Chapter 5

1025 Words
“Semoga dia tidak membuat kamu berubah.” ©©© Sinar matahari mulai naik di sebelah Timur menembus jendela, cahayanya mulai menyentuh wajah seorang gadis yang tertidur belum lama. Matanya mengerjap dengan berat karena bengkak yang ditimbulkan. Gadis itu mengusap matanya dengan pelan, kemudian menatap jam di atas nakasnya. Pukul 05.20. Gadis itu mulai mendudukkan diri dan mengerjapkan matanya yang terasa begitu berat, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang belum penuh. Kesedihan kembali terpancar begitu matanya menemukan buket bunga pemberian Renan. Dia masih belum bisa menghubungi Renan sejak semalam. Bahkan matanya tidak bisa terpejam hingga pukul 2 dini hari tadi karena memikirkan laki-laki itu. Alicia hanya merasa bersalah, tidak bisa tenang jika belum berbaikan dengan Renan. Gadis itu mulai beranjak, membersihkan diri dan bersiap menuju ke sekolahnya. Begitu selesai, Alicia langsung keluar dan mengunci pintu rumahnya. “Berangkat sama gue, ya?” Justin menghampiri, laki-laki itu bersikap seolah tidak tahu jika Alicia sempat menangis di danau buatan. “Aku sendiri aja,” tolak gadis itu lembut. Namun, Justin tidak menyerah, dia tetap mengikuti Alicia dari belakang. Memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja selama perjalanan menuju sekolah. Mereka sampai di seberang halte bus, lalu lintas pagi yang lumayan sepi membuat Justin sedikit tenang. Pasalnya, Alicia berjalan begitu pelan dan seperti kehilangan fokus. Namun, begitu hampir sampai di depan halte, ada sesosok anak SD yang menaiki sepedanya dengan sedikit kencang. Justin yang melihat itu segera bergerak, berusaha meraih tangan Alicia. Sayangnya, anak itu terlanjur menyerempet. “Alicia!” “Argh!” Justin segera berjongkok menolong Alicia. Siku gadis itu kembali berdarah, padahal baru kemarin sikunya terkena luka. “Lic, lo luka,” cemas Justin sambil membatu gadis itu berdiri. Alicia sedikit meringis. “Gak papa, makasih, Just.” “Tapi, sampe sekolah langsung ke UKS, ya? Ini harus dibersihin.” Alicia hanya mengangguk. Tak berselang lama bus datang, mereka pun akhirnya naik dan duduk berjauhan. ©©© Gadis berseragam putih abu-abu yang terlihat baru itu berjalan memasuki lingkungan sekolah. Rambutnya yang tergerai lurus dengan senyum di wajahnya berhasil menyita perhatian beberapa siswa yang berpapasan. Dia Citra, gadis semalam yang Renan antarkan pulang. Dia kebingungan mencari ruang kepala sekolah. Seperti mendapatkan kartu keberuntungan, gadis itu menemukan Renan yang sedang melintas tidak jauh di depannya. Tanpa pikir panjang, Citra berlari mendekati Renan. “Renan!” Si pemilik nama segera berbalik. Alisnya hampir menyatu begitu mendapati gadis yang semalam dia temui berdiri di sana dengan seragam yang sama seperti dirinya. “Lo anak sini?” Renan bertanya demikian karena menurutnya dia tidak pernah melihat wajah Citra. Citra mengangguk dengan semangat. “Iya!” “Kok gue gak pernah ketemu lo?” “Gue murid baru. Ini lagi bingung nyari ruang kepsek.” Renan mengangguk paham. Laki-laki itu kemudian berbalik meninggalkan Citra. Si gadis yang ditinggal segera menyusul langkah Renan, dia meraih bagian belakang tas yang Renan bawa dengan gerakan cepat. “Anterin nyari ruang kepsek!” Renan mendengus. Dia melirik sekitar yang cukup ramai dan beberapa ada yang memperhatikan dirinya. “Lepas, ayo gue anter!” Citra tersenyum puas. Gadis itu segera melepas tas Renan dan segera menyejajarkan diri di sebelah laki-laki itu. ©©© Alicia memasuki kelas bersamaan dengan Justin yang mengantarkan dirinya. Sebenarnya, setelah dari UKS tadi Alicia sudah melarang Justin mengantarkan dirinya, namun laki-laki itu bersikeras mengantarkan Alicia. Jadilah, dirinya sampai di kelas diikuti oleh Justin. Jessica yang melihat Alicia memasuki kelas langsung heboh sendiri. Gadis itu segera meraih si sahabat. “Lo semaleman ke mana aja?! Gue telpon-telpon nggak lo angkat, bikin khawatir!” Alicia terkekeh kecil. Dia ikut meraih wajah Jessica dengan sedikit gemas. “Gue asik nonton drakor, Jessica!” “Pantesan muka lo sembab banget.” Senyum tipis kembali Alicia berikan. Kemudian dia berbalik menatap Justin yang masih berdiri di belakangnya. “Makasih, ya? Udah ada Jessica sekarang.” “Gue ke kelas kalau gitu.” Setelah kepergian Justin, Alicia dan Jessica memilih duduk. Jessica kembali melanjutkan tugas menyalinnya, sedangkan Alicia memilih menelungkupkan kepalanya. Dia masih mengantuk, matanya masih terasa berat. "Selamat pagi anak-anak.” Wali kelas mereka memasuki kelas bersamaan dengan Citra. Sedangkan Renan langsung mendudukkan dirinya di bangku sebelah Alicia. "Pagi ini kita kedatangan teman baru, sebenernya ada 2 orang, tetapi yang satu belum datang dari London." Sorak heboh mulai terdengar dari teman-temannya sekelasnya. "Silahkan perkenalkan diri kamu.” Citra mengangguk, dengan begitu pede dia berdiri di depan dan memperkenalkan dirinya. "Nama saya Citra Anastasya Herdn. Gue pindah dari London karena ikut ortu. Maaf seharusnya gue sama kakak kembar gue, tapi kakak gue masih di sana ngurus kepindahannya. Terima kasih." "Ada yang mau ditanyakan?" tanya Bu Nia setelah Citra selesai memperkenalkan dirinya. Beberapa anak-anak langsung heboh, terutama para anak laki-laki. “Udah punya pacar belum?” “No hp dong buat dimasukin grup!” “Id line dong, Cit!” “Kembaran lo cewek apa cowok, Cit?!” "Sudah-sudah! Itu bisa kalian tanyakan nanti, dan kamu Citra, silahkan duduk di bangku yang kosong ya!" “Maaf, Bu, boleh saya duduk dengan Renan?" Terlalu berani, bukan? Alicia yang tadinya tidak peduli, langsung menegakkan tubuhnya. Kepalanya refleks menatap Renan yang kini juga menatapnya. “Gila tu cewek baru, ada pacarnya berani bilang gitu!” “Iya, kalo gini mah nikung terang-terangan, Hen!” Bisikan dari Max dan Hendra membuat hati Alicia yang kacau semakin cemas. Apalagi, Renan yang hanya diam menatapnya tanpa ekspresi. Seolah laki-laki itu mengatakan jika ada gadis lain yang menyukai dirinya. "Sabar, Lic," ucap Jessica sambil mengusap punggung Alicia. “Maaf, Citra. Peraturan sekolah tidak mengizinkan siswa dan siswi duduk satu meja. Sebaiknya kamu duduk di meja yang ada.” “Yah... kalo gitu di tempat yang cewek itu juga gak apa-apa, Bu!” Citra masih bernego. Namun, seperti bukan rahasia lagi hubungan Renan dan Alicia, Bu Nia langsung tersenyum canggung. Berbeda dengan Citra, Alicia justru mematung, pandangannya lurus tepat di mata gadis yang baru ditemuinya. Di pertemuan pertama, Alicia seolah sudah mengibarkan bendera perang dengan gadis itu. Apalagi, gadis itu berusaha mendekati pacarnya. “Lo gak malu?” Renan angkat bicara. “Meja kosong jelas ada, kenapa juga harus ngusik meja orang lain? Lagian, meja ini khusus buat dia. Pacar gue.” Alicia terkejut dengan ucapan Renan. Dia sangat berani walaupun di hadapannya Bu Nia. Dia tetap saja mengakuinya sebagai pacarnya. Rasa sedih dan khawatirnya menguap begitu saja karena tindakan Renan. Semoga saja setelah ini Renan mau mendengarkan dirinya. “Kamu dengar sendiri, 'kan, Citra? Jadi, duduklah di tempat yang sudah saya tentukan!" ©©©
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD