Lucky Me 13

840 Words
Butuh waktu setengah jam untuk kami sampai di cafe yang menjadi tujuan Kak Leon. Aku hanya mengikuti kemana Kak Leon melangkah. Mood-ku belum membaik namun aku berusaha senatural mungkin. Dengan muka yang memaksakan senyum di bibir, aku mengikuti kemana Kak Leon melangkah. Hingga kakinya berhenti melangkah tepat di sebuah ruangan yang lebih mirip dengan kantor daripada ruang VIP. "Masuk, Sa. Kita ngobrol di sini aja ya." kata Kak Leon sambil membuka pintu ruangan dan benar saja. Ruangan tersebut merupakan kantor dari cafe tersebut. "Ini cafe lo, Kak?" tanyaku begitu kami memasuki ruangan. "Iya. Kamu uda makan? Mo pesen apa?" Kak Leon langsung mengangkat telpon dan meminta dibawakan menu agar kami dapat memesan sesuatu. Tok tok... "Masuk." Kak Leon mempersilahkan karyawan cafe yang mengetuk pintu untuk masuk. "Maaf, pak. Saya butuh diskusi sebentar." kata seorang pria yang mengetuk pintu tadi setelah dipersilahkan masuk oleh Kak Leon. "Bentar ya, Sa." pamit Kak Leon padaku. Sekitar sepuluh menit aku berada di ruangan ini seorang diri. Aku melihat sekeliling ruangan untuk meredakan kebosanan. "Lagi lihat apa?" suara Kak Leon tiba-tiba mengagetkanku. "Lihat foto-foto. Lo fotogenik juga ya. Tapi kok semuanya foto sama cewek plus ceweknya beda-beda? Cewek lo gak marah?" tanyaku benar-benar penasaran. "Kamu cemburu?" tanya Kak Leon sambil menarik tanganku untuk lebih dekat dengannya. "Apaan sih.... Lagian gue nanya malah ditanya balik." kataku berusaha menjauh. "Sini.. Duduk sini. Minumannya udah jadi nih. Sambil minum, aku mau jelasin sesuatu." Kak Leon mengajakku untuk duduk di sofa yang berada ditengah ruangan. "Mau jelasin apa? Aku gak butuh penjelasan apa-apa. Kakak juga gak harus jelasin apa-apa sama aku. Eh, kok jadi aku kamu juga sih...." aku berusaha menyembunyikan kegalauan hati. "Cocokkan kita ngomong gitu?" goda Kak Leon padaku. Aku akhirnya berjalan menuju sofa walau dengan jantung yang jungkir balik. Aku mengambil duduk yang berjarak dengan Kak Leon dengan harapan dia tidak mendengar degup jantungku yang bagai drumband yang lagi bertanding. "Mereka bukan siapa-siapa. Kami hanya berteman. Paling gak, itu menurutku. Kamu taukan latar belakang keluargaku? Menyandang nama belakang Pranaja gak mudah, Sa. Apalagi aku anak satu-satunya. Belum lagi muka ganteng gini. Hah... Pasti godaannya banyak. Hahahaha...." tawa renyah Kak Leon di sela-sela penjelasan yang belum tahu akan bermuara ke mana. "Hmmm... Percaya diri sekali anda, tuan Leon Rifiansyah Pranaja." kataku sarkas. "Tapi emang gantengkan?" katanya sambil tersenyum genit. "Aku lanjut ya... Kejadian di Mall tadi siang merupakan salah satu wanita yang aku maksud dengan teman. Aku menganggap mereka hanya teman, Sa. Gak lebih. Nah salahnya aku, aku membiarkan mereka berimajinasi bahwa mereka adalah wanita istimewa buatku. Sebelum ini. Sebelum aku nemuin wanita yang spesial, aku gak keberatan dengan imajinasi itu. Tapi gak sekarang. Ketika aku uda nemuin wanita yang kelak akan menjadi pendampingku. Wanita yang mau aku ajak serius. Ibu dari anak-anakku kelak." panjang lebar Kak Leon menjelaskan. "Ya Allah, Kak Leon. Lo kayak gini sama semua cewek? Gue gak keren banget ya? Sama cewek tadi, lo omongin gini di cafe keren. Sama gue, lo ngomongin hal gini di kantor lo? Nasib lo, Sa... Tapi maaf ya, Kak... Gue gak kayak cewek-cewek itu. Lo juga gak harus ngejelasin hal ginian ke gue. Jujur gue sempat bingung sama perilaku lo sama gue beberapa bulan ini. Tapi Alhamdulillah gue gak berekspektasi sejauh yang lo kira. Ya udah gitu ajakan? Gue pamit ya. Assalamualaikum." Sumpah demi apapun, bulir air mata sudah akan keluar ketika aku menjelaskan tadi. Aku tidak berani menatap mata teduhnya. Lelaki ini, lelaki yang sangat memiliki kekuatan dalam memutar balikkan perasaanku. Aku kecewa. Kecewa sama diri sendiri yang gampangan. Kulangkahkan kaki keluar dari ruangan kecil itu. "Sa.... Apaan sih? Aku belum selesai jelasinnya... Jangan menyimpulkan sesuatu sebelum lawan bicara kamu nyelesaikan omongannya." kurasakan Kak Leon menarik tanganku namun segera kutepis. Aku tidak mau ada orang melihat air mataku turun. Aku harus segera keluar dan mencari toilet. Namun gagal. Ntah kenapa kakiku tidak dapat digerakkan. Aku terpaku. "Sa, aku sayang kamu. Jangan pergi. Dengerin dulu. Aku belum selesai cerita. Itu baru latar belakangnya. Ada hal yang jauh lebih penting dari cewek-cewek itu." Entah sejak kapan Kak Leon memelukku. Kurasakan tangannya merangkul pinggang dan leherku. "Sini dulu. Duduk dulu. Jangan nyimpulin sesuatu kalau orang itu belum selesai ngomong, Carissa...." dengan suara yang super lembut, Kak Leon mengajakku untuk duduk lagi di sofa. "Kamu spesial di mata aku. Jangan berpikiran kalau kamu w**************n. Jangan menjelek-jelekkan diri sendiri, Sa. Aku sayang kamu. Sayang banget. Aku gak tau kapan perasaan ini muncul. Aku nyaman ketika sama kamu. Jangan berpikir kamu seperti teman-teman wanitaku. Don't!! Dan mengenai kejadian tadi siang, aku mau jelasin ke cewek tadi bahwa aku uda nemuin wanitaku. Jadi aku minta dia jangan jadikan aku sebagai pacar imajinasinya. Perlu aku kasi tau lagi, kalau cewek tadi bukan yang terakhir. Masih ada tujuh cewek lagi yang akan aku kasih tau secara pribadi seperti tadi." "Sebenarnya, kata Bram ataupun kata orangtuaku, aku cukup go public saja. Mereka otomatis akan menjauh. Tapi aku gak mau gitu. Aku mau jelasin ke mereka bahwa aku sudah menemukan tambatan hatiku yaitu kamu, Sa." penjelasan Kak Leon membuat pusing kepalaku. "Emang gue mau?" tanyaku. Hening....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD