Lucky Me 11

714 Words
Carissa POV Kakiku seperti mati rasa. Aku tidak dapat bergerak. Pikiran berkecambuk dalam sanubari. 'Aku harus tegar. Ini kenyataan yang ada. Aku hanya berekspektasi terlalu tinggi sama Kak Leon. Ini hanya perasaan suka sepihak dan ....' aku tidak sanggup untuk memikirkan kalimat-kalimat lainnya. Kenyataan di depanku menambah luka hati. Ya... Dalam perjalanan aku kembali ke cafe, aku melihat Kak Leon yang sedang memeluk wanita tadi. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan kakiku yang kaku. Niat hati ingin bergerak tanpa di sadari oleh Kak Leon, aku malah membuat pergerakan yang menyebabkan Kak Leon menyadari keberadaanku. Aku menjatuhkan handphone yang berada di genggamanku. Seketika Kak Leon mengarahkan pandangannya padaku. "Hai, Kak. Maaf ganggu. Tadi aku ragu itu elo, Kak." aku berusaha terlihat riang sambil berusaha melengkungkan bibirku ke atas, aku menyapa dua sejoli di depanku. "Gue duluan ya... Nancy nungguin. Bye." kataku sambil berlalu. "Sa... Carissa... We need to talk." kata Kak Leon sambil meraih tanganku. "Gampang sih klo pengen ketemu gue. Lo kan tau gue biasanya dimana. Tu kasian cewek lo nangis gitu." kataku sok diplomatis. Kutinggalkan Kak Leon dan Sang Pacar untuk melangkah menuju cafe. Perjalanan ke cafe yang hanya berjarak beberapa langkah membuatku berhenti sejenak di depan pintu masuk cafe untuk kembali mengatur raut mukaku. "Lo lama banget sih? Sebel gue. Gue uda di godain cowok nih dari tadi. Dikira gue sendiri. Banyak yang mau bawa kabur sahabat tercinta lo ini." Nancy meluncurkan kalimat-kalimat protesnya karena sempat ku tinggal dalam jangka waktu yang lumayan lama buat ke toilet. "Siapa juga yang mau bawa lo pergi? Ibu-ibu cerewet gini ada yang mau? Gak percaya gue. Lagian apa hubungannya lo di culik om-om sama gue di sini?" kataku sambil mengerucutkan mulut. "Ya ada dong. Om-omnyakan akan jadi lebih tertarik sama lo daripada sama gue. Aman dong gue... Secara lo lebih kinclong dari gue walaupun gua lebih sering perawatan dari lo. Disitulah gue merasa semua perawatan mahal yang gue lakukan gagal total." gantian Nancy yang mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Ngobrol sama Nancy sama dengan menghilangkan sedikit beban di hati. Walaupun obrolan kami unfaedah, tapi ini lebih ampuh dari pada aku harus ke psikolog. "Assalamualaikum..." Sekian lama kami di cafe, tiba-tiba ada suara yang sangat aku kenal menyapa kami. "Abang? Loh kok ada di sini?" kataku begitu melihat sesosok pria tinggi di hadapanku. "Nancy." kata Bang Marvin. "Kok dia? Kok bukan adek?" tanyaku sambil menunjuk Nancy tanda tak terima. "Tadi Abang chat kamu tapi gak kamu balas. Ya akhirnya abang chat  Nancy. Trus dia bilang kalian lagi nongkrong di sini. Jadilah Abang disini." jelasnya. "Masak sih? Kok adek gak sadar kalau ada pesan masuk?" tanyaku sambil merogoh kantong celanaku dan mendapati beberapa chat dan telepon dari Bang Marvin. "Abang juga telpon ternyata. Hihihi." kataku setelah melihat notifikasi yang terekam di benda pintarku itu. Bukan hanya dari Bang Marvin. Ternyata ada juga pesan dari Kak Leon namun enggan ku buka. Biarlah nanti, ketika aku sendiri, pesan-pesan tersebut aku buka. Sekarang fokus pada apa yang ada di depan mata saja. "Abang ngapain?" tanyaku setelah beberapa saat larut dalam pikiranku sendiri. "Abang ada kerjaan tiga hari di sini. cuma hari ini longgarnya. Besok sama lusa uda full ngurusin proyek." jelas Bang Marvin. "Abang nginep dimana?" Nancy bertanya setelah sesaat aku melupakan kehadirannya. Sahabat macam apa aku. "Di hotel sebelah. Nginep sama Abang yuk, dek." ajaknya padaku. "Kamu boleh gak pulang liburan ini?" tanya Bang Marvin padaku. "Yoklah tapi adek ambil barang-barang dulu. Abang tunggu di hotel aja. Nanti Adek sendiri ke hotelnya. Trus ntar pulang sama Abang. Untung papa belum beliin tiket jadi bisa bareng pulangnya." aku menerima tawaran Bang Marvin untuk ikut menginap di hotel tempat dia akan menginap selama di Jakarta. "Ya udah. Kamu pegang kunci yang satunya aja ya. Habis ini Abang ada keperluan. Mungkin pulangnya agak malam. Oke?" Bang Marvin memberikanku kunci cadangan kamar hotelnya agak aku tidak harus bergantung padanya. "Siap, Abangku yang paling cakep." candaku. "Ya udah abang duluan ya... Cy, abang duluan ya... Jagain anak ini. Jangan sampai malu-maluin." Bang Marvin pamit meninggalkan kami berdua yang masih ingin menikmati cafe favorit kami. "Gue mau cerita sesuatu." kataku setelah sekian lama kami terdiam menikmati alunan lagu syahdu yang diputar oleh pihak cafe. "Apa?" kata Nancy yang lagi serius memperhatikan handphone di tangannya. "Gue lagi sedih nih. Kayaknya gue mau berenti kerja aja." kataku berbisik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD