Bab 03

552 Words
Uap kopi hitam membumbung tipis dari cangkir porselen di tengah meja kaca. Suasana kafe eksekutif di kawasan bisnis dekat kampus itu terasa tenang, diiringi denting halus sendok yang beradu dengan cangkir. Naldo bersandar santai di kursi kulit hitam, menyilangkan kakinya dengan kemeja tergulung hingga siku. Di hadapannya, Bimo tertawa terkekeh sambil menyenderkan punggung ke sandaran sofa. "Sejuta rupiah? Terlalu murah untuk harga diri seorang mahasiswi tercantik dan paling tertutup di fakultas kita," kekeh Bimo sambil mengaduk kopinya di kafe eksekutif dekat kampus. Naldo melirik dingin kawan dosennya itu. "Siapa yang bilang saya terobsesi dengan uangnya, Bimo?" "Bukan uangnya, Do. Tapi ego kamu," sahut Bimo sambil meletakkan cangkirnya ke tatakan. "Hari pertama masuk kelas, kamu sudah dibuat repot sama mahasiswi tingkat akhir. Anak pesantren pula." "Dia cuma menyampaikan argumen Ibnu Rushd yang dia hafal di luar kepala," potong Naldo datar. "Tidak ada yang istimewa dari sekadar menghafal teks." Clarissa, dosen muda yang duduk di samping Bimo, ikut tertawa kecil sambil merapikan riasan tipis di wajahnya. "Tapi jarang-jarang ada mahasiswi yang berani memotong ucapan kamu di tengah kelas, Naldo." "Benar kata Clarissa," timpal Bimo antusias. "Anak-anak kelas umum biasanya cuma manggut-manggut dengar ceramah filsafat moral kamu. Tapi mahasiswi satu itu beda." "Dia cuma terlalu percaya diri dengan benteng agamanya," ujar Naldo sambil memutar-mutar gelas air mineralnya. "Dia pikir aturan kuno itu bisa melindungi otaknya dari realita dunia." Bimo memajukan tubuhnya ke meja, menatap Naldo dengan pandangan menantang. "Bagaimana kalau kita buktikan seberapa kokoh benteng agamanya itu?" Naldo mengangkat sebelah alisnya. "Maksud kamu?" "Kita buat taruhan," ucap Bimo dengan senyum jahil yang mengembang. "Kamu bilang imannya cuma benteng emosional yang rapuh, kan?" "Bimo, jangan konyol," tegur Clarissa halus, meski matanya memancarkan rasa penasaran yang sama besar. "Naima itu anak pengasuh pesantren besar. Dia bukan mahasiswi gampangan." "Justru itu menariknya, Ca!" seru Bimo makin bersemangat. "Seorang Jordian Naldo Varez, dosen filsafat paling tampan sekaligus calon penerus Varez Group. Apa dia sanggup menaklukkan benteng kaku anak pesantren?" Naldo terkekeh sinis, menyipitkan matanya menatap Bimo. "Kamu pikir saya picik sampai harus mengejar mahasiswi sendiri demi taruhan main-main?" "Bukan cuma mengejar, Do," tantang Bimo. "Buat dia jatuh cinta. Buat dia mau diajak jalan dan keluar dari zona nyamannya." "Bimo, kamu kelewatan," sela Clarissa pelan. "Tenang, Ca. Naldo kan jenius, masa urusan begitu saja tidak berani?" Bimo tertawa mengejek, sengaja menyenggol egotisme kawannya itu. "Atau kamu memang takut kalah argumen lagi di kelas minggu depan?" Naldo bergeming di tempat duduknya. Tatapan matanya berubah tajam, hawa dingin seketika memancar dari gestur tubuhnya yang mendadak kaku. Sindiran Bimo tepat mengena pada rasa percaya dirinya yang tinggi. "Saya tidak pernah kalah argumen," tegas Naldo dengan suara berat yang tertahan. "Kalau begitu buktikan," tentang Bimo lagi. "Atau kamu mau mengakui kalau prinsip kaku gadis itu memang tidak tersentuh?" "Bukan tidak tersentuh," potong Naldo cepat. "Prinsip seperti itu cuma lahir dari kepatuhan tanpa pemikiran kritis. Begitu logikanya dibuka, semuanya akan runtuh sendiri." "Bicara teori memang gampang, Do," kekeh Bimo. "Buktikan langsung di lapangan kalau kamu memang yakin." Naldo menghembuskan napas pendek. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah benda mengkilap dengan lambang otomotif ternama, lalu melemparkannya ke atas meja kaca. Suara logam berat beradu dengan kaca meja berbunyi cukup keras, menyita perhatian Clarissa dan Bimo seketika. Naldo meletakkan kunci mobil mewahnya di meja. "Dalam satu semester, Naima Putrian akan melepaskan semua prinsip kaku itu demi saya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD