Lucky Me 12

827 Words
"Gue lagi sedih nih. Kayaknya gue mau berenti kerja aja." kataku berbisik. "Sedih napa lo? Bukannya lo emang harus berenti kerja ya? Kan bokap gak ngebolehin lo stay selama liburan..." Nancy mulai memutar lehernya sedikit ke arahku. "Ada sesuatu yang belum gue ceritain ke elo." kutarik napas dalam untuk menenangkan debaran jantungku. "Beberapa bulan ini gue deket sama Kak Leon. Maksud gue, mungkin gue yang ke geeran. Kita sering keluar bareng. Biasanya sih, abis gue kerja shift sore, dia ngajak gue nongkrong ato hanya sekedar makan malam diluar. Tapi bodohnya gue, gue kira kita punya hubungan lebih dari temen. Gue bodoh banget nganggep dia lebih dari temen padahal mungkin dia gak nganggep gitu ke gue." kataku hampir meneteskan air mata. Aku teringat interaksi Kak Leon dengan wanita tadi. Sungguh, aku belum siap. "Terus? Lo mo melarikan diri gitu? Lo uda gak mau kerja terus lo pulang selama libur semester ini? Cuma buat melarikan diri dari masalah?" kata Nancy berapi-api. "Gue kaget sama cerita lo barusan. Gue kecolongan. Gue gak mau kejadian ini keulang lagi. So, lo gak boleh melarikan diri. Selesaikan apapun itu. Please grow up." Nancy menegaskan apa yang sebenarnya sudah aku pikirkan namun takut aku hadapi. deerrrttt.... Ponselku bergetar menandakan ada pesan yang masuk. 'Please, Sa. Gue pengen ketemu lo dan jelasin semua yang lo liat tadi.' Pesan dari Kak Leon terlihat dari notif awal karena memang pesannya belum aku buka dari tadi. "Sini gue buka kalo lo males. Gue aja yang jelasin kalo lo uda gak mau ketemu sama dia." Nancy berusaha mengambil ponsel yang tergeletak di meja. "Gila lo. Gue aja." langsung ku sambar ponsel yang tergeletak di meja. Segera aku membuka aplikasi yang membuat gaduh meja kami. Membaca pesan yang masuk dari Kak Leon. Ada puluhan pesan dan telpon yang tidak aku angkat. 'Gue mau ketemu lo buat jelasin apa yang sebenarnya terjadi.' begitulah kira inti dari chatnya. "Intinya Kak Leon pengen ketemuan." kataku sambil mengetikkan balasan untuk pesan Kak Leon. "Lo anterin gue ke kos aja ya. Gue mo ketemuan sama dia setelah beresin barang-barang gue. Gue pengen tau, dia nganggep gue apa kok sampai sepanik itu. Habis itu gue langsung ke hotel Bang Marvin." pintaku kepada Nancy. "Uda nih perpisahan kita gini doang?" Nancy berusaha membujukku agak bisa tinggal lebih lama. Karena setelah ini aku dan Nancy akan bertemu di semester berikutnya. Mama tidak mengizinkan aku untuk tinggal di sini selama libur semester yang hanya sebulan. Alasannya ya karena kesepian. Anak Mama cuma dua. Yang satu tinggal satu rumah tapi jarang ketemu, yang satu menuntut ilmu di kota orang. Jadilah Mama tidak punya teman untuk diajak berkeluh-kesah. "Udah yuk. Keburu sore. Ntar gue kemaleman sampe hotel. Lagian lo kayak apa aja. Lokan bisa nyusul gue kalo lo kangen." kataku sambil menarik tangan Nancy. "Eh, ide bagus. Tumben otak lo encer." Nancy seakan ditiupkan ide segar karena akan terhindar dari pekerjaan yang akan diberikan orang tuanya untuk mengurus usaha mereka ketika liburan. Setelah sampai di kos, aku mulai membereskan barang-barang untuk di bawa pulang. Tidak banyak yang aku bawa. Hanya satu tas ransel yang berisi baju ganti selama di hotel. Untuk di rumah, aku sudah memiliki barang-barang seperti baju ganti. Ku lihat jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul tiga sore. Aku harus bergegas karena pukul empat Kak Leon akan menjemputku untuk berbicara perihal kejadian di mall tadi. Selesai beberes, aku segera mandi dan berdandan agar sedikit lebih rapi. Ada tekanan tersendiri jika ingin jalan dengan Kak Leon. Aku harus memiliki waktu ekstra untuk bersiap. Jika tidak, aku akan dianggap seperti pembantu Kak Leon oleh orang-orang yang mengenalnya. Paling tidak itulah yang aku rasakan. Tatapan merendahkan jika aku berjalan di samping pria sukses nan ganteng ini. Derrtt... Getar ponsel di kasur membuatku langsung berdiri dan meraih benda pintar itu. Ada nama Kak Leon terpampang di sana. 'Aku di depan, Sa.' begitulah pesan yang di kirimkan Kak Leon. "Aku?" gumamku begitu membaca pesan tersebut. Aku hanya mengirimkan stiker setuju untuk membalas pesan itu. Kusambar tas dan segera keluar kos agar Kak Leon tidak menunggu terlalu lama. Aku mengenali mobilnya yang cukup mewah. Kak Leon tampak sedang menelpon seseorang di bagian samping mobilnya. "Hai, Kak." sapaku setelah berada di hadapannya. Jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya membuat aku sedikit tidak nyaman. Aku berusaha mengontrol detak jantung sambil berusaha menyembunyikan mukaku yang, menurutku berbeda dari biasanya. Aku grogi, guys. 'Ya Allah.... Jangan sampai hamba kena serangan jantung.'  batinku. "Kamu masuk duluan aja, Sa. Aku telpon sebentar. Kurang dari lima menit." Kak Leon membukakan pintu sambil mengatakan itu. Kuanggukkan kepalaku dan segera masuk ke dalam mobil mewahnya. Beberapa menit kemudian Kak Leon menaiki mobilnya. "Maaf ya, Sa. Tadi ada kerjaan dikit." kata Kak Leon meminta maaf karena telah membuatku menunggu. "It's ok, Kak. Yok biar gak kemalaman." ajakku agar kami tidak berlama-lama di depan kos. "Yok." kata itu adalah kata terakhir yang keluar dari mulut Kak Leon selama perjalanan. Hanya ada suara penyiar radio yang mengalun di pendengaranku dan aku benci dengan suasana ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD