Sinta pun berniat untuk langsung berteriak. Dia ingin sekali memohon perlindungan kepada mertuanya dari p****************g seperti Rival.
"Ibu–"
Ucapan Sinta terjeda tatkala melihat ibu mertuanya yang sedang mematung di tempat dengan menatap tajam kearah Sinta.
Wanita paruh baya itu terlihat kesal dan menatap tajam sang menantu.
Sinta langsung berlari untuk menempatkan diri di belakang mertuanya. "Bu tolong!"
"Jadi ini yang kamu lakukan, Sinta? Disaat suamimu pergi mencari uang kamu malah berkhianat. Tega sekali kamu ini, dasar perempuan tidak tahu diuntung! Pantas saja tiba-tiba perasaan saya kacau dan ingin mengawasimu. Rupanya apa yang saya khawatirkan itu benar adanya!"
Sinta nampak gemetar, mertuanya telah salah sangka dan sekarang malah menuduhnya yang tidak-tidak. Dengan niat ingin mendapatkan pertolongan, tapi rupanya Sinta malah mendapatkan luka yang semakin terbuka lebar.
"Apa yang ibu katakan?" Sinta berucap dengan gemetar. Dia memandang jijik ke arah Rival yang terlihat begitu senang.
"Ibu akan katakan semua ini kepada Rama. Apa yang telah kamu perbuat di hadapan ibu ini akan ibu beberkan semuanya kepada Rama!" teriak mertua Sinta kesal.
Sinta begitu kebingungan dan bingung hendak menjelaskan semuanya seperti apa. "Ibu tolong percaya kepada Sinta. Sinta tidak berbuat apapun dengannya. Bahkan Sinta ingin agar ibu melindungi Sinta."
"Apa yang ibu katakan itu benar, saya dan Sinta mempunyai hubungan tentunya," sela Rival merasa mendapatkan kesempatan untuk menghancurkan rumah tangga Sinta dan Rama.
Mertua Sinta menatap Rival dari atas sampai bawah. Dia menelisik kebohongan yang ada di dalam wajahnya. Menerka dengan logika tentang apa yang telah diucapkan oleh mulut pria itu.
Rival memberikan isyarat dengan sorot matanya kepada Neni. Bahkan Sinta pun terheran-heran melihat Rival dan Ibu mertuanya yang terlihat sedang berkomunikasi lewat isyarat tatapan.
"Bu, tolong jangan percaya kepada Dia. Dia bahkan telah." Sinta tiba-tiba saja menghentikan ucapannya. Dia baru sadar kalau ibu mertuanya tidak akan mempercayai itu. Bahkan dia pun langsung menuduhnya tanpa mau mendengarkan penjelasan apapun.
"Apa yang ingin kamu katakan? Ayo, katakan!" ucap Neni membentak.
Sinta merasa tidak bisa bernafas lagi, dia tidak ingin kesalahpahaman ini terjadi. Namun, bagaimana membuat mertuanya percaya kepadanya tanpa adanya bukti nyata.
"Bu Neni, kamu tahu saya kan? Jadi, percayalah," tekan Rival membuat Sinta geram dan langsung mencoba untuk meraih wajah Rival karena ingin mencakarnya. Namun, Neni langsung merangkul tubuh Sinta dan mencoba untuk membuat dia diam.
Rival langsung pergi dari tempatnya kini, sedangkan Neni masih mendekap tubuh Sinta yang meronta.
"Ibu, kenapa ibu membiarkan dia pergi begitu saja?" tanya Sinta, lalu Neni pun melepaskan dekapannya dan mendorong tubuh Sinta sampai terhuyung ke depan.
"Terus maumu apa hah? Ibu nikahkan kamu dan dia gitu?" teriak Neni terlihat murka. "Andai kamu tahu bagaimana pria itu, dia paling disegani di desa ini. Berani sekali kamu berselingkuh dengannya!" teriak Neni.
"Bu, saya tidak berselingkuh dengan dia. Tolong percayalah. Dia tiba-tiba saja ada di dalam kamar ini!" ungkap Sinta sambil menangis tersendu-sendu.
"Saya pusing menghadapi masalah ini. Rasanya saya ingin sekali mengadukan perbuatan kotormu itu kepada Rama." Neni pun langsung pergi meninggalkan kamar Sinta.
Tubuh Sinta bergetar hebat sambil menangis. Kenapa semua bisa menjadi serumit ini? Sinta hanya bisa meraung meratapi apa yang telah terjadi. Setelah merasakan pelecehan sekarang Sinta pun difitnah oleh mertuanya sendiri. Harus bagaimana ini?
"Ya Allah, hanya kau yang tahu kebenarannya. Tolong tunjukan kepada mereka apa yang sebenarnya telah terjadi." Sinta langsung teringat kepada Rama dan begitu ketakutan kalau sampai kabar ini akan terdengar oleh suaminya.
"Bagaimana jika ibu memberitahukan semua ini kepada Bang Rama? Aku takut kalau sampai kehilangan dia. Bagaimana ini?" gumam Sinta kembali menangis.
***
Waktu sudah pagi, Sinta pun keluar kamar dan ingin menemui ibu mertuanya. Sinta akan memohon kepada mertuanya agar tidak menuduh dia berselingkuh dengan Rival kepada Rama.
Namun, Sinta melihat mertuanya yang sudah berpakaian rapi seperti akan bepergian.
"Bu?" Panggil Sinta ketika melihat Neni yang hendak membuka pintu utama.
Neni menoleh dengan angkuh.
"Ibu mau kemana?" tanya Sinta.
"Saya tidak Sudi tinggal dengan wanita hina seperti kamu. Andai dari awal Rama mau menuruti keinginan saya agar tidak menikah denganmu. Maka semua tidak akan serumit ini," kesal Neni garang.
Sinta memelas dan bahkan langsung berlutut di hadapan Neni.
"Bu, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana cara saya membuktikan kalau saya tidak berselingkuh? Tolong jangan katakan ini kepada Bang Rama, Bu."
Dari semalam Sinta tidak bisa tidur. Dia begitu cemas, takut kalau sampai mertuanya mengatakan dia berselingkuh. Padahal bukan itu yang sebenarnya terjadi. Matanya yang sudah sangat bengkak terus saja menangis dan meraung dibawah kaki ibu mertuanya.
"Apa daya saya, Sinta? Rama begitu mencintai wanita menjijikan seperti kamu ini. Namun, saya tidak akan membiarkan itu berlarut lebih lama lagi." tekan Neni.
Neni langsung menendang tubuh Sinta dan pergi keluar rumah. Membuat Sinta tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa berharap kalau Rama tidak akan percaya dengan apa yang akan disampaikan oleh ibu mertuanya.
Di tempat Neni, dia rupanya bukan ingin menemui Rama. Tapi, dia menemui Rival di tempat yang sepi.
"Sesuai yang saya inginkan Bu … saya ingin sekali untuk mendapatkan Sinta. Jadi, saya membutuhkan bantuan darimu," terang Rival.
"Itu bukanlah hal yang mudah. Kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya Rama itu, bahkan dari dulu ibu sudah memfitnah Sinta telah berbuat macam-macam pun Rama tidak percaya." Neni nampak bingung.
Rival menghela nafas berat, "aku tahu, Bu. Namun, aku harus bagaimana? Masa aku harus menghabisi dia sih?" keluh Rival.
"Jangan, Nak. Bagaimanapun dia adalah adikmu juga. Jadi, ibu mohon bersabarlah."
"Rival jadi merasa iri dengannya. Selama ini Rival selalu jauh dengan ibu dan jarang sekali meminta sesuatu. Sekarang, Rival menginginkan Sinta pun ibu malah lebih memilih Rama."
"Bukan begitu, tapi kamu sendiri yang menghilang dari kehidupan kami. Namun, sekarang kamu tiba-tiba muncul dan menginginkan istri dari adikmu."
"Apalah dayaku, Bu. Aku harus berpura-pura tidak kenal denganmu. Itu membuatku sulit untuk menemuimu. Untung saja si Rama itu pergi jauh sekarang, jadi kita bisa bertemu," terang Rival.
Neni menghela nafas berat, sekarang putra yang telah disembunyikan itu menginginkan istri dari putra keduanya. Sungguh Neni bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dia menyayangi Rama sebagai putra keduanya, juga dia menyayangi Rival sebagai putra pertama
dia.
"Bermain-mainlah dengan Sinta, tapi jangan sampai Rama adikmu mengetahui itu."