Chapter 4

1216 Words
“Siapa yang tidak akan cemburu jika melihat pacarnya memeluk orang yang kita benci?” ©©© Renan mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Dia tidak peduli teriakan dari beberapa orang yang hampir ia tabrak. Dia kecewa, marah, cemburu, dan juga merasa bersalah kepada Alicia. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu hingga pikirannya tidak lagi fokus. Kejadian tadi masih terngiang-ngiang. Bagaimana dia melihat Alicia memeluk Justin, hingga dia membentak dan melemparkan buket bunga kepada Alicia. Hatinya masih berkecamuk antara marah dan khawatir pula. Ingin rasanya Renan kembali ke rumah Alicia untuk mendengar penjelasannya, tapi ego dan amarah Renan lebih besar daripada rasa ingin tahunya. Renan terlalu melamun hingga tak menyadari jika di depan lampu pengendara motor dan mobil telah berwarna merah dan lampu pejalan kaki menunjukkan warna hijau. Di depannya kurang lebih 100 meter seorang gadis mengenakan kaos pink dan celana jeans dengan rambut dikuncir kuda sedang menyeberang. Gadis itu pun tidak sengaja mengalihkan pandangannya dan melihat ke samping kanannya. Dia melihat seorang laki-laki mengendarai motornya dengan kecepatan penuh dan... "Aaa...!" Gadis itu berteriak histeris. Kakinya seolah lemas tidak bisa digunakan untuk berlari. Kedua tangannya menutup wajah karena silau lampu motor milik Renan yang menyorot membuat pedas mata si gadis. Renan yang tersadar dari lamunnya segera mengerem motornya dengan sekuat tenaga. Hatinya benar-benar cemas kalau-kalau dirinya benar-benar menabrak gadis itu. d**a Renan bergemuruh hebat, dia tidak menyangka jika melamun membuatnya dalam bahaya. Cittt.... Citt.... Ban dan kampas rem Renan beradu dengan aspal. Hanyaa beberapa meter lagi motornya akan sukses menabrak gadis itu. Namun, Renan tidak menyerah, laki-laki itu berusaha mengarahkan stir motornya ke arah lain. Citttt! Motor Renan berhasil berhenti. Napasnya memburu dengan jantung berdegup hampir copot. Wajahnya pucat dengan keringat menetes di pelipis. Renan mencoba menoleh, menatap gadis yang baru saja hampir tertabrak olehnya. Ternyata, gadis itu tergeletak di aspal. Dengan cepat Renan turun dari motornya dan melihat keadaan sang gadis. Napas Renan melega begitu sadar tidak ada luka parah di tubuh si gadis. Dia segera meraih tubuh gadis itu dan menidurkannya di trotoar jalan. Setelah itu, Renan memilih berdiri untuk menepikan motornya sebelum dia kembali mengecek keadaan si gadis. Renan mencoba menepuk pipi gadis tadi untuk menyadarkannya, tapi tidak ada respons dan juga pergerakan. Di tatapnya kanan dan kiri jalan guna mencari bantuan, namun tetap tidak ada satupun orang yang melintas dan dapat membantu dirinya. Menghela napas lelah Renan berlutut dengan posisi duduk menghadap gadis tadi. Antara yakin dan tidak, namun sepertinya CPR adalah hal yang paling tepat. Tangan kanannya telah memegang hidung si gadis di depannya ini. Matanya memejam ngeri karena harus memberikan CPR kepada si gadis. Bugh. “Akh!” Tubuh Renan terjungkal. Gadis itu mendorongnya dengan kuat sebelum Renan melakukan tindakan apa pun. “Siapa lo, hah?! Kurang ajar banget ambil kesempatan dalam kesempitan, heh?!” Renan meringis. Laki-laki itu menatap sengit pada si gadis berkucir kuda. “Gue cuma mau bikin lo bangun, gue takut lo meninggal!” "Maaf, gue gak tahu." Gadis itu meminta maaf. Namun, wajahnya tetap menunjukan kekesalan abadi kepada Renan. "Tapi tetep aja lo salah karena hampir nyuri first kiss gue!" lanjutnya. "Lo pikir gue mau apa sama lo? Kalo bukan gara-gara gue hampir nabrak lo, gue ogah nolongin lo!” Renan tidak kalah kesal. Niatnya benar-benar tulus ingin menolong, bukan modus seperti yang dibicarakan. "Hehehe, oke deh kita damai!” Akhirnya, gadis di depannya mengalah. Tangannya menjulur mendekati Renan. “Nama gue Citra Anastasya Herdn, lo bisa panggil gue Citra dan lo harus anterin gue pulang kaki gue lemes." Meski kesal, Renan tetap menyambut uluran tangan si gadis. Dia sebenarnya tidak suka, namun demi tanggung jawab, Renan akhirnya menyetujui. “Hmm... nama gue Renan." Setelah itu, Renan memilih berdiri dan berjalan mendekati motornya. Meninggalkan Citra yang masih duduk diam memperhatikan dirinya yang kini sudah duduk di atas motor kesayangannya. “Buruan naik, mau gue anter gak?" tanya Renan. Agak kesal karena Citra justru terbengong dan tidak segera melakukan pergerakan. Tanpa basa basi Citra langsung naik ke motor Renan dan memeluk Renan dari belakang. Sebenarnya, dia ingin menolak, namun karena mengingat gadis itu hampir celaka karenanya, Renan memilih diam. Mungkin Citra masih syok, bisa-bisa gadis itu terjatuh jika tidak memeluk dirinya. "Rumah lo di mana?" Renan bertanya sambil menyalakan mesin motornya. "Jalan aja dulu nanti gue arahin." Citra menjawab pertanyaan Renan dengan lembut. Sepertinya dia mulai menyukai laki-laki di depannya ini. Parfum Renan memanjakan hidungnya dan membuatnya mabuk, belum lagi dinginnya malam membuat Citra merapatkan pelukannya. ©©© Di sisi lain, Alicia duduk diam di atas ayunan. Gadis itu membiarkan angin malam menusuk kulit putihnya dengan bebas. Matanya menatap sendu pada buket bunga di pangkuannya. Setelah kepulangan Justin, Alicia memang memilih untuk ke mari. Ke danau buatan di dekat perumahan. Menumpahkan kesedihan di danau ini telah menjadi rutinitasnya. “Kamu gak cantik lagi.” Alicia mengelus kelopak salah satu mawar yang tinggal beberapa biji. “Maafin Renan yang banting kamu sembarangan, ya? Dia baik kok sebenernya.” Alicia menarik napasnya. Dia kembali mengelus kelopak mawar itu. Tidak sengaja satu kelopaknya kembali lepas. Karena tidak ingin menyia-nyiakan, Alicia pun akhirnya turun dari ayunan lalu mendekat dan berjongkok di tepi danau. “Kamu bebas, tolong bawa pergi sedihnya aku, ya?” ucap Alicia serak. Gadis itu mendorong-dorong pelan kelopak mawar itu menggunakan air danau. Dingin, namun tidak sedingin sikap Renan ketika marah kepadanya. ©©© Setelah beberapa menit akhirnya Renan telah sampai di depan rumah Citra. Sepanjang jalan benar-benar menjadi perjalanan termembosankan yang Renan lakukan. "Lo mau mampir dulu?" tanya Citra untuk basa basi. "Gak. Gue langsung pulang saja." Renan menolak. Dia segera menghidupkan mesin motornya kembali. "Eh, tunggu." Citra menahan tangan , dia ingin mengatakan sesuatu. Renan hanya menaikan salah satu alisnya sebagai simbol "ada apa?" "Em ... anu eh, ini gu-gue mau minta tuker nomor hp atau id line mungkin?" Citra merutuki dirinya yang tiba-tiba gugup di depan seorang cowok. "Oh... Renan_alc." Tanpa menunggu jawaban lagi, Renan mengegas motornya meninggalkan Citra yang kini memandangi dirinya bahkan hingga bayangan Renan menghilang di tikungan. ©©© “Gue gak tahu apa yang lo lihat dari Renan, Lic,” gumam Justin dengan tatapan lurus tepat pada si gadis yang sedang berjongkok di tepi danau. Justin menghela napasnya dengan berat. Kenapa sih Alicia harus mengenal Renan? Padahal dia lebih baik daripada laki-laki itu. Dia sayang Alicia, tidak pernah kasar dengan Alicia, selalu bisa membuat Alicia tersenyum, dan yang jelas dia tidak cemburuan. Drt Drt Drt. Ponsel Justin bergetar cukup lama menandakan ada telepon dari entah siapa. Dengan malas Justin mengambil ponselnya dari saku celana dan menggeser tombol hijau tanpa menatap namanya. “Halo?” Justin bersuara pelan. “Justin!” Justin langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Siapa sih yang meneleponnya? Tidak sopan sekali berteriak seperti itu! Laki-laki itu kembali mendekatkan ponselnya ke telinga dengan ekspresi sedikit kesal. “Ngapain?” Terdengar suara cekikikan dari seberang sana. “Alicia mana? Dia susah dihubungi.” “Lo pikir gue emaknya?” tanya Justin dengan nada sedikit tinggi. Dia sengaja karena ingin balas dendam. “Justin! Jessica yang cantik ini tanya sama lo dengan baik-baik.” “Baik-baik? Huek!” Bukannya marah, Jessica justru tertawa renyah. “Serius deh, ini Alicia ke mana?” tanya Jessica lagi membuat Justin terpaksa berbohong demi sang gadis yang pasti tidak ingin bila Jessica tahu dirinya terluka. “Gak tahu. Gue gak tahu.” Setelah berkata seperti itu, Justin mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Dia tidak sanggup bila harus berbohong terlalu banyak.   ©©©
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD