"Ada dua cara menyembuhkan luka, obati atau biarkan saja mengering sendiri."
©©©
Suasana UKS begitu hening menemani Renan yang masih sibuk mengobati luka pada siku dan juga telapak tangan kanan milik sang kekasih. Renan kini duduk di atas kursi plastik dan Alicia duduk di atas ranjang UKS. Keduanya hanya diam tanpa berkata apapun karena memang tidak mengerti akan berkata apa.
“Maafin aku, ya?” Renan menatap Alicia.
Alicia mendongak tersenyum tipis menatap laki-laki yang dicintainya. Ya, mungkin ini terlalu lebay untuk anak seusia mereka, terlebih hanya masalah kecil. Jadi, memaafkan tidak salah, bukan?
“Iya, gpp kok. Jangan lagi, ya?”
“Iy-”
Brak.
Suara pintu UKS yang di buka kasar berhasil menghentikan ucapan yang akan Renan sampaikan. Sepasang kekasih yang baru saja berbaikan itu pun langsung mengarahkan pandang pada sesosok laki-laki yang datang dengan wajah memerah.
“Lo apain lagi Alicia, Nan?” Pertanyaan dengan nada tinggi akhirnya diucapkan oleh laki-laki berambut hitam kecokelatan yang membuka pintu UKS dengan begitu keras.
Alicia bingung kenapa Justin bisa tahu bahwa dia kenapa-kenapa lagi karena Renan. Sebenarnya, Alicia sendiri juga sedikit tidak enak dengan Renan yang kini telah kembali dengan wajah datarnya.
Pacar Alicia itu tersenyum sinis. Apa yang Justin lakukan seolah membenarkan semua prasangkanya tentang perasaan laki-laki itu untuk gadisnya.
“Apa urusan lo sampai peduli banget sama cewek gue?” Jawaban berupa pertanyaan dari Renan membuat rahang Justin semakin mengeras.
“Gue sahabatnya,” jawabnya lantang menatap Renan yang tersenyum meremeh.
Kedua tangan Justin mengepal erat menahan geram.
“Salah gue peduli sama sahabat sendiri?” tanyanya kemudian membuat senyum Renan semakin melebar.
Renan menatap Alicia yang kini telah turun dari ranjangnya. Gadis itu berdiri tepat di sebelah Renan yang masih terduduk. Seketika tangan Renan meraih pergelangan tangan sang kekasih yang hendak mendekat kepada Justin.
Renan menarik Alicia lembut seiring dengan tubuhnya yang berdiri tegak menyembunyikan Alicia di belakang tubuhnya.
“Jangan dekat-dekat!” Alicia mengangguk patuh mengingat dia telah berjanji kepada Renan tadi.
Renan melepas genggamannya, kemudian memilih maju mendekat kepada Justin yang sedari tadi menatapnya tajam.
“Gak salah, kok, lo peduli sama sahabat. Cuma ...” Renan sengaja menggantungkan kalimatnya demi menatap Alicia dan tersenyum lembut. Laki-laki beralis tebal itu kembali menatap Justin yang tampak tidak sabar menunggu kalimatnya selesai. “... cuma lo harusnya bisa bedain rasa sayang ke sahabat sama rasa sayang ke perempuan itu beda.”
Justin memilih mengatur napasnya daripada menanggapi ucapan Renan yang akan semakin melebar ke mana-mana bila ditanggapi.
“Kalau lo apa-apain Alicia lagi, awas!”
Setelah mengucapkan itu, Justin memilih pergi. Dia tidak ingin Alicia mendapat masalah lagi. Alicia dan Renan akan bertengkar hebat hanya karena kata cemburu dari Renan. Justin sudah hapal itu, makanya dia memilih pergi dan segera membungkam mulut Renan yang berkata seenaknya
©©©
Bel istirahat kedua telah berbunyi, hampir seluruh siswa kelas XI IPA 3 sudah keluar menuju kantin untuk mengisi perut mereka. Alicia dan juga Renan berjalan beriringan menuju kantin karena sejak istirahat pertama tadi Renan belum memakan apa pun, berbeda dengan Alicia yang sudah makan nasi padang walaupun hanya sedikit.
“Mau makan apa nanti?” tanya Renan membuka obrolan di antara mereka.
Alicia menoleh dan sedikit mendongak menatap Renan yang lebih tinggi dari dirinya.
“Kamu yang mau makan kok tanya aku?”
Renan justru mencubit hidung Alicia gemas dibandingkan menanggapi perkataan gadis itu.
“Renan!”
“Apa sayang?”
Alicia semakin cemberut karena jawaban yang Renan lontarkan.
“Nyebelin!” teriak Alicia sebal dan memilih berjalan mendahului Renan yang justru terbahak akibat teriakan Alicia.
“Aku juga sayang kamu!” balas Renan tak kalah keras membuat Alicia memerah malu dan menahan senyum. Renan benar-benar menyebalkan!
©©©
Akhirnya, Renan dan Alicia tiba di kantin. Keduanya langsung mengedarkan padangan menyari meja yang dapat mereka tempati untuk makan berdua. Ya, kalau penuh, sih, bertiga atau berempat dengan yang lain tidak apa-apalah.
“Em ... kamu mau duduk di mana, Alic?” tanya Renan yang masih belum menemukan tempat duduk yang kosong.
“Kalo kita duduk di sana mau gak?” tanya Alicia sambil menunjuk meja paling pojok, namun Renan menggeleng dengan cepat sebagai jawaban tidak setuju.
“Kenapa?” tanya Alicia bingung, menurutnya tidak ada yang salah, hanya ada seorang siswa laki-laki di sana, sendiri.
“Itu si Justin,” jawab Renan cepat dan pergi meninggalkan Alicia yang masih fokus mencari tempat duduk lagi.
“Ren, tungguin aku, ih!” rengek Alicia. Gadis itu dengan cepat mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Semua meja penuh. Benar-benar penuh.
“Ren, kita duduk di sana aja, yah? Gak ada tempat lagi, perut aku perih, nih,” lanjut Alicia sambil memegang perut. Sengaja agar Renan mau bergabung dengan Justrin.
Melihat kekasihnya benar-benar lapar, Renan pun terpaksa mengangguk. Urusan mereka yang belum selesai membuat Renan sedikit kehilangan nafsu makan.
“Hai, boleh gabung?” Alicia bertanya dengan lembut. Justin mengangkat kepalanya dengan tatapan sendu. Namun, setelah menyadari laki-laki di sebelah Alicia, Justin langsung memalingkan wajahnya.
“Boleh,” ucap Justin datar.
Alicia meringis samar mendengar jawaban yang Justin lontarkan. Dia ingin duduk lalu makan, tapi kalau Justin seperti ini dia juga merasa tidak enak.
“Makasih, ya, Just. Sini Ren, kamu duduk sebelah aku!” Alicia sambil menepuk kursi di sebelahnya. Meskipun dalam hatinya Alicia merasa tidak enak pada kedua laki-laki yang ada di dekatnya.
“Iya, Sayang,” jawab Renan dengan senyum miring yang sengaja dia perlihatkan kepada Justin. Sedangkan Justin hanya menatap datar pacar dari sahabatnya dengan tangan mengepal erat.
©©©
Malam ini cukup dingin bagi Alicia. Diaa berniat untuk membeli camilan dan minuman dingin sebagai persediaannya selama ayah dan ibunya pergi ke luar kota untuk menjenguk kakaknya. Ya, kakak Alicia bisa dikatakan manja, dia seorang laki-laki yang butuh perhatian lebih. Jadi, ibunya setiap bulan selalu menjenguknya. Kadang sendiri, kadang juga ditemani ayah Alicia.
Alicia telah sampai di mini market yang langsung disambut oleh pelayan dengan ramah. Ya, setidaknya dia mendapat ucapan selamat malam dari pelayan itu.
Alicia mulai menjelajahi satu persatu barisan makanan ringan, kemudian berpindah ke bagian coklat, dan akhirnya dia sampai di tujuan terakhir yaitu kasir.
“Berapa semuanya, Kak?” tanya Alicia kepada pelayannya.
“Semuanya seratus sembilan belas ribu delapan ratus sembilan puluh sembilan rupiah, Kak.”
Alicia mengulurkan uangnya dengan senyum sopan kepada penjaga kasir.
“Sisa kembaliannya yang kurang dari seratus rupiah diberikan untuk pembangunan masjid ya, Kak.” Alicia mengangguk sebagai jawaban.
©©©
Alicia menelusuri jalanan sepi untuk sampai ke rumah. Namun, tiba-tiba ada dua orang berpenampilan berandal mencegatnya. Alicia kebingungan, gadis itu langsung melangkah mundur.
“Heh, sini!” teriak salah satu dari mereka. Laki-laki kurus berbaju hijau dengan celana sobek di lututnya.
Alicia semakin bergetar takut. Tanpa pikir panjang gadis itu memilih berbalik arah, kembali menuju arah minimarket.
Tap. Pergelangan tangan Alicia berhasil diraih salah satu berandalan tadi. Mau tidak mau, Alicia harus berhenti. Badannya sudah bergetar takut sedari tadi. Keringat dingin pun mulai bermunculan di dahinya.
“Mau ke mana lo?” tanya berandalan yang memegang tangannya.
Satu berandalan lagi maju merebut kantung plastik yang Alicia genggam.
“Ja-jangan!” Suara Alicia sangat jelas terdengar ketakutan. Tangannya kini tarik-menarik dengan berandalan berbaju hitam.
“Lepas, atau kita sakitiin elo!” perintah si baju hijau.
Alicia bergetar takut. Cengkeraman di tangannya bahkan lebih kuat daripada cengkeraman milik Renan.
Bugh.
Pukulan tiba-tiba melayang pada pipi laki-laki berbaju hitam. Si baju hijau langsung melepas cekalannya dan maju menghampiri si pemukul.
“Ikut campur lo!”
Bugh.
Berandalan tadi memukul telak. Yang dipikul pun langsung jatuh terduduk.
“Justin!” teriak Alicia keras saat si baju hijau kembali mendekati Justin.
Justin tersenyum meskipun sudut bibirnya membiru dan sedikit mengeluarkan darah. Dia berdiri menangkis dan menyerang si baju hijau dengan penuh emosi.
Si baju hitam yang sedari tadi mengusap pipinya yang membiru kini ikut berdiri menyerang Justin. Tapi Justin tetap tenang, pertarungan dua lawan satu terjadi cukup sengit. Alicia pun hanya mampu sesekali memekik saat Justin terkena pukulan.
Bugh. Bugh. Bugh.
Tiga pukulan terakhir yang Justin layangkan berhasil membuat kedua berandalan itu tumbang.
Tanpa pikir panjang, Justin langsung menarik Alicia untuk segera pergi. Ya, meskipun Justin sedikit pincang saat berjalan.
"Just, are you okey?"
Justin tersenyum, meski wajahnya membiru sana-sini.
“Gak usah senyum, makin jelek,” kata Alicia dengan raut wajah sedikit cemas juga rasa bersalah.
Justin, laki-laki yang akan dijauhinya demi Renan justru baik sekali kepadanya. Sahabatnya itu begitu melindunginya. Coba tadi Justin tidak datang, pasti Alicia telah kehilangan banyak, salah satunya kantung plastik yang ia genggam sekarang.
“Lo gak papa, ‘kan, Lic?” tanya Justin lembut menatap Alicia.
“Aku gak papa, kamu yang kenapa-kenapa.”
Justin tertawa pelan meskipun sedikit meringis sakit.
“Obatin dong kalau gitu,” katanya ringan.
Alicia sempat terdiam dan melanjutkan jalan mereka. Kalau mengobati Justin dan Renan tahu, marah gak ya? Tapi Justin udah selamatin Alicia tadi?
“Ke rumah kalau gitu,” jawabnya kemudian.
Justin tersenyum tipis meskipun Alicia tidak menatapnya. Ya setidaknya Justin berhasil menyelamatkan gadis di sebelahnya ini. Sahabatnya.
©©©