Lucky Me 10

844 Words
Carissa POV Semester empat ini aku lewati dengan beragam pengalaman baru dan lingkungan baru yang menyenangkan. Walau ada halangan dan rintangan tapi tidak membuatku hilang keseimbangan dalam beraktifitas. Hari ini merupakan hari terakhir di semester empat. Itu artinya sudah empat bulan aku bekerja di cafe corner. Sehabis kuliah waktuku selalu aku habiskan di cafe meski hari itu jadwalku kosong alias libur. Aku bisa sangat menikmati suasana cafe sambil merambah dunia maya. "Sa, jalan yok... Ujian uda kelar, lo juga jadwal liburkan di cafe? Gak ada alasan nolakkan?" kata Nancy sambil menarik tanganku. "Mo kemana?" sebenarnya aku sudah bisa menebak kemana dia akan membawaku namun iseng aku bertanya hanya ingin melihat ekspresi kocaknya. Aku dan Nancy sudah berteman di hari pertama aku menginjakkan kaki di kampus ini. Empat semester bukan waktu yang lama memang, tapi kami sudah bisa saling melengkapi dan paham dengan pribadi masing-masing. Kalau bahasa kerennya 'klop'. "Ke syurga....Hahahaha..." kata-kata yang keluar dari mulut Nancy di sertai tawa melengking membuat beberapa orang yang kami lewati menoleh. "Duh, dosa apa gue ketemu temen macam mbak kunti kayak lo." kataku sambil menarik tangan Nancy dari tanganku. Perjalanan ke tempat parkir dimana mobil Nancy berada dipenuhi gelak tawa dari dua sahabat yang tidak tau malu ini. Butuh waktu satu jam untuk kami bisa sampai di salah satu mall di Jakarta Selatan ini. "Syurga di depan mata beb....." suara melengking milik Nancy membuat kepalaku agak sedikit berdenyut. "Ayo bangun, nyonya... Dasar lo ya... Gue nyetir, lo molor.." kata Nancy masih dengan suara lima oktafnya. "Ngantuk gue.... Tapi tenang.. Uda sadar kok... Gue uda cium bau-bau kesenangan.... Hahahaha." kataku bersemangat seolah rasa kantuk hilang hanya dengan melihat deretan toko-toko yang berjejer di gedung tinggi ini. Benar-benar surga dunia ketika kakiku mulai melangkah memasuki deretan toko yang berjejer rapi di mall. Kalau aku boleh berbangga, uang tabunganku cukup banyak karena selama bekerja di cafe corner, praktis uang pemberian Papa utuh di sana. Sementara untuk biaya hidup aku mengandalkan gaji yang menurutku lumayan itupun akan ada sisanya di akhir bulan. Selama bekerja, aku merasa lebih hemat. Sehari-hari aku hanya ke kampus, cafe dan kembali ke kos. Paling aku akan mengajak Nancy ke Mall hanya untuk membeli perlengkapan sehari-hari seperti make up dan kebutuhan perut. "Elo harus beli baju. Sumpek gue liat baju lo yang itu-itu aja. Mana Bebeb gue yang biasanya stylish? Gue kehilangan sobat gue yang suka menghambur-hamburkan uang... Let's go sayangkuhhhh...." dengan suara melengking Nancy merangkul pundakku dan memulai petualangan hari ini. Dua jam sudah kami keluar masuk toko. Nancy menggila. "Heh, kartu lo jebol ntar... Kaki gue pegel. Minum yok." ajakku pada Nancy. Aku menarik paksa tangan Nancy yang sebenarnya masih ingin ke satu toko lagi. Ada satu cafe favorit kami berdua dan disanalah tujuanku. Cafe dengan konsep cozy. Yah, paling tidak cozy menurutku dan Nancy karena selera orang berbeda-beda ya kan? Sampai di cafe, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru cafe untuk mencari tempat terbaik. "Sa, ada Kak Leon." kata Nancy berbisik. "Duduk sini aja." tiba-tiba Nancy menarik tanganku dan menuju meja yang agak tersembunyi namun masih bisa melihat Kak Leon. "Kak Leon sama siapa ya, Cy?" tanyaku pada Nancy. Aku sangat penasaran dengan tontonan yang aku lihat di depan mata. Kak Leon sedang bersama seorang wanita. Terlihat mereka sedang membicarakan masalah yang cukup serius. Jiwa ibu-ibu komplek ternyata sudah bersarang di dalam sanubariku "Mana gue tau. Ih kepo banget gue." Nancy bersuara sekecil mungkin agar Kak Leon tidak mengetahui keberadaan kami. Sambil memesan kopi kesukaanku, Nancy terus berceloteh tentang segala kemungkinan yang terjadi di meja yang dari tadi menjadi perhatian kami. "Gue rasa itu ceweknya deh, Sa. Cantik ya." celetukku agak dongkol. Ada rasa tidak nyaman yang aku rasakan melihat Kak Leon bersama wanita lain. Aku tidak suka. Aku tau aku salah. Selama ini dia baik denganku sama seperti dia baik pada Nancy atau para pegawai di cafe. Namun hatiku mungkin menginginkan lebih. Tanpa di ketahui Nancy ataupun Kak Bram, kami sering bertukar kabar. Bisa di bilang setiap hari aku dan Kak Leon saling mengirim pesan. Tidak jarang kami makan malam berdua sepulang aku bekerja. 'Ya Allah... Aku tau telah melakukan kesalahan dengan menganggap Kak Leon lebih dari teman. Hapus rasa ini, Ya Allah...' batinku. "Cy, gue ke toilet dulu." kataku pada Nancy yang di balas dengan anggukan kepala. Aku berjalan keluar dari cafe menuju toilet mall yang letaknya lumayan jauh dari cafe. Aku bermaksud menenangkan diri dari kenyataan yang aku dapati siang ini. "I'm nothing for him. Murahan banget sih lo... Jangan nangis, Sa..." aku berusaha menguatkan diri dari kenyataan yang aku dapati. Ekspektasi yang terlalu tinggi membuat hatiku tidak siap terluka. Sampai di toilet, ku basuh mukaku agar lebih segar. Air dapat membuatku lebih tenang. Ku hirup oksigen dalam-dalam kemudian aku berkata, " Lo siap, Sa." Sebelum keluar dari toilet, aku memoles mukaku dengan riasan tipis yang membantuku terlihat lebih glowing. "I'm ready." Seperti hendak perang, aku melangkah menuju kembali ke cafe dengan takut namun harus berani. Kalian ngerti gak siy gimana rasanya? Campur aduk. Merasa di permainkan, merasa bodoh, merasa gampangan. Hah... Sudahlah. Mungkin Allah menunjukkan padaku lebih cepat. Allah sayang aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD