Chapter 3

799 Words
"Selain melihat dan mendengar, seharusnya juga bertanya tentang apa yang terjadi. ©©© Renan bersiap-siap untuk ke rumah Alicia, dia berniat menemani Alicia yang sendirian di rumahnya karena Renan tahu hari ini jadwal ibunya menjenguk si calon kakak ipar. Dia telah siap untuk berangkat. Setelah memakai helmnya dia menancap gasnya dengan kecepatan rata-rata. Di tengah perjalanan dia melihat toko bunga. Dan dia teringat Alicia. Setelah berhasil memarkirkan motornya, Renan memasuki toko bunga dengan melihat sekeliling dan dia menemukan pilihan yang tepat. Bunga mawar berwarna merah muda kesukaan Alicia. "Kak, bunganya ini dibungkusnya yang cantik terus dikasih tambahan bunga Lili ya," pinta Renan kepada penjual bunganya. "Buat pacarnya ya, Kak?" tanya si penjualnya. Caranya bertanya terlihat sekali ingin menggoda Renan. Bukannya menjawab, Renan lebih memilih membuka ponselnya karena sikap si penjual. Laki-laki itu duduk di kursi sambil menyimak grup kelas yang sedang ramai “Kak sudah.” Si penjual kembali dengan satu buket bunganya. “Semuanya tujuh puluh lima ribu, Kak.” ©©© Tok tok tok. Tok tok tok. Tok tok tok. "Alicia ke mana, sih?" Renan menggerutu sambil menelfon Alicia yang sayangnya tidak aktif. Karena tidak sabaran, Renan mencoba memutar handle pintu yang ternyata tidak di kunci. Mulutnya mulai menggerutu karena sikap Alicia yang sangat ceroboh. Bisa-bisanya gadis itu tidak mengunci pintu padahal sedang di rumah sendirian. Apalagi, suasana malam ini yang terasa begitu sepi. Klek. Pintu terbuka, senyum dan gerutuannya terhenti begitu matanya menangkap dua sosok yang sangat dikenalinya. Apa yang dilihat benar-benar berhasil menciptakan emosi dalam jiwa Renan. Baru tadi pagi Alicia berjanji akan menjauhi Justin, tapi sekarang gadis itu justru memeluk laki-laki itu. Mungkin keduanya mendengar suara pintu terbuka, makanya mereka menoleh hingga tatapan tajam Renan tepat menghunus mata Alicia yang tampak terkejut. Gadis itu segera berdiri menghampirinya. Langkahnya terlihat sangat tergesa-gesa. “Re-nan? Kok gak kabarin dulu mau ke sini?” Alicia berusaha tenang. Gadis itu menatap Justin sebentar sebelum akhirnya menatap kembali kepada Renan. “Yang tadi ... itu cuma... cuma salah paham! Kita baru nonton film horor dan aku–“ “Lo pikir gue peduli?” Renan memotong penjelasannya. Dia terlihat geram dengan wajah mengeras sekeras batu. Matanya melotot tajam menatap mata Alicia yang mulai berkaca-kaca. Justin yang menyadari situasi pun ikut berdiri. Wajah babak belurnya dipaksa tampil di depan Renan yang sedang di puncak kemarahan. “Bisa dengerin penjelasan dia dulu, ‘kan?” Niatnya ingin meredakan situasi, namun yang di dapatnya justru bogeman mentah dari tangan Renan. “Anj*g emang lo! Gue bilang jahuin Alicia! Kenapa lo malah peluk dia, heh?!” Justin meringis, mengusap pelan pada susut bibirnya yang kembali mengeluarkan darah. “Makanya dengerin dia jelasin, Sat! Lo punya mata, telinga, sama mulut tuh dipake yang bener!” “Semua bakalan bener kalau dia tepatin janjinya!” Renan menunjuk wajah Alicia. Gadis itu kini menunduk memainkan kedua jari-jari tangannya dengan gugup. “Maaf karena aku salah, Ren. Aku cuma bantu Justin obatin lukanya kok.” “Di rumah lo yang sepi ini cuma berdua? Terus nonton film horor biar apa?!” “Lo juga ke sini niatnya mau berduaan, ‘kan?” "Gak usah ikut campur deh lo!" Renan kembali menatap Justin dan kemudian menoleh kembali menatap Alicia. “Nyesel gue ke sini!” “Ren?” “Gue cabut! Nih, bunga buat lo!” Renan melempar buket bunganya ke lantai dengan begitu kasar. Setelahnya, dia melangkah pergi meninggalkan Alicia yang kini berjongkok memungut bunga dari Renan. Gadis itu segera berlari menyusul Renan yang sudah duduk di atas motornya. “Ren, makasih. Tapi, beneran aku nggak ada niatan lain–“ Brum. Mulut Alicia terbungkam bersamaan dengan motor Renan yang melaju menjauh. Tangannya meremas dengan kencang buket bunga yang Renan berika. Dia sadar ini kesalahannya karena mengingkari janjinya kepada Renan. Namun, menjauh dan berpura-pura tuli saat dijelaskan juga bukan tindakan yang tepat untuk dilakukan laki-laki itu. “Masuk aja yuk? Nggak baik udara dingin buat cewek yang cuma pakai kaos.” Alicia menggeleng, gadis itu menampik pelan tangan Justin yang berusaha membimbingnya. Dia sadar kesalahannya, jadi memang seharusnya dia menuruti perkataan Renan jika benar ingin hidupnya damai. “Lic, kalau lo sakit gimana? Masuk, yuk!” Justin ternyata masih kukuh. Meski wajahnya kebas, dia tetap berusaha membujuk Alicia memasuki rumahnya. Niatnya memang baik, bahkan Alicia sangat senang memiliki sosok Justin di sebelahnya. Namun, sosok itu tidak cocok bagi seorang Renan yang juga berarti untuk dirinya. Alicia tersenyum tipis menatap wajah sang sahabat. Di raihnya dengan lembut sudut bibir Justin yang terkena bogeman dari Renan. “Kamu luka lagi gara-gara aku.” Tubuh Justin menegang seiring usapan tangan Alicia. Laki-laki itu tersenyum kecil menatap wajah sendu sahabatnya. “Gak papa.” “Tapi gue yang kenapa-kenapa, Just.” Alicia mendongak. Gadis itu memantapkan hatinya untuk melakukan ini. Dia harap apa yang dia lakukan adalah yang terbaik. “Mulai hari ini jangan deket-deket lagi, ya? Aku cuma gak mau kena pukul Renan dan Renan juga marah ke aku. Jadi, udah, ya? Jangan deket-deket lagi.” ©©©
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD