Layar ponsel Naima menyala pukul 22.00 WIB.
Nomor tidak dikenal menyapa.
[Sudah sampai mana analisismu, Mahasiswi Putrian?]
Naima yang sedang duduk di meja belajarnya mendadak menghentikan ketukan jarinya di atas papan ketik laptop.
Cahaya redup dari lampu belajar memantul di matanya yang menyipit heran, ia meraih benda persegi itu, memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengernyitkan dahi membaca deretan kata di layar.
"Siapa, Nim?" tanya Jannah dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit, melangkah masuk membawa segelas air hangat.
Naima mendongak, lalu menunjukkan layar ponselnya pada Jannah yang baru saja merapatkan pintu kayu. "Nomor baru, Mbak. Tapi dari bahasanya, Naima yakin ini Pak Naldo."
Jannah menggeser kursi kayu di dekat meja, ikut memperhatikan deretan kata di layar tersebut. "Jam sepuluh malam? Dosenmu menghubungi mahasiswinya jam segini?"
"Iya, Mbak," jawab Naima pelan, menaruh ponselnya kembali ke atas meja dengan gerakan agak berat. "Naima merasa ini sudah lewat batas profesional, nggak sopan rasanya dosen kirim pesan pribadi malam-malam begini cuma buat menanyakan tugas."
"Mungkin dia cuma mau memastikan kamu nggak keteteran?" tebak Jannah hati-hati sambil menyodorkan cangkir hangat ke hadapan adiknya.
"Kalau cuma mau memastikan tugas, kan bisa ditanyakan di kelas besok pagi, Mbak," potong Naima dengan nada gusar yang jarang ia perlihatkan. "Atau, lewat email kampus. Kenapa harus kirim pesan singkat ke nomor pribadi? Bahkan Naima nggak pernah memberikan nomor ini ke beliau."
Jannah menghela napas pendek, mengamati gurat ketegangan di wajah adiknya. "Dosen macam dia pasti punya akses gampang ke data mahasiswa di tata usaha, Nai. Kamu tahu sendiri posisinya di kampus seperti apa."
"Tapi, tetap aja nggak etis, Mbak," bisik Naima tajam. "Ini udah di luar jam akademik. Naima punya hak untuk nggak diganggu hal-hal seperti ini di rumah."
"Lalu, kamu mau bagaimana?" tanya Jannah lembut. "Abaikan aja?"
"Naima mau abaikan aja sampai besok pagi, tapi takut dia malah makin berulah di kelas," jawab Naima jujur. "Bapak dosen yang satu itu sangat suka memutarbalikkan fakta kalau merasa diacuhkan."
"Jangan diabaikan kalau begitu," saran Jannah bijak. "Kalau kamu diam aja, dia punya alasan buat menyudutkanmu di depan anak-anak lain. Balas saja seperlunya, tegas, tapi tetap pakai bahasa formal akademis. Biar dia sadar kalau kamu memegang kendali atas diri kamu sendiri."
"Pakai gaya yang sangat dingin ya, Mbak?" Naima menatap Jannah, meminta pertimbangan.
"Iya, fokus ke isi tugasnya saja. Jangan meladeni nada santai dari dia," timpal Jannah sambil tersenyum kecil. "Tunjukkan kalau nomor ini cuma jalan pintas akademis, bukan ruang perbincangan pribadi."
Naima kembali meraih ponselnya. Jemarinya dengan lincah mengetikkan beberapa kalimat singkat di atas layar sentuh tersebut, membaca ulang pesannya dua kali untuk memastikan tidak ada nada emosi di dalamnya.
[Naima: Selamat malam, Pak. Analisis tesis Euthyphro Dilemma sudah selesai 70% dan akan dikumpulkan sesuai tenggat waktu resmi di meja Bapak. Terima kasih.]
"Nah, itu pas banget," puji Jannah. "Singkat, jelas, dan sangat formal. Langsung kirim aja."
Naima menekan tombol kirim. Begitu status pesan berubah menjadi terkirim, ia menonaktifkan nada dering ponselnya dan meletakkannya dengan posisi layar menghadap ke bawah di sudut meja.
Naima menghela napas panjang, merapikan tumpukan kertas referensi di sebelah laptopnya, merasa sedikit lega karena sudah merespons dengan cara yang benar.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang matikan laptopmu dan istirahat," tutur Jannah sambil mengusap pelan bahu Naima.
"Iya, Mbak. Makasih, ya," balas Naima tulus.
***
Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda jauh di pusat kota Jakarta, sebuah apartemen mewah di lantai atas menjulang tinggi dalam temaram.
Kaca jendela raksasa memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu kota dari kejauhan.
Naldo duduk bersandar di sofa kulit hitamnya, memutar-mutar gelas berisi kopi dingin di tangan kiri.
Kemeja putihnya sudah tidak dikancingkan penuh di bagian leher, memperlihatkan gaya santainya yang jauh dari kesan dosen di kampus.
Di tangan kanannya, ia menggenggam ponsel yang sedari tadi ia amati.
Layar ponsel Naldo mendadak menyala, memantulkan bayangan balasan pesan dari nomor Naima.
Naldo menegakkan posisi duduknya, membaca deretan kalimat pendek itu dengan teliti, dari kata pembuka yang kaku sampai tanda titik di akhir kalimat.
"Analisis tesis sudah selesai 70%," gumam Naldo membaca ulang pesan itu dengan nada meremehkan.
Naldo menyipitkan mata, mencari-cari apakah ada selipan emosi, nada tersinggung, atau kepanikan dari gadis itu.
Namun, tidak ada satu pun. Naima menjawabnya seperti sebuah mesin penjawab otomatis yang diprogram dengan kesantunan tingkat tinggi.
Naldo membanting pelan ponselnya di sofa apartemen mewahnya, tersenyum sinis. "Sangat dingin. Tapi, justru itu yang buat menarik."