Ukthi Zoya

1642 Words
Hari itu Hakim tampak sedang berada di ruangan kerjanya. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan mengenai perubahan manajemen baru di pesantren El-Qolam. Hakim yang mencoba fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba teringat tentang Zoya. Sejak pertemuan pertamanya dengan Zoya, Hakim nampak sering kepikiran tentang Zoya. Dan tiba-tiba sesuatu menelisik dipikirannya, ia rasanya ingin tahu tentang background kehidupan Zoya. Hakim lalu menghentikan pekerjaan nya sejenak dan mencoba berdiri dan menuju sebuah rak yang berderet rapi map-map dokumen tentang data seluruh staff yang bekerja di pondok pesantren El-Qolam miliknya. Ia pun mencoba menelusuri map-map itu satu persatu. Dicarinya map yang bertuliskan nama Zoya. Dan akhirnya ia pun menemukannya. Diambilnya map itu dan ditaruhnya di mejanya. Hakim membuka isi map itu dan membacanya dengan seksama. Hakim nampak terpukau membaca profil tentang Zoya. Ia pun sadar bahwa selama ini Zoya mempunyai banyak prestasi sebelum ia mengajar di pesantren El-Qolam. Hakim juga baru mengetahui bahwa Zoya sempat tidak malanjutkan sekolahnya dan harus menempuh ujian paket C untuk bisa mendapatkan ijasah setara Sma. Hakim tampak semakin penasaran dibuatnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu sambil memberi salam, Hakim pun tampak kaget, ia menjawab salam dan mempersilahkan masuk. Ternyata yang datang adalah Ustad Ilham, salah satu pengurus di pondok pesantren El-Qolam yang berperan penting membantu Hakim selama ini. Ustad Ilham dulu adalah teman sekolah Hakim ketika berada di bangku sekolah dasar, dan ketika Hakim melanjutkan sekolah ke mesir, Ustad Ilham melanjutan di pondok pesantren El-Qolam milik ayah Hakim yaitu Kyai Abu Basoir, hingga ia berhasil menamatkan pendidikannya dan diminta mengajar di pesantren El-Qolam oleh Kyai Abu secara langsung. Karena pengabdiannya itu Kyai Abu lalu mengangkat Ustad Ilham sebagai salah satu pengurus dan kepercayaanb di pesantren El-Qolam. Sekembalinya Hakim dari mesir Ustad Ilham lah yang membantu Hakim mempelajari mengenai manajemen dan kepengerusan pondok pesantren El-Qolam. Mereka tampak terlihat akrab layaknya teman sebaya. Ustad Ilham tiba-tiba tertuju pada map bertulisan Zoya Arafah yang berada di atas meja Hakim. "Akhi, kenapa ada map dokumen dengan nama Zoya Arafah di atas meja akhi," tanya Ustad ilham penasaran. Hakim yang nampak terkejut pun mencoba mencari-cari alasan. "oh i-i-tu tadi saya sedang membereskan rak yang berisi dokumen-dokumen staff," ujar Hakim nampak gurup. Ustad ilham pun tampak mengernyitkan keningnya. "Ngomong-ngomong akhi sudah kenal dengan ukhti Zoya belum? dia sangat terkenal sebagai Qori terbaik dikota ini," ucap Ustad Ilham. Hakim yang nampak gugup pun mencoba menjawab dengan singkat pertanyaan Ustad Ilham. "I-i-ya saya sudah tahu," usar Hakim. "Dan yang lebih menariknya lagi, Ukhti Zoya adalah salah satu Ustadzah Favorite di pesantren ini," ujar Ustad Ilham. "Kenapa begitu?" tanya Hakim penasaran. "Karena selain parasnya yang cantik rupawan, Ustadzah Zoya sangat cekatan memberikan pembelajaran kepada para santri, metode yang ia gunakan sangat mudah diterima oleh para santri dengan baik," jelas Ustad Ilham dengan bersemangat. Hakim yang mendengar penjelasan Ustad Ilham pun nampak mengangguk-angguk, ia semakin bertambah kagum dengan Zoya. Banyak sekali kejutan-kejutan tentang Zoya yang membuat ia terkagum-kagum dibuatnya. Hakim pun tampak tersenyum-senyum. Tiba-tiba Ustad Ilham mencolek lengan Hakim yang nampak sedang tersenyum senyum sendiri. "Heh akhi, kok malah senyum-senyum begitu? akhi terpukau kah dengan ukhti Zoya?" ucap Ustad Ilham seraya meledek Hakim. Hakim yang mendengar Ustad Ilham meledeknya nampak tertawa dibuatnya. Ia pun mencoba mengalihkan pembicaraan dan meminta Ustad Iham untuk mengganti topik obrolan mereka. Merekapun akhirnya melanjutkan diskusi mereka dengan topik yang berbeda, mereka tengah membicaran mengenai acara pelepasan santri yang telah menamatkan belajarnya di pondok pesantren El-Qolam. Sudah beberapa hari ini pesantren dibuat sibuk menyiapkan acara yang akan di adakan dua minggu lagi. Para pengurus tampak sibuk membentuk panitia, mereka sudah beberapa kali mengadakan rapat guna menyiapkan acara agar berlangsung dengan lancar. Para pengurus dan staff pengajar juga di libatkan dalam kepanitiaan. Ustad ilham pun memberikan daftar pengisi acara pelepasan santri yang sudah dibuat. Hakim pun tampak sedang membacanya. tiba-tiba ia tampak mengernyitkan keningnya. Ia sedikit terheran dengan pengisi acara yang beberapa masih kosong. "Ini Qori dan pembaca shalawat kok belum ada yang ditugaskan?" tanya Hakim. "Nah itu yang mau saya bahas disini," jawab Ustad Ilham. "Jadi apakah akhi punya kandidat?' tanya Hakim lagi. Ustad Ilham pun nampak tersenyum kepada Hakim. "Kebetulan kita barusan sedang membicarakn orangnya. Dia sangat pantas untuk menjadi Qori," jawab Ustad Ilham dengan tersenyum sumringah. "Ohhh maksudmu Ustadzah Zoya? kalau begitu saya setuju sekali, nanti akhi coba beritahu dia ya," ucap Hakim tampak bersemangat. "Siapp komandan!" ledek Ustad Ilham kapad Hakim. Hakim pun dibuat tertawa oleh tingkah Ustad Ilham. Merekapun melanjutkan obrolan mereka mengenai acara pelepasan santri di pondok pesantren El-Qolam. Acara pelepasan santri pun tinggal menghitung hari. Hari itu pesantren tampak sibuk sekali. Panitia acara pelepasan santri tampak tengah menyiapkan segala sesuatunya. Seluruh panitia sedang menata panggung yang berada di dalam aula pesantren. Para panitia yang terlibat juga tengah melakukan gladi resik, dan tampak diantaranya Zoya yang terlihat sangat bersemangat, ini pertama kalinya ia ikut berpartisipasi di kegiatan pesantren. Ditengah kesibukkan panitia, tiba-tiba Hakim pun datang. Seluruh panitia sontak sedkit menjadi gugup, tak terkecuali Zoya. ia kembali dibuat berdegup kencang dengan kedatangan Hakim. Hakim yang tersadar Zoya ada di antara para panitia, tampak memandangi Zoya dengan tersenyum. Hakim pun mencoba menyapa semua panitia dan memberikan semangat kepada mereka semua. Hakim yang terlihat cukup ramah itu mencoba menyemangati mereka untuk tidak gugup. Sambil duduk di Depan panggung, Hakim pun memperhatikan gladi resik yang sedang dilakukan, pandangan Hakim pun selalu tertuju kepada Zoya. ia terus memperhatikan Zoya dari kejauhan, rasanya ia ingin sekali menyapa Zoya, tapi ia tersadar ini bukan waktu yang tepat. Ia harus menjaga kredibilitasnya sebagai pengurus pesantren. Ia pun hanya bisa memandangi Zoya dari kejauhan. Dalam hati ia tidak tahu kenapa ia selalu dibuat penasaran oleh Zoya. Ia bertanya-tanya rasa apa yang sedang ia alami. Setiap melihat paras Zoya, rasanya hatinya berdebar kencang, ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Zoya yang tersadar Hakim tengah memperhatikannya, nampak salah tingkah dibuatnya. Hakim pun nampak tersenyum-senyum melihatnya. Tiba-tiba Ustad Ilham pun datang menghampiri Hakim, ia pun menyapa Hakim yang sedang tersenyum sendiri itu. "Assalamualaikum akhi," sapa Hakim seraya mengagetkan. Hakim yang sedang duduk di depan panggung pun nampak terkejut. "Walaikumsalam. Astagfurullah akhi, kenapa datang tiba-tiba seperti jin saja," ujar Hakim sambil memegangi dadanya. Ustad Ilham pun tertawa melihat reaksi kaget Hakim. "Saya tidak datang dengan tiba-tiba, akhi saja yang sedang melamun sambil tersenyum-senyum sendiri," ledek Ustad Ilham. "Astagfirullah, apakah begitu. Maaf tadi saya sedang fokus memperhatikan panitia yang sedang gladi resik," Jawab Hakim sambil tertawa. "Memperhatikan panitia yang mana khi? ledek Ustad Ilham lagi. "Ya semua panitia," jawab Hakim dengan tersenyum. "Masa sihhh? bukannya tadi akhi tengah memandangi panitia yang berjilbab biru itu" ujar Ustad Ilham yang tersenyum geli melihat Hakim yang tengah mencuri-curi pandang kepada Zoya. Merekapun akhirnya tampak tertawa bersama. Hakim seolah membenarkan perkataan Ustad Ilham, bahwa ia sedang memperhatikan Zoya yang berkerudung biru itu, Hakim seraya tak bisa mengelak. Ustad Ilham pun nampak mengerti bahwa Hakim tengah tertarik kepada Zoya, sudah beberapa kali ia memergoki Hakim tengah memperhatikan Zoya dari kejauhan. Ia pun mengerti yang sedang Hakim rasakan. Ia mencoba meminta Hakim lebih terbuka layaknya kepada teman, Hakim yang masih agak canggung itu akhirnya mencoba terbuka kepada Ustad Ilham. "Rasa tertarik kepada lawan jenis itu hal yang lumrah khi, kita sebagai manusia tidak bisa mengelaknya. Dalam surat Ar Rum ayat 21 dijelaskan: 'Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.' ujar Ustad Ilham memberikan penjelasan. Hakim tampak mendengarkan dengan seksama penjelasan Ustad Ilham. "Tapi saya tidak tahu apakah rasa ini benar adanya jika saya ungkapkan, karena sejatinya saya belum mengenalnya dengan jauh," ujar Hakim. "Ketika kita menyukai seseorang, sebaiknya kita memberi tahu orangnya secara langsung, karena itu adalah bentuk dari sebuah perjuangan, tapi kembali lagi cinta itu ada proses nya khi," ujar Ustad Ilham. "Masha allah khi, kenapa akhi begitu memahami tentang cinta?" tanya Hakim. "Sebelum menikah 6 bulan yang lalu saya juga mengalami gemuruh jatuh cinta dengan wanita yang sekarang sudah menjadi istri saya (alhamduliah), sama yang akhi sedang alami saat ini. Setahun lebih saya meluruskan niat untuk mengkokohkan rasa cinta kepadanya dengan berlika-liku. Ada perbedaan diantara kita yang begitu mendasar yang membuat cinta kita terasa begitu berat," ujar Ustad ilham. Hakim pun semakin tampak penasaran. "Perbedaan superti apa khi?" tanya Hakim. "Iya, kami datang dari background keluarga yang berbeda, ia adalah anak seorang dokter dan saya hanya anak seorang petani. Orang tuanya sampat menentang hubungan kami," jawab Ustad Ilham. "Lantas bagaimana sekarang ia bisa menjadi istri akhi?" tanya Hakim lagi. "Prosesnya begitu panjang. Tapi saya selalu meluruskan niat bahwasanya segala sesuatu jika diniatkan karena Allah Swt, insha allah akan berbuah ibadah. Saya selalu mengkokohkan rasa cinta saya dengan doa dan saya selalu berusaha menjaga kesucian cinta itu sendiri. Hingga akhirnya perjuangan dan doa yang tak pernah lelah lah yang membuat orang tuanya luluh dan cinta kami lah yang menang," ujar Ustad Ilham dengan tersenyum. Hakim yang dari tadi mendengarkan Ustad Ilham dengan seksama pun tampak mengangguk-angguk. Ia tampak mengerti bahwa segala sesuatunya harus dimulai dengan niat karena Allah Swt. Ia merasa perjalanannya pun masih panjang untuk mulai berjuang. Ustad Ilham pun nampak memberikan semangat kepada Hakim, dan Hakim pun berterimakasih atas semua wejangan yang telah diberikan kepadanya. "Sekarang akhi coba untuk memahami rasa hati akhi dulu, kenali ia lebih jauh. Dan apakah nanti rasa itu semakin bertambah tau malah sebaliknya. Karena sejatinya, ta'aruf sendiri itu harus jelas untuk apa tujuannya dan bagaimana orangnya. Proses untuk menemukan kecocokan satu sama lain harus di dampingi pihak ketiga agar tidak menjadi fitnah, saya bisa membantu akhi kapan saja jika akhi membutuhkan," ujar Ustad Ilham. "Masha Allah, terimakasih banyak khi, saya akan mencoba memantapkan hati dulu, mencari tahu makna rasa ini kepadanya. Saya akan beritahu akhi kelanjutanya nanti," Jawab Hakim dengan bersemangat. Ustad Ilham pun tampak menggangguk sambil tersenyum. Dan tak lama merekapun meninggalkan aula pesantren karena harus menyelesaikan pekerjaan lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD