Denting bel kampus baru saja berbunyi di luar, memecah suasana tegang di ruang kuliah Filsafat Moral. Para mahasiswa bergegas merapikan tas dan lembaran kertas mereka, saling berbisik lega karena kelas yang melelahkan itu akhirnya usai. Naima melipat buku catatannya dengan tenang, bersiap untuk berdiri dan meninggalkan ruangan.
"Naima Putrian, tetap di tempatmu," suara Naldo terdengar berat dari arah meja dosen.
Langkah kaki Naima terhenti seketika. Beberapa rekan sekelasnya melirik ke arah Naima dengan tatapan kasihan sebelum bergegas keluar melewati pintu kayu yang terbuka lebar. Naima menghela napas pendek, merapikan letak tas laptop di bahunya, lalu melangkah menuju meja depan tempat Naldo berdiri.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Naima dengan nada suara sepadan dan teratur.
Naldo tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengulur waktu sambil memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas kulit hitamnya. Setelah ruangan benar-benar sepi dari mahasiswa lain, Naldo mengambil satu map tebal dari atas meja dan menyodorkannya ke arah Naima.
"Tugas ini bukan untuk seluruh kelas, Naima. Khusus untuk kamu, karena kamu merasa paling paham tentang kebenaran," kata Naldo dingin.
Naima menatap map tebal di depannya tanpa menyentuhnya. "Maksud Bapak bagaimana? Di silabus tidak ada penugasan individu secara khusus seperti ini."
"Saya yang menentukan silabus di kelas ini, bukan kamu," potong Naldo cepat.
"Tapi ini tidak adil, Pak," tegas Naima sambil menatap lurus mata dosen mudanya itu. "Mahasiswa lain hanya mendapatkan tugas meresume bab dua. Kenapa saya harus membedah satu bendel tesis ini?"
Naldo menyandarkan punggungnya ke tepi meja, melipat kedua tangannya di d**a. Senyum tipis yang penuh ironi kembali menghiasi wajahnya.
"Kamu sendiri yang menantang dasar-dasar pemikiran rasional di pertemuan pertama," ujar Naldo dengan nada santai. "Saya cuma memfasilitasi kebutuhan otakmu yang haus akan perdebatan."
Naima menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menahan emosi yang mulai tersulut. "Ini bukan soal haus perdebatan, Pak. Tugas ini soal keadilan perlakuan dosen kepada mahasiswanya."
"Di dunia akademis yang sesungguhnya, keadilan itu berbanding lurus dengan kapasitas," balas Naldo tanpa rasa bersalah. "Kamu merasa kapasitasmu di atas rata-rata teman sekelasmu, bukan?"
"Saya tidak pernah menyatakan hal itu."
"Tapi sikapmu di kelas menunjukkan sebaliknya, Naima," sela Naldo tajam. "Kamu membawa argumen klasik dengan sangat percaya diri. Sekarang, saya ingin melihat sejauh mana kamu bisa membedah Euthyphro Dilemma menggunakan logika murnimu tanpa berlindung di balik dogmatis."
Naima melirik judul tulisan di sampul map tersebut. Euthyphro Dilemma—sebuah perdebatan klasik filsafat yang mempertanyakan apakah sesuatu itu baik karena diperintahkan oleh Tuhan, ataukah Tuhan memerintahkannya karena sesuatu itu pada dasarnya sudah baik.
"Bapak sengaja memilih topik ini untuk memojokkan keyakinan saya?" selidik Naima lugas.
Naldo terkekeh pelan, sebuah tawa singkat yang terdengar dingin di telinga Naima. "Saya tidak peduli dengan keyakinanmu, Naima. Saya hanya peduli pada ketajaman analisismu. Atau... kamu takut tidak sanggup menyelesaikannya?"
Suasana di antara mereka mendadak hening. Naima meremas tali tas di bahunya, merasakan tantangan terselubung yang sengaja dilemparkan oleh Naldo untuk menguji keteguhan imannya.
"Kapan tenggat waktu pengumpulannya, Pak?" tanya Naima akhirnya, memecah kesunyian.
Naldo menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut melihat respon Naima yang tidak mundur selangkah pun. "Minggu depan. Di meja kerja saya, sebelum jam kuliah dimulai."
"Baik," sahut Naima pendek.
Ia mengulurkan tangan dan mengambil map tebal itu dari meja. Gerakannya mantap, tanpa ada keraguan atau getaran sedikit pun di jemarinya. Naima menegakkan posisinya, menatap Naldo dengan kepala tegak.
"Saya akan selesaikan tugas ini tepat waktu, Pak," ucap Naima dengan penekanan yang jelas.
"Bagus," balas Naldo sambil merapikan kancing kemejanya. "Saya berharap banyak dari analisis seorang mahasiswi terbaik Al-Falah."
Naima tidak membalas sindiran halus itu. Ia menganggukkan kepala sekilas sebagai formalitas kesantunan, lalu berbalik membelakangi Naldo untuk melangkah keluar dari ruangan.
Baru tiga langkah Naima berjalan menuju pintu keluar, suara Naldo kembali bergaung di ruangan yang luas itu.
"Jangan lupa, Naima... logika tidak mengenal rasa kasihan."