Bab 05. Diskusi Perpustakaan Utama

737 Words
Aroma kertas tua bercampur dinginnya pendingin ruangan menyapa Naima begitu ia melangkah makin dalam ke lorong filsafat. Di perpustakaan utama universitas yang sepi ini, deretan rak kayu menjulang tinggi memuat ribuan jilid buku yang berdebu. Naima menyusuri barisan rak dengan teliti, matanya memindai satu per satu label di punggung buku untuk mencari referensi langka mengenai perdebatan etik klasik. Matanya akhirnya tertuju pada sebuah jilid tebal bertuliskan emas yang terletak di rak paling atas. Naima berjinjit, mengulurkan tangan kanannya sejauh mungkin, tetapi jarinya hanya mampu menyentuh ujung bawah punggung buku tersebut. Sebuah tangan berjam tangan mewah tiba-tiba mengambil buku yang hendak dijangkau Naima di rak paling atas. Naima terkejut dan refleks menarik tangannya kembali. Ia berbalik cepat, menemukan sosok Naldo sudah berdiri sangat dekat di sampingnya. Pria itu menurunkan buku tersebut dengan santai, lalu memegangnya di d**a sambil menatap Naima dengan senyum tipis yang akrab. Naima langsung mengambil dua langkah mundur, menciptakan jarak aman di antara mereka, ia menundukkan pandangannya sejenak sebelum menatap lurus ke arah dosen mudanya itu. "Terima kasih, Pak. Bisa saya ambil bukunya?" tanya Naima dengan suara pelan namun tegas, menjaga nada bicaranya agar tetap formal. Naldo tidak langsung menyerahkan buku tersebut. Ia membolak-balik sampul tebal di tangannya, memamerkan gestur seolah sedang memeriksa kelayakan buku itu. "Pilihan yang tidak buruk," ujar Naldo sambil melangkah satu tindak maju. "Tapi, buku ini terlalu kompleks kalau cuma kamu pakai untuk bahan hafalan, Naima." Naima kembali melangkah mundur, menjaga jarak agar tidak terhimpit di antara Naldo dan rak kayu di belakangnya. "Saya tidak sedang menghafal, Pak. Saya butuh referensi ini untuk membedah argumen tugas dari Bapak." "Membedah?" Naldo terkekeh pelan, sebuah tawa ringat yang memantul halus di antara rak-rak buku. "Kamu yakin punya alat bedahnya? Atau, kamu cuma mau mencocok-cocokkan teori filsuf ini dengan doktrin pesantrenmu?" Naima menghela napas pendek, mempertahankan raut wajahnya agar tetap tenang tanpa emosi. "Filsafat dan ilmu agama bukan dua hal yang saling bertolak belakang, Pak Naldo. Keduanya sama-sama mencari kebenaran, hanya jalurnya yang berbeda." "Jalur yang berbeda?" sela Naldo cepat. Ia bersandar santai pada salah satu rak, mengamati gerakan tubuh Naima yang sangat hati-hati. "Jalur agamamu itu didasari ketakutan pada hal yang tidak pasti. Sementara filsafat lahir dari keberanian mempertanyakan segala hal." "Mempertanyakan segala hal tanpa pegangan itu bukan keberanian, Pak," balas Naima lugas. "Itu cuma bentuk kesombongan akal." Naldo menyimpulkan senyum dinginnya, merasa tersengat sekaligus tertarik dengan balasan mahasiswinya. "Kesombongan akal? Kamu menyebut kebebasan berpikir sebagai kesombongan?" "Kalau kebebasan itu membuat seseorang merasa tidak butuh batasan moral dan menganggap dirinya paling tahu segala hal, ya, itu kesombongan," jawab Naima tanpa ragu sedikit pun. Naldo memiringkan kepalanya, menatap Naima dari ujung kepala hingga ujung jilbab lebarnya. "Kamu selalu punya jawaban yang tertata rapi, ya. Khas anak pesantren yang dilatih berdebat." "Saya hanya menjawab berdasarkan logika yang Bapak agungkan di kelas," kata Naima datar. "Bisa saya minta buku itu sekarang? Saya harus segera menyusun kerangka analisisnya." Naldo mengamati tiga jilid buku tebal lain yang sudah mendekap erat di lengan kiri Naima, ia mengulurkan tangan kanan yang memegang buku tadi, mencoba meraih tumpukan buku di lengan Naima. "Biar saya bawakan," tawar Naldo dengan nada suara yang melembut secara mendadak. "Buku-buku ini berat. Sekalian saya antar kamu ke meja baca di depan." Naima dengan cepat menggeser tumpukan bukunya ke samping, menghindar dari jangkauan tangan Naldo, ia memandang tangan Naldo yang menggantung di udara dengan tatapan dingin. "Tidak usah, Pak. Terima kasih," tolak Naima cepat. "Saya bisa membawanya sendiri." Naldo menarik tangannya kembali, matanya memicing menatap penolakan yang sangat jelas dari Naima. "Kamu selalu se-defensif ini kalau berhadapan dengan laki-laki?" "Saya hanya menjaga batasan dan kesantunan yang diajarkan kepada saya," sahut Naima lugas. "Saya kira itu hal yang wajar antara dosen dan mahasiswinya." Naima mengulurkan tangan kanannya secara terbuka, menunggu buku di tangan Naldo diserahkan. Naldo menatap telapak tangan Naima sejenak, lalu meletakkan buku tebal itu di atas tumpukan buku yang didekap Naima tanpa menyentuh jemari gadis itu sedikit pun. "Terima kasih atas bantuannya, Pak Naldo. Permisi," ucap Naima santun. Tanpa menunggu respon lebih lanjut dari Naldo, Naima berbalik dan melangkah pergi dengan gerakan cepat namun tetap anggun. Suara langkah kakinya yang konstan perlahan memudar di lorong perpustakaan yang sunyi. Naldo berdiri sendirian di antara deretan rak buku tebal. Ia memperhatikan cara Naima menjaga jarak darinya hingga bayangan gadis itu benar-benar menghilang di balik belokan lorong. Naldo memegang dadanya sendiri yang mendadak terasa aneh. Ada perasaan aneh yang berdesir di d**a Naldo, kekesalan bercampur penasaran yang makin membakar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD