Bab 2

1005 Words
Sinta menggenggam sebuah ponsel. Dia ingin sekali untuk menghubungi nomor Rama dan mengatakan bahwa dia sudah dinodai. "Aku ingin sekali menghubungi kamu, Bang. Akan tetapi, aku takut dengan ancaman pria j*****m itu," gumam Sinta. Setelah beberapa saat berpikir, Sinta pun akhirnya menekan tombol untuk menghubungi nomor ponsel Rama. Sinta begitu resah menunggu Rama menjawab telepon darinya. Dengan hati yang dag dig dug, akhirnya di seberang sana terdengar suara seseorang menjawab panggilan darinya. [Hallo … Hallo, Dek?] [Ya Hallo, Bang] ucap Sinta antusias saat mendengar suara Rama. [Ada apa, Dek?] tanya Rama di balik telepon. Sinta menjauhkan telepon dari pipinya, dia rupanya tidak bisa tahan untuk menangis. Namun, tidak ingin Rama tahu kalau dia sedang menangis sekarang ini. 'Bang, aku sebenarnya ingin menceritakan sesuatu yang sudah terjadi menimpaku. Mendengar suaramu membuat aku tidak tahan ingin menangis,' dalam batin Sinta. [Hallo, Dek? Apakah kamu masih disana?] tanya Rama yang tidak mendengar suara apapun. Sinta langsung mengelap ingus dengan tangannya dan menjawab telepon dengan suara yang parau. [Aku masih disini, Bang. Abang kapan pulang?] [Dek, Abang kan baru berangkat kerja. Jadi, Abang masih lama pulangnya] Hati Sinta benar-benar tersayat, saat ini kondisinya sedang rapuh dan menginginkan perlindungan. [Sinta harap Abang bisa segera pulang. Karena Sinta merasa kesepian] [Ya, Dek. Kamu yang sabar ya. Udah dulu ya Abang mau lanjut kerja lagi] [Bang, ini sudah malam, masa iya Abang mau kerja jam segini?] Tut … Tut … Tut …. Suara telepon terputus pun terdengar, rupanya Rama memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. Sinta pun kembali mengalirkan air mata, "ya ampun, Bang. Kondisi istri seperti ini kamu malah begitu saja mematikan teleponnya. Ada apa denganmu Bang?" gumam Sinta terisak. *** Rival terus memperhatikan wajah Sinta dari kejauhan. Saat ini Sinta sedang berjalan sendiri sambil melamun. "Hey," sapa Rival mengejutkan Sinta. Sinta mulai mundur perlahan, dia begitu benci melihat tampang Rival yang mengerikan. "Mau apa lagi, kamu? Pergi! Jangan pernah muncul di depanku," teriak Sinta garang. "Mas cuma mau minta maaf sama kamu, Sinta. Tolong kamu jangan marah ya sama Mas," ucap Rival membuat Sinta mual. "Harusnya kamu dihukum cambuk karena sudah merenggut kesucian diri ini, kamu tidak pantas mendapatkan maaf dariku," geram Sinta. Sinta pun langsung melangkah untuk meninggalkan pria yang bernama Rival itu. Namun, Rival langsung menarik tangan Sinta sehingga membuat Sinta berbalik menatap dia tajam. "Sinta, aku melakukan itu karena sangat mencintaimu. Kamu adalah cinta kedua setelah istriku tiada," ucap Rival terlihat tulus, tapi Dimata Sinta itu terlihat menakutkan. "Setelah kejadian waktu itu, saya mohon jangan pernah ganggu hidup saya lagi!" teriak Sinta berlari, bahkan Sinta pun sampai menjatuhkan kresek yang membawa belanjaannya. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Sinta pun akhirnya sampai di depan rumah. "Heh, ngapain kamu lari-lari? Kayak yang sedang dikejar setan saja!" Sinta menoleh ke arah suara tersebut, dan rupanya ibu mertuanya datang ke rumahnya. "Ibu? Kapan ibu datang?" tanya Sinta sopan dan hendak meraih tangan ibu mertuanya untuk sun tangan. Bu Neni mendelik, "dari tadi! Ngapain kamu lari-lari?" tanya Neni dengan sinis. Sinta menghela nafas panjang, "tidak ada, Bu. Tadi Sinta …" "Alah, sudahlah. Lebih baik kamu pergi masak karena saya lapar." "Baik, Bu." Sinta berada di dapur dan menyalakan kompor, hari ini ia akan membuat sambal terasi dengan Pete dan ikan goreng. Itu adalah makanan kesukaan ibu mertuanya. Setelah semuanya siap, Sinta pun langsung memanggil ibu mertuanya untuk segera makan bersama. "Ibu, akan tinggal disini selama satu bulan," terang ibu mertua Sinta dan hal itu membuat Sinta tenang karena akan ada orang yang menemani dia. "Kamu tolong siapkan kamar untuk saya," tambahnya lagi. Sinta yang hendak menjawab, tiba-tiba melihat ibu mertuanya yang mengangkat telepon di hadapan dia. "Ya, Ram?" ucap ibu mertua Sinta di hadapan dia dan membuat dia bisa mendengar itu. "Uang ibu habis, Ram. Ibu pengen beli tas baru yang sedang diskon di toko langganan ibu. Jadi, tolong kamu transfer lagi, ya." Ucapan itu membuat Sinta menelan salivanya. Bahkan selama pernikahan ini Sinta sama sekali belum pernah di transfer oleh Rama. Karena Rama selalu mengatakan bahwa uang hasil jerih payahnya merantau akan dikumpulkan dan setelah besar akan diberikan kepada Sinta. 'Ya ampun, apakah salah jika aku cemburu kepada mertuaku sendiri karena mendapatkan uang transfer dari suamiku?' dalam batin Sinta. Pernah sekali suaminya memberikan uang untuk dua bulan terakhir, yaitu sekitar 6 juta rupiah dan itu digunakan Sinta untuk modal jual beli barang di desa ini. Neni menatap jiik ke arah Sinta, "ibu juga lagi berada di rumahmu untuk menginap, Ram. Ibu tidak mau kalau istrimu yang satu ini akan berkhianat. Sehingga ibu akan mengawasi dia." Degh …. Ucapan Ibu Neni membuat Sinta terkesiap. Membuat di meremas jari jemarinya sendiri dan menjadi sangat gelisah. Pasalnya dia bukan berkhianat secara sengaja melainkan karena dia sudah dinodai kemarin oleh Rival. Sinta pun langsung menuju kamar untuk segera menghubungi nomor ponsel suaminya. Namun, setelah beberapa kali mencoba, nomor ponsel Rama tidak aktif dan tidak bisa dihubungi. "Loh kok gini sih? Kenapa ketika aku yang akan menghubungi nomor Abang. Ponselnya tidak aktif, tapi tadi Abang bisa teleponan dengan Ibu." Hati Sinta benar-benar sangat terluka, ada apa dengan suaminya yang begitu cuek dan jarang menghubungi dia. Pernikahan ini terjadi memang karena wasiat dari ayah Sinta yang meninggal di depan Rama. Jadi, wajar saja kalau sekarang Sinta berpikir kalau Rama terpaksa menikah dengannya. "Bang apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa Abang susah untuk dihubungi." Sinta membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Hari sudah mulai larut dan membuat Sinta mengantuk dan hendak tertidur. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki seseorang dan membuat Sinta kembali terduduk untuk mengecek siapa yang hendak datang. Setelah melangkah untuk mengecek sekitarnya. Tiba-tiba saja tubuhnya diseret dari belakang dan begitu terkejutnya Sinta melihat ada pria yang sudah menghancurkan hatinya, berada di dalam kamarnya sekarang ini. Mata Sinta membola dan terkejut, keringatpun bercucuran di dalam wajahnya. Lalu, dia pun menggigit tangan Rival yang membekap mulutnya. "Arghhhh, Sinta. Apa yang kau lakukan?" tanya Rival, sambil mengibaskan tangannya yang terasa perih. Sinta menampar pipi Rival dengan keras, "Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau datang kemari? Padahal mertuaku ada disini, tapi itu bagus aku akan mengadukan dirimu yang menyelinap masuk."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD