam mobil Zoya kembali terlihat canggung.
"Bagaimana kalau kita berhenti dulu nutuk mencari rumah makan agar kamu bisa berbuka puasa," tanya Hakim kepada Zoya.
"Mmmm tidak usah pak, kita pulang saja, nanti tidak enak kalau ada yang melihat kita sedang berduaan," jawab Zoya dengan sedikit gugup.
Hakim pun mencoba mengerti kemauan Zoya.
"Baiklah, kita beli makanan saja untuk kamu makan nanti kalau sudah kembali kepondok," ujar Hakim sambil melajukan mobilnya.
"Tidak usah, biar saya nanti beli sendiri di depan pesantren, disana banyak rumah makan," ujar Zoya.
Hakim pun nampak tersenyum kepada Zoya. Ia tiba-tiba membelokkan mobilnya disebuah rumah makan.
"Ukhti mau makan apa? biar saya yang turun kamu tunggu di mobil ya," ujar Hakim kupada Zoya.
"Oh apa saja Pak, terserah Bapak," jawan Zoya dengan terbata-bata.
Hakim pun mengangguk sambil tersenyum dan lekas berjalan memasuki rumah makan. Zoya yang jantungnya berdegup kencang tak karuan itu mencoba menghela nafasnya dengan panjang. Zoya benar-benar tidak menyangka Hakim adalah laki-laki yang baik sekali, dibalik perawakannya yang tegas itu ternyata ia berhati lembut. Dan tak lama kemudian, Hakim pun kembali dengan membawakan bungkusan makanan utuk Zoya bawa pulang. lalu ia pun kembali menyetir mobilnya. Dalam perjalanan pulang, Hakim mencoba mengatakan kepada Zoya untuk tidak memanggilkan Bapak.
"Panggil saya Hakim saja," ujarnya.
"Ta-ta-pi... Ba-pak adalah pengurus pesantren tempat saya bekerja, saya tidak enak," ucap Zoya.
"Yasudah panggil saya akhi saja," ucap Hakim.
"Tapi saya tetap tidak enak, karena yang lain juga memanggil Bapak," ujar Zoya.
"Baiklah, ukhti boleh memanggil saya Bapak ketika didepan orang-orang, tapi kalau hanya kita berdua panggil saja akhi," jawab Hakim.
Zoya pun tampak mengangguk, ia pun terdiam seraya berpikir, dalam hatinya kapan lagi mereka akan berduaan begini, rasanya tidak mungkin, gumamnya dalam hati. Merekapun hampir sampai di pesantren.
"Pakk..eh akhi, biar saya turun di depan pintu gerbang saja, saya tidak enak jika nanti di dalam banyak yang melihat saya turun dari mobil akhi," ujar Zoya.
"Beneran, tidak apa-apa turun di sini?" tanya Hakim.
Zoya pun mengangguk kepada Hakim, dan Hakim pun memberhentikan mobilnya di depan gerbang masuk pesantren. Zoya turun dan mengucapkan terimakasih kepada Hakim. Hakim pun tersenyum kupada Zoya sambil melajukan mobilnya masuk kedalam pesantren. Zoya pun tampak berjalan kaki masuk ke pesantren dan menuju kamarnya. Ia tampak tersenyum-senyum sambil membawa makanan yang dibelikan Hakim. Sesampainya dikamar ia mendapati Aminah yang merasa keheranan karena Zoya pulang semalam ini. Sambil mencoba menyantap makanan yang dibawa nya, Zoya pun menjelaskan peristiwa kecelakaan tadi kepada Aminah, tapi ia tidak memberi tahu bahwa ia baru saja bersama Hakim.